Share

Pendekar Sinting dari Laut Selatan
Pendekar Sinting dari Laut Selatan
Author: KSATRIA PENGEMBARA

1. Kemurkaan Alam

last update publish date: 2025-01-04 11:04:45

HARI itu alam murka. Badai besar mendatangi wilayah tersebut. Ombak raksasa bergulung-gulung di kejauhan bagai tembok hidup menggapai angkasa. Sulit memastikan berapa ketinggian ombak saat itu. Lima enam meter bisa jadi lebih. Dan untuk ombak setinggi itu, tak diragukan lagi akan sanggup memporak-porandakan seluruh keadaan di sekitar pesisir pantai. Awan gelap sudah mengepung beberapa lama sebelumnya. Seperti halnya angin kencang yang terus mendengus-dengus.

Matahari benar-benar terkunci dalam timbunan awan kelam. Siang nyaris bagaikan suasana menjelang malam. Tak ada tanda-tanda bahwa alam akan bersikap ramah pada siapa pun, pada apa pun. Tak peduli barisan pepohonan kelapa, atau gubuk-gubuk rapuh di sekitarnya, serta seluruh manusia yang mendiaminya. Terlalu sulit untuk berkelit dari bencana. Suara-suara riuh bergemuruh yang terdengar tak lebih dari berita menakutkan. Keberanian manusia seperti tak dibutuhkan untuk menjelang kejadian tersebut.

Di salah satu perkampungan yang terletak tepat di bibir pantai Ketawang, berpuluh-puluh penduduk desa berhamburan ketakutan. Masing-masing bersicepat dalam irama kacau balau untuk menyelamatkan jiwa dan harta mereka.

Dalam himpitan ketakutan teramat sangat, mereka keluar dari rumah dengan membopong benda-benda yang perlu diselamatkan. Hewan-hewan ternak berteriak-teriak, menimpali teriakan-teriakan penduduk desa. Kambing mengembik-embik dalam seretan beberapa lelaki, kerbau melenguh-lenguh, ayam berkeok-keok. Dan sehimpun keributan lain berbaur membangun suasana hiruk-pikuk.

Belum lagi para ibu yang serabutan mencari anak-anaknya. Belum pula para lelaki muda yang kelimpungan mencari-cari istri tercinta yang baru dinikahi kurang dari satu purnama. Ada janda ribut kehilangan konde, ada duda kalap terlanggar kerbau. Ada nenek dan kakek pikun meributkan tempayan bocor yang lupa dibawa.

Putus kata, semuanya kacau balau! Di satu sudut desa, seorang anak malah asyik terpulas di atap kandang kambing. Seorang anak lelaki berusia sekitar tiga belas tahun. Berpakaian kumal dengan baju hitam koyak moyak tanpa lengan dan celana pendek. Rambutnya panjang kemerahan. Berwajah lugu bagai tanpa dosa.

Dengkur halusnya seolah menyelinap-nyelinap santai di antara riuh-rendah suara keributan. Entah bagaimana bocah itu bisa tertidur sepulas itu dalam keadaan yang memungkinkan nyawanya terlempar dari raga setiap saat.

Mungkin semalam dia begadang semalam suntuk menyaksikan pagelaran wayang kulit. Mungkin juga dia terlalu lelah bekerja. Tak mungkin dia sedang dalam keadaan mabuk.

Dialah si Angon Luwak, si bocah penggembala kambing yang merupakan sahabat Baraka, Pendekar Kera Sakti, muridnya Ki Bwana Sekarat. Untuk mengetahui lebih banyak tentang Angon Luwak. Bisa dibaca di cerita PENDEKAR KERA SAKTI.

Yang jelas, ketika seorang perempuan setengah baya meneriakinya, barulah Angon Luwak tersentak bangun.

"Ada apa?" Tanyanya polos sambil mengusap-usap kedua bola matanya yang bulat namun bergaris kuat. ‘Ada apa katanya?’ Padahal angin begitu ngotot berseliweran di sekitarnya. Sampai-sampai tubuhnya teroleng-oleng. Bagaimana dia masih bisa bertanya begitu?

"Ada apa?!" Pekik si perempuan setengah baya dengan mata mendelik.

"Apa kau bocah sinting?! Cepat kau turun dari atap itu. Ombak besar sedang menuju ke sini. Kalau mau mampus, teruskan saja tidurmu!" Semburnya lagi dengan suara bagai kaleng rombeng.

"Ada badai memangnya?" Tanya Angon Luwak terperangah kebodoh-bodohan. Matanya membelalak. Sampai gumpalan tahi mata keringnya terpental.

"Iya, Bodoh! Cepat turun!"

Bukannya cepat-cepat turun, Angon Luwak malah melepas pandangannya ke arah laut. Dari atas atap kandang kambing, dia dapat dengan bebas memandang ke arah sana. Dilihatnya sebentang suasana mengerikan.

Menyaksikan gulungan ombak raksasa di kejauhan dan angkasa yang berwarna legam, mata bocah itu jadi tak berkedip. Sesaat dia terpana seperti terkena tenung nenek sihir dari negeri Antah Berantah. Sampai akhirnya teriakan memekakkan telinga perempuan setengah baya tadi menyadarkannya.

Angon Luwak segera turun terbirit-birit dari atap kandang kambing. Nyaris saja dia terpelanting jatuh.

"Cepat bantu aku ke atas bukit!" Seru si perempuan setengah baya lagi. Angon Luwak berhenti bergerak.

"Bantu mengangkat Si Mbok ke atas bukit? Astaga, mana aku kuat...," Gerutunya, salah paham.

"Maksudku, bantu membawa barang-barang, Bocah Bodoh!"

Tahu maksud perintah perempuan yang dipanggil Si Mbok, Angon Luwak bergegas kembali. Dia berlari ke satu gubuk sekitar sepuluh depa dari kandang kambing. Di depan pintu gubuk, tergolek satu buntalan besar. Benda itu segera disambarnya.

"Bocah celaka, jangan kau curi buntalanku!" Teriak seorang lelaki berbadan kurus berkulit hitam.

"Astaga, salah sambar...," Desis Angon Luwak seraya terburu-buru mengembalikan buntalan tadi ke tempatnya.

"Angoonnn!!!"

Perempuan setengah baya tadi berteriak dari bawah satu pohon kelapa. Tertatih-tatih, dia berjalan dengan beban dua buntalan besar di kedua belah tangannya. Rupanya dia sudah siap meninggalkan desa secepatnya.

Badai serupa pernah terjadi beberapa puluh tahun silam. Waktu itu terjadi malam hari, ketika penduduk desa sama sekali tak siap. pulauMereka terlibas gulungan ombak setinggi atap saat terpulas di balai masing-masing. Puluhan nyawa menjadi korban. Seandainya mereka siap saat itu, tentu mereka akan segera menyingkir ke tempat yang lebih tinggi dari permukaan laut.

Sementara desa mereka berada tepat di bibir pantai, di mana ketinggian wilayah itu dari permukaan laut begitu rendah. Itu sebabnya terjangan ombak raksasa dengan begitu empuk mengunyah.

Tempat yang paling tepat untuk itu adalah dataran tinggi berumput yang mereka sebut bukit. Tingginya sekitar dua ratus meter dari permukaan laut. Dengan ketinggian seperti itu, mereka berharap dapat selamat dari terjangan ombak raksasa.

Kini, ke dataran itu para penduduk desa berlarian kalang-kabut. Jaraknya tak begitu jauh. Hanya memakan waktu sekitar setengah peminuman teh.

Angon Luwak segera menyambar satu buntalan dari tangan perempuan setengah baya. Dipanggulnya buntalan berukuran lebih besar dari tubuh kurusnya itu. Satu tangannya cepat menggamit pergelangan tangan perempuan yang dipanggil Si Mbok.

"Cepat lari, Si Mbok! Lari!" Teriak Angon Luwak kalang-kabut.

Perempuan setengah baya yang mengenakan kain di bawah lutut tentu saja tak bisa mengimbangi langkah-langkah cepat si bocah. Dia berlari terhuyung-huyung, tersandung kainnya sendiri. Sebelah tangannya berusaha mengangkat kain setinggi-tingginya, tak terpikir lagi kalau sebagian kulit pahanya berwarna keling matang! Malang tak dapat ditolak.

Meski para penduduk desa sudah berusaha secepatnya tiba di dataran tinggi, gulungan ombak raksasa ternyata lebih cepat tiba di pesisir. Pantai ditanduknya dengan garang. Pepohonan kelapa tua tumbang terlibas, lalu dihanyutkan. Beberapa gubuk nelayan yang berdiri paling dekat pada bibir pantai hancur saat itu juga. Puing-puingnya dilarikan gerakan ombak yang terus memburu ke pesisir.

Angon Luwak dan perempuan setengah baya berbalik dengan wajah mengeras ketat. Mata keduanya membelalak. Di belakang sana, mereka menyaksikan pemandangan mengerikan.

Air laut lebih tinggi dari atap gubuk memburu mereka. Si perempuan setengah baya memekik tinggi. Hampir saja dia semaput di tempat. Meskipun tak kalah terkesiap, Angon Luwak segera tersadar untuk segera menyelamatkan diri. Ditariknya lebih kuat pergelangan tangan perempuan setengah baya.

"Lari, Mbok! Lari!!!!" Teriaknya terpecah seraya berlari jalang menghela perempuan setengah baya di belakangnya.

Serabutan keduanya menggerakkan kaki. Di belakang mereka, air laut lebih cepat lagi memburu. Geraknya lebih garang dari amukan air bah.

Beberapa kejap mata kemudian, keduanya terlibas. Terjangan gelombang laut menggulung dua orang itu bagai dua keping kerikil tak berarti. Mereka dipelantingkan, ditenggelamkan, dihanyutkan dan diputar-putar. Sulit untuk menahan napas dalam keadaan seperti itu, kendati sebagai seorang bocah nelayan Angon Luwak terbiasa menyelam di laut. Cepat air laut menerjang ke jalan napas mereka. Paru-paru mereka diterjang.

Mereka kehilangan kesadaran!

Hal mengagumkan terjadi. Pegangan Angon Luwak pada pergelangan tangan wanita setengah umur ternyata tetap terpagut. Dia memang tak sadarkan diri. Namun, kekuatan hatinya untuk menyelamatkan wanita itu telah membuat kehendak bawah sadar Angon Luwak memerintahnya untuk tetap memegang kuat-kuat pergelangan tangan si wanita setengah umur.

Beberapa kejapan sebelum bocah itu kehilangan kesadaran, satu gulungan cairan berwarna kelabu berasal dari dasar laut amat dalam di sekitar Samudera Hindia tanpa sengaja menutupinya.

Tarikan napas tersedaknya menyebabkan cairan keruh kelabu itu terhisap langsung ke paru-paru Angon Luwak. Tubuh Angon Luwak mengejang saat berikutnya. Menyusul sentakan-sentakan tak terkendali, saat tubuhnya sendiri terus digulung oleh gelombang.

Lalu dunia seperti menghilang dari dirinya.

-o0o-

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Jongos Pendusta
Nama MC nya random banget, Angon luak... ini bukannya sama dengan peternak luak
goodnovel comment avatar
kaisar langit
bagus ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   203. Part 17

    Kemudian suara ucapan mencibir dan menyindir ketiga manusia singa lenyap. Selanjutnya terdengar pekikan kaget."Walah... kok bisa begini. Pedang tolol! Kalau mau turun ke bawah ya turun saja. Jangan menukik begini. Aku bisa jatuh menyungsap. Nanti wajahku bisa rusak dan hidungku yang bagus jadi jelek. Hei.... turunnya pelan saja. Kira-kira seperti daun yang jatuh dari pohon, bukan seperti burung alap-alap yang menyambar mangsa, jangan pula mendarat seperti burung buta yang sedang jatuh cinta. Ha ha ha....!"Tiga manusia singa yang ujudnya belum berubah sama ternganga. Seketika mereka dongakkan kepala menatap ke arah terdengarnya suara. Dari atas ketinggian terlihat sesosok tubuh melayang jungkir balik sambil mendekap sebuah pedang yang diapit diselangkangan.Ketiganya menjadi tercengang."Siapa yang jatuh dari langit itu?" Desis Kuruseta kaget."Bukan jatuh. Orang itu menunggangi sebuah pedang!" Jatukara menimpali."Terbang diketinggian deng

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   202. Part 16

    Diserang dari dua arah sekaligus. Giri Soradana terpaksa menggunakan ilmu meringankan tubuh serta kecepatan gerak untuk menyelamatkan diri. Ketika pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh dua lawannya meleset.Kini giliran si kakek merangsak maju. Satu jotosan keras diarahkan ke wajah Purudana. Sementara tangan kiri berkelebat menyambar siap menjebol dada Kuruseta. Melihat serangan ini Purudana melompat ke belakang sambil menangkis jotosan lawan.Benturan keras terjadi.Keduanya sama bergetar.Namun celaka bagi Kuruseta. Walau lawan terguncang keras akibat benturan dengan Purudana tetapi jemari tangan lawan membeset rusuknya.Kraak! Terdengar suara pakaian robek.Kuruseta menjerit sakit namun juga menjadi sangat marah begitu melihat pakaiannya robek di sebelah rusuk kiri, sementara dipermukaan kulit terdapat luka sambaran jari. Luka itu mengucurkan darah.Kaget mendengar teriakan Kuruseta, Purudana dan Jatukara yang baru saja menyera

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   201. Part 15

    Selagi Giri Soradana terombang-ambing dalam kebimbangan. Salah seorang diantara mereka yang berada di sebelah kiri melangkah maju. Dua tindak di depan tiga kepala yang tergeletak di tanah dia hentikan langkah. Mewakili dua temannya orang ini membuka mulut perkenalkan diri."Giri Soradana aku bernama Purudana. Yang berdiri di belakangku bernama Kuruseta. Kemudian yang berada disampingnya tak lain adalah Jatukara. Ketahuilah, kami telah beberapa kali datang kemari. Kami tidak menemuimu, hanya muridmu yang kami temukan. Lalu kami menjemput nyawa mereka!" Ucap manusia berwajah singa mengaku bernama Purudana itu dingin.Giri Soradana membisu, tapi matanya terus memperhatikan. Dia merasa heran bagaimana tiga manusia setengah mahluk itu bisa mengenal siapa dirinya padahal diantara mereka baru sekali ini berjumpa."Mengapa kalian membunuh murid-muridku? Apa salah dan dosa mereka?" Tanya Giri Soradana sambil bersikap sabar menahan diri.Kuruseta yang berdiri di be

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   200. Part 14

    "Apakah mungkin pembunuhan yang terjadi terhadap para tumenggung pejabat bawahan senopati Seta Kurana ada hubungannya dengan malapetaka yang dialami oleh murid-muridnya"Si kakek gelengkan kepala.Belasan tahun Seta Kurana menjadi adipati. Walau antara sang adipati dengan dirinya masih ada hubungan sahabat, namun si kakek jarang sekali bertemu dengan adipati itu. Dia tak tahu pasti bagaimana sepak terjang adipati dalam menjalankan pemerintahannya.Satu-satunya yang dia tahu. Dulu sebelum Seta Kurana menjadi seorang adipati jalan hidupnya cenderung menyimpang dan menghalalkan segala cara. Dengan latar belakang yang seperti itu mungkin saja Seta Kurana mempunyai banyak musuh."Tapi mengapa Giri Soradana harus ikut terkena getahnya?"Dia menghela nafas. Tapi tarikan nafasnya jadi tertahan begitu sekonyong-konyong dia mendengar suara pekik burung gagak di atas atap padepokannya. Si kakek tercekat. Mendadak tengkuknya terasa dingin. Dengan suara terbata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   199. Part 13

    Kembali dari perjalanan di Kuto Gede, Giri Soradana kakek berusia hampir tujuh puluh tahun ini merasa gelisah. Entah mengapa dia ingin cepat-cepat sampai di padepokannya yang berada di Parang Tritis.Sejak mendengar kabar terjadinya pembunuhan-pembunuhan aneh yang menimpa beberapa tumenggung dan keluarganya di wilayah kadipaten Blora. Kakek berpakaian serba biru berambut putih panjang digelung ini memutuskan mempersingkat kunjungannya.Tidak heran baru sepekan berada di rumah kerabatnya, Giri Soradana memutuskan kembali ke Padepokan Alas Langit.Bulan empat hari bersinar indah di ketinggian sana. Saat itu Giri Soradana telah memasuki sebuah desa bernama Muncang. Dari desa yang sunyi itu Parang Tritis sudah tidak begitu jauh lagi. Tanpa menoleh si kakek terus memacu kudanya. Sesekali dia berpapasan dengan penduduk setempat. Para penduduk desa yang ramah yang mengenal kakek ini ada yang memintanya untuk singgah. Tapi Giri Soradana tidak menghiraukan.Tidak

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   198. Part 12

    Melihat serangan berbahaya yang datang dari arah depan dan belakangnya. Si Mata Bara keluarkan suara berdengus. Sekali menghentakkan kakinya tubuh laki-laki ini melambung ke atas.Pada saat tubuh melesat, dia memutar tubuh lalu kepalkan kedua tangan menyongsong serangan senjata kepala pengawal dan pasukannya.Wuss!Dari kedua tangan Mata Bara menderu hawa panas luar biasa, menjalari setiap orang yang berada di sekelilingnya. Hingga membuat lima orang pengawal tersapu roboh. Dua diantaranya terpelanting dengan perut tertancap senjatanya sendiri.Sementara itu Pati Jaladara yang lebih berpengalaman bertindak cepat. Begitu hawa panas menderu melabrak tubuhnya, pedang pendek yang dipergunakan untuk menyerang segera diputar membentuk perisai pertahanan yang kokoh.Benturan keras antara pedang dengan pukulan tak dapat dihindari lagi. Ledakan berdentum mengguncang tempat itu. Debu pasir dan bunga api bermuncratan di udara.Pati Jaladara terlempar.

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   104. Part 13

    Mula-mula si nenek mengeruk sisa-sisa tanah yang menimbun sebagian tubuh penghuni makam. Aneh walau mata si nenek hanya berupa dua buah rongga hitam mengerikan. Orang tua ini bersikap seolah melihat.Terbukti ia dapat memastikan dimana kepala dan yang mana bagian kaki dari kubur yang telah

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   102. Part 11

    Permukaan tanah yang dilapisi es, meleleh mencair. Cairan itu dengan cepat mendidih menghantam segenap sudut penjuru hingga membuat Bocah Ontang Anting kalang kabut selamatkan diri dari amukan api dan luapan air panas bergolak.Melihat kenyataan ini. Angon Luwak terpaksa menggunakan jurus-

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   101. Part 10

    "Aku.... apakah temanmu itu tak memberi tahu siapakah aku ini?" Tanya sosok yang tingginya tiga kali lipat dari tinggi Angon Luwak.Pemuda yang ditanya melengos namun kemudian tertawa tergelak gelak. Dengan sikap konyol seenaknya sendiri Angon Luwak menjawab."Dia sudah memberi tahu

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   100. Part 9

    "Memang ini bukan waktunya untuk berbasa-basi. Tapi sebagai pangeran putera prabu Sangga Langit perlu kiranya seorang kawula menghormat pada gusti pangerannya. Terimalah hormat hamba pangeran Saka Buana.” Bocah Ontang Anting membungkuk tiga kali. Angon Luwak tercengang namun buru-buru membu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status