Mag-log inSelama 2 tahun, Raisa diperlakukan seperti ART di rumah suaminya sendiri di Lampung. Ibu mertuanya menghina, suaminya selingkuh. Puncaknya, ia diceraikan di depan keluarga karena dianggap hanya lulusan SMP dari desa. Raisa tidak menangis. Ia hanya menelepon satu nomor. 24 jam kemudian, 10 Alphard hitam berhenti di depan rumah itu. Pengacara menyerahkan surat: Raisa adalah pewaris tunggal PT. Siger Emas Group. Kini giliran mantan mertua dan suaminya yang berlutut memohon ampun. Tapi Raisa bukan Raisa yang dulu lagi.
view morePiring keramik mahal itu melayang di udara sebelum pecah berantakan tepat di ujung kaki Raisa.
PRANG! "Dasar menantu kampung tidak tahu diri! Kamu mau meracuni saya, hah? Sop ini asinnya kayak air laut! Kamu mau saya mati darah tinggi biar harta anak saya jatuh ke kamu?!" Suara Siti, ibu mertuanya, menggelegar di tengah ruang tamu mewah itu. Dua puluh pasang mata wanita-wanita sosialita kebun sawit Lampung menatap Raisa. Bukan dengan kasihan, tapi dengan jijik dan tawa yang ditahan. Raisa tidak bergerak. Kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit tipis nyaris terkena pecahan piring. Tangannya yang kapalan karena dua tahun mencuci, mengepel, dan memasak untuk keluarga ini, gemetar memunguti pecahan itu satu per satu. Darah menetes dari jarinya. Tidak ada satu pun yang peduli. Sudah dua tahun sejak Raisa menikah dengan Bima, putra satu-satunya keluarga Hartono yang terkenal kaya raya di Bandar Lampung. Dua tahun ia mengira kesabarannya akan membuahkan cinta. Ternyata tidak. Ia hanya dijadikan pembantu gratis. Ijazah SMP dari desa selalu jadi bahan hinaan. "Bima, lihat istrimu ini! Tidak becus!" Siti menatap anaknya. Bima yang sejak tadi duduk sambil main HP, akhirnya berdiri. Raisa menatap suaminya dengan harapan terakhir. Setidaknya Bima akan membelanya sekali saja. Tapi yang terjadi justru lebih menyakitkan. Bima melemparkan sebuah map coklat ke meja marmer di depan Raisa. Isinya berhamburan. Surat Cerai. Shinta berjalan mendekat dengan angkuhnya. Parfum mahalnya menusuk hidung Raisa yang hanya memakai sabun colek. Ia sengaja menyenggol bahu Raisa hingga Raisa hampir jatuh. "Oh maaf, aku tidak lihat ada pembantu berdiri di sini," kata Shinta dengan tawa manis yang dibuat-buat. "Bim, kamu yakin dia istrimu? Kukira tadi ART baru yang belum digaji. Soalnya dasternya itu lho, udah robek-robek." Siti langsung menyambar, "Betul kata Shinta! Makanya Bima, Mama sudah lama bilang, ceraikan saja! Mama sudah carikan calon yang sepadan. Shinta ini anak teman arisan Mama, papanya pemilik 5 SPBU di Lampung. Bukan kayak dia, bapaknya cuma kuli bangunan yang sudah mati!" Kata-kata "kuli bangunan yang sudah mati" itu menghujam jantung Raisa paling dalam. Ayahnya memang sudah meninggal setahun lalu. Ayah satu-satunya yang pernah menyayanginya tanpa syarat. Dan kini orang yang ia hormati sebagai ibu mertua, menghina makam ayahnya di depan banyak orang. Tangan Raisa mengepal. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangan yang masih berdarah. Inilah batasnya. Selama ini ia diam ketika ia disuruh mencuci baju Shinta yang ketinggalan di rumah Bima. Ia diam ketika uang belanja 20 ribu sehari harus cukup untuk makan 4 orang. Ia diam ketika Bima tidak pulang 3 hari dengan alasan dinas, padahal foto mesranya dengan Shinta di hotel tersebar di status WA teman kantor. Tapi menghina ayahnya? Itu tidak bisa ia diamkan. "Bapak saya bukan kuli bangunan," bisik Raisa pelan, tapi semua orang mendengarnya karena ruangan itu tiba-tiba hening. Siti melotot, "Apa? Kamu berani menjawab, hah? Gadis tidak tahu diri!" "Aku sudah muak, Ra," kata Bima dingin. "Setiap hari Mama ngeluh soal kamu. Aku malu bawa kamu ke acara kantor. Lihat Shinta." Dari pintu masuk, seorang wanita cantik dengan blazer mahal masuk sambil tersenyum penuh kemenangan. Shinta, manajer bank tempat Bima bekerja. Wanita yang selalu Bima puji-puji di depan Raisa. "Shinta itu selevel sama aku. Cantik, pintar, lulusan S2 luar negeri. Bukan kayak kamu, cuma bisa di dapur dan bau bawang," lanjut Bima. Tawa sosialita itu meledak. Mereka berbisik-bisik, "Pantesan diceraikan..." Raisa merasa dunianya runtuh. Hinaan itu sudah melebihi batas. Surat cerai itu terasa lebih berat dari dua tahun penderitaannya. Saat air matanya hampir jatuh, ia teringat pesan terakhir almarhum ayahnya, Pak Haji Mahmud, setahun lalu di gubuk reot mereka. "Raisa, anakku. Kalau suatu hari kamu dihina sampai kamu merasa tidak berharga sebagai manusia, kalau kamu sudah tidak punya siapa-siapa... telepon nomor ini. Jangan pernah telepon sebelumnya. Ayah bukan orang miskin yang kamu kira." Raisa selalu menganggap itu hanya kata-kata penghibur ayahnya. Dengan tangan berdarah, Raisa merogoh saku dasternya yang lusuh. Mengeluarkan HP jadul Nokia retak yang ia beli 100 ribu di pasar. Semua orang menatap aneh. Mau apa gadis kampung ini? Raisa menekan satu nomor yang ia simpan dengan nama "PAK TUA - SIGER". Telepon tersambung. "Halo?" Suara Raisa serak, tapi jelas. Di seberang, suara seorang pria tua yang sangat berwibawa dan tegas menjawab, "Nona Raisa? Akhirnya Anda menelepon." Raisa menarik napas, "Mereka sudah menceraikan saya. Seperti pesan Ayah." Hening sepersekian detik. Lalu suara itu berubah menjadi sangat hormat. "Baik, Nona Pewaris Tunggal. Sesuai wasiat Tuan Besar Haji Mahmud. Saya, Notaris Utama PT. Siger Emas Group, mengaktifkan protokol waris. 10 Alphard hitam dengan pengawal sudah meluncur ke alamat Anda di Jalan Pagar Alam, Bandar Lampung. Dan semua rekening atas nama Ayah Anda senilai 2,7 Triliun kini resmi atas nama Anda. 24 jam lagi, saya akan umumkan siapa pemilik asli Siger Emas Group yang selama ini mereka hina." Telepon ditutup. Tut... tut... tut... tut.. tut.. Ruang tamu itu masih hening. Mereka tidak mendengar isi teleponnya, mereka hanya melihat Raisa tersenyum manis. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Raisa tersenyum. Senyum yang dingin, elegan, dan membuat bulu kuduk Siti sangat merinding. Raisa melemparkan lap pel yang ia pegang ke kaki Bima, suaminya. "Surat cerai ini akan aku tanda tangani," kata Raisa, suaranya bukan lagi suara menantu penakut. "Tapi 24 jam lagi, kamulah yang akan berlutut memohon agar aku tidak jadi menceraikanmu, Bima. Dan kamu, Mama... kamu akan memohon untuk mencuci kaki saya." Raisa berbalik pergi, meninggalkan pecahan piring dan darahnya di lantai marmer yang mahal itu. Dari luar gerbang, suara sirine meraung-raung semakin dekat. Bukan satu, tapi sepuluh mobil hitam beriringan. Lalu, Raisa melangkah keluar dari gerbang neraka itu. Daster robeknya berkibar tertiup angin. Di matanya tidak ada lagi air mata, yang ada hanya bara dendam yang siap membakar seluruh keluarga Hartono. Ia tidak lagi melihat ke belakang. Karena ia tahu, sebentar lagi merekalah yang akan berlari mengejarnya sambil menangis memohon ampun.Rolls Royce Cullinan hitam dan Alphard hitam legam milikku, Raisa, masih terparkir berdampingan di basement PT Gula Emas Bandar Lampung. Di lantai 25, aku, Raisa, masih berdiri di samping Kenzo Adhitama. Tangan kami masih berjabat. Jabat tangan yang terasa terlalu lama. Sementara di luar gedung, pemandangan paling memalukan se-Bandar Lampung sedang terjadi. Rian, Bu Siti, dan Shinta diseret satpam sampai ke trotoar Jalan Jenderal Sudirman. Cek 500 juta yang tadi dilempar Kenzo masih digenggam Bu Siti erat-erat seperti karcis lotre yang menang. "LEPASIN! JANGAN DORONG-DORONG! KAMI PUNYA CEK 500 JUTA! KAMI ORANG KAYA!" teriak Bu Siti ke satpam. Satpam PT Gula Emas Bandar Lampung yang sudah muak dengan drama mereka selama dua hari hanya menjawab dingin, "Ibu, Bapak, silakan pergi. Ini perintah langsung dari Direktur Utama, Nona Raisa." Shinta, yang gaun merahnya sudah lecek karena diseret, membentak satpam itu, "KAMU TAHU GAK SIAPA KAMI? KAMI KELUARGA DIREKTUR! RAISA ITU MANTU IBU
Alphard hitam legamku berhenti di lobi PT Gula Emas Bandar Lampung.Tapi ada yang aneh.Di parkiran VIP yang biasanya kosong, kini terparkir sebuah Rolls Royce Cullinan hitam. Platnya B. Plat Jakarta. Mobil yang harganya 15 miliar. Bahkan Alphard hitam legamku yang dua miliar terlihat seperti angkot di sebelahnya."Pak Wiryo, itu mobil siapa?" tanyaku, Raisa, sambil turun dari Alphard hitam legam.Pak Wiryo wajahnya tegang. "Itu... itu mobil Tuan Besar, Nona Raisa. Tuan Kenzo Adhitama."Kenzo Adhitama?Nama itu seperti nama aktor di drama Korea yang sering ditonton Ibu Lastri di kontrakan petak.Kami masuk ke lobi. Semua karyawan berdiri lebih tegak dari biasanya. Mereka berbisik-bisik."Itu Tuan Kenzo dari Jakarta...""Ganteng banget...""Pemilik Grup Adhitama..."Lift emas membawaku, Raisa, ke lantai 25. Begitu pintu lift terbuka, aku mencium aroma parfum mahal yang menyengat. Parfum pria yang
Pukul delapan pagi, lobi Pengadilan Agama Bandar Lampung sudah seperti pasar.Bukan pasar sayur di Pasar Bambu Kuning, tapi pasar drama. Ibu-ibu dengan kerudung miring, bapak-bapak dengan muka kusut menahan malu, dan pengacara-pengacara dengan map tebal mondar-mandir seperti setan yang kelaparan.Dan di tengah-tengah kerumunan itu, aku, Raisa, turun dari Alphard hitam legamku.Pintu geser otomatis Alphard hitam itu terbuka dengan suara halus, wusss... Semua mata di halaman Pengadilan Agama Bandar Lampung langsung tertuju padaku.Aku, Raisa, tidak lagi memakai daster lusuh. Hari ini, aku memakai blazer putih bersih, rok span hitam selut, dan sepatu hak tinggi merah yang baru saja dibelikan Pak Wiryo kemarin sore di Mall Boemi Kedaton Bandar Lampung. Rambutku yang biasanya aku ikat karet gelang, kini di-blow lurus oleh salon langganan istri-istri direksi PT Gula Emas Bandar Lampung.Aku, Raisa, bukan lagi Raisa penjual gorengan. Aku adalah
Alphard ku itu melaju mulus membelah jalanan protokol di Bandar Lampung.Bukan Alphard hitam biasa. Ini Alphard SC Premium terbaru, yang harganya hampir dua miliar. Joknya kulit asli, ada kulkas kecil di dalamnya, dan pintunya bisa terbuka otomatis hanya dengan sentuhan jari. Jauh, jauh lebih mewah dari Alphard hitam butut milik Rian yang cicilannya saja masih nunggak empat tahun.Aku, Raisa, duduk di kursi belakang yang bisa dipijit otomatis. Tapi tubuhku masih gemetar hebat. Bukan karena AC mobil ini yang dinginnya menusuk tulang, tapi karena otakku masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi di depan kontrakan petak kami.Di sebelahku, Ibu, wanita yang selama dua puluh lima tahun aku panggil Ibu, menangis dalam diam. Tangan keriputnya yang biasa mengulek sambal, kini menggenggam tanganku erat. Tangannya dingin."Maafkan Ibu, Raisa... Maafkan Ibu... Ibu terpaksa bohong selama dua puluh lima tahun... Ibu tidak punya pilihan lain, Nak..."






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.