LOGIN
HARI itu alam murka. Badai besar mendatangi wilayah tersebut. Ombak raksasa bergulung-gulung di kejauhan bagai tembok hidup menggapai angkasa. Sulit memastikan berapa ketinggian ombak saat itu. Lima enam meter bisa jadi lebih. Dan untuk ombak setinggi itu, tak diragukan lagi akan sanggup memporak-porandakan seluruh keadaan di sekitar pesisir pantai. Awan gelap sudah mengepung beberapa lama sebelumnya. Seperti halnya angin kencang yang terus mendengus-dengus.
Matahari benar-benar terkunci dalam timbunan awan kelam. Siang nyaris bagaikan suasana menjelang malam. Tak ada tanda-tanda bahwa alam akan bersikap ramah pada siapa pun, pada apa pun. Tak peduli barisan pepohonan kelapa, atau gubuk-gubuk rapuh di sekitarnya, serta seluruh manusia yang mendiaminya. Terlalu sulit untuk berkelit dari bencana. Suara-suara riuh bergemuruh yang terdengar tak lebih dari berita menakutkan. Keberanian manusia seperti tak dibutuhkan untuk menjelang kejadian tersebut.
Di salah satu perkampungan yang terletak tepat di bibir pantai Ketawang, berpuluh-puluh penduduk desa berhamburan ketakutan. Masing-masing bersicepat dalam irama kacau balau untuk menyelamatkan jiwa dan harta mereka.
Dalam himpitan ketakutan teramat sangat, mereka keluar dari rumah dengan membopong benda-benda yang perlu diselamatkan. Hewan-hewan ternak berteriak-teriak, menimpali teriakan-teriakan penduduk desa. Kambing mengembik-embik dalam seretan beberapa lelaki, kerbau melenguh-lenguh, ayam berkeok-keok. Dan sehimpun keributan lain berbaur membangun suasana hiruk-pikuk.
Belum lagi para ibu yang serabutan mencari anak-anaknya. Belum pula para lelaki muda yang kelimpungan mencari-cari istri tercinta yang baru dinikahi kurang dari satu purnama. Ada janda ribut kehilangan konde, ada duda kalap terlanggar kerbau. Ada nenek dan kakek pikun meributkan tempayan bocor yang lupa dibawa.
Putus kata, semuanya kacau balau! Di satu sudut desa, seorang anak malah asyik terpulas di atap kandang kambing. Seorang anak lelaki berusia sekitar tiga belas tahun. Berpakaian kumal dengan baju hitam koyak moyak tanpa lengan dan celana pendek. Rambutnya panjang kemerahan. Berwajah lugu bagai tanpa dosa.
Dengkur halusnya seolah menyelinap-nyelinap santai di antara riuh-rendah suara keributan. Entah bagaimana bocah itu bisa tertidur sepulas itu dalam keadaan yang memungkinkan nyawanya terlempar dari raga setiap saat.
Mungkin semalam dia begadang semalam suntuk menyaksikan pagelaran wayang kulit. Mungkin juga dia terlalu lelah bekerja. Tak mungkin dia sedang dalam keadaan mabuk.
Dialah si Angon Luwak, si bocah penggembala kambing yang merupakan sahabat Baraka, Pendekar Kera Sakti, muridnya Ki Bwana Sekarat. Untuk mengetahui lebih banyak tentang Angon Luwak. Bisa dibaca di cerita PENDEKAR KERA SAKTI.
Yang jelas, ketika seorang perempuan setengah baya meneriakinya, barulah Angon Luwak tersentak bangun.
"Ada apa?" Tanyanya polos sambil mengusap-usap kedua bola matanya yang bulat namun bergaris kuat. ‘Ada apa katanya?’ Padahal angin begitu ngotot berseliweran di sekitarnya. Sampai-sampai tubuhnya teroleng-oleng. Bagaimana dia masih bisa bertanya begitu?
"Ada apa?!" Pekik si perempuan setengah baya dengan mata mendelik.
"Apa kau bocah sinting?! Cepat kau turun dari atap itu. Ombak besar sedang menuju ke sini. Kalau mau mampus, teruskan saja tidurmu!" Semburnya lagi dengan suara bagai kaleng rombeng.
"Ada badai memangnya?" Tanya Angon Luwak terperangah kebodoh-bodohan. Matanya membelalak. Sampai gumpalan tahi mata keringnya terpental.
"Iya, Bodoh! Cepat turun!"
Bukannya cepat-cepat turun, Angon Luwak malah melepas pandangannya ke arah laut. Dari atas atap kandang kambing, dia dapat dengan bebas memandang ke arah sana. Dilihatnya sebentang suasana mengerikan.
Menyaksikan gulungan ombak raksasa di kejauhan dan angkasa yang berwarna legam, mata bocah itu jadi tak berkedip. Sesaat dia terpana seperti terkena tenung nenek sihir dari negeri Antah Berantah. Sampai akhirnya teriakan memekakkan telinga perempuan setengah baya tadi menyadarkannya.
Angon Luwak segera turun terbirit-birit dari atap kandang kambing. Nyaris saja dia terpelanting jatuh.
"Cepat bantu aku ke atas bukit!" Seru si perempuan setengah baya lagi. Angon Luwak berhenti bergerak.
"Bantu mengangkat Si Mbok ke atas bukit? Astaga, mana aku kuat...," Gerutunya, salah paham.
"Maksudku, bantu membawa barang-barang, Bocah Bodoh!"
Tahu maksud perintah perempuan yang dipanggil Si Mbok, Angon Luwak bergegas kembali. Dia berlari ke satu gubuk sekitar sepuluh depa dari kandang kambing. Di depan pintu gubuk, tergolek satu buntalan besar. Benda itu segera disambarnya.
"Bocah celaka, jangan kau curi buntalanku!" Teriak seorang lelaki berbadan kurus berkulit hitam.
"Astaga, salah sambar...," Desis Angon Luwak seraya terburu-buru mengembalikan buntalan tadi ke tempatnya.
"Angoonnn!!!"
Perempuan setengah baya tadi berteriak dari bawah satu pohon kelapa. Tertatih-tatih, dia berjalan dengan beban dua buntalan besar di kedua belah tangannya. Rupanya dia sudah siap meninggalkan desa secepatnya.
Badai serupa pernah terjadi beberapa puluh tahun silam. Waktu itu terjadi malam hari, ketika penduduk desa sama sekali tak siap. pulauMereka terlibas gulungan ombak setinggi atap saat terpulas di balai masing-masing. Puluhan nyawa menjadi korban. Seandainya mereka siap saat itu, tentu mereka akan segera menyingkir ke tempat yang lebih tinggi dari permukaan laut.
Sementara desa mereka berada tepat di bibir pantai, di mana ketinggian wilayah itu dari permukaan laut begitu rendah. Itu sebabnya terjangan ombak raksasa dengan begitu empuk mengunyah.
Tempat yang paling tepat untuk itu adalah dataran tinggi berumput yang mereka sebut bukit. Tingginya sekitar dua ratus meter dari permukaan laut. Dengan ketinggian seperti itu, mereka berharap dapat selamat dari terjangan ombak raksasa.
Kini, ke dataran itu para penduduk desa berlarian kalang-kabut. Jaraknya tak begitu jauh. Hanya memakan waktu sekitar setengah peminuman teh.
Angon Luwak segera menyambar satu buntalan dari tangan perempuan setengah baya. Dipanggulnya buntalan berukuran lebih besar dari tubuh kurusnya itu. Satu tangannya cepat menggamit pergelangan tangan perempuan yang dipanggil Si Mbok.
"Cepat lari, Si Mbok! Lari!" Teriak Angon Luwak kalang-kabut.
Perempuan setengah baya yang mengenakan kain di bawah lutut tentu saja tak bisa mengimbangi langkah-langkah cepat si bocah. Dia berlari terhuyung-huyung, tersandung kainnya sendiri. Sebelah tangannya berusaha mengangkat kain setinggi-tingginya, tak terpikir lagi kalau sebagian kulit pahanya berwarna keling matang! Malang tak dapat ditolak.
Meski para penduduk desa sudah berusaha secepatnya tiba di dataran tinggi, gulungan ombak raksasa ternyata lebih cepat tiba di pesisir. Pantai ditanduknya dengan garang. Pepohonan kelapa tua tumbang terlibas, lalu dihanyutkan. Beberapa gubuk nelayan yang berdiri paling dekat pada bibir pantai hancur saat itu juga. Puing-puingnya dilarikan gerakan ombak yang terus memburu ke pesisir.
Angon Luwak dan perempuan setengah baya berbalik dengan wajah mengeras ketat. Mata keduanya membelalak. Di belakang sana, mereka menyaksikan pemandangan mengerikan.
Air laut lebih tinggi dari atap gubuk memburu mereka. Si perempuan setengah baya memekik tinggi. Hampir saja dia semaput di tempat. Meskipun tak kalah terkesiap, Angon Luwak segera tersadar untuk segera menyelamatkan diri. Ditariknya lebih kuat pergelangan tangan perempuan setengah baya.
"Lari, Mbok! Lari!!!!" Teriaknya terpecah seraya berlari jalang menghela perempuan setengah baya di belakangnya.
Serabutan keduanya menggerakkan kaki. Di belakang mereka, air laut lebih cepat lagi memburu. Geraknya lebih garang dari amukan air bah.
Beberapa kejap mata kemudian, keduanya terlibas. Terjangan gelombang laut menggulung dua orang itu bagai dua keping kerikil tak berarti. Mereka dipelantingkan, ditenggelamkan, dihanyutkan dan diputar-putar. Sulit untuk menahan napas dalam keadaan seperti itu, kendati sebagai seorang bocah nelayan Angon Luwak terbiasa menyelam di laut. Cepat air laut menerjang ke jalan napas mereka. Paru-paru mereka diterjang.
Mereka kehilangan kesadaran!
Hal mengagumkan terjadi. Pegangan Angon Luwak pada pergelangan tangan wanita setengah umur ternyata tetap terpagut. Dia memang tak sadarkan diri. Namun, kekuatan hatinya untuk menyelamatkan wanita itu telah membuat kehendak bawah sadar Angon Luwak memerintahnya untuk tetap memegang kuat-kuat pergelangan tangan si wanita setengah umur.
Beberapa kejapan sebelum bocah itu kehilangan kesadaran, satu gulungan cairan berwarna kelabu berasal dari dasar laut amat dalam di sekitar Samudera Hindia tanpa sengaja menutupinya.
Tarikan napas tersedaknya menyebabkan cairan keruh kelabu itu terhisap langsung ke paru-paru Angon Luwak. Tubuh Angon Luwak mengejang saat berikutnya. Menyusul sentakan-sentakan tak terkendali, saat tubuhnya sendiri terus digulung oleh gelombang.
Lalu dunia seperti menghilang dari dirinya.
-o0o-
"Jadi sekarang kau tidak sanggup lagi mengalahkan orang yang baru bangkit dari kematiannya? Mungkinkah karena kau sudah tua, tulangmu jadi rapuh dan loyo tak bertenaga?" sindir pemuda itu disertai seringai mengejek."Jangan memandang enteng diriku. Mungkin kau tidak tahu saat ini Pangeran Durjana bukan lagi seperti yang dulu. Sebagaimana sumpah sebelum tewas ditiang gantungan. Begitu bangkit dari kematian sang pangeran dibantu penuh oleh suatu kekuatan yang berasal dari kuasa kegelapan. Kesaktiannya maju pesat. Saat ini menurut dugaanku kekuatannya menjadi sepuluh kali lipat dari kekuatan lama yang dia miliki.”"Bagaimana dengan mahluk-mahluk pembunuh yang dikenal dengan sebutan Lebah Kepala Hati Berbunga?" Tanya Pendekar Sinting."Lebah-lebah itu? Bukan hanya membunuh tetapi juga menjadi pengawal sang pangeran. Dan bila Lebah Lebah itu mengantuk para gadis perawan, maka seketika gadis itu akan kehilangan kesadaran serta rasa malunya. Mereka akan berubah m
"Pendekar Sinting... siapapun dirimu aku tidak perduli. Tapi kau bertanya orang mati itu, lalu bagaimana bisa hidup kembali. Kurasa itu adalah persoalan lain. Satu yang patut kiranya kau ketahui. Dulu aku bukanlah seorang pemabuk seperti sekarang ini. Aku tinggal di istana Dewa Ruci yang juga dikenal dengan nama lain Istana Suci. Aku bukan seorang Dewa. Tapi perbuatan dan tingkah lakuku begitu terpuji, lurus lempang tanpa cacat dan cela.”"Jika kau tinggal di Istana Suci, berarti kau mengenal Ratu Tria Arutama?" Potong Pendekar Sinting."Bukan cuma kenal, gusti ratu Tria Arutama sudah kuanggap sebagai adik sendiri. Aku membantu beliau menjalankan roda pemerintahan beberapa tahun setelah suaminya mengasingkan diri di Malingping. Walau wanita, beliau adalah seorang pemimpin yang bijaksana. Sama bijaksananya dengan prabu Kalijati yaitu suami dari gusti ratu.”"Lalu apa yang terjadi orang tua?" Tanya Pendekar Sinting tidak sabar."Lima tahun kemud
"Kau betul juga. Kalau kau sudah tahu pasti kau tidak bertanya padaku. Rasanya aku yang tahu. Tapi bagaimana caranya mengatakan semua itu padamu. Banyak kejadian dimasa lalu yang ingin kulupakan. Tidak sedikit kenangan yang ingin kukubur. Aku tak mau mengingat kehidupan yang pahit. Aku mau yang enak dan yang manis-manis saja. Tiba-tiba saja pangeran jahanam itu bangkit dari kematiannya, membuat banyak kekacauan, ingin membalas dendam bahkan berniat menjadi penguasa di seluruh jagat. Mengapa dunia ini tidak pernah aman, orang gila. Mengapa selalu ada kekacauan?" Katanya dengan nada bertanya."Mana aku tahu. Sebelum aku lahir dunia memang sudah kacau.” dengus Pendekar Sinting bersungut-sungut.Sambil menatap kakek di depannya dia melanjutkan.”Orang tua, sekali lagi kuperingatkan padamu, jangan suka memanggilku orang gila. kau sudah tahu namaku!" Geram pemuda itu."Ha ha ha. Aku berada di rumahku sendiri. Aku bebas memanggil tamuku dengan sebutan apa sa
Selagi Aki Kolot Raga tenggelam dalam pikirannya. Nini Burangrang tiba-tiba bertanya."Selain membunuh raja, menculik kedua puterinya. Apa yang harus kami lakukan bila bertemu pemuda aneh itu, pangeran?""Aku ingin kalian menghabisinya. Aku tidak ingin dia menjadi batu sandungan dari semua rencanaku!" Tegas Pangeran Durjana."Kalau itu keinginanmu, kami akan melakukan perintah pangeran!" Kata Nini dan Aki Kolot hampir bersamaan."Bagus. Jika kalian bisa melaksanakan semua tugas yang kuberikan dengan baik, kelak aku akan menjadikan kalian berdua sebagai patih dan panglima perangku!" Kata sang pangeran."Oh terima kasih, kau sangat baik sekali pangeran.” Kata Nini Burangrang.Sedangkan Aki Kolot Raga dalam hati berkata.”Pangeran culas. Siapa yang mau percaya dengan bualanmu. Aku yakin begitu tugas kami selesai, kau pasti akan menghadiahkan kami pada Bocah Bocah iblis sebagai santapan malam yang alot.”"Bagus! Kita tela
Sewaktu-waktu bila lawan menyerang dia sudah siap membela diri. Pangeran Durjana menyeringai siap menghabisi si kakek. Namun disaat menegangkan seperti itu tiba-tiba Nini Burangrang melompat ke depan si Aki. Dengan sikap melindungi nenek cantik berkata."Pangeran! Saya memohon kemurahan hatimu. Jangan bunuh suamiku. Jika kau membunuhnya aku bersumpah tak akan lagi mematuhi perintahmu dan aku pasti akan membunuhmu!"Pangeran Durjana tersenyum sinis membuat penampilannya yang dingin angker tambah menggidikkan."Kau ingin membunuhku? Kalau kau mampu, kalian berdua tak mungkin menjadi tawananku!" kata laki-laki itu sinis"Aku bukannya tak mampu. Tapi kau telah berlaku curang, menyerang kami dengan menggunakan kawanan lebah. Kurasa itu perbuatan pengecut!" Dengus si nenek."Ha ha ha. Kau pandai bicara orang tua. Menurutku, dalam mencapai sebuah tujuan segala cara boleh dilakukan. Walau cara yang ditempuh, kau anggap sebagai tindakan pengecut!" Kata sang
Dalam hati si nenek berkata.”Sejak dulu sampai sekarang. Sedari muda hingga tua begini aku sering melihat pemandangan yang buruk dan jelek. Tapi pangeran yang satu ini keadaannya benar-benar tidak sedap untuk dipandang. Aku tidak perah tahu rupa aslinya seburuk itu. Yang sudah-sudah wajahnya tampan. Aku saja yang sudah karatan dan bau tanah hampir jatuh hati. Sekarang setelah aku melihat rupanya yang asli. Ah... rasanya lebih baik aku mati membunuh diri dari pada harus jatuh kepelukannya.”Baru saja si Nini bicara seperti itu di dalam hati. Tiba-tiba Pangeran Durjana palingkan kepala lalu memandang dengan mata mendelik. Dari mulutnya yang menjuntai pucat seolah mau jatuh dari atas dagunya itu berkata."Jangan bicara bila tidak kuminta. Meski hanya di dalam hati. Jaga sikap dan keselamatan diri. Jangan pernah berkedip bila tidak ingin celaka!""Nini memangnya kau bicara apa?" Tanya si kakek kaget.Nini Burangrang mendengus lalu palingkan kepala
Ketika hari berganti, kalangan persilatan tanah Jawa malah lebih mengenalnya dengan julukan Tabib Tangan Dewa. Ketika Majapahit dilanda perang saudara sepeninggalan Prabu Rajasanegara, Ki Kusumo mengasingkan diri di sebuah pulau karang yang terpencil di sekitar Laut Selatan.Dia benci pada setiap p
Bunyi gemeritik bara api yang dimainkan Tresnasari terdengar, ditingkahi derik ramai jangkrik di kejauhan. Nyai Cemarasari merebahkan tubuhnya yang demikian penat dan lunglai di atas rumput. Dengan caping, diganjalnya kepalanya. Tampaknya dia mulai mengantuk. Keadaan tubuhnya memang tak memungkinka
Setelah membereskan ketiga prajurit penjaga, pasukan Dirgasura bergerak kembali mendekati tepi rawa. Gerakan mereka kali ini tak lagi lambat. Seperti sekawanan anjing lapar yang melihat tumpukan tulang di depan mata, mereka memburu ke tepi. Meski begitu, tak ada keributan berarti mereka ciptakan.D
Banyak buaya liar berkeliaran. Selain itu, pasukan yang mencoba menerobos ke sana harus menempuh perjalanan tanpa kendaraan menembus rawa setinggi pusar selama satu malam. Lebatnya hutan bakau tak memungkinkan untuk menggunakan perahu. Besar kemungkinan selama merambah bentangan rawa, mereka akan d







