Dia menampar wajahku dengan keras. "Dasar perempuan murahan, anakku bukan orang yang bisa kamu ganggu, anak itu sangat penurut.""Masa, sih? Kalau begitu kita lihat nanti, ya?"Setelah berkata demikian, aku bersiap pergi, tapi dia menahan tanganku."Ada apa, Ayah?"Dia seketika bungkam tidak bisa menjawab."Oh, iya, hampir lupa." Setelah berkata begitu, aku menggunakan seluruh tenagaku untuk menampar mukanya dua kali dengan keras."Aku ini orangnya nggak suka berutang sama orang lain. Tentu aja orang lain juga nggak boleh berutang sama aku, kalau nggak, bakal kubalas berlipat ganda."Setelah mengucapkannya dengan penekanan di setiap kata, aku meninggalkannya yang terpaku lalu berbalik pergi.Sebentar lagi sudah mau tahun baru, jadi aku bilang sama Rigo kalau aku mau menginap di rumahnya. "Sayang, aku mau kenal keluargamu lebih dekat, biar bisa beradaptasi lebih awal buat persiapan kehidupan pernikahan kita. Liburan tahun baru ini kita rayain sama-sama di rumahmu, ya?""Boleh banget, it
Read more