Di Kediaman Adipati Pelindung Negara, di Halaman Gurya.Evan duduk di balik meja kerjanya. Di hadapannya terbentang dokumen penting, sementara kuas bertinta merah di tangannya telah terangkat, tetapi sejak tadi tak kunjung menyentuh kertas. Alisnya sedikit berkerut, pikirannya tidak tenang.Perasaan hampa yang tidak jelas sebabnya terus menyelimutinya.Seolah-olah ... suasananya terlalu sunyi.Kebiasaan memang sesuatu yang menakutkan. Selama setahun terakhir, tidak peduli sedingin apa sikapnya atau sekeras apa dia melontarkan teguran, sosok itu selalu muncul dalam jangkauan pandangannya dengan berbagai alasan. Entah mengantarkan kudapan, meminta petunjuk tentang sesuatu, atau sekadar memandangnya dari kejauhan.Sepasang mata yang selalu dipenuhi cinta yang menggebu-gebu dan kepedihan itu melekat padanya seperti permen karet yang sulit dilepaskan, membuatnya muak.Namun, kini, sepanjang hari telah berlalu. Halaman di luar sunyi senyap, dan sosok yang selama ini membuatnya kesal itu tak
Read More