LOGIN
Hidup memang selalu sial untuk Brian, manalah ada keadilan untuknya sebagai orang kecil hidup di negeri ini! Bahkan, sore itu Adalah hari paling sialnya, gas air mata menyengat hidung Brian sampai matanya mengeluarkan airmata. Saat pulang kerja, tepatnya saat tempat kerjanya ditutup dia terjebak di antara kerumunan manusia yang berdemonstrasi. Para demonstan berteriak; Kembalikan keadilan di negeri ini! Turunkan presiden! Hukum mati koruptor! Mereka membawa spanduk dan mundur didesak oleh barikade aparat.
Bagi Brian, dia tak peduli semua itu. Dia hanya ingin punya uang cukup, bisa makan dengan tenang dan hidup tanpa tagihan hutang. Itu sudah cukup! Dia berdiri di trotoar dan memegang kantong plastik berisi satu kotak susu kadaluarga tiga hari dan secarik kertas pemutusan hubungan kerja.
Pikirannya melayang jauh melintasi 27 tahun masa hidupnya yang, kalau boleh jujur, mirip komedi tragis berbiaya murah. Ah sial!
Sejak kecil, cita-cita Brian sangat sederhana dan bersahaja: ingin jadi Manajer Penjualan Terbaik. Ketika anak-anak seumurannya bercita-cita jadi astronot, presiden, atau pembalap, Brian kecil sudah mahir menawar harga permen di warung tetangga sampai pemilik warung menyerah dan memberinya bonus stiker. Dia punya bakat alami dalam negosiasi, analisis pasar, dan komunikasi.
Memasuki dunia perkuliahan, Brian lulus dengan predikat cum laude dari jurusan Manajemen. Otaknya encer, logikanya tajam, dan retorikanya mampu menyulap barang bekas menjadi barang bernilai tinggi. Brian sangat yakin masa depannya akan cerah.
Sayangnya, Brian melupakan satu syarat paling absolut untuk sukses di negaranya: Relasi Orang Dalam atau Ordal!
Saat melamar di perusahaan korporasi global A, posisinya direbut oleh keponakan Direktur Utama yang bahkan tidak tahu bedanya debit dan kredit. Melamar di perusahaan B, posisi manajer diberikan kepada sepupu Komisaris yang hobi bolos kerja demi main golf. Di perusahaan C, Brian dinyatakan gugur di tahap akhir karena "kurang memiliki nilai kekeluargaan" dan, itulah sebuah kode halus untuk kata bukan keluarga pemilik saham.
Setelah dipotong puluhan kali penolakan, Brian akhirnya mendarat di satu-satunya tempat yang menerima bakatnya tanpa menanyakan siapa kakeknya: Toko Kelontong 24 Jam "Sinar Segar".
Selama lima tahun, Brian mendedikasikan hidupnya di toko itu. Dia menata rak dengan presisi milimeter, menghafal tanggal kadaluarsa ribuan produk di luar kepala, dan mampu menenangkan pembeli mabuk hanya dengan senyuman ala Standard Operating Procedure. Brian bahkan berhasil menaikkan omzet toko sebesar 150% dalam dua tahun!
Tapi kehidupan seolah punya hobi baru yaitu menginjak Brian setiap kali dia mencoba berdiri.
Bulan lalu, pemerintah daerah mendadak mengeluarkan aturan pajak baru yang besarnya hampir setara dengan harga porsi makan siang seluruh pejabat kota. Toko "Sinar Segar", tempat Brian menggantungkan hidup dan mimpinya selama lima tahun, gulung tikar. Pemilik toko menangis sesenggukan sambil memberikan surat PHK dan bonus berupa susu kotak yang hampir basi.
"Brian, kamu pekerja terbaik," kata pemilik toko waktu itu. "Tapi negara ini, lebih menyukai uang pajak daripada orang jujur seperti kita."
Dan di sinilah Brian sekarang. Berdiri di tengah jalan raya yang membara karena demonstrasi massal menuntut presiden turun jabatan, akibat skandal korupsi bernilai triliunan rupiah.
“Lucu banget,” batin Brian sambil mengusap air mata yang bercampur asap gas air mata. “Para pejabat di atas sana mencuri uang triliunan buat beli mobil mewah, sedangkan toko tempatku kerja tutup cuma gara-gara kurang bayar pajak beberapa juta. Benar-benar keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang punya koneksi.”
Di tengah lamunan filosofisnya yang tragis itu, riak massa mendadak terdorong ke belakang. Pasukan anti-huru-hara mulai maju merapat.
"Majuuu! Turunkan Koruptor!" teriak seorang demonstran berjaket almamater di sebelah Brian.
"Mas, mending pulang! Ini lagi panas!" seru demonstran lain.
Brian cuma menghela napas panjang. "Aku mau pulang... tapi rumah kontrakanku juga belum dibayar tiga bulan."
DOR!
BUNYI tembakan peringatan memecah udara. Massa panik dan saling berdesakan. Dalam kerusuhan itu, seorang demonstran berbadan besar yang berlari mundur tanpa sengaja menyenggol punggung Brian dengan keras.
Brush!
"Aduh! Aku hanya lewat, bukan bagian acrobat!"
Brian hilang keseimbangan. Tubuhnya terlempar ke depan dan jatuh tersungkur ke aspal. Kantong plastiknya terlepas, membuat susu kotak kadaluarsanya menggelinding tragis.
Di saat yang bersamaan, seorang petugas keamanan melepaskan tembakan peringatan ke arah bawah, berniat menghentikan langkah para demonstran yang brutal. Peluru itu meluncur kencang, memantul menghantam aspal keras, lalu berbelok arah secara tidak masuk akal akibat hukum fisika yang sedang bercanda.
Peluru pantulan itu tidak mengenai kaki para demonstran yang sedang brutal berteriak tapi takdir peluru itu mengenai sesuatu yang paling penting dimiliki Brian.
PLEK.
Peluru itu menembus tepat di tengah dahi Brian yang baru saja hendak mendongak dari aspal.
Dunia mendadak hening. Terdengar suara cairan pecah yang tenang, lalu pandangan Brian berubah menjadi hitam pekat.
“Anjir... orang lain mati tertembak karena membela negara atau demi ideologi besar,” jerit batin Brian sebelum kesadarannya benar-benar padam. “Aku mati gara-gara peluru nyasar pas lagi meratapi susu basi?! Apakah ini adil?!”
[TIDAK. INI SANGAT TIDAK ADIL.]
Sebuah suara dingin, mekanis, tapi dengan intonasi mirip nada dering mesin kasir tiba-tiba bergema di dalam kegelapan hampa.
[MENGANALISIS PENYEBAB KEMATIAN]
[NAMA: BRIAN USIA: 27 TAHUN]
[STATUS: PEKERJA HARDWORKER TANPA ORDAL
[PENYEBAB KEMATIAN: PELURU NYASAR PANTULAN ASPAL SKOR KEBERUNTUNGAN HIDUP: -999/100 DIAGNOSIS: KORBAN KETIDAKADILAN SISTEMIK DUA DUNIA.]
"Siapa itu?" tanya Brian. Suaranya tidak keluar dari mulut, melainkan bergetar di dalam ruang hampa kesadarannya. "Apakah ini alam kubur? Kenapa alam kubur bunyinya kayak scanner barcode?"
[SELAMAT! ANDA TELAH TERPILIH UNTUK MENERIMA KESEMPATAN KEDUA.] [SISTEM KASIR KERAJAAN (AKSES BISA DILAKUKAN VIA EKSPLOITASI TRANSAKSI) TELAH DIAKTIFKAN.]
[APAKAH ANDA INGIN MENGAMBIL KESEMPATAN KEDUA INI DAN MEMBALAS DENDAM PADA TAKDIR?]
[PILIHAN: A. YA | B. SANGAT YA]
"Pilihannya konyol banget! Enggak ada pilihan 'Tidak'?" seru Brian.
[TIDAK ADA PILIHAN TIDAK. KARENA ANDA MATI DALAM KEADAAN SANGAT TRAGIS DAN KONYOL, SISTEM SECARA OTOMATIS MEMILIKAN JAWABAN A.]
Sebelum Brian sempat memprotes logika sistem yang memaksakan kehendak itu, rasa sakit luar biasa mendadak merasuki seluruh tubuhnya. Itu bukan lagi rasa sakit akibat tembakan peluru, melainkan rasa pegal dan nyeri seolah-olah tubuhnya baru saja dilindas oleh satu armada truk tronton.
"Aghh...!"
Brian membuka matanya secara paksa.
Pandangannya kabur. Bau pertama yang menusuk hidungnya bukanlah bau gas air mata atau asap ban terbakar, melainkan; bau gabah basah, kotoran kuda, dan minyak kayu lapuk. Dia berada di sebuah gudang kecil berdebu dengan jerami berserakan di mana-mana.
"Hei! Bangun, anak haram!"
BUK!
Sebuah tendangan keras mendarat tepat di rusuk Brian, membuatnya tersungkur dan batuk-batuk hebat.
"Masih bernapas rupanya? Cuma digebuk pake kayu sapu tiga kali aja udah pingsan sejam. Dasar pelayan tidak berguna!"
Brian memegangi rusuknya yang terasa ada yang patah. Dia mendongak perlahan dan melihat seorang pria berbadan tambun dengan pakaian kulit kusam bercak minyak. Pria itu memegang sebatang kayu tebal sambil menatap Brian dengan pandangan jijik.
Di belakang pria tambun itu, berdiri dua orang pemuda lain berseragam pelayan kotor yang sedang terkikik geli.
"Lihat matanya, Brik! Si bodoh ini tatapannya masih linglung!" gelak salah satu pelayan.
"Baguslah kalau belum mati," sahut pria tambun bernama Brik itu sambil meludah ke samping wajah Brian. "Cepat bersihkan kandang kuda! Sir Vane sebelum matahari terbenam! Kalau tidak selesai, malam ini kamu enggak dapat jatah roti keras!"
Brian terdiam. Memori asing mendadak berhamburan masuk ke dalam otaknya bagaikan arus air bah.
Nama tubuh ini juga Brian. Berusia 18 tahun, seorang pelayan kelas paling bawah di Kediaman Burdur. Salah satu dari 8 Keluarga Besar di Kerajaan Vernia. Di dunia ini, Brian asli adalah anak piatu tanpa latar belakang yang sering dijadikan sasaran empuk perundungan oleh para pelayan senior, karena sifatnya yang penakut dan lemah.
“Tunggu dulu...” Brian mencerna ingatan itu sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah. “Dunia baru... Kerajaan Vernia... Keluarga Burdur... dan aku tetap jadi orang kelas bawah yang diinjak-injak gara-gara enggak punya bekingan?”
Brian perlahan berdiri. Walaupun tubuh barunya tergolong kurus dan penuh luka lebam, tatapan matanya berubah total. Kilatan dingin dari seorang mantan kasir toko 24 jam yang sudah muak dengan ketidakadilan dunia terpancar jelas dari matanya.
"Hei! Kenapa kamu berdiri begitu?! Cepat ambil sapu dan bekerja!" gertak Brik seraya mengayunkan kayu tebalnya, ke arah bahu Brian untuk mengintimidasinya lagi.
Tepat saat kayu itu melayang, sebuah layar hologram berwarna emas redup mendadak muncul tepat di depan mata Brian, lengkap dengan efek suara 'DING!' yang sangat familiar.
[LOKASI DETEKSI: KEDIAMAN KELUARGA BURDUR]
[TARGET SOSIAL: HEAD SERVANT DIVISI KANDANG (BRIK)]
[ANALISIS TEKSTUR: KAYU LAPUK KUALITAS RENDAH (HARGA PASAR: 2 KOIN TEMBAGA)]
[MISI PERTAMA SISTEM DIBUKA!]
[NAMA MISI: PENYESUAIAN HARGA DIRI]
[DESKRIPSI: SEBAGAI MANTAN PEKERJA RITEL HANDAL, DILARANG HARDWARE DIRI ANDA DIDISKON ATAU DIINJAK-INJAK TANPA BIAYA KOMPENSASI!]
[HADIAH: UNLOCK SKILL "MATA INTIMIDASI MANAJER RITEL" & CASHBACK KESEHATAN 10%]
Melihat layar transparan itu, bibir Brian yang berdarah perlahan terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat mengerikan bagi siapa pun yang memahaminya.
“Kehidupan pertama aku mati konyol gara-gara sistem yang korup...” batin Brian seraya menatap Brik tanpa rasa takut sedikit pun. “Tapi di kehidupan kedua ini? Jangan harap ada yang bisa menyuruhku tunduk tanpa bayaran yang setimpal.”
Ha.. ha.. ha.. aku akan balas dendam!
Sir Vane sang Ksatria itu melihat ke semua sisi, dia masih belum sepenuhnya percaya bahwa Brian akan melakukan penyelidikan. Namun, setelah dia mampu membersihkan kamarnya yang berantakan dalam waktu singkat. Sir Vane memberinya kesempatan iseng untuk mengungkap pengamatannya tentang korupsi Brik, di kepala pelayan.Mendapatkan laporan keseluruhan dari Brian, dia mengungkap banyaknya koin perak yang disembunyikan dan juga laporan pengeluaran yang tidak sesuai. Jadi, benar selama ini Brik telah memperdayainya. Sungguh pengkhianatan! Kini, Brik diikat dan dibawa oleh pengawal pribadi kediaman. Semua kejahatannya terbongkar. Semua pelayan yang selama ini segan, kini diam seribu Bahasa.Selama ini, mungkin semua pelayan curiga, tapi mereka tak berani berbuat apa-apa karena takut atau bahkan tidak peduli karena mereka hanyalah pelayan.“Brik! Aku sudah tidak bisa memaafkanmu. Keluargaku sudah sepuluh tahun mempercayaimu dalam mengurus logistic dan kesejahteraan para pelayan. Kami tidak per
Tawa yang sebelumnya terdengar dari seluruh pelayan berubah menjadi hening, entah heran atau kaget dengan keberanian pelayan rendahan seperti Brian. Tiba-tiba saja, dia terlihat sangat kesal dan berani membentak tuannya. Hening suasana, semua pelayan kini menatap Brian dengan pandangan campur aduk dan curiga, kerasukan setan apa pelayan itu?Brik yang semula berani membentak, cukup kaget dengan keberanian pelayannya. Dia sedikit gemetar, dia biasanya selalu memukul Brian dan Brian selalu meminta ampun. Namun, dia tidak mau kalah dan segera membusungkan dadanya sehingga perut buncitnya ikut maju ke depan.“Pelayan gila! Kerugian batin apa yang sedang kamu rasakan?” Brik melengos dengan gaya ingin menekan Brian seperti biasanya. Dia harus menunjukkan bahwa ia siap menjadi tuan dan pelayan. Meskipun, Brik juga gugup, dia kembali membentak Brian.“Kepalamu pasti terbentur meja sebelumnya gara-gara berani hendak memukulku! Sepertinya anjing memang selalu berlagak menggonggong! Seret anak s
Pagi hari, hari paling melelahkan bagi para pelayan di kediaman Burdur. Mereka harus bangun ketiga masih gelap dan mengerjakan semua pekerjaan dengan rasa patuh. Hal itu tak memiliki alasan lain, kecuali karena mereka hanyalah pelayan, bahkan juga seorang budak. Pagi itu, dia area kendang terdengar suara tawa para pelayan, mereka bercanda sambil menghilangkan kepenatan tubuh mereka, bahkan juga hidup mereka yang getir. Tempat ini menjadi logistik pakan ternak, baik ternak untuk konsumsi maupun hewan yang ditugaskan berperang.Bau kotoran kuda, jerami basah mendekati busuk, menciptakan aroma sengak yang nikmat untuk para pekerja.Di koridor Lorong kendang-kandang itu, seorang pemuda dengan rambut acak-acakan melihat semua situasi. Tangan kirinya memegang papan tipis yang entah dia dapat darimana dan ada kertas yang dijepit, tangan kanannya memegang bulu pena hitam. Wajah milik Brian, dingin tanpa senyum. Sejak tadi, para pelayan melihatnya seperti orang gila karena mondar-mandir. Namun
“Apakah kamu seorang mata-mata?” Sir Vane sudah mencabut pedangnya, ujung pedang kini mengarah pada Brian. Bilah pedang itu memantulkan cahaya dingin setelah ditarik dari sarungnya, kilatan itu bahkan sangat dingin seolah sudah menebas tubuh Brian. Kekuatan dari seorang ksatria, sungguh mengerikan. Brian terbelalak kaget, kakinya mundur satu langkah sebagai refleks takutnya.Brian segera menenangkan dirinya, logam panas pernah menembus kepalanya tanpa sengaja dan membuatnya masuk ke dunia aneh ini. Dia sudah merasakan rasa sakit hebat itu, jadi dia harus tenang sekarang. Brian, dengan mental seorang manajer resmi toko 24 jam yang selalu siap menghadapi semua pelanggan dengan genre apapun. Dia sudah siap sekarang!Kepanikan adalah musuh utama pelayanan konsumen. Begitu prinsip hidup Brian."T-Tuan Vane..." suara Brian terdengar sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena menahan rasa geli melihat ekspresi curiga sang ksatria. "Bisakah ... arahkan ujung pedang itu sedikit ke
Brik kesumat karena Brian terlihat tak takut dan melawan, kayu tebal itu terangkat dan siap mendarat di bahu Brian. Dua pelayan di belakang Brik berpikir bahwa Brian akan pingsan lagi untuk dua jam berikutnya, atau bahkan lebih. Pukulan kali ini terlihat keras karena Brik benar-benar marah karena mata Brian yang melihatnya tajam.“Mencoba melawan!” teriak Brik sambil mengayunkan kayunya.Brian pelayan yang menempati tubuh itu sebelumnya, pasti tak memiliki keberanian dan membiarkan tubuhnya dipukul lalu memohon ampunan. Namun, Brian yang sudah marah dengan takdir dan dipermainkan di dua kehidupan. Dia benar-benar tidak mau mengalah dan menarima harga dirinya terus diinjak.[Skill: Mata Intimidasi Manajer Ritel Diaktifkan!]Seorang mantan manajer toko 24 jam yang ditutup gara-gara pajak yang tinggi, biasa menghadapi pelanggan toko yang berbuat ulah mulai dari pemabuk atau emak-emak gemoy yang ingin menguntit barang toko dimasukkan dalam baju dalamnya. Sialan! Kenapa ingat begituan sih!
Hidup memang selalu sial untuk Brian, manalah ada keadilan untuknya sebagai orang kecil hidup di negeri ini! Bahkan, sore itu Adalah hari paling sialnya, gas air mata menyengat hidung Brian sampai matanya mengeluarkan airmata. Saat pulang kerja, tepatnya saat tempat kerjanya ditutup dia terjebak di antara kerumunan manusia yang berdemonstrasi. Para demonstan berteriak; Kembalikan keadilan di negeri ini! Turunkan presiden! Hukum mati koruptor! Mereka membawa spanduk dan mundur didesak oleh barikade aparat.Bagi Brian, dia tak peduli semua itu. Dia hanya ingin punya uang cukup, bisa makan dengan tenang dan hidup tanpa tagihan hutang. Itu sudah cukup! Dia berdiri di trotoar dan memegang kantong plastik berisi satu kotak susu kadaluarga tiga hari dan secarik kertas pemutusan hubungan kerja.Pikirannya melayang jauh melintasi 27 tahun masa hidupnya yang, kalau boleh jujur, mirip komedi tragis berbiaya murah. Ah sial!Sejak kecil, cita-cita Brian sangat sederhana dan bersahaja: ingin jadi







