分享

Bab 2

作者: Liam
Setelah ‘pemeriksaan’ hari itu, aku sengaja menghindari ayah tiri selama beberapa hari berturut-turut.

Setiap kali melihatnya, ingatan tentang apa yang terjadi di ruang kerja hari itu mendadak berputar kembali dan pippiku pun terasa panas membara tanpa bisa dikendalikan.

Namun, hal yang ditakutkan pun terjadi juga.

Rabu malam, tepat setelah mandi dan keluar dengan gaun tidur katun yang agak longgar, aku melihat Johan sudah berdiri di depan pintu kamarku.

“Angel,” panggilnya. Raut wajahnya masih sama seperti biasa, ramah dan tenang.

“Sudah waktunya terapimu dimulai.”

Jantungku rasanya seperti terbanting. Jariku reflek mencengkeram kusen pintu dengan erat.

“Ayah… aku, aku merasa kondisiku sudah membaik, nggak perlu terapi lagi,” tolakku terbata-bata.

“Jangan sembarangan.” Keningnya berkerut, dengan nada tegas yang tak menerima bantahan, dia berkata, “Hal seperti ini nggak bisa hanya pakai perasaan. Tubuhmu butuh perawatan medis yang terukur. Ayo, ke ruang kerja.”

Aku tak berani melawan, akhirnya hanya bisa mengekor di belakangnya seperti boneka kayu yang ditarik benangnya.

Suasana ruang kerja hari ini terasa jauh lebih mencekam dibanding sebelumnya.

Dia tak menyalakan lampu utama dan hanya menyisakan sebuah lampu berdiri yang remang-remang. Cahaya membuat bayangannya membentang panjang dan besar di dinding, menyerupai sosok binatang buas yang siap menerkam.

“Lepas gaun tidurmu,” perintahnya dari balik rak buku sambil membelakangiku.

“Apa?” Aku spontan mundur selangkah karena mengira diriku salah dengar.

“Terapi fisik itu harus bersentuhan kulit langsung biar bisa ketemu titik akupuntur dan jalur sarafnya.” Dia berbalik sambil memegang sebuah buku tebal panduan anatomi medis dan melanjutkan, “Angel, jangan malu. Aku ini dokter.”

Kalimat itu lagi.

Aku ini dokter.

Tiga kata itu bagaikan mantra gaib yang mencabut seluruh hakku untuk melawan.

Sambil menggertakkan gigi, jariku yang gemetaran perlahan melepas tali gaun tidurku.

Kainnya meluncur melewati kulitku yang halus dan terjatuh di dekat kaki.

Kini, yang tersisa di tubuhku hanyalah sepasang pakaian dalam katun.

Hawa dingin malam membuat bulu kudukku merinding, membuatku reflek menyilangkan kedua tangan memeluk dada.

Gerakan itu malah membuat dadaku yang padat tertekan semakin membusung, bergerak naik turun seirama dengan napasku.

Pandangan Johan terkunci erat di dadaku dan jakunnya terlihat naik turun menelan ludah.

Namun, dia segera mengalihkan pandangan dan menunjuk sebuah matras yoga di lantai.

“Tengkurap di sana, lalu menungging seperti kucing, tumpukan tangan dan lututmu di lantai.”

Dengan perasaan terhina, aku merangkak di atas matras. Posisi ini membuatku merasa seperti hewan kurban yang siap disembelih.

Pinggulku yang montok otomatis terangkat tinggi, membentuk lekukan tubuh yang menggoda.

Dia berjalan mendekat ke belakangku, lalu berjongkok.

Hembusan napas hangatnya terasa jelas mengenai tengkuk leher belakangku.

“Bagus, posisi ini sudah pas.” Suaranya terdengar sangat dekat, “Posisi ini bisa meregangkan otot punggung dan pinggang secara maksimal, sekaligus melancarkan sirkulasi darah.”

Sambil berbicara, satu tangannya menekan lekuk pinggangku, sementara tangan satunya lagi menempel di puncak pinggulku yang montok.

“Ah!”

Aku menjerit kaget, tubuhku menerjang ke depan mencoba menghindari sentuhannya.

“Jangan gerak!” bentaknya pelan. Cengkeraman tangannya semakin kuat, menahanku di tempat.

“Rileks, kalau nggak, bisa mengganggu hasil terapinya.”

Telapak tangannya sangat besar dan sangat panas, bagaikan dua keping besi membara yang menempel erat di kulitku.

Aku bisa merasakan tekstur kasar di ujung jarinya yang mengelus kulit sensitifku, memicu gelombang sensasi geli dan lemas yang sulit dilukiskan.

“Pinggulmu agak condong ke depan, ini masalah yang umum dialami banyak anak gadis,” ujarnya menjelaskan, sambil membuat gerakan memutar dengan jari di kedua sisi bokongku.

“Kita harus perbaiki melalui pijatan.”

Jarinya dengan lincah bergerak di area bokongku, terkadang menekan dan terkadang meremasnya pelan.

Setiap bagian kulit yang disentuhnya menyalakan percikan api kecil yang membakar seluruh tubuhku hingga terasa gerah.

Napasku pun semakin memburu dan tubuhku mulai gemetar tanpa bisa dikendalikan.

Aku merasa tubuhku perlahan berubah menjadi seperti genangan air, lemas kehilangan seluruh tenaganya.

“Nah, sensasi seperti ini yang benar.” Suaranya terdengar sangat puas melihat reaksiku, diselingi nada terkekeh pelan, “Tubuhmu mulai rileks dan jalur sarafnya sudah terbuka.”

Tangannya terus meluncur turun menyusuri lekuk bokongku hingga sampai ke pangkal pahaku.

Di sana adalah area yang ratusan kali lebih sensitif daripada bokong.

Ujung jarinya menekan lembut daging pangkal pahaku. Setiap kali ditekan, suara desahan tertahan keluar begitu saja dari mulutku.

“Hm….”

Aku segera menutup mulut dengan tangan, tapi suara memalukan itu tetap saja keluar melalui celah jariku.

Wajahku sudah sangat merona.

Memalukan sekali!

Bisa-bisanya aku mengeluarkan suara seperti itu?

“Saraf di sini agak tersumbat, makanya terasa agak pegal, itu wajar,” ujarnya menjelaskan dengan teori medisnya, sementara gerakan tangannya sama sekali tak berhenti.

Tanpa kusadari, tubuhnya semakin menempel dari belakang. Melalui kain celana yang tipis, aku bisa merasakan sebuah benda keras dan sangat panas sedang menekan tepat di celah bokongku.

Seketika, otakku terasa berdengung dan pikiranku menjadi kosong.

Aku tahu betul benda apa itu.

Itu adalah simbol milik pria dewasa yang penuh agresif dan gairah.

Ayah tiriku, Dokter Johan… bisa-bisanya dia….

Seketika, tubuhku menjadi kaku, bahkan sampai lupa cara bernapas.

“Angel, fokus.” Seolah tak menyadari keanehan diriku, dia tetap berbisik di telingaku, “Rasakan perubahan tubuhmu, rasakan aliran hangat itu mengalir di dalam dirimu.”

Aku merasakannya.

Aku bisa merasakannya dengan sangat jelas.

Aliran hangat itu merambat dari titik sentuhannya, menjalar liar seperti ular api ke seluruh tubuhku, membakar setiap jengkal saraf dari ujung kaki sampai kepala.

Rasa hampa dan hasrat yang belum pernah kurasakan sebelumnya muncul dari tubuhku yang paling dalam, begitu kuat hingga membuatku ingin menangis.

Aku menginginkannya….

Aku ingin lebih dari ini.

Saat pikiran mengerikan itu terlintas, diriku sendiri kaget setengah mati.

Bagaimana bisa aku punya pikiran tak tahu malu seperti itu?

Dia itu ayah tiriku!

“Selesai, terapi hari ini cukup sampai di sini.”

Tepat saat gairah dan rasa malu hampir menenggelamkanku, dia mendadak menghentikan semua gerakannya dan bangkit berdiri.

Sensasi keras dan panas itu pun menghilang.

Seketika, timbul rasa kehilangan dan hampa di dalam hatiku.

Aku terbaring lemas di atas matras. Jangankan bangun, mengangkat satu jari pun sudah tak sanggup.

Bagian di antara kedua pahaku terasa basah dan lengket, membuatku merasa malu dan jijik pada diri sendiri.

“Bagaimana rasanya?” tanyanya sambil menatapku dari atas, suaranya kembali ramah seperti biasa.

Aku membenamkan wajah di balik lipatan tangan tanpa berani menatapnya, hanya bisa mengangguk asal.

“Sepertinya hasilnya cukup bagus,” ujarnya sambil tersenyum puas.

“Ingat, seminggu tiga kali, sekali pun nggak boleh terlewatkan. Ini semua demi kebaikan kesehatanmu.”

Demi kebaikan kesehatanku?

Aku tengkurap di atas matras yang dingin. tubuhku masih agak gemetaran, tapi dalam hati malah mencibir dingin.

Ini benar-benar demi kesehatanku?

Atau hanya demi memuaskan gairah bejatnya yang tersembunyi?

Aku tak tahu.

Yang kutahu, kini tubuhku sudah merasakan kenikmatan itu.

Tubuh ini seperti tanaman yang telah ditanami kutukan, mulai mendambakan ‘terapi’ terlarang itu dengan gila-gilaan.

Seminggu tiga kali.

Pikiran itu bagaikan racun sekaligus madu, berakar dan bertunas semakin subur di dalam hatiku.

Sepertinya… aku mulai tak sabar menantikan sesi terapi berikutnya.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 9

    Aku tak tahu berapa lama diriku menangis, hingga tenggorokanku serak, barulah tangisanku perlahan mereda.Polisi menanyakan beberapa hal padaku secara singkat dan membuat laporan.Saat aku menceritakan kembali pengalamanku dengan terbata-bata, semua orang yang ada di lokasi langsung terdiam.Polisi wanita yang sudah agak senior melangkah mendekat, lalu mengelus kepalaku dengan iba, dia berkata, “Nak, kamu sudah menderita. Tenang saja, bajingan seperti ini nggak akan kami lepakan begitu saja.”Johan pun dibawa pergi oleh polisi.Saat dibawa pergi, dia tak lagi menatapku. Mulutnya masih terus bergumam menyebut nama ‘Erlin’.Aku tahu, dia sudah benar-benar hidup sepenuhnya di dunianya sendiri.Susan terus mendampingiku sampai fajar menyingsing.Dia membawaku pulang ke apartemennya.Itu adalah sebuah apartemen studio yang sangat bersih dan minimalis. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma halus yang persis seperti aroma tubuhnya.Dia mencarikan baju ganti yang bersih untukku, memasakkan bub

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 8

    Seketika, darahku seolah membeku.Senyuman ramah di wajahnya saat ini tampak jauh lebih mengerikan dari ekspresi menyeramkan mana pun.“Aku… aku haus, mau turun ke bawah untuk beli air minum,” ujarku mengarang alasan yang asal-asalan, tak berani menatap matanya karena merasa bersalah.“Benarkah?” Dia melangkah mendekatiku perlahan, pandangannya tertuju pada ransel di punggungku.“Beli air minum perlu bawa tas sebesar ini?”Seketika, hatiku seolah terjatuh ke dasar jurang.Aku ketahuan.“Kamu mau kabur dariku, ‘kan?” Suaranya masih terdengar lembut, tapi tatapan matanya sangat dingin.“Sama seperti Erlin, kalian berdua sama-sama mau meninggalkanku.”“Aku bukan dia!” ujarku membalas, mengerahkan sisa keberanian terakhirku.“Nggak apa-apa.” Dia berdiri di depanku, mengulurkan tangan dan mengelus pipiku pelan, seperti sedang mengelus guci yang berharga.“Sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku.”Ujung jariku terasa sangat dingin, membuatku merinding ketakutan.“Profesor Peter punya cara u

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 7

    “Siapa dia?” tanyaku sambil mengangkat bingkai foto, suaraku gemetar hebat karena amarah dan rasa takut.“Dia Erlin, putriku.” Johan melangkah perlahan masuk ke ruang kerja, lalu duduk di sofa tepat di hadapanku.Dia tak menyalakan lampu, membiarkan cahaya bulan yang dingin menyinari di antara kami, bagaikan garis galaksi yang tak mungkin terseberangi.“Dia sudah meninggal lima tahun yang lalu.”“Karena apa?” desakku.“Penyakit bawaan lahir yang langka.” Suaranya menyimpan duka yang hampa, “Tubuhnya sangat lemah, selalu sakit-sakitan sejak lahir. Aku sudah coba segala cara, tapi tetap nggak bisa menyelamatkannya.”“Jadi kamu menjadikan aku sebagai penggantinya?” Aku menjerit histeris, “Semua hal yang kamu lakukan padaku, juga pernah dilakukan padanya, ‘kan?!”Johan terdiam.Diamnya adalah jawaban yang paling jelas.Tubuhku gemetar hebat menahan amarah, air mata pun menetes tanpa bisa ditahan.“Kamu benar-benar mesum! Kamu gila!” teriakku sambil menghempaskan bingkai foto itu ke lantai

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 6

    Keesokan harinya, aku pergi ke kampus dengan kantung mata yang hitam.Semua hal yang terjadi tadi malam terasa seperti mimpi buruk yang tak masuk akal.Asal memejamkan mata, aku bisa melihat wajah Johan yang menegang antara bergairah dan tersiksa, serta mulutnya yang terus memanggil nama ‘Erlin’.Setelah amarah dan rasa terhina itu mereda, yang tersisa hanyalah rasa takut dan kebingungan yang sangat dalam.Pria yang kupanggil ‘ayah’ selama belasan tahun ini sebenarnya orang seperti apa?Dan baginya, sebenarnya diriku ini dianggap apa?Aku benar-benar ingin segera tahu kebenarannya.Aku mencoba mencari ‘Johan’ dan ‘Erlin’ di internet, tapi hasilnya nihil.Sebagai dokter terkenal, berita positif dan jurnal akademis tentang Johan memang bertebaran, tapi tak ada satu pun yang menyinggung kehidupan pribadinya.Nama ‘Erlin’ juga terlalu pasaran. Ada puluhan ribu hasil pencarian dan tak ada satu pun yang tampak berhubungan dengannya.Petunjuknya seolah terputus.Dengan pikiran kacau balau, ak

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 5

    Aku mendambakan hujan lebat untuk memadamkan kobaran api di tubuhku.Dan dia adalah satu-satunya orang yang bisa memadamkanku.Napas Johan terdengar memburu dan berat, hembusannya yang panas menyapu puncak kepalaku.Kedua tangannya di samping tubuh terkepal, lalu mengendur dan terkepal lagi, seolah sedang bertarung sengit dengan pikirannya sendiri.Pada akhirnya, gairah menang melawan akal sehat.Dia menggeram rendah bagaikan seekor binatang buas. Dia tiba-tiba menopang bokongku dan menggendongku, lalu melangkah lebar menuju sofa kulit yang luas itu.Dia melemparkanku ke sofa dengan kasar, lalu menekan seluruh tubuhnya di atasku.“Angel… kamu sendiri yang memancingnya!”Suaranya terdengar penuh gairah yang terpendam lama, bercampur sedikit kegilaan.Detik berikutnya, dia mendaratkan ciumannya tanpa henti.Ciumannya tidak lagi selembut biasanya, melainkan dipenuhi sikap agresif dan dominasi.Dia melumat bibirku, lalu lidahnya menerobos masuk melalui celah gigiku, bergerak liar dan terus

  • Burung Yang Terkurung Dalam Sangkarnya   Bab 4

    “Ayah… ayah….” Aku bergumam tanpa sadar, suaraku terdengar sangat manja dan lembut.Tepat saat kusangka dia bakal melangkah ke tahap berikutnya, dirinya malah tiba-tiba melepaskan cengkeraman dan mundur selangkah.Karena kehilangan tempat bersandar, tubuhku langsung lemas dan hampir saja merosot ke lantai.Aku membuka mata dan menatapnya dengan bingung.Terlihat dia bersandar di tepi meja kerja, dadaku bergerak naik turun terengah-engah dengan keringat yang membasahi kening.Dia menatapku, tapi kali ini sorot matanya memperlihatkan gairah yang ditahan paksa dan ada sedikit… pergolakan batin?“Sudah malam, cepat balik dan tidur,” ujarnya sambil memalingkan wajah, suaranya terdengar agak serak.“Ingat, jangan sembarangan masuk ke ruang kerjaku lagi.”Usai bicara, dia tak lagi menatapku. Dia langsung berjalan ke balik meja kerja dan duduk. Lalu mengambil sebuah buku dan berpura-pura membacanya dengan serius.Aku membeku di tempat. Gejolak panas di dalam tubuhku masih membara, tapi tiba-ti

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status