Pukul delapan pagi, lobi Pengadilan Agama Bandar Lampung sudah seperti pasar.Bukan pasar sayur di Pasar Bambu Kuning, tapi pasar drama. Ibu-ibu dengan kerudung miring, bapak-bapak dengan muka kusut menahan malu, dan pengacara-pengacara dengan map tebal mondar-mandir seperti setan yang kelaparan.Dan di tengah-tengah kerumunan itu, aku, Raisa, turun dari Alphard hitam legamku.Pintu geser otomatis Alphard hitam itu terbuka dengan suara halus, wusss... Semua mata di halaman Pengadilan Agama Bandar Lampung langsung tertuju padaku.Aku, Raisa, tidak lagi memakai daster lusuh. Hari ini, aku memakai blazer putih bersih, rok span hitam selut, dan sepatu hak tinggi merah yang baru saja dibelikan Pak Wiryo kemarin sore di Mall Boemi Kedaton Bandar Lampung. Rambutku yang biasanya aku ikat karet gelang, kini di-blow lurus oleh salon langganan istri-istri direksi PT Gula Emas Bandar Lampung.Aku, Raisa, bukan lagi Raisa penjual gorengan. Aku adalah
Last Updated : 2026-09-24 Read more