登入Aku tak tahu berapa lama diriku menangis, hingga tenggorokanku serak, barulah tangisanku perlahan mereda.Polisi menanyakan beberapa hal padaku secara singkat dan membuat laporan.Saat aku menceritakan kembali pengalamanku dengan terbata-bata, semua orang yang ada di lokasi langsung terdiam.Polisi wanita yang sudah agak senior melangkah mendekat, lalu mengelus kepalaku dengan iba, dia berkata, “Nak, kamu sudah menderita. Tenang saja, bajingan seperti ini nggak akan kami lepakan begitu saja.”Johan pun dibawa pergi oleh polisi.Saat dibawa pergi, dia tak lagi menatapku. Mulutnya masih terus bergumam menyebut nama ‘Erlin’.Aku tahu, dia sudah benar-benar hidup sepenuhnya di dunianya sendiri.Susan terus mendampingiku sampai fajar menyingsing.Dia membawaku pulang ke apartemennya.Itu adalah sebuah apartemen studio yang sangat bersih dan minimalis. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma halus yang persis seperti aroma tubuhnya.Dia mencarikan baju ganti yang bersih untukku, memasakkan bub
Seketika, darahku seolah membeku.Senyuman ramah di wajahnya saat ini tampak jauh lebih mengerikan dari ekspresi menyeramkan mana pun.“Aku… aku haus, mau turun ke bawah untuk beli air minum,” ujarku mengarang alasan yang asal-asalan, tak berani menatap matanya karena merasa bersalah.“Benarkah?” Dia melangkah mendekatiku perlahan, pandangannya tertuju pada ransel di punggungku.“Beli air minum perlu bawa tas sebesar ini?”Seketika, hatiku seolah terjatuh ke dasar jurang.Aku ketahuan.“Kamu mau kabur dariku, ‘kan?” Suaranya masih terdengar lembut, tapi tatapan matanya sangat dingin.“Sama seperti Erlin, kalian berdua sama-sama mau meninggalkanku.”“Aku bukan dia!” ujarku membalas, mengerahkan sisa keberanian terakhirku.“Nggak apa-apa.” Dia berdiri di depanku, mengulurkan tangan dan mengelus pipiku pelan, seperti sedang mengelus guci yang berharga.“Sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku.”Ujung jariku terasa sangat dingin, membuatku merinding ketakutan.“Profesor Peter punya cara u
“Siapa dia?” tanyaku sambil mengangkat bingkai foto, suaraku gemetar hebat karena amarah dan rasa takut.“Dia Erlin, putriku.” Johan melangkah perlahan masuk ke ruang kerja, lalu duduk di sofa tepat di hadapanku.Dia tak menyalakan lampu, membiarkan cahaya bulan yang dingin menyinari di antara kami, bagaikan garis galaksi yang tak mungkin terseberangi.“Dia sudah meninggal lima tahun yang lalu.”“Karena apa?” desakku.“Penyakit bawaan lahir yang langka.” Suaranya menyimpan duka yang hampa, “Tubuhnya sangat lemah, selalu sakit-sakitan sejak lahir. Aku sudah coba segala cara, tapi tetap nggak bisa menyelamatkannya.”“Jadi kamu menjadikan aku sebagai penggantinya?” Aku menjerit histeris, “Semua hal yang kamu lakukan padaku, juga pernah dilakukan padanya, ‘kan?!”Johan terdiam.Diamnya adalah jawaban yang paling jelas.Tubuhku gemetar hebat menahan amarah, air mata pun menetes tanpa bisa ditahan.“Kamu benar-benar mesum! Kamu gila!” teriakku sambil menghempaskan bingkai foto itu ke lantai
Keesokan harinya, aku pergi ke kampus dengan kantung mata yang hitam.Semua hal yang terjadi tadi malam terasa seperti mimpi buruk yang tak masuk akal.Asal memejamkan mata, aku bisa melihat wajah Johan yang menegang antara bergairah dan tersiksa, serta mulutnya yang terus memanggil nama ‘Erlin’.Setelah amarah dan rasa terhina itu mereda, yang tersisa hanyalah rasa takut dan kebingungan yang sangat dalam.Pria yang kupanggil ‘ayah’ selama belasan tahun ini sebenarnya orang seperti apa?Dan baginya, sebenarnya diriku ini dianggap apa?Aku benar-benar ingin segera tahu kebenarannya.Aku mencoba mencari ‘Johan’ dan ‘Erlin’ di internet, tapi hasilnya nihil.Sebagai dokter terkenal, berita positif dan jurnal akademis tentang Johan memang bertebaran, tapi tak ada satu pun yang menyinggung kehidupan pribadinya.Nama ‘Erlin’ juga terlalu pasaran. Ada puluhan ribu hasil pencarian dan tak ada satu pun yang tampak berhubungan dengannya.Petunjuknya seolah terputus.Dengan pikiran kacau balau, ak
Aku mendambakan hujan lebat untuk memadamkan kobaran api di tubuhku.Dan dia adalah satu-satunya orang yang bisa memadamkanku.Napas Johan terdengar memburu dan berat, hembusannya yang panas menyapu puncak kepalaku.Kedua tangannya di samping tubuh terkepal, lalu mengendur dan terkepal lagi, seolah sedang bertarung sengit dengan pikirannya sendiri.Pada akhirnya, gairah menang melawan akal sehat.Dia menggeram rendah bagaikan seekor binatang buas. Dia tiba-tiba menopang bokongku dan menggendongku, lalu melangkah lebar menuju sofa kulit yang luas itu.Dia melemparkanku ke sofa dengan kasar, lalu menekan seluruh tubuhnya di atasku.“Angel… kamu sendiri yang memancingnya!”Suaranya terdengar penuh gairah yang terpendam lama, bercampur sedikit kegilaan.Detik berikutnya, dia mendaratkan ciumannya tanpa henti.Ciumannya tidak lagi selembut biasanya, melainkan dipenuhi sikap agresif dan dominasi.Dia melumat bibirku, lalu lidahnya menerobos masuk melalui celah gigiku, bergerak liar dan terus
“Ayah… ayah….” Aku bergumam tanpa sadar, suaraku terdengar sangat manja dan lembut.Tepat saat kusangka dia bakal melangkah ke tahap berikutnya, dirinya malah tiba-tiba melepaskan cengkeraman dan mundur selangkah.Karena kehilangan tempat bersandar, tubuhku langsung lemas dan hampir saja merosot ke lantai.Aku membuka mata dan menatapnya dengan bingung.Terlihat dia bersandar di tepi meja kerja, dadaku bergerak naik turun terengah-engah dengan keringat yang membasahi kening.Dia menatapku, tapi kali ini sorot matanya memperlihatkan gairah yang ditahan paksa dan ada sedikit… pergolakan batin?“Sudah malam, cepat balik dan tidur,” ujarnya sambil memalingkan wajah, suaranya terdengar agak serak.“Ingat, jangan sembarangan masuk ke ruang kerjaku lagi.”Usai bicara, dia tak lagi menatapku. Dia langsung berjalan ke balik meja kerja dan duduk. Lalu mengambil sebuah buku dan berpura-pura membacanya dengan serius.Aku membeku di tempat. Gejolak panas di dalam tubuhku masih membara, tapi tiba-ti







