"Maafkan aku, Aurora. Aku terlalu terbawa suasana sampai-sampai pikiranku melantur ke masa lalu," ucap Arkael sambil mengusap wajahnya pelan, menyadari kekeliruannya barusan.Aurora mengernyitkan dahi, menatap suaminya dengan penuh selidik. "Melantur ke mana? Bramantyo sudah lama mendekam di balik jeruji besi, dan Tania sudah enyah dari rumah ini sejak insiden malam itu. Tidak ada lagi ancaman dari mereka.""Kau benar," balas Arkael, lalu menarik napas panjang untuk menjernihkan pikirannya. "Aku hanya terlalu waspada. Pikiran bawah sadarku kadang masih terjebak di hari-hari saat kita harus bertarung menghadapi intrik busuk mereka."Aurora melangkah lebih dekat, menangkup pipi suaminya dengan kedua tangan hangatnya. "Semua mimpi buruk itu sudah selesai, Arkael. Tidak ada lagi Bramantyo, tidak ada lagi Tania, dan tidak ada lagi musuh yang bisa merusak kedamaian kita.""Aku tahu, Sayang," gumam Arkael, memejamkan mata sejenak untuk menikmati sentuhan lembut istrinya. "Hanya saja, menguas
Última atualização : 2026-09-27 Ler mais