Selingkuh Di Kamarku, Sembuh Di Pelukannya

Selingkuh Di Kamarku, Sembuh Di Pelukannya

last updateLast Updated : 2026-09-11
By:  YL WanodyaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
8Chapters
18views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Kania pulang lebih awal dan mendapati suaminya bersama wanita lain di kamar mereka sendiri. Delapan tahun pernikahan, hancur dalam hitungan detik. Mertuanya malah menyalahkannya: "Kamu terlalu sibuk kerja." Kania memilih pergi. Satu-satunya tempat yang terasa aman adalah apartemen miliknya sendiri, yang sedang direnovasi oleh Arka arsitek muda, laki-laki yang tak pernah menuntutnya menjelaskan apa pun. Tapi perceraian bukan akhir dari perang. Mantan suaminya menggugat balik, dan seseorang yang tak dikenal mulai bergerak diam-diam di belakang Ibu mertuanya. Bisakah Kania bertahan sendirian? Atau haruskah dia biarkan seseorang masuk lebih dalam ke hidupnya?

View More

Chapter 1

Bab 1 — Retak yang Disembunyikan

Bab 1 — Retak yang Disembunyikan

“Ahh…Sayang…,” 

Suara itu yang lebih dulu menyapanya bukan wajah Aji, bukan bau parfum asing yang menempel di udara, tapi suara. Erangan pelan, tersekat, yang cukup jelas menembus pintu kamar yang tak sepenuhnya tertutup.

Kania berhenti di ujung koridor, masih menenteng tas kerjanya, sepatu hak yang belum sempat dilepas. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul empat sore dua jam lebih awal dari jadwalnya biasa pulang. Rapat sore itu dibatalkan mendadak, dan dia tidak sempat mengabari siapa pun. Termasuk suaminya sendiri.

Langkahnya melambat, tapi tidak berhenti. Sesuatu di suara itu terasa asing bukan nada yang pernah ditujukan padanya sendiri, sudah bertahun-tahun.

Pintu kamar utama terbuka beberapa senti. Cukup untuk melihat siluet dua tubuh di balik seprai kusut, gerak yang tak perlu penjelasan lebih jauh untuk dipahami.

Kania tidak menjerit, tidak menjatuhkan tasnya seperti adegan-adegan di drama yang pernah ditontonnya. Dia hanya berdiri, mengamati, seolah tubuhnya butuh waktu lebih lama dari otaknya untuk memahami apa yang sedang terjadi di depan matanya sendiri.

Lalu, Sesuatu di kepalanya berputar cepat, seperti film yang diputar mundur tanpa suara. Delapan tahun. Cincin yang dia pilih sendiri di sebuah toko kecil di kota B, karena Aji bilang, "Terserah kamu aja, yang penting kamu suka." 

Sofa di ruang tengah yang dia beli dengan gaji pertamanya sebagai desainer lepas, sebelum butiknya benar-benar berdiri. Foto pernikahan yang masih terpajang di lorong ini, hanya beberapa langkah dari pintu yang sekarang setengah terbuka di depannya.

Dia tidak menangis. Anehnya, yang muncul justru rasa ingin tahu yang dingin seolah dirinya sendiri sedang mengamati orang lain, bukan hidupnya sendiri yang sedang runtuh.

Dengan tangan yang nyaris tidak gemetar, dia mengeluarkan ponselnya dari saku mantel dan memotret.

Satu kali, dua kali.

Cukup.

Suara kain tersibak, langkah kaki panik. Beberapa detik kemudian, Aji muncul di ambang pintu, hanya berbalut selimut yang diraih asal-asalan, wajahnya pucat sepersekian detik lalu berubah.

"Kania—" Dia menghela napas, seolah yang paling lelah di situasi ini adalah dirinya sendiri. 

"Ini bukan salah aku sepenuhnya,” tuturnya. 

Kania mengangkat alis, tidak menjawab.

"Kamu pikir aku nggak capek sendirian tiap malam?" Suara Aji mulai naik, defensif menutupi rasa panik yang tadi sempat terlihat.

 "Kamu sibuk terus. Kerja, meeting, klien. Kapan terakhir kali kamu benar-benar ada buat aku, hah? Aku juga manusia, Kania. Aku butuh diperhatikan,” ujarnya dengan tangan bersedekap dada. 

Tubuh yang penuh dengan keringat.

Dari dalam kamar, sosok yang tadi bersamanya buru-buru merapikan diri, tak berani keluar.

Kania menatap suaminya lama. Bukan air mata yang muncul, melainkan sesuatu yang lebih dingin. Semacam kelegaan aneh, seolah topeng yang selama ini dia tahan-tahan akhirnya boleh dilepas.

"Jadi ini alasannya," katanya pelan, nyaris seperti bergumam pada diri sendiri. 

"Aku sibuk kerja, jadi kamu berhak tidur dengan orang lain di kamar kita,” ucap Kania lembut. 

Aji membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.

Kania sudah membalikkan badan.

Dia tidak berlari, tidak membanting pintu. Langkahnya justru terasa lebih ringan begitu keluar dari kamar itu. Seolah setiap detik menjauh dari suara Aji yang masih mencoba memanggil namanya di belakang adalah detik yang mengembalikan sedikit demi sedikit kendali atas dirinya sendiri.

Di dalam mobil, dia duduk diam sejenak sebelum menyalakan mesin. Ponselnya masih tergenggam, dengan dua foto yang baru saja diambil. Dia tidak membukanya lagi. Belum saatnya.

Yang dia butuhkan sekarang bukan pengacara, bukan drama, bukan air mata di depan siapa pun. Yang dia butuhkan adalah tempat untuk berpikir jernih.

Dia teringat satu tempat properti yang dibelinya sendiri tahun lalu, hasil kerja kerasnya sendiri, jauh dari nama Aji atau bayang-bayang Ibu Aminah. Sebuah apartemen butik kecil di pusat kota, yang sedang direnovasi, yang bahkan belum sempat dia tempati sendiri.

Tempat itu miliknya. 

Dia menyalakan mesin mobil, dan untuk pertama kalinya sore itu, embusan napasnya terasa seperti awal, bukan akhir.

Sesampainya di sana, suasana proyek renovasi masih ramai beberapa pekerja merapikan alat, debu material bangunan masih terasa di udara. Di antara kesibukan itu, ada satu sosok yang berdiri memberi instruksi dengan tenang, gulungan denah di tangannya.

Dia menoleh sebentar ke arah pintu masuk, menangkap sosok wanita yang baru datang masih mengenakan pakaian kerja rapi, tapi ada sesuatu di wajahnya yang tidak biasa. Wajahnya menyiratkan kelelahan, tapi tubuhnya tetap tegak.

"Maaf, ini area kerja, belum—" Dia baru saja hendak menjelaskan, sebelum sadar siapa yang berdiri di hadapannya.

 "Bu Kania?" panggilnya. 

Kania hanya mengangguk singkat, tanpa senyum, tanpa basa-basi yang biasa dia lontarkan pada mitra bisnis atau siapa pun yang menyapanya.

 "Arka, kan? Saya cuma mau lihat progres. Nggak perlu berhenti kerja,” ujar Kania dengan santai. 

Langkah kakinya pelan menyusuri apartemen yang masih penuh dengan debu. Dengan Arka yang berdiri membuntutinya. 

“Bu, saya bisa jelaskan jika Anda mau tahu progresnya lebih jauh,” ucap Arka. 

“Tidak perlu,” jawab Kania singkat. 

Matanya tidak benar-benar bertemu pandang dengan Arka lebih sering terarah ke denah di tangannya, ke dinding yang belum diplester, ke mana saja selain wajah orang di depannya. Nada suaranya datar, jaraknya terjaga, seperti sebuah tembok yang otomatis terpasang setiap kali ada orang baru berdiri terlalu dekat. Dia tidak mengulurkan tangan, tidak bertanya kabar. Langkahnya justru mengambil jarak beberapa senti begitu Arka mendekat untuk menjelaskan denah.

Arka menangkap sinyal itu entah insting profesionalnya atau kepekaannya sebagai orang yang terbiasa membaca ruang dan orang di dalamnya. Setiap kali dia mencoba menatap langsung untuk menjelaskan sesuatu, mata Kania selalu lebih dulu berpindah. Seolah kontak mata itu sendiri adalah sesuatu yang harus dihindari. Tapi, Arka tidak memaksa. Cukup memberi laporan singkat, seperlunya sambil sesekali mencuri pandang ke arah wanita yang berdiri kaku di depannya.  Setiap kalimat ramah bisa membuatnya semakin menjauh dari jangkauan Arka. 

"Kalau ada yang mau ditanyain, saya di sini sampai sore," katanya akhirnya, memilih tidak memaksakan obrolan lebih jauh.

Kania hanya mengangguk lagi, mata masih tak sepenuhnya terangkat dari denah di tangan Arka. Berbalik, melangkah ke arah yang belum selesai direnovasi  mencari sudut yang paling sunyi di antara debu dan suara alat kerja, tempat dia bisa berdiri sendirian tanpa perlu menjelaskan pada siapa pun. Tanpa perlu melihat orang lain yang melihatnya lemah atau sekedar mencari tempat untuk tidak berpura-pura. 

Arka menatap punggungnya sebentar, lalu kembali ke pekerjaannya. Tapi entah kenapa, gambar wanita yang menghindari matanya seperti itu bukan karena sombong, tapi karena sesuatu yang lebih dalam sulit dia lupakan begitu saja.

“Sebenarnya, apa yang dia sembunyikan begitu rapi di balik sikapnya yang dingin itu?” gumam Arka. 

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Secret.Vee
Secret.Vee
Aji memang laki-laki kamvret!
2026-09-30 22:33:47
0
0
RinRin
RinRin
aji tipe cowo mokndo banget sih, semangat Kania
2026-09-30 20:35:55
1
0
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status