LOGIN"Tempat ini adalah rumah bagi anak-anak yang kehilangan masa depan, seperti aku dulu." Arkael meresmikan gedung yayasan sosial baru dengan suara bariton yang mantap dan bergema memenuhi aula utama.Gedung megah bernuansa putih bersih itu berdiri kokoh di atas lahan seluas sepuluh hektar di kawasan pinggiran ibu kota.Sinar matahari pagi menembus atap kaca atrium raksasa, membiaskan cahaya yang menimpa dinding berukirkan nama Yayasan Kasih Eleonora dan Mozaus Harapan Bangsa.Suara riuh tawa ratusan anak-anak bergaung riang, menyelimuti ruangan dengan suasana penuh kehangatan dan rasa optimisme yang baru.Arkael berdiri tegap di atas podium kayu mahoni utama. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang dilapisi jas hitam eksekutif tanpa dasi, memancarkan wibawa pimpinan yang tenang dan matang.Di samping kanannya, Aurora berdiri sangat anggun dalam balutan gaun sutra melati berwarna biru muda.Tangan kanan Aurora menggenggam jemari Arkael dengan penuh kehangatan, sementara tangan kirinya men
"Selamat datang kembali di istana utama, Tuan Muda dan Nyonya." Seluruh staf menyambut di landasan helipad pribadi Mozaus, membungkuk penuh hormat seraya berjejer rapi di sepanjang jalur penerimaan.Baling-baling helikopter eksekutif bernuansa hitam pekat berputar perlahan hingga akhirnya berhenti total.Udara hangat khas perbukitan tanah air berembus lembut, membawa aroma tanah basah dan kesegaran pepohonan yang familiar.Arkael melangkah keluar dari kabin helikopter dengan tenang.Pria itu menggendong Arlo kecil yang terbangun dari tidur lelapnya, sementara tangan kirinya menggandeng erat jemari Aurora.Setelan jas perjalanan yang dikenakan Arkael tampak begitu rapi, memancarkan aura kepemimpinan yang amat kuat dan disegani.Aurora melangkah di samping suaminya dengan senyuman anggun yang memancar hangat.Gaun kasual berwarna krem yang dikenakannya melambai halus tertiup angin sore."Rasanya sangat menyenangkan bisa kembali menghirup udara rumah kita, Sayang," kata Aurora seraya men
"Kau luar biasa di atas panggung tadi, Arkael." Aurora menyeduh teh hangat di kamar suite mewah Hotel Le Grand, menuangkan cairan keemasan yang beraroma chamomile segar ke dalam dua cangkir.Uap hangat membumbung halus dari cangkir, membias di antara pendar cahaya perapian otomatis yang memancarkan rona keemasan di seluruh penjuru ruang tengah penthouse. Di luar jendela kaca raksasa setinggi langit-langit, kepingan salju pertama di musim dingin Jenewa mulai turun secara perlahan, melayang halus melintasi kegelapan malam sebelum hinggap di tepian bingkai kaca.Arkael melangkah perlahan dari koridor dalam kamar tidur setelah memastikan Arlo terlelap nyaman di bawah selimut tebal. Pria itu kini telah melepas jas resmi dan dasi malamnya, menyisakan kemeja putih yang lengan bagian atasnya dilipat rapi hingga ke siku.Arkael mendekati meja marmer kecil tempat Aurora berdiri, menerima cangkir teh hangat yang diangsurkan oleh istrinya."Anak kita sudah tidur nyenyak, Aurora. Jalur perjalana
"Kekuatan sejati sebuah dinasti bukan terletak pada harta yang diwariskan, melainkan pada keberanian untuk melindungi keadilan." Suara Arkael menggema di ruang sidang utama, membelah keheningan yang menyelimuti ribuan delegasi tingkat tinggi dari seluruh penjuru dunia.Lampu sorot panggung utama menembus kemegahan auditorium Grand Palais Jenewa, membiaskan pendar cahaya keemasan yang menimpa sosok Arkael Mozaus.Pria itu berdiri tegap di balik podium kayu jati berukir lambang perserikatan internasional.Kemeja putih bersih dipadukan dengan setelan jas hitam buatan penjahit terbaik Milan membalut tubuh kekarnya, memancarkan pesona kepemimpinan mutlak yang memikat seluruh pasang mata di ruangan tersebut.Di barisan depan kursi kehormatan V.I.P., Aurora duduk anggun mengenakan gaun sutra gading bersulam benang perak. Ia memangku Arlo kecil yang mengenakan kemeja miniatur rapi.Di sisi kiri dan kanan barisan V.I.P., Jenar dan Niskala berdiri siaga dengan pakaian jas eksekutif, memantau se
"Siapa yang menyuruhmu menyusup ke lantai privat kami?!" Arkael mencengkram kerah baju penyusup tersebut dengan satu tangan tegapnya, menghentakkan tubuh pria itu ke dinding beton basemen hingga suara debuman keras menggema di ruangan tertutup tersebut.Lampu sorot tunggal berwarna putih keperakan menggantung rendah di tengah kamar pengamanan bawah tanah Hotel Le Grand, membiaskan cahaya dingin yang menimpa wajah penyusup berjaket staf kebersihan.Udara basemen yang lembap dan dingin terasa kaku oleh dominasi wibawa Arkael yang amat pekat.Pria bertato mawar hitam di lehernya itu meringis kesakitan, napasnya tersengal-sengal di bawah cengkraman telapak tangan Arkael yang bagaikan catok besi.Matanya yang liar memancarkan ketakutan tatkala menatap langsung ke dalam manik mata hitam sang kaisar Mozaus.Jenar Baskara berdiri dua langkah di samping kanan Arkael dengan posisi tubuh bersiap, sementara Niskala memegang konsol rekaman biometrik di sisi kiri ruangan."Bicara sebelum aku menyer
"Jangan takut, Sayang. Aku ada di sini bersamamu." Arkael meletakkan gagang telepon dengan tatapan dingin yang membekukan.Lampu gantung kristal di dalam penthouse Hotel Le Grand memancarkan hangat yang kontras dengan keheningan mencekam di dalam ruangan.Suara derit kayu perapian otomatis berpadu halus dengan embusan angin dingin yang menerpa kaca jendela raksasa, mempertegas isolasi tempat tersebut dari hiruk-pikuk kota Jenewa di bawah sana.Aurora berdiri mematung di samping tempat tidur tempat Arlo terlelap pulas.Kedua tangannya tertaut erat di dada, matanya yang cokelat terang menatap Arkael dengan kecemasan yang bergolak hebat di balik ketenangannya."Apakah itu dialah, Arkael?" tanya Aurora dengan nada suara yang bergetar pelan. "Apakah itu Victor Rorvik?"Arkael melangkah mendekati istrinya, merengkuh kedua bahu tegap Aurora dengan jemarinya yang hangat. "Dia mencoba memainkan pikiran kita, Saysng. Suara desisan napas itu hanyalah gertakan murahan dari musuh yang sudah kehabi







