Mencari buku dengan nuansa serupa 'Sebuah Pertemuan, Dua Perpisahan' itu seperti berburu harta karun—kadang butuh waktu, tapi ketika ketemu, rasanya sangat memuaskan. Kalau suka dengan dinamika hubungan yang kompleks dan ending yang bikin hati teraduk-aduk, mungkin '
pulang' karya Leila S. Chudori bisa jadi pilihan. Novel ini juga mengusung tema perpisahan, perjalanan emosional, dan bagaimana masa lalu membentuk karakter seseorang. Bedanya, konteksnya lebih historis karena berkaitan dengan tragedi 1965, tapi tetap punya kedalaman yang mirip dalam menggali rasa kehilangan dan penyesalan.
Kalau mau sesuatu yang lebih kontemporer tapi tetap puitis, '
Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini' karya Marchella FP patut dicoba. Meskipun formatnya lebih ringan dengan ilustrasi, ceritanya tentang keluarga, jarak, dan hal-hal tak terucap yang akhirnya melukai. Mirip dengan 'Sebuah Pertemuan, Dua Perpisahan', buku ini juga bikin pembaca merenung tentang bagaimana kecilnya kesalahpahaman bisa berujung pada perpecahan. Bedanya, tone-nya lebih optimis di beberapa bagian.
Untuk yang suka sentuhan magis-realisme ala
dee lestari tapi tetap ingin eksplorasi tema perpisahan, 'Rectoverso' mungkin menarik. Buku ini gabungan prosa dan puisi, mengisahkan hubungan yang putus di tengah jalan dan bagaimana kenangan terus menghantui. Yang bikin mirip adalah cara penulisannya yang sangat personal, seolah-olah kita mengintip diary seseorang. Tapi kalau di 'Sebuah Pertemuan, Dua Perpisahan' konfliknya lebih grounded, 'Rectoverso' kadang terasa seperti mimpi.
Kalau mau keluar dari lokal, 'Norwegian Wood' karya
haruki Murakami punya vibes mirip—tentang cinta yang tidak kesampaian, kesedihan yang tertahan, dan bagaimana karakter utama berusaha move on. Bedanya, atmosfer Murakami lebih melankolis dan slow-burn, sementara 'Sebuah Pertemuan, Dua Perpisahan' terasa lebih 'panas' emosinya. Tapi kedua buku ini sama-sama bikin pembaca ikut merasakan beban yang dibawa tokoh utamanya.
Yang menarik, semua rekomendasi di atas punya satu benang merah: mereka tidak takut untuk menyuguhkan ending yang tidak sepenuhnya bahagia, persis seperti 'Sebuah Pertemuan, Dua Perpisahan'. Mungkin karena hidup sendiri jarang yang hitam putih, jadi buku-buku ini justru terasa lebih manusiawi. Pilihan tergantung mau eksplorasi sisi historis, keluarga, atau percintaan—yang jelas, siapkan tisu dulu sebelum baca!