LOGINTerlambat untuk Memanggilku Istri By A. Veyra Nadira Anindya menjalani kehidupan sebagai seorang perempuan yang percaya bahwa ia telah mengenal keluarganya sendiri. Namun, setelah menemukan dokumen peninggalan ayahnya, Arman Anindya, ia menyadari bahwa sejumlah catatan keluarga telah dimanipulasi selama bertahun-tahun. Nama-nama yang seharusnya tidak berkaitan ternyata muncul dalam dokumen yang sama. Tanda tangan orang yang telah meninggal tercantum pada surat-surat baru. Identitas seseorang disembunyikan melalui kode administratif, sementara sebuah perjanjian perlindungan keluarga tampaknya telah digunakan untuk mengendalikan siapa yang boleh memperoleh hak tertentu. Bersama suaminya, Rendra Mahardika, Nadira menelusuri jejak dokumen tersebut. Pencarian itu membawanya kepada Alessa Pramesti, Darmawan Pramesti, Ibu Laras Wicaksono, Baskara Santosa, Mira Wicaksono, dan seorang perempuan misterius bernama Laras Varendra. Semakin banyak bukti ditemukan, semakin jelas bahwa masalahnya bukan sekadar siapa yang berhak menerima sesuatu. Masalah sebenarnya adalah siapa yang memiliki kuasa untuk menentukan hak orang lain—dan siapa yang berani menolak kuasa tersebut.
View MoreHujan deras mengguyur Jakarta Selatan sejak sore, membasahi kaca-kaca tinggi rumah megah keluarga Mahardika. Di dalam ruang makan yang dingin dan hening, Nadira Anindya duduk sendirian di hadapan meja panjang yang seharusnya diisi oleh dua orang.
Di depannya, sebuah kue cokelat kecil berdiri anggun dengan lilin yang belum sempat dinyalakan. Sepasang piring porselen putih tersusun rapi bersama peralatan makan yang telah ia tata sejak pukul enam petang. Malam ini adalah hari ulang tahun Rendra Mahardika—suaminya. Lelaki yang telah dinikahinya selama tiga tahun, tetapi masih terasa seperti orang asing yang kebetulan berbagi alamat yang sama. Nadira melirik jam dinding: 20.17. Dengan hembusan napas berat, ia mengambil ponsel di samping gelasnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Bahkan tidak ada sepatah kata pun untuk memberi tahu apakah lelaki itu akan pulang. Ia membuka ruang percakapan mereka. Pesan terakhir yang dikirimnya dua jam lalu hanya menampilkan status dibaca tanpa balasan: “Jangan lupa makan malam, ya. Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk ulang tahunmu.” Nadira mengusap layarnya yang kembali gelap. “Tidak apa-apa,” bisiknya menguatkan diri. “Mungkin rapatnya belum selesai.” Alasan itu terdengar begitu biasa. Selama tiga tahun, Nadira telah mengumpulkan ratusan alasan untuk membenarkan ketidakhadiran Rendra—mulai dari urusan mendadak, ponsel tertinggal, hingga rasa lelah. Seorang perempuan yang jatuh cinta memang bisa menjadi ahli dalam menciptakan pemakluman, terutama ketika kenyataan terlalu menyakitkan untuk diterima. “Nyonya, apakah makan malamnya perlu saya hangatkan kembali?” suara Bu Ratih, kepala pelayan yang telah bekerja di sana selama sepuluh tahun, memecah lamunan Nadira. Nadira mengangkat wajah dan memberikan senyum tipis. “Tidak perlu, Bu. Nanti saja kalau Mas Rendra sudah pulang.” Bu Ratih menyembunyikan tatapan ibanya. “Kalau begitu, saya siapkan teh hangat untuk Nyonya?” “Boleh. Terima kasih.” Begitu Bu Ratih berlalu, senyum Nadira memudar. Pukul sembilan malam, ponselnya akhirnya berdering. Nama Rendra tertera di layar. “Mas?” panggil Nadira cepat. “Jangan tunggu aku,” sahut Rendra dingin dari seberang sana. Tanpa salam, tanpa penjelasan. Nadira menggenggam ponselnya lebih erat. “Masih ada rapat?” “Ya.” “Kalau begitu aku bisa tunggu. Makan malamnya tinggal—” “Aku tidak pulang untuk makan malam.” Kalimat itu memotong harapannya secara telak. Di balik suara Rendra, samar-samar terdengar denting gelas dan riuh percakapan—bukan suasana ruang rapat. “Mas sedang di mana?” tanya Nadira pelan. “Kenapa?” “Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya.” “Nadira, aku sedang sibuk. Jangan membuat percakapan sederhana menjadi interogasi.” Nadira memejamkan mata. Ia belum menuduh apa pun, tetapi sudah dianggap melakukan kesalahan. “Baik,” jawabnya menahan sesak. “Aku mengerti.” Sambungan terputus. Pukul 21.43, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk membawa sebuah lampiran foto. Begitu foto itu terbuka, napas Nadira tertahan. Rendra duduk di sebuah restoran bertemaram lembut dengan setelan hitam elegannya. Wajahnya tampak tenang dan tersenyum tipis. Di sampingnya, duduk seorang perempuan bergaun merah yang amat ia kenali: Alessa Pramesti—cinta pertama Rendra yang tidak pernah benar-benar hilang dari pernikahan mereka. Tangan Alessa bertumpu mesra di lengan Rendra, sementara sebuah kotak perhiasan berisi anting berlian terbuka di meja. Nomor Tak Dikenal: Sepertinya suamimu punya cara sendiri untuk merayakan ulang tahunnya. Dengan jemari bergetar, Nadira mengetik pesan ke Rendra: “Mas, kamu bersama Alessa?” Satu menit... lima menit... pesan itu bahkan tidak dibaca. Rendra pulang pukul sebelas lewat empat puluh malam. Nadira sudah berganti pakaian rumah dan duduk tenang di ruang keluarga. Saat Rendra melangkah masuk sambil melonggarkan dasinya, langkah lelaki itu terhenti melihat istrinya masih terjaga. “Kamu belum tidur?” tanya Rendra. “Belum. Aku menunggumu.” Rendra menghela napas lelah. “Nadira, aku sudah bilang jangan menunggu.” “Aku ingin bicara, Mas. Sebentar saja.” “Aku lelah.” “Lima menit.” “Nadira,” potong Rendra dengan nada tegas dan dingin. Namun malam ini, Nadira menolak mundur. “Aku tahu kamu bertemu Alessa.” Keheningan mencengkeram ruangan. Rendra meletakkan jasnya. “Siapa yang memberitahumu?” “Jadi itu benar? Kamu bilang ada rapat!” “Aku memang ada urusan bisnis dengannya,” kilih Rendra tenang. “Sejak kapan aku harus melaporkan setiap pertemuanku kepadamu?” Kalimat itu menampar Nadira. “Aku tidak meminta laporan. Aku hanya ingin kamu jujur!” “Untuk apa?” “Karena aku istrimu!” Rendra menatapnya datar. “Jangan menggunakan status itu seolah-olah memberimu hak untuk mengatur hidupku.” Hati Nadira terasa membeku. Tanpa sepatah kata penyesalan di wajah Rendra, Nadira akhirnya mengangguk pelan. “Baik.” Ia mengambil kotak jam tangan dari laci dan menyerahkannya. “Selamat ulang tahun. Aku membeli ini untukmu.” Rendra menerima dan membukanya dingin. “Kamu tidak perlu repot-repot. Lain kali tidak usah membeli sesuatu hanya karena hari ini ulang tahunku.” “Baik,” sahut Nadira tipis. Saat Rendra berbalik menuju tangga, Nadira memanggilnya kembali. “Anting yang kamu berikan kepada Alessa itu indah.” Langkah Rendra terhenti seketika. Tatapannya menajam. “Dari mana kamu tahu?” “Jadi memang kamu yang membelikannya?” Nadira tersenyum pahit. “Aku bahkan tidak tahu kapan terakhir kali kamu membelikan sesuatu untukku.” “Kalau kamu ingin hadiah mahal, katakan saja! Jangan membuat masalah dari hal yang tidak penting,” sergah Rendra gusar. “Aku tidak pernah memintamu menungguku, memasak setiap malam, atau mengatur hidupmu berdasarkan jadwalku!” Nadira membeku. “Jadi, selama ini aku melakukan semuanya sendiri?” “Pernikahan ini memiliki kesepakatan sejak awal,” tegas Rendra tajam. “Aku memenuhi tanggung jawabku. Kamu punya rumah, kebutuhanmu terpenuhi, dan keluargamu dihormati. Apa lagi yang kamu inginkan?” Nadira terdiam. Bagi Rendra, pernikahan adalah pemenuhan materi. Bagi Nadira, pernikahan adalah tentang kedatangan dan kehadiran. Jarak pemahaman di antara mereka terlalu luas untuk dijembatani sendirian. “Aku mengerti,” bisik Nadira. Tanpa pertengkaran lebih lanjut, ia membiarkan suaminya berlalu ke kamar atas. Di kegelapan ruang keluarga, Nadira membalas pesan dari nomor tak dikenal tadi: “Siapa kamu?” “Seseorang yang berpikir kamu berhak mengetahui kebenaran,” balas nomor itu. “Jika ingin tahu mengapa Rendra tidak pernah mencintaimu, tanyakan padanya tentang perjanjian sebelum pernikahan kalian.” Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama, sebuah surel penting dari pengacara keluarga telah masuk ke kotak masuk Rendra. Dokumen rahasia itu berisikan satu klausul fatal: “Apabila pernikahan antara Rendra Mahardika dan Nadira Anindya berakhir karena keputusan pihak pertama, maka seluruh hak kepemilikan saham yang telah dialihkan berdasarkan perjanjian keluarga akan ditinjau ulang sesuai ketentuan yang berlaku.”Hujan baru saja reda ketika Rendra Mahardika menyadari bahwa kehilangan seseorang ternyata tidak selalu dimulai saat orang itu pergi. Terkadang, kehilangan bermula jauh sebelumnya—saat seseorang berhenti menanyakan harimu, tak lagi menunggu langkahmu di depan pintu, atau diam-diam mulai belajar membayangkan hidup tanpa kehadiranmu. Dan yang paling menyakitkan, kamu baru menyadarinya ketika tak ada lagi yang bisa kamu lakukan untuk menghentikannya. Di ruang kerjanya yang senyap, Rendra berdiri mematung menatap gedung-gedung Jakarta yang basah. Di atas meja, sepucuk amplop cokelat tergeletak di samping buku catatan mendiang ayahnya. Sejak pagi, kalimat terakhir sang ayah terus berdengung di kepalanya: Carilah alasan mengapa kau membiarkannya merasa kesepian. Selama tiga tahun, Rendra mengira dirinya adalah suami yang ideal. Ia menyediakan rumah mewah, memenuhi seluruh materi Nadira, dan memberikan kebebasan penuh. Namun, kebenaran menamparn
Pagi itu, Nadira Anindya terbangun tanpa raungan alarm ponsel. Ia berbaring diam beberapa saat di atas tempat tidur, mendengarkan kesunyian yang merayap lembut di apartemen barunya. Tak ada dentang langkah kaki di lantai bawah. Tak ada aroma seduhan kopi khas buatan Bu Ratih. Tak ada pula derit pintu kamar mandi dari lelaki yang baru pulang menjelang subuh. Tak ada Rendra. Anehnya, ketiadaan seluruh hal itu justru mengalirkan kelegaan yang asing di dadanya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, ia tidak perlu memeras otak menebak suasana hati suaminya hanya untuk memulai hari. Usai mandi dan mengenakan Blus sederhana, Nadira mematut diri di depan cermin. Pandangannya mantap. Hari ini, ia siap menghadapi agenda paling menentukan dalam hidupnya: membaca surat peninggalan terakhir almarhum ayahnya. Tepat pukul sembilan pagi, sebuah mobil hitam yang dikemudikan Ibu Laras berhenti di pelataran apartemen. Sepanjang perjalanan, tatapa
Pukul sepuluh pagi, Rendra Mahardika berdiri dengan napas tertahan di depan ruang rapat privat Hotel Arunika. Ia datang lima belas menit lebih awal—bukan karena gemar membuang waktu, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa gentar menghadapi kenyataan yang tersembunyi. Di tangan kirinya tergenggam erat map hitam berisi salinan perjanjian lama, sementara tangan kanannya bergetar menatap layar ponsel yang menampilkan nama Nadira. Ia belum menghubungi istrinya lagi. Bukan karena enggan, melainkan karena ia benar-benar kehilangan kata-kata. Pintu ruang rapat terbuka perlahan. Alessa muncul mengenakan blus putih berpotongan rapi dan rok hitam selutut. Kendati tersenyum tipis, ketegangan yang pekat jelas tersimpan di balik sorot matanya. “Kamu sudah datang,” sapa Alessa hati-hati. Tanpa membalas senyuman itu, Rendra langsung melangkah maju dan melempar map hitam ke atas meja. “Namamu tercantum dalam perjanjian pra-nikah yang dibuat sebelum aku menikahi Nadira. Jelas
Pukul sepuluh pagi, Rendra Mahardika berdiri dengan napas tertahan di depan ruang rapat privat Hotel Arunika. Ia datang lima belas menit lebih awal—bukan karena gemar menunggu, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa gentar menghadapi kenyataan. Di tangan kirinya tergenggam map berisi salinan perjanjian lama, sementara tangan kanannya bergetar menatap layar ponsel yang menampilkan nama Nadira. Pintu ruang rapat terbuka. Alessa muncul dengan blus putih dan rok hitam. Di balik senyum tipisnya, tersimpan ketegangan yang pekat. “Kamu sudah datang,” sapa Alessa. Rendra langsung to the point tanpa membalas senyum itu. Ia melempar map hitam di atas meja. “Namamu tercantum dalam perjanjian pra-nikah yang dibuat sebelum aku menikahi Nadira. Jelaskan.” Wajah Alessa memucat. Ia mengakui bahwa keluarganya memang pernah terlibat dalam urusan bisnis dengan keluarga Mahardika yang berujung pada kegagalan proyek besar. Namun, ketika Rendra mendesak tentang alasan namanya bis












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.