Beranda / Romansa / Terlambat untuk Memanggilku Istri / BAB 9 — Saat Rendra Mulai Mengejar

Share

BAB 9 — Saat Rendra Mulai Mengejar

Penulis: A. Veyra
last update Tanggal publikasi: 2026-10-22 18:28:08

Hujan baru saja reda ketika Rendra Mahardika menyadari bahwa kehilangan seseorang ternyata tidak selalu dimulai saat orang itu pergi. Terkadang, kehilangan bermula jauh sebelumnya—saat seseorang berhenti menanyakan harimu, tak lagi menunggu langkahmu di depan pintu, atau diam-diam mulai belajar membayangkan hidup tanpa kehadiranmu.

Dan yang paling menyakitkan, kamu baru menyadarinya ketika tak ada lagi yang bisa kamu lakukan untuk menghentikannya.

Di ruang kerjan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terlambat untuk Memanggilku Istri   BAB 9 — Saat Rendra Mulai Mengejar

    Hujan baru saja reda ketika Rendra Mahardika menyadari bahwa kehilangan seseorang ternyata tidak selalu dimulai saat orang itu pergi. Terkadang, kehilangan bermula jauh sebelumnya—saat seseorang berhenti menanyakan harimu, tak lagi menunggu langkahmu di depan pintu, atau diam-diam mulai belajar membayangkan hidup tanpa kehadiranmu. Dan yang paling menyakitkan, kamu baru menyadarinya ketika tak ada lagi yang bisa kamu lakukan untuk menghentikannya. Di ruang kerjanya yang senyap, Rendra berdiri mematung menatap gedung-gedung Jakarta yang basah. Di atas meja, sepucuk amplop cokelat tergeletak di samping buku catatan mendiang ayahnya. Sejak pagi, kalimat terakhir sang ayah terus berdengung di kepalanya: Carilah alasan mengapa kau membiarkannya merasa kesepian. Selama tiga tahun, Rendra mengira dirinya adalah suami yang ideal. Ia menyediakan rumah mewah, memenuhi seluruh materi Nadira, dan memberikan kebebasan penuh. Namun, kebenaran menamparn

  • Terlambat untuk Memanggilku Istri   Bab 8 — Surat Terakhir dari Ayah

    Pagi itu, Nadira Anindya terbangun tanpa raungan alarm ponsel. Ia berbaring diam beberapa saat di atas tempat tidur, mendengarkan kesunyian yang merayap lembut di apartemen barunya. Tak ada dentang langkah kaki di lantai bawah. Tak ada aroma seduhan kopi khas buatan Bu Ratih. Tak ada pula derit pintu kamar mandi dari lelaki yang baru pulang menjelang subuh. Tak ada Rendra. Anehnya, ketiadaan seluruh hal itu justru mengalirkan kelegaan yang asing di dadanya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, ia tidak perlu memeras otak menebak suasana hati suaminya hanya untuk memulai hari. Usai mandi dan mengenakan Blus sederhana, Nadira mematut diri di depan cermin. Pandangannya mantap. Hari ini, ia siap menghadapi agenda paling menentukan dalam hidupnya: membaca surat peninggalan terakhir almarhum ayahnya. Tepat pukul sembilan pagi, sebuah mobil hitam yang dikemudikan Ibu Laras berhenti di pelataran apartemen. Sepanjang perjalanan, tatapa

  • Terlambat untuk Memanggilku Istri   Bab 7 — Perempuan yang Menyimpan Rahasia

    Pukul sepuluh pagi, Rendra Mahardika berdiri dengan napas tertahan di depan ruang rapat privat Hotel Arunika. Ia datang lima belas menit lebih awal—bukan karena gemar membuang waktu, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa gentar menghadapi kenyataan yang tersembunyi. Di tangan kirinya tergenggam erat map hitam berisi salinan perjanjian lama, sementara tangan kanannya bergetar menatap layar ponsel yang menampilkan nama Nadira. Ia belum menghubungi istrinya lagi. Bukan karena enggan, melainkan karena ia benar-benar kehilangan kata-kata. Pintu ruang rapat terbuka perlahan. Alessa muncul mengenakan blus putih berpotongan rapi dan rok hitam selutut. Kendati tersenyum tipis, ketegangan yang pekat jelas tersimpan di balik sorot matanya. “Kamu sudah datang,” sapa Alessa hati-hati. Tanpa membalas senyuman itu, Rendra langsung melangkah maju dan melempar map hitam ke atas meja. “Namamu tercantum dalam perjanjian pra-nikah yang dibuat sebelum aku menikahi Nadira. Jelas

  • Terlambat untuk Memanggilku Istri   Bab 6 — Nama Ketiga di Dalam Perjanjian

    Pukul sepuluh pagi, Rendra Mahardika berdiri dengan napas tertahan di depan ruang rapat privat Hotel Arunika. Ia datang lima belas menit lebih awal—bukan karena gemar menunggu, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa gentar menghadapi kenyataan. Di tangan kirinya tergenggam map berisi salinan perjanjian lama, sementara tangan kanannya bergetar menatap layar ponsel yang menampilkan nama Nadira. Pintu ruang rapat terbuka. Alessa muncul dengan blus putih dan rok hitam. Di balik senyum tipisnya, tersimpan ketegangan yang pekat. “Kamu sudah datang,” sapa Alessa. Rendra langsung to the point tanpa membalas senyum itu. Ia melempar map hitam di atas meja. “Namamu tercantum dalam perjanjian pra-nikah yang dibuat sebelum aku menikahi Nadira. Jelaskan.” Wajah Alessa memucat. Ia mengakui bahwa keluarganya memang pernah terlibat dalam urusan bisnis dengan keluarga Mahardika yang berujung pada kegagalan proyek besar. Namun, ketika Rendra mendesak tentang alasan namanya bis

  • Terlambat untuk Memanggilku Istri   Bab 5 — Perjanjian yang Tidak Pernah Diketahui Istri

    “Alessa Pramesti?” Nadira mengulang nama itu dengan bisikan halus yang nyaris tersapu angin. Di seberang telepon, Adrian bungkam sejenak. Keheningan itu justru menusuk dada Nadira dengan firasat tak menyenangkan. “Adrian, aku ingin tahu semuanya,” pinta Nadira tegas. “Jangan menyembunyikan apa pun hanya karena kau pikir aku belum siap.” “Aku baru menerima salinan awal dokumen dari tim legal, Nadira,” hembus Adrian berat. “Ada perjanjian antara ayahmu dan mendiang ayah Rendra beberapa bulan sebelum kalian menikah. Dan ya... nama Alessa tercantum di sana sebagai pihak yang terikat kesepakatan bisnis.” Mata Nadira menerawang menatap hamparan gemerlap lampu Jakarta dari balik kaca apartemennya. Selama tiga tahun, ia mengira pernikahan ini hanyalah perjodohan biasa untuk menjaga hubungan dua keluarga. Ia tak pernah menduga ada nama perempuan lain—perempuan yang menjadi bayangan dalam rumah tangganya—terselip rapi di sana. “Apa pun isi dokumen itu, ingatlah satu hal, Nadira,” ujar Adr

  • Terlambat untuk Memanggilku Istri   Bab 4 — Ketika Istrinya Memilih Pergi

    Pukul sembilan pagi, keheningan merayap dingin di ruang konsultasi lantai dua belas sebuah gedung perkantoran di kawasan Sudirman. Jemari Nadira Anindya terdiam sesaat di atas lembaran kertas putih. Ujung pulpennya menggantung, menahan beban tiga tahun pengorbanan yang hendak ia tuntaskan dalam satu goresan tinta. Namun, kali ini tak ada air mata yang menetes. Tak ada jemari yang bergetar. Dengan napas yang ditarik dalam-dalam, ia membubuhkan tanda tangannya di atas surat kuasa pengurusan perceraian. Di hadapannya, seorang pengacara wanita berpenampilan anggun menutup map hitam dengan gerakan cermat. “Bu Nadira, sebelum kita melangkah lebih jauh, saya perlu memastikan satu hal,” ucapnya lembut, memecah keheningan. “Apakah keputusan besar ini diambil hanya karena kejadian semalam? Karena suami Anda terlihat bersama wanita lain?” Nadira mengalihkan pandangannya ke luar jendela kaca besar. Di bawah sana, rimba beton Jakarta tampak sibuk dan tak peduli pada hati yang sedang hancur. “B

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status