LOGINSebelumnya ibu Rigo pergi ke luar negeri untuk urusan perjalanan bisnis, belakangan ini baru pulang.Saat melihatku sebagai calon menantu, dia juga sangat menyukaiku. Kami punya banyak hobi yang sama. Pikiran ibunya sangat muda dan modis, serta mengerti lelucon yang ada di internet. Kami punya banyak topik pembicaraan dan sangat cocok.Pria berengsek itu takut aku bakal bicara sembarangan sampai ketakutan setengah mati. Melihat penampilannya yang seperti itu, timbul niatku untuk menggodanya."Tante, Om ganteng banget begini, apa nggak ada yang mengejar?"Tante tersenyum pelan. "Harusnya ada, tapi belum pernah ada yang berani berulah di depanku.""Aku malah pernah dengar gosip, loh. Katanya Om pernah membohongi seorang gadis di sekolah kami, bilang kalau dirinya belum nikah, lalu membujuk gadis itu untuk jadi selingkuhannya selama satu tahun. Dia bahkan jadikan gadis itu sebagai alat pencari uang untuk menyenangkan hati investor."Wajah pria berengsek itu seketika suram. Aku melihat rau
Dia menampar wajahku dengan keras. "Dasar perempuan murahan, anakku bukan orang yang bisa kamu ganggu, anak itu sangat penurut.""Masa, sih? Kalau begitu kita lihat nanti, ya?"Setelah berkata demikian, aku bersiap pergi, tapi dia menahan tanganku."Ada apa, Ayah?"Dia seketika bungkam tidak bisa menjawab."Oh, iya, hampir lupa." Setelah berkata begitu, aku menggunakan seluruh tenagaku untuk menampar mukanya dua kali dengan keras."Aku ini orangnya nggak suka berutang sama orang lain. Tentu aja orang lain juga nggak boleh berutang sama aku, kalau nggak, bakal kubalas berlipat ganda."Setelah mengucapkannya dengan penekanan di setiap kata, aku meninggalkannya yang terpaku lalu berbalik pergi.Sebentar lagi sudah mau tahun baru, jadi aku bilang sama Rigo kalau aku mau menginap di rumahnya. "Sayang, aku mau kenal keluargamu lebih dekat, biar bisa beradaptasi lebih awal buat persiapan kehidupan pernikahan kita. Liburan tahun baru ini kita rayain sama-sama di rumahmu, ya?""Boleh banget, it
Rigo benar-benar menyukaiku. Setelah tahu aku daftar di kampus mana, dia juga mendaftar di kota yang sama denganku.Di sisinya sudah tidak ada lagi anak buah, rasa angkuh berkurang dari tatapannya, lalu bertambah rasa polos dan konyolnya.Dia juga masih tetap sesantai itu. "Amira, aku udah mengejarmu cukup lama, kasih kesempatan dong.""Boleh."Dia mengira telinganya salah mendengar. "Kamu bicara apa? Coba katakan sekali lagi.""Aku bilang boleh, aku kasih kamu kesempatan."Dia malah mendadak jadi malu-malu, daun telinganya memerah, lalu sudut bibirnya sulit sekali ditahan untuk tidak tersenyum. "Beneran, Sayang?"Ibunya Rigo bilang makin cantik seorang wanita, makin pandai dia membohongi orang. Menurutku pria yang tampan juga cukup pandai membohongi orang.Sama seperti ayahnya.Gara-gara pria berengsek itu, sebenarnya aku sekarang sudah bukan tipe cewek pemalu lagi, tapi berhubung Rigo masih cukup polos, aku tetap harus berpura-pura. Aku berpura-pura malu. "Kamu ngapain, sih? Banyak o
Dia pergi, kami pun otomatis putus.Aku masih merindukannya. Aku benar-benar tidak berpendirian. Sekitar seminggu kemudian, aku kembali mendatangi om itu tanpa tahu malu untuk mengajak balikan.Hatiku merasa sangat menderita, kali ini aku benar-benar menjadi mainan yang tidak memiliki harga diri lagi.Tapi, dibandingkan harus kehilangan om itu, aku merelakannya dengan senang hati.Tapi, baru hari kedua kami balikan, om itu mendadak tidak memedulikanku lagi. Pesan yang kukirim tidak dibalas, telepon dariku juga dimatikan.Aku merasa agak cemas. Awalnya aku mengira dia sibuk, tapi makin memikirkannya rasanya makin tidak beres, jadi aku pergi menghadangnya di bawah gedung perusahaannya.Dia mengatakan yang sebenarnya padaku. "Kita putus aja, ke depannya nggak bisa berhubungan lagi.""Kenapa? Bukannya aku udah turuti semua kemauan Om?""Bukan masalah itu. Istriku kayaknya udah mulai curiga, demi keamanan mending kita pisah aja."Aku seketika merasa seperti tersambar petir di siang bolong.
Di bawah tatapannya yang menggoda, aku menyatakan perasaanku padanya dengan gugup.Aku mengungkapkan banyak hal, tentang pertama kali melihatnya, kejadian di ruang belajar mandiri, hingga rasa rinduku beberapa hari belakangan ini.Dia tertawa pelan. "Suka sama Om? Suka di bagian mananya?"Tidak disangka om itu akan bertanya seperti itu. Aku menunduk malu lalu berbisik pelan, "Soalnya ... Om sangat tampan."Mendengar jawabanku, dia tertawa terbahak-bahak, lalu mendudukkanku di pangkuannya. "Masa, sih? Om nggak suka sama pembohong, ya!""Nggak, aku nggak bohong."Senyuman di wajah om itu makin lebar. "Ya udah, cium Om dong."Entah kenapa, setiap kata yang keluar dari mulut om itu selalu bisa membuat wajahku memerah. Dengan wajah yang merona, aku mencium pipi om itu pelan.Aku dan om itu resmi berhubungan. Dia bersikap sangat baik padaku dan selalu membelikanku makanan enak setiap harinya, hingga aku tenggelam dalam manisnya masa-masa kasmaran.Tentu saja, om itu juga sangat menikmati tub
Keesokan harinya, bantalku basah kuyup karena air mata, lalu aku pergi ke sekolah dengan mata yang merah.Tidak disangka, aku langsung melihat om itu begitu sampai di gerbang sekolah, tapi dia malah menganggapku seperti angin lalu padahal jelas-jelas melihatku.Aku menggigit bibir, berusaha menahan air mata agar tidak menetes.Selama beberapa hari berturut-turut, aku selalu melihat om itu datang mengantarkan anaknya sekolah.Aku makin kehilangan kendali. Aku sangat menyesali sikapku hari itu. Seharusnya aku melupakan sifat alimku dan menyenangkan hati om itu. Ini semua gara-gara aku sok jual mahal dan terlalu penakut, sampai-sampai om itu menganggapku akting, lalu jadi membenciku seperti ini.Aku bahkan sampai berpikir, bukannya om itu bilang mau balas dendam padaku? Balas dendam saja padaku, hukum aku sepuasnya! Bukannya dia bilang mau bikin aku bayar mahal? Aku benar-benar bersedia melakukan apa saja, seberlebihan apa pun tidak masalah, asalkan dia tidak bersikap dingin begini padaku







