Malam semakin larut, menyisakan keheningan pekat di kamar loteng yang sempit.Aurora memeluk tubuhnya sendiri, merasakan dingin yang bukan sekadar sisa hujan di luar sana, melainkan hampa yang tiba-tiba merayap di dada.Pintu kamar berderit pelan, dan sebelum ia sempat menoleh, sepasang lengan kekar telah melingkar erat di pinggangnya dari belakang, menyalurkan kehangatan yang selama ini menjadi satu-satunya tempat ia pulang."Kael... kau kembali?" bisik Aurora tertahan, air mata haru seketika lolos membasahi pipinya.Arkael tidak menjawab dengan kata, ia membalikkan tubuh Aurora perlahan, menenggelamkan wajahnya di leher jenjang wanita itu, menghirup aroma melati yang selalu berhasil menenangkan badai di kepalanya.Ciuman lembut mendarat di pelipis, turun ke kelopak mata yang basah, lalu merayap perlahan ke bibir yang gemetar.Sentuhan itu bukan lagi tentang pelarian dari dunia malam yang kejam, melainkan sebuah ibadah kerinduan yang disucikan oleh air mata perpisahan.Mereka rebah d
Última atualização : 2026-09-10 Ler mais