“Kau gila, Nathan!” desis Elara tajam, sorot matanya tidak bisa fokus pada Nathan karena buliran bening terus menetes deras. Ia melangkah cepat masuk ke kamarnya, Nathan mengikuti di belakang. “El, kita harus bicara. Dengarkan aku.” “Tidak!” Elara menepis tangan Nathan tanpa membalikkan badan. Ia membiarkan pria itu masuk ke kamarnya dan menutup rapat pintu, sementara Keira masih ada di ruang tengah sendirian. Kepala Elara rasanya mau pecah, terlalu penuh oleh rasa bingung, kecewa, dan marah. “El, dengarkan aku!” tegas Nathan namun suaranya masih terkontrol, hanya saja rautnya mulai tampak kesal. Langkahnya mendekati Elara yang masih menolak untuk bertatapan. Elara menarik nafas panjang, lalu dikeluarkan lagi. Berkali-kali ia lakukan itu demi bisa menenangkan diri. Ia ingin bicara pada Nathan tentang semua ini, tapi tidak dengan menangis dan marah yang meletup, otaknya tidak bisa berpikir jernih. Suasana mendadak hening, hanya terdengar suara tangisan Elara yang perlahan mulai
Last Updated : 2026-09-20 Read more