Short
Sinar Rembulan yang Lembut

Sinar Rembulan yang Lembut

Par:  HeaComplété
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
25Chapitres
23Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Karen adalah wanita tercantik di ibu kota, terkenal dengan payudara besar, pinggang ramping, paras jelita, dan lekuk tubuh yang memesona. Setelah kedua orang tuanya meninggal, dia membawa adik perempuannya yang sakit parah untuk tinggal bersama bibinya. Dari balik sebuah gerbang berukir, sang bibi memberinya sebuah tugas, "Karen, kakak sepupumu berhati dingin dan bertekad bulat buat mencukur rambutnya dan menjadi biksu. Tapi, kediaman adipati kita nggak boleh sampai kehilangan penerus." "Kamu punya paras yang cantik dan tubuh yang sempurna. Bukan cuma pria yang bakal tergoda melihatmu, bahkan orang suci pun bisa goyah dan tergiur oleh keduniawian. Pergilah dan tarik dia kembali ke dalam dunia fana. Asalkan kamu berhasil, kediaman adipati bakal menanggung biaya obat adikmu selamanya." Hati Karen bergetar. Sebab, dia bukan hanya membutuhkan obat untuk menyelamatkan nyawa adiknya, tetapi juga ... diam-diam telah mencintai pria itu selama sepuluh tahun penuh.

Voir plus

Chapitre 1

Bab 1

Selama setahun berikutnya, Karen mengerahkan segala cara yang bisa dilakukannya.

Saat kakak sepupunya membaca kitab suci, dia sengaja membiarkan bahunya yang mulus tersingkap. Saat kakak sepupunya mandi, dia berpura-pura salah masuk ke kolam pemandian. Saat kakak sepupunya bermeditasi, dia menempelkan dadanya yang lembut ke punggung pria itu sambil mengembuskan napas harum di dekatnya.

Namun, pria itu selalu bersikap tenang dan dingin, seolah benar-benar seorang biksu yang telah mencapai ketenangan batin. Dia sama sekali tidak tergoda.

Hingga malam sebelum pria itu resmi memutuskan untuk menjadi biksu.

Dilanda rasa malu dan keputusasaan yang memuncak, Karen akhirnya menanggalkan seluruh pakaiannya dan menyelinap ke balik selimut dingin pria itu.

Ketika pria itu kembali dan membuka selimut, dia melihat Karen terbaring telanjang di sana. Namun, tidak ada kekaguman ataupun hasrat di mata pria itu. Yang ada hanyalah kekecewaan dan sedikit rasa jijik.

Pria itu berkata, "Karen, apa kamu nggak merasa hina melakukan hal seperti ini?"

Kalimat itu bagaikan pisau berlapis es yang menembus harga diri Karen dan menghancurkan cinta yang telah dipendamnya selama sepuluh tahun.

Dengan tubuh terbungkus pakaian seadanya, Karen melarikan diri kembali ke kamarnya dan menangis sepanjang malam.

Namun, keesokan harinya, pria itu justru tidak jadi menjadi biksu.

Sebab, dia bertemu dengan putri sah Perdana Menteri Brata, seorang wanita bangsawan yang anggun, lembut, dan bertutur kata seindah bunga.

Pria itu hanya meliriknya sekali, lalu berkata, "Ternyata, dunia fana juga memiliki kebahagiaannya sendiri."

Bibinya begitu marah hingga membanting cangkir, lalu menunjuk Karen sambil memakinya, "Dasar nggak berguna! Sudah setahun, kamu bahkan nggak mampu menaklukkan seorang pria meski sudah menanggalkan pakaianmu! Sementara itu, Nona Julia cuma perlu sekali pandang! Jangan harap kamu bakal mendapatkan obat buat adikmu! Persetan dengan nasibnya!"

Dengan mata memerah karena menangis, Karen merasa tidak punya jalan keluar. Namun, pada saat itulah seseorang memberinya secercah harapan untuk bertahan hidup.

Menikah dengan Jenderal Malvin, sang Raja Neraka berwajah dingin, demi membawa keberuntungan bagi pria itu.

Jenderal tersebut memiliki segudang jasa di medan perang. Namun, akibat luka parah, dia telah terbaring tak sadarkan diri selama berbulan-bulan. Para tabib istana bahkan menyatakan bahwa dia mungkin tidak akan pernah bangun lagi.

Keluarga Hartono berkata jika Karen bersedia menikah, mereka akan memberinya mahar yang sangat besar. Uang itu cukup untuk membeli segala obat langka di dunia dan menjamin kelangsungan hidup adiknya seumur hidup.

Di hadapannya terbayang wajah pucat dan napas lemah adiknya, sementara di belakangnya ada tatapan dingin sang bibi dan kebencian kakak sepupunya.

Karen mengangkat kepala, menahan isak tangis yang tercekat di tenggorokannya, lalu menjawab pelan, "Baik, aku bersedia menikah."

...

Setelah tanggal pernikahannya ditetapkan, Karen keluar dari kediaman jenderal. Saat melewati sebuah toko kue terkenal, dia teringat bahwa adiknya paling menyukai kue almond dari toko itu. Dia pun berniat masuk untuk membelikan beberapa.

Namun, siapa sangka, begitu melangkah masuk ke toko, dia justru bertemu dengan Evan Danendra yang sedang makan bersama Julia Pradana.

Saat melihatnya, Evan sedikit mengernyit, nyaris tak terlihat.

Pelayan Julia segera angkat bicara dengan suara yang cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitarnya, "Nona, dia Nona Karen dari kediaman adipati yang suka menggoda putra pewaris itu, 'kan? Walau dia wanita tercantik di ibu kota, tapi perilakunya sungguh liar. Setiap hari dia terus menempel pada putra pewaris. Sekarang, dia bahkan mengejar putra pewaris sampai ke sini! Padahal, dia tahu betul kalau putra pewaris jatuh cinta ke Nona pada pandangan pertama dan kedua keluarga pun hampir membahas pernikahan kalian. Sungguh ... nggak tahu malu."

Julia menegur pelayannya dengan lembut, "Jaga ucapanmu."

Kemudian, dia beralih menatap Karen dengan senyum yang sopan. "Nona Karen, jangan masukkan ucapannya ke hati. Kalau ada yang mau kamu bicarakan dengan Evan, aku bisa menyingkir sebentar."

Karen memandangi pasangan serasi di hadapannya. Hatinya terasa perih, tetapi dia berusaha mempertahankan ketenangan di wajahnya. "Nona Julia salah paham. Aku nggak mengejar kakak sepupuku ke sini. Aku datang cuma buat membeli kue kesukaan adikku. Kalian nggak perlu khawatir. Mulai sekarang, aku nggak bakal mengganggu kakak sepupuku lagi."

Mendengar perkataannya, Evan menatapnya dengan mata yang dalam. Dia sedikit mengernyit, seolah tidak mengerti mengapa Karen tiba-tiba berubah menjadi orang yang berbeda hari ini.

Namun, pelayan itu tidak mau berhenti. "Omong kosong! Kalau kamu nggak menyukai putra pewaris, kenapa liontin giok milik putra pewaris masih tergantung di pinggangmu? Wanita baik-baik mana di ibu kota ini yang berani bertindak seliar dirimu? Perilakumu nggak pantas. Kamu bahkan memamerkan barang pribadi milik seorang pria di depan umum!"

Karen menunduk dan mendapati bahwa karena terburu-buru, dia malah mengenakan liontin giok putih yang ditinggalkan Evan tahun lalu, lalu diam-diam dia simpan.

Dia tersenyum getir, lalu melepaskan liontin itu dan menyerahkannya kembali kepada Evan. Suaranya terdengar dingin. "Sebelumnya, akulah yang bersalah. Liontin ini kukembalikan kepada pemiliknya. Setelah ini, aku nggak bakal mengulanginya lagi."

Evan menerima liontin yang masih menyimpan kehangatan tubuh Karen. Dia menatap wanita itu lama sekali sebelum akhirnya berkata datar, "Bagus kalau kamu sudah mengerti. Seorang wanita harus menjaga kehormatan dan bersikap pantas. Jangan pernah lagi bertingkah seperti dulu. Mulai sekarang, kita cuma sepupu."

Karen mengangguk, lalu berbalik hendak pergi.

Namun, Julia melangkah maju dan menahan tangannya. Dengan nada akrab, dia berkata, "Dik Karen, jam segini pasti kamu belum makan, 'kan? Bagaimana kalau kamu tinggal dan makan bersama kami? Setelah itu, kamu bisa sekalian membawa pulang kue-kue itu."

Karen tidak ingin duduk semeja dengan mereka. Dia baru saja hendak menolak ketika Evan angkat bicara dengan nada yang sedikit sulit dibantah, "Duduklah. Jangan merusak suasana hati Julia."

Karen mengepalkan ujung lengan bajunya. Pada akhirnya, dia tetap duduk dalam diam.

Selama makan, untuk pertama kalinya dia menyaksikan sendiri bagaimana sikap Evan terhadap Julia.

Selama ini, Evan selalu dingin dan jarang bicara. Namun, saat bersama Julia, dia justru bisa bercanda dan tertawa lepas, dengan senyum lembut yang belum pernah Karen lihat sebelumnya.

Evan sangat menjaga kebersihan dan tidak pernah menyentuh cangkir ataupun hidangan yang telah disentuh orang lain. Namun, ketika Julia menyodorkan sepotong kue yang baru saja dicicipinya dan merasa terlalu manis, pria itu justru sedikit menundukkan kepala dan memakannya langsung dari tangan wanita itu.

Hati Karen terasa sakit, seolah ditusuk jarum-jarum halus.

Ternyata, begini rupanya dia saat meninggalkan kesan bak dewa dan mulai menjalani kehidupan layaknya manusia biasa.

Hanya saja, wanita yang bersamanya bukanlah dirinya.

Saat itu, Julia melirik pemandangan di luar jendela, lalu berkata dengan lembut, "Pemandangan danau serta pegunungan di sini begitu indah. Bakal lebih sempurna kalau diiringi alunan kecapi."

Pelayan Julia segera menyambung, "Katanya, kemampuan bermain kecapi putra pewaris sangat luar biasa. Satu lagunya saja bernilai seribu keping emas! Alangkah baiknya kalau putra pewaris bersedia memainkan sebuah lagu buat Nona!"

Julia melirik pelayannya dengan nada menegur. "Jangan bicara sembarangan! Mana mungkin Evan mau memainkan kecapi begitu saja di tempat seperti ini?"

Namun, pada detik berikutnya, Evan justru langsung memerintahkan pelayannya, "Bawakan kecapiku."

Julia tampak terkejut. Dia buru-buru berkata, "Evan, kalau kamu nggak mau melakukannya, jangan memaksakan diri."

Evan menatapnya dengan pandangan lembut. "Memainkan kecapi buatmu bukanlah sesuatu yang memberatkanku."

Alunan kecapi mengalir merdu, bagai air sungai yang mengalir tanpa henti. Orang-orang di lantai bawah yang mendengar suara kecapi itu segera berbisik-bisik.

"Bukannya itu suara kecapi dari Putra Pewaris Adipati Danendra? Dulu, bahkan Kaisar pun sulit memintanya memainkan satu lagu!"

"Cepat lihat! Nona Julia juga ada di sana! Pasti dia memainkan lagu itu demi membuat pujaan hatinya tersenyum!"

"Ck, ck, ck. Dulu, Karen sudah berusaha merayunya dengan segala cara, tapi tetap nggak berhasil. Rupanya, takdir cuma berpihak pada orang yang berjodoh ...."

Gunjingan itu terasa seperti bilah-bilah pisau yang mengiris telinga Karen.

Ketika hatinya sedang dilanda kepedihan, tiba-tiba sekelompok pembunuh bertopeng menerobos masuk sambil membawa pedang. Sasaran mereka jelas Evan!

Evan segera melindungi Julia di belakang tubuhnya, lalu bertarung melawan para pembunuh.

Tak seorang pun memedulikan Karen. Dia hanya bisa bersembunyi dengan panik di sudut ruangan.

Di tengah kekacauan, salah seorang pembunuh ditendang Evan hingga terpental. Tubuhnya melesat lurus ke arah Karen.

Dorongan kuat itu membuat Karen ikut terlempar, menghancurkan jendela, lalu terhempas dari lantai dua.

"Aaah!"

Rasa sakit yang hebat seketika menjalar ke seluruh tubuh, sementara pandangannya berubah menjadi merah darah.

Di tengah penglihatannya yang kabur, dia melihat Evan menggendong Julia dan berjalan turun dengan tenang. Julia bersandar dalam pelukannya sambil membisikkan sesuatu.

"Evan ... Dik Karen juga terjatuh. Aku cuma mengalami sedikit luka gores. Cepat periksa keadaannya ...."

Karen berusaha mengangkat tangannya, tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan.

Kemudian, dia mendengar suara dingin Evan yang terdengar jelas dari jarak yang tidak terlalu jauh. "Dia kuat. Dia nggak bakal mati. Julia, kamu pasti ketakutan. Aku bawa kamu pulang."

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Pas de commentaire
25
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status