LOGINTawa yang sebelumnya terdengar dari seluruh pelayan berubah menjadi hening, entah heran atau kaget dengan keberanian pelayan rendahan seperti Brian. Tiba-tiba saja, dia terlihat sangat kesal dan berani membentak tuannya. Hening suasana, semua pelayan kini menatap Brian dengan pandangan campur aduk dan curiga, kerasukan setan apa pelayan itu?
Brik yang semula berani membentak, cukup kaget dengan keberanian pelayannya. Dia sedikit gemetar, dia biasanya selalu memukul Brian dan Brian selalu meminta ampun. Namun, dia tidak mau kalah dan segera membusungkan dadanya sehingga perut buncitnya ikut maju ke depan.
“Pelayan gila! Kerugian batin apa yang sedang kamu rasakan?” Brik melengos dengan gaya ingin menekan Brian seperti biasanya. Dia harus menunjukkan bahwa ia siap menjadi tuan dan pelayan. Meskipun, Brik juga gugup, dia kembali membentak Brian.
“Kepalamu pasti terbentur meja sebelumnya gara-gara berani hendak memukulku! Sepertinya anjing memang selalu berlagak menggonggong! Seret anak setan ini keluar! Bau kotoran sepertinya membuatku mual dan mengganggu kendang utamaku. Cepat usir dan biarkan dia membersihkan dirinya! Dasar Bau!”
Dua pelayan bawahan setia Brik bergerak, Mereka maju ke depan dan masing-masing berlengan kekar siap mencengkeram bahu Brian. Namun, saat kedua tangan pelayan itu memegang Brian. Brian tak bergerak atau takut, dia tersenyum dingin bagaikan seorang manajer toko yang baru menemukan selisih kecurangan kasir pegawainya.
“Singkirkan tangan kotor kalian! Jangan sentuh seragamku.” Brian berkata datar dan berwibawa, sungguh kontras dengan posisinya sebagai pelayan paling bawah.
Brian memutar kedua pundaknya cepat dan membuat pegangan dua pelayan kekar itu lepas karena kaget. Brian mundur satu langkah dan menatap tajam dua orang pelayan itu.
“Kalian berdua mau mengusirku? Namun, sebelum aku pergi, biarkan aku berikan laporan yang akan membuat seluruh pelayan di Burdur ini mendengarkan laporan prestasi gemilang kepala pelayan kesayangan kalian, Tuan kita yang gemuk, Brik yang selalu bertindak semaunya!”
Suasana kandang semakin riuh. Bahkan Clara, yang berdiri agak jauh di dekat pintu gudang, menghentikan langkahnya dan menajamkan pendengarannya.
Wajah Brik mendadak berubah pucat. "Jangan dengarkan omong kosongnya! Dia hanya pelayan baru yang ingin memfitnahku!" teriak Brik panik, melambaikan tangannya memberi isyarat agar antek-anteknya segera membungkam mulut Brian.
Tapi terlambat. Brian sudah mulai membacakan angka-angka neraca yang tertera di perkamen dengan lancar tanpa jeda.
"Bulan pertama tahun lalu, anggaran pembelian pakan kuda jenis Gandum Hitam Lembah Utara dilaporkan sebanyak 50 karung dengan total biaya 300 koin perak," ucap Brian lantang, mengabaikan dua pelayan yang kini sudah mencengkeram lengan kanannya. "Tapi setelah saya cek data logistik pengiriman dari gerbang utama, jumlah yang benar-benar masuk ke gudang ini... hanyalah 30 karung!"
Beberapa pelayan senior langsung saling berpandangan.
Brian tidak berhenti. Dia melangkah maju selangkah, menatap tajam ke arah Brik yang mulai berkeringat dingin.
"Selisih 20 karung setiap minggu dikalikan selama tiga tahun terakhir... totalnya mencapai ribuan koin perak!" suara Brian meninggi, tajam bagaikan belati es. "Ke mana perginya selisih anggaran sebanyak itu, Brik? Apakah kuda-kuda perang keluarga Burdur memakan gandum itu sambil menabung emas di bank rahasia, atau justru kamu jadikan modal untuk membangun rumah peristirahatan di pinggir kota?!"
"CUKUP! TUTUP MULUTMU, ANAK SIALAN!" bentak Brik histeris. Urat-urat di lehernya menonjol keluar, wajahnya memerah padam seperti kepiting rebus. Panik luar biasa menguasai dirinya karena semua data yang dibacakan Brian sangat akurat, bahkan menyangkut detail kecil yang selama ini dia tutupi rapat-rapat.
Brik menghunuskan belati kecil di tangannya, melangkah maju dengan niat membabi buta. "Berani sekali kamu memalsukan dokumen dan menuduhku! Akan kupermalukan mayatmu hari ini!"
Melihat Brik yang mengamuk, para pelayan lain terpekik kaget. Clara menutup mulutnya dengan sebelah tangan, tidak menyangka perselisihan antarpelayan ini akan berujung pada ancaman pembunuhan.
Namun, di tengah situasi yang menegang itu, sudut mata Brian kembali menangkap kilatan cahaya emas dari layar Sistem yang mendadak muncul di hadapannya.
[PERINGATAN SISTEM: ANCAMAN FISIK TERDETEKSI!][AKTIFKAN EKSPLOITASI BARANG BUKTI!][DENGAN MEMBAYAR 1 KULIT APEL DAN KECEPATAN TANGAN RITEL, UNGKAP LOKASI PENYIMPANAN BARANG CURIAN!]
Bagus! Batin Brian menyeringai.
Saat Brik berlari mengayunkan belatinya ke arah dada Brian, Brian sama sekali tidak menghindar. Tepat sedetik sebelum belati itu menyentuh bajunya, Brian melompat ke samping dengan gerakan gesit ala pelayan toko yang menghindari minyak tumpah, lalu menunjuk dengan telunjuknya lurus-lurus ke sudut paling gelap di belakang tumpukan jerami kandang.
"Kalau kalian tidak percaya omonganku," teriak Brian, mengabaikan ancaman belati Brik, "coba lihat ke dalam celah dinding kayu di balik tumpukan karung jerami nomor empat! Di sanalah Brik menyembunyikan peti besi berisi koin-koin perak curian serta buku catatan hitam transaksi ilegalnya dengan pasar gelap!"
Brik yang tadinya berniat menusuk Brian mendadak mematung. Matanya melotot ngeri. Dari mana anak sialan itu tahu tempat persembunyian rahasianya?!
Tanpa dikomandoi, beberapa pelayan yang penasaran—termasuk para pemuda yang tadinya mencemooh Brian—langsung berlari berhamburan menuju sudut yang ditunjuk. Mereka mendorong karung-karung jerami berat itu ke samping.
Brak!
Sebuah peti besi berukuran sedang yang terkunci rapat berhasil ditarik keluar dari balik dinding papan yang rapuh. Saat salah satu pelayan memukul gembok peti itu dengan linggis hingga terbuka...
Tring! Kling!
Puluhan koin perak berkilauan tumpah ruah ke lantai jerami, memantulkan cahaya matahari pagi dengan sangat benderang. Di dalam peti itu juga terdapat beberapa buku catatan kecil berstempel cap pribadi Brik.
Suasana kandang mendadak jatuh ke dalam keheningan total.
Semua mata menatap nanar ke arah tumpukan koin perak di lantai, lalu beralih menatap Brik yang kini berdiri mematung bagaikan patung garam, kehilangan seluruh warna di wajahnya.
Clara dan para pelayan senior menatap Brik dengan pandangan jijik dan penuh kekecewaan. Selama ini mereka mengira Brik adalah kepala pelayan yang tegas dan adil. Tak disangka, pria itu adalah pencuri licik yang menggerogoti kesejahteraan mereka dari dalam.
Brik terduduk lemas di tanah, belatinya terlepas dari tangan dan berdenting di lantai. Keringat dingin mengalir deras dari kepala botaknya yang mengilap.
"A... aku... ini... ini jebakan..." cicit Brik dengan suara gemetar, tak mampu lagi merangkai kata-kata pembelaan.
Brian berjalan pelan mendekati Brik yang sudah tak berdaya. Dia menundukkan sedikit tubuhnya, menatap remeh ke arah kepala pelayan yang tadinya begitu angkuh itu.
"Bagaimana, Brik? Apakah kerugian batin saya karena gagal melihat pemandangan indah tadi sudah terbayar lunas dengan pemandangan kejatuhanmu ini?" bisik Brian tepat di telinga Brik dengan nada sinis yang dingin.
Sebelum Brik sempat menjawab atau memohon ampun, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berat bercampur dentingan zirah besi yang bergemerincing dari arah luar gerbang utama kandang.
Tap! Tap! Tap!
Suara itu begitu berwibawa sehingga membuat seluruh pelayan yang ada di dalam kandang langsung menegakkan tubuh dan menahan napas.
Sesosok pria berbadan tegap dengan jubah ksatria kebanggaan Keluarga Burdur melangkah masuk melewati ambang pintu. Rambut pirangnya tersisir rapi, dan tatapan matanya menyapu seisi ruangan dengan aura intimidasi yang kuat.
Itu adalah Sir Vane, sang Ksatria Utama sekaligus majikan langsung Brian!
Sir Vane menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Matanya menatap tumpukan koin perak yang berserakan di lantai jerami, lalu beralih menatap Brik yang terduduk lemas, dan terakhir mendarat pada Brian yang berdiri tegak dengan papan klip di tangannya.
"Ada apa ini?" Suara berat Sir Vane memecah keheningan, sarat akan tekanan mutlak seorang bangsawan militer. "Kenapa kandang utamaku mendadak tampak seperti markas bajak laut yang baru digerebek?"
Semua pelayan menunduk ketakutan, tak ada yang berani membuka suara.
Namun, Brian justru melangkah maju dengan tenang, membungkukkan badan separuh lingkaran dengan sopan, lalu mengangkat perkamen laporannya ke hadapan sang ksatria.
"Lapor, Tuan Vane," ucap Brian dengan senyum tipis penuh kemenangan. "Audit divisi kandang selama tiga hari yang Anda perintahkan… sudah saya selesaikan dalam waktu kurang dari satu jam."
Sir Vane sang Ksatria itu melihat ke semua sisi, dia masih belum sepenuhnya percaya bahwa Brian akan melakukan penyelidikan. Namun, setelah dia mampu membersihkan kamarnya yang berantakan dalam waktu singkat. Sir Vane memberinya kesempatan iseng untuk mengungkap pengamatannya tentang korupsi Brik, di kepala pelayan.Mendapatkan laporan keseluruhan dari Brian, dia mengungkap banyaknya koin perak yang disembunyikan dan juga laporan pengeluaran yang tidak sesuai. Jadi, benar selama ini Brik telah memperdayainya. Sungguh pengkhianatan! Kini, Brik diikat dan dibawa oleh pengawal pribadi kediaman. Semua kejahatannya terbongkar. Semua pelayan yang selama ini segan, kini diam seribu Bahasa.Selama ini, mungkin semua pelayan curiga, tapi mereka tak berani berbuat apa-apa karena takut atau bahkan tidak peduli karena mereka hanyalah pelayan.“Brik! Aku sudah tidak bisa memaafkanmu. Keluargaku sudah sepuluh tahun mempercayaimu dalam mengurus logistic dan kesejahteraan para pelayan. Kami tidak per
Tawa yang sebelumnya terdengar dari seluruh pelayan berubah menjadi hening, entah heran atau kaget dengan keberanian pelayan rendahan seperti Brian. Tiba-tiba saja, dia terlihat sangat kesal dan berani membentak tuannya. Hening suasana, semua pelayan kini menatap Brian dengan pandangan campur aduk dan curiga, kerasukan setan apa pelayan itu?Brik yang semula berani membentak, cukup kaget dengan keberanian pelayannya. Dia sedikit gemetar, dia biasanya selalu memukul Brian dan Brian selalu meminta ampun. Namun, dia tidak mau kalah dan segera membusungkan dadanya sehingga perut buncitnya ikut maju ke depan.“Pelayan gila! Kerugian batin apa yang sedang kamu rasakan?” Brik melengos dengan gaya ingin menekan Brian seperti biasanya. Dia harus menunjukkan bahwa ia siap menjadi tuan dan pelayan. Meskipun, Brik juga gugup, dia kembali membentak Brian.“Kepalamu pasti terbentur meja sebelumnya gara-gara berani hendak memukulku! Sepertinya anjing memang selalu berlagak menggonggong! Seret anak s
Pagi hari, hari paling melelahkan bagi para pelayan di kediaman Burdur. Mereka harus bangun ketiga masih gelap dan mengerjakan semua pekerjaan dengan rasa patuh. Hal itu tak memiliki alasan lain, kecuali karena mereka hanyalah pelayan, bahkan juga seorang budak. Pagi itu, dia area kendang terdengar suara tawa para pelayan, mereka bercanda sambil menghilangkan kepenatan tubuh mereka, bahkan juga hidup mereka yang getir. Tempat ini menjadi logistik pakan ternak, baik ternak untuk konsumsi maupun hewan yang ditugaskan berperang.Bau kotoran kuda, jerami basah mendekati busuk, menciptakan aroma sengak yang nikmat untuk para pekerja.Di koridor Lorong kendang-kandang itu, seorang pemuda dengan rambut acak-acakan melihat semua situasi. Tangan kirinya memegang papan tipis yang entah dia dapat darimana dan ada kertas yang dijepit, tangan kanannya memegang bulu pena hitam. Wajah milik Brian, dingin tanpa senyum. Sejak tadi, para pelayan melihatnya seperti orang gila karena mondar-mandir. Namun
“Apakah kamu seorang mata-mata?” Sir Vane sudah mencabut pedangnya, ujung pedang kini mengarah pada Brian. Bilah pedang itu memantulkan cahaya dingin setelah ditarik dari sarungnya, kilatan itu bahkan sangat dingin seolah sudah menebas tubuh Brian. Kekuatan dari seorang ksatria, sungguh mengerikan. Brian terbelalak kaget, kakinya mundur satu langkah sebagai refleks takutnya.Brian segera menenangkan dirinya, logam panas pernah menembus kepalanya tanpa sengaja dan membuatnya masuk ke dunia aneh ini. Dia sudah merasakan rasa sakit hebat itu, jadi dia harus tenang sekarang. Brian, dengan mental seorang manajer resmi toko 24 jam yang selalu siap menghadapi semua pelanggan dengan genre apapun. Dia sudah siap sekarang!Kepanikan adalah musuh utama pelayanan konsumen. Begitu prinsip hidup Brian."T-Tuan Vane..." suara Brian terdengar sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena menahan rasa geli melihat ekspresi curiga sang ksatria. "Bisakah ... arahkan ujung pedang itu sedikit ke
Brik kesumat karena Brian terlihat tak takut dan melawan, kayu tebal itu terangkat dan siap mendarat di bahu Brian. Dua pelayan di belakang Brik berpikir bahwa Brian akan pingsan lagi untuk dua jam berikutnya, atau bahkan lebih. Pukulan kali ini terlihat keras karena Brik benar-benar marah karena mata Brian yang melihatnya tajam.“Mencoba melawan!” teriak Brik sambil mengayunkan kayunya.Brian pelayan yang menempati tubuh itu sebelumnya, pasti tak memiliki keberanian dan membiarkan tubuhnya dipukul lalu memohon ampunan. Namun, Brian yang sudah marah dengan takdir dan dipermainkan di dua kehidupan. Dia benar-benar tidak mau mengalah dan menarima harga dirinya terus diinjak.[Skill: Mata Intimidasi Manajer Ritel Diaktifkan!]Seorang mantan manajer toko 24 jam yang ditutup gara-gara pajak yang tinggi, biasa menghadapi pelanggan toko yang berbuat ulah mulai dari pemabuk atau emak-emak gemoy yang ingin menguntit barang toko dimasukkan dalam baju dalamnya. Sialan! Kenapa ingat begituan sih!
Hidup memang selalu sial untuk Brian, manalah ada keadilan untuknya sebagai orang kecil hidup di negeri ini! Bahkan, sore itu Adalah hari paling sialnya, gas air mata menyengat hidung Brian sampai matanya mengeluarkan airmata. Saat pulang kerja, tepatnya saat tempat kerjanya ditutup dia terjebak di antara kerumunan manusia yang berdemonstrasi. Para demonstan berteriak; Kembalikan keadilan di negeri ini! Turunkan presiden! Hukum mati koruptor! Mereka membawa spanduk dan mundur didesak oleh barikade aparat.Bagi Brian, dia tak peduli semua itu. Dia hanya ingin punya uang cukup, bisa makan dengan tenang dan hidup tanpa tagihan hutang. Itu sudah cukup! Dia berdiri di trotoar dan memegang kantong plastik berisi satu kotak susu kadaluarga tiga hari dan secarik kertas pemutusan hubungan kerja.Pikirannya melayang jauh melintasi 27 tahun masa hidupnya yang, kalau boleh jujur, mirip komedi tragis berbiaya murah. Ah sial!Sejak kecil, cita-cita Brian sangat sederhana dan bersahaja: ingin jadi







