Mpu Tantular adalah salah satu
tokoh sastra Jawa Kuno yang karyanya masih dikagumi hingga sekarang. Namanya sering dikaitkan dengan kakawin 'Sutasoma', sebuah puisi epik yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan metrum yang indah. Karya ini bukan sekadar cerita biasa, melainkan mengandung nilai-nilai filosofis dan moral yang dalam, terutama tentang toleransi beragama. Salah satu kutipan terkenalnya, 'Bhinneka Tunggal Ika', yang berarti 'Berbeda-beda tetapi tetap satu', bahkan diadopsi sebagai semboyan negara Indonesia. Ini menunjukkan betapa relevannya pemikiran Mpu Tantular hingga era modern.
Selain 'Sutasoma', Mpu Tantular juga dikenal sebagai penulis 'Arjunawiwaha', meskipun ada perdebatan di antara para ahli tentang kepastian ini. 'Arjunawiwaha' menceritakan kisah Arjuna dari epos 'Mahabharata' dengan sentuhan lokal Jawa, menggabungkan unsur Hindu dan Buddha. Karyanya menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menyatukan dua tradisi agama yang berbeda, menciptakan harmoni dalam narasi. Gaya bahasanya puitis dan penuh simbol, membuatnya layak dikaji tidak hanya sebagai
karya sastra tetapi juga sebagai teks spiritual.
Peran Mpu Tantular dalam sastra Jawa Kuno tidak hanya terbatas pada penulisan, tetapi juga sebagai pemikir yang mampu merangkum nilai universal. Karyanya menjadi jembatan antara budaya India dan Jawa, sekaligus mencerminkan kecerdasan lokal dalam mengadaptasi pengaruh asing. Dalam konteks sejarah, ia hidup pada masa Kerajaan Majapahit, di mana seni dan sastra berkembang pesat. Karyanya adalah bukti dari zaman keemasan itu, menggambarkan bagaimana sastra bisa menjadi alat untuk menyampaikan pesan perdamaian dan kebijaksanaan.
Yang membuat Mpu Tantular istimewa adalah kemampuannya mengekspresikan kompleksitas manusia dan spiritualitas melalui kata-kata. 'Sutasoma', misalnya, bukan sekadar kisah pangeran Buddha, tetapi juga refleksi tentang pencarian kebenaran dan kedamaian batin. Ia berhasil mengangkat cerita yang bersumber dari tradisi Buddha menjadi sesuatu yang universal, bisa dinikmati oleh siapa pun, terlepas dari latar belakang agama atau budaya. Ini adalah pencapaian sastra yang langka dan patut diapresiasi.
Hingga kini, warisan Mpu Tantular terus menginspirasi, baik dalam dunia sastra maupun kehidupan sehari-hari. Karyanya mengajarkan kita untuk melihat perbedaan bukan sebagai pemecah, tetapi sebagai kekayaan yang memperindah mosaik kehidupan. Setiap kali membaca 'Sutasoma' atau 'Arjunawiwaha', selalu ada pelajaran baru yang bisa dipetik, seolah-olah Mpu Tantular berbicara langsung kepada pembaca dari masa lalu.