Hati Evan mendadak menegang. Tanpa sadar, dia menegakkan punggungnya, bahkan bersiap menghadapi tatapan Karen yang penuh kesedihan, keterikatan yang mendalam, atau setidaknya perasaan yang rumit.Dia mengira Karen akan terkejut atau panik.Namun, tidak.Tatapan Karen hanya singgah di wajahnya sesaat, bahkan tak sampai sedetik.Tatapan itu begitu tenang, tanpa gejolak sedikit pun, seolah-olah dia sedang melihat orang asing yang kebetulan melintas dalam pandangannya.Tidak ada emosi apa pun. Tidak ada kebencian, tidak ada kepedihan, tidak ada cinta, bahkan riak sekecil apa pun tidak muncul di matanya.Sesaat kemudian, Karen kembali memalingkan wajahnya seolah tidak terjadi apa-apa. Dia terus berbicara pelan dengan pelayannya sambil berjalan melewati pria itu.Dari awal hingga akhir, dia tak berhenti barang sejenak pun, apalagi menunjukkan sedikit saja keengganan untuk berpisah.Evan terpaku di tempat, seolah-olah tubuhnya mendadak membeku dalam es. Sapaan "adik sepupu" yang sudah sampai
Baca selengkapnya