Pukul enam pagi, Nadira Anindya terbangun tanpa alarm. Selama beberapa detik, ia menatap linglung pada langit-langit kamar tamu yang asing. Cahaya matahari menerobos tirai tipis, jatuh di atas seprai putih yang belum sempat dirapikannya semalam. Kemudian, ingatan pahit itu kembali merayap. Rumah Mahardika. Pernikahannya. Rendra. Dan satu kalimat dingin yang terus mengiang di telinganya: “Aku tidak pernah memintamu melakukan semua ini, Nadira.” Nadira memejamkan mata erat-erat. Sungguh ironis. Selama tiga tahun, ia mengira mencintai berarti mengalah, bersabar, dan melayani tanpa batas. Ia percaya ketulusannya lambat laun akan meluluhkan Rendra. Namun semalam, lelaki itu menghancurkan seluruh harapannya hanya dengan beberapa kalimat. Rendra tidak pernah memintanya menunggu. Tidak pernah memintanya memasak. Tidak pernah memintanya menata hidup berdasarkan jadwal suaminya. Lalu mengapa Nadira selalu merasa bersalah setiap kali ingin berhenti? Ia bangkit, merapikan rambut, lalu menuj
Dernière mise à jour : 2026-10-15 Read More