Pagi hari, hari paling melelahkan bagi para pelayan di kediaman Burdur. Mereka harus bangun ketiga masih gelap dan mengerjakan semua pekerjaan dengan rasa patuh. Hal itu tak memiliki alasan lain, kecuali karena mereka hanyalah pelayan, bahkan juga seorang budak. Pagi itu, dia area kendang terdengar suara tawa para pelayan, mereka bercanda sambil menghilangkan kepenatan tubuh mereka, bahkan juga hidup mereka yang getir. Tempat ini menjadi logistik pakan ternak, baik ternak untuk konsumsi maupun hewan yang ditugaskan berperang.Bau kotoran kuda, jerami basah mendekati busuk, menciptakan aroma sengak yang nikmat untuk para pekerja.Di koridor Lorong kendang-kandang itu, seorang pemuda dengan rambut acak-acakan melihat semua situasi. Tangan kirinya memegang papan tipis yang entah dia dapat darimana dan ada kertas yang dijepit, tangan kanannya memegang bulu pena hitam. Wajah milik Brian, dingin tanpa senyum. Sejak tadi, para pelayan melihatnya seperti orang gila karena mondar-mandir. Namun
Last Updated : 2026-10-10 Read more