Elara menunduk, merasakan napasnya mendadak berat. Pertanyaan itu sederhana, tapi tenggorokannya tercekat, sulit menjawab. Ia bingung menjelaskan perasaannya sendiri. “Tidak apa-apa kalau belum bisa jawab,” lirih Luca, melepaskan dekapannya di kedua bahu Elara. “Aku nyaman bersamamu, Luc.” Elara menarik napas panjang, tangannya memegang ujung baju Luca, keraguan menyeruak dalam benaknya. “Aku bahagia bersamamu,” tambahnya. “Tapi?” Luca berbisik. Elara terdiam, tidak berani membalas tatapan Luca. Entah apa yang sebenarnya ia takuti. Mungkin takut Luca membaca ke dalam dirinya lewat manik matanya? “Aku … tidak tahu. Maaf, Luca,” jawab Elara pelan, kedua tangannya tanpa sadar mengepal ringan. Luca tidak merespon. Pria itu hanya tersenyum sembari mengecup puncak kepala Elara. “Tidak masalah. Aku tidak pernah memaksakan perasaanmu padaku,” jawabnya singkat sebelum beranjak keluar kamar. Meninggalkan Elara Ainsley sendiri dengan rasa gelisahnya.*** Luca membalas sapaan beberapa kar
Huling Na-update : 2026-10-04 Magbasa pa