5 Jawaban2025-11-29 15:09:45
Kalimat 'what a pity' itu seperti tamparan halus di hati—rasanya mirip ketika lihat karakter favorit di 'Attack on Titan' mati sia-sia. Dalam bahasa Indonesia, paling pas diterjemahkan sebagai 'sayang sekali' atau 'sungguh disayangkan'. Tapi konteksnya lebih dalam dari sekadar terjemahan literal. Misal, waktu main 'The Last of Us Part II' dan Ellie kehilangan segalanya, aku bergumam 'what a pity' karena rasa kehilangan yang dalam. Frasa ini sering muncul di dialog anime seperti 'Your Lie in April' ketika sesuatu yang indah runtuh.
Nuansanya bisa berbeda tergantung situasi. Di 'NieR:Automata', 2B sering menghadapi tragedi yang bikin kita menghela napas, 'what a pity' di sini lebih ke kepedihan filosofis. Sementara di komik 'Solo Leveling', frasa itu cocok untuk moment ketika musuh kuat ternyata punya backstory menyedihkan.
5 Jawaban2025-11-29 15:28:31
Membahas idiom bahasa Inggris selalu menarik karena seringkali maknanya lebih dalam dari kata-kata penyusunnya. 'What a pity' memang termasuk idiom yang umum digunakan untuk menyatakan rasa sayang atau penyesalan terhadap suatu situasi. Ungkapan ini punya nuansa lebih formal dibanding 'That's too bad' dan sering ditemui dalam literatur atau dialog karakter berpendidikan.
Yang membuatnya unik adalah meskipun struktur gramatikalnya sederhana, makna emotifnya kuat. Dalam novel-novel klasik seperti karya Jane Austen, frasa ini sering muncul untuk menggambarkan kesopanan atau simpati yang terkendali. Bedakan dengan 'What a shame' yang lebih bernada kritik sosial.
4 Jawaban2025-12-29 08:09:19
Scene pity yang langsung terngiang di kepala adalah momen ketika Hodor mengorbankan diri di 'Game of Thrones'. Selama bertahun-tahun, karakter ini hanya dikenal karena kata-katanya yang terbatas, tapi ternyata itu adalah petunjuk untuk takdir tragisnya. Adegan flashback mengungkap bahwa 'Hold the door' berubah menjadi 'Hodor' saat Bran memanipulasi masa lalu, sementara di presentasi, Hodor mati melindungi mereka dari zombie. Rasanya seperti pukulan di solar plexus—kita baru memahami seluruh hidupnya di detik-detik terakhir.
Yang bikin lebih mengharukan adalah bagaimana showrunner membangun karakter ini dengan subtlety. Hodor bukan pahlawan besar, tapi pengorbanannya lebih bermakna karena ketulusannya. Ini membuktikan bahwa kepedihan tidak membutuhkan dialog panjang—hanya visual dan simbolisme kuat.
4 Jawaban2025-12-29 15:40:28
Ada satu momen dalam 'The Kite Runner' yang selalu membuatku merinding—saat Hassan, dengan loyalitas tak tergoyahkan, justru dikhianati oleh Amir. Khaled Hosseini tidak sekadar menulis adegan menyedihkan; ia membangun pity melalui kontras tajam antara kemurnian hati Hassan dan kelemahan moral Amir. Kutipan 'For you, a thousand times over' menjadi pisau bermata dua: simbol cinta sekaligus beban rasa bersalah yang menghantui.
Yang genius dari penggambaran pity di sini adalah bagaimana pembaca diposisikan sebagai 'komplotan' Amir. Kita tahu kebenaran yang disembunyikan, ikut merasakan kegelisahannya, dan akhirnya terbawa dalam pusaran penyesalan yang sama. Bukan pity yang murahan, melainkan semacam empati kompleks terhadap kedua sisi tragedi.
5 Jawaban2025-11-29 17:16:34
Menggali makna 'what a pity' dan 'sayang' selalu menarik karena keduanya sering digunakan dalam konteks berbeda. 'What a pity' lebih sering dipakai dalam situasi formal atau ketika mengekspresikan kekecewaan terhadap sesuatu yang tidak bisa diubah. Misalnya, saat melihat acara batal, orang Inggris mungkin bilang 'What a pity' dengan nada sedikit lebih netral. Sementara 'sayang' dalam bahasa Indonesia lebih hangat dan personal, bisa dipakai untuk hal kecil seperti makanan terjatuh atau peluang yang terlewat.
Nuansanya juga berbeda—'what a pity' kadang terasa seperti ucapan sopan, sedangkan 'sayang' lebih spontan dan emosional. Aku pernah membandingkannya saat membaca novel terjemahan; terjemahan 'what a pity' sebagai 'sayang' terkadang kurang pas karena kehilangan nuansa 'keprihatinan' ala budaya Barat.
5 Jawaban2025-11-29 20:21:54
Ada suatu sore di kafe favoritku ketika dua teman lama bertemu setelah bertahun-tahun. Salah satunya dengan wajah murung bercerita tentang karir musiknya yang gagal. 'Aku hampir menandatangani kontrak dengan label besar, tapi mereka batal last minute,' keluhnya. Temannya menghela napas, lalu berkata dengan nada lembut, 'What a pity... Tapi ingat band indie kita dulu? Kamu selalu bikin lagu terbaik di garasi!' Percakapan itu berubah jadi sesi nostalgia yang hangat.
Yang menarik, frasa 'what a pity' sering muncul dalam dialog-dialog 'Sherlock Holmes' versi BBC. Holmes melontarkannya dengan sarkasme khas ketika menyimpulkan kasus yang terlalu mudah. Nuansanya berbeda sama sekali dengan percakapan di kafe tadi - menunjukkan betapa konteks mengubah makna sederhana.
1 Jawaban2025-11-29 17:33:09
Ada momen-momen tertentu dalam hidup di mana ungkapan 'what a pity' pas banget keluar. Misalnya, ketika kita melihat seseorang yang punya potensi besar tapi gagal mengembangkan diri karena kurang motivasi atau kesempatan. Rasanya kayak ngebatin, 'Sayang banget, padahal lo bisa lebih dari ini.' Apalagi kalau udah ngeliat usaha mereka dari awal, tapi akhirnya mentok di tengah jalan. Nggak cuma buat orang lain sih, kadang kita sendiri juga bisa ngerasa kayak gitu setelah ngelakuin sesuatu yang bikin nyesel.
Contoh lain yang sering bikin gw bilang 'what a pity' itu pas ngeliat karya kreatif—entah itu anime, game, atau novel—yang konsepnya keren tapi executionnya kurang maksimal. Kayak anime dengan plot twist menjanjikan tapi endingnya buru-buru, atau game dengan mechanics unik tapi dikerjakan asal-asalan. Sebagai penikmat, rasanya pengen banget ngasih masukan ke creator biar mereka bisa berkembang. Tapi ya sudahlah, namanya juga proses belajar.
Dalam hubungan interpersonal juga sering muncul situasi begini. Ketika temen deket nolak kesempatan emas karena alasan sepele, atau ketika hubungan asmara yang bagus harus putus karena miskomunikasi sederhana. Rasanya pengen intervensi, tapi kita juga sadar bahwa hidup orang lain bukan urusan kita. Ungkapan 'what a pity' di sini lebih seperti bentuk empati daripada penghakiman.
Yang paling sering bikin gw menggeleng sambil bilang 'what a pity' itu ketika liat franchise kesayangan di-reboot dengan kualitas medioker. Bayangin aja, properti dengan fansbase loyal dan lore mendalam tiba-tiba diadaptasi dengan setengah hati cuma buat cari untung cepat. Padahal kalau digarap serius, bisa jadi masterpiece baru. Tapi ya mau gimana lagi, industri hiburan emang sering dihadapkan pada dilema antara idealisme dan komersialisasi.
Di akhir hari, ekspresi ini sebenernya cerminan dari harapan kita yang nggak kesampaian—baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Justru karena kita peduli, kita jadi bisa ngerasain 'what a pity' dalam berbagai situasi. Kadang emang perlu diterima bahwa nggak semua hal bisa berjalan sesuai ekspektasi.
4 Jawaban2025-12-29 13:13:54
Ada sesuatu yang sangat manusiawi tentang pity dalam cerita, bukan? Aku selalu terpikat oleh bagaimana fanfiction mengolah emosi ini untuk membangun kedalaman karakter. Misalnya, dalam fiksi penggemar 'Harry Potter', penderitaan Sirius Black atau Remus Lupin sering dieksplorasi lebih dalam daripada canon. Ini memungkinkan pembaca untuk terhubung secara emosional dengan karakter yang mungkin kurang mendapat spotlight di karya aslinya.
Pity juga menjadi jembatan untuk menciptakan cerita alternatif atau 'what if'. Bayangkan jika Naruto benar-benar kehilangan Sasuke selamanya—fanfiction bisa menggali rasa sakit itu hingga ke akar-akarnya. Emosi semacam ini membuat pembaca merasa lebih dekat dengan karakter, seolah-olah mereka mengalami perjuangan itu bersama. Dan honestly, siapa yang tidak suka merasa terharu oleh perkembangan karakter favorit mereka?