Kamar isolasi 502 terasa menyesakkan. Setelah meninggalkan ruang pertemuan lantai tujuh, Nadia berlutut di samping ranjang Raka sambil mengatur napas. Telapak tangan yang menampar Adrian masih panas, tetapi pikirannya hanya dipenuhi waktu yang tersisa untuk putranya.“Ma… tangannya kenapa merah? Mama sakit?”Dari balik masker oksigen, Raka mengulurkan jari kurus dan mengusap punggung tangan Nadia yang gemetar. Melihat mata jernih anaknya, mata Nadia ikut memanas.Nadia membalik tangannya, menyembunyikan telapak yang memerah di atas lutut.“Cuma sedikit perih. Sebentar lagi hilang.”Raka tetap memandangi tangan itu. Nadia mengusap jarinya dengan ibu jari, lalu tersenyum sebisanya. Ia tidak ingin membawa pertengkaran dari lantai tujuh ke ranjang anaknya.“Sekarang Mama duduk di sini, ya.”Raka menggeser selimut, memberi tempat di sisi ranjang. Tempat itu terlalu sempit untuk diduduki, tetapi Nadia mendekatkan kursinya. Setelah memastikan putranya dapat meraih lengannya, ia membuka lagi
Last Updated : 2026-09-28 Read more