Bab 5 — Yang Tak DiundangMalam itu Kania masih di apartemen butiknya, duduk di lantai yang sudah mulai dilapisi keramik baru, ditemani laptop dan setumpuk laporan bisnis yang belum sempat dia baca sejak pagi. Sebagian besar pekerja sudah pulang, hanya tinggal beberapa lampu kerja yang menyala, dan suara samar Arka yang masih memeriksa instalasi listrik di ruang sebelah.Suara ketukan di pintu utama membuatnya menoleh.Bukan Arka, bukan pekerja.Tapi, Aji berdiri di ambang pintu, wajahnya lelah, tangannya menggenggam sebuket bunga yang terlihat terburu-buru dibeli, bukan dipilih dengan hati-hati."Kania, tolong dengerin aku sebentar aja," katanya, suaranya lebih pelan dari biasanya, nyaris memohon.Kania berdiri, tidak menyembunyikan rasa terkejutnya. "Gimana kamu tahu saya di sini?" tanya Kania. "Kala," jawab Aji singkat. "Aku maksa dia,” imbuhnya. Kania menghela napas, rahangnya mengeras. Dia akan bicara serius dengan Kala nanti soal batasan."Kita udah cerai, Mas. Nggak ada lagi
Last Updated : 2026-09-11 Read more