Novel silat Indonesia punya beberapa adaptasi film yang cukup memorable, dan kalau harus memilih yang terbaik, aku mungkin akan menyebut 'Gundala' (2019) sebagai salah satu yang paling menonjol belakangan ini. Meski technically bukan adaptasi langsung dari novel silat klasik, tapi film ini mengangkat semangat
cerita silat lewat dunia modern dengan sangat apik. Joko Anwar berhasil menyuntikkan nuansa epik dan filosofi khas cerita silat ke dalam film pahlawan super ini, dan itu bikin penonton yang familiar dengan genre silat langsung ngeh. Kostum, choreografi pertarungan, sampai dialog-dialognya banyak yang terinspirasi dari tradisi silat sastra kita.
Kalau mau yang lebih klasik, ada 'Si Pitung' (1970) yang sampai sekarang masih sering jadi acuan. Film ini diangkat dari legenda jawara Betawi, dan meski nggak persis berdasarkan novel tertentu, tapi ceritanya udah jadi semacam 'canon' di budaya pop Indonesia. Adegan silatnya mungkin terkesan jadul dibanding standar sekarang, tapi justru di situlah charmenya—gerakan-gerakannya masih murni dan nggak terlalu dihias CGI, bikin kita bisa menghargai akar silat asli.
Sayangnya, banyak novel silat Indonesia yang sebenarnya layak dapat adaptasi megah belum disentuh. Misalnya karya-karya Asmaraman Sukowati
kho ping hoo atau S.H. Mintardja yang punya dunia sangat kaya. Bayangkan kalau 'Serigala Terakhir' atau 'Nagasasra Sabukinten' difilmkan dengan budget besar dan sutradara yang paham visi silat—bisa jadi tontonan epik banget. Tapi tantangannya besar karena produksi film silat butuh investasi gede untuk set, kostum, dan koreografi yang beneran oke.
Yang menarik, beberapa film silat Indonesia justru lebih sukses ketika nggak terlalu literal mengadaptasi novel, tapi mengambil spiritnya. Contohnya 'The Raid' (2011) yang meski ceritanya modern, tapi teknik silat dalam fight scenenya sangat terasa. Atau 'Merantau' (2009) yang pake Pencak Silat asli sebagai core-nya. Mungkin ke depannya, adaptasi novel silat bisa mengambil pendekatan hybrid seperti ini—tetap setia pada jiwa cerita aslinya, tapi dikemas dengan gaya sinematik yang lebih segar.