Hanya kisah tentang seorang wanita bernama Siska. Kisah ini menjadi menarik, karena Siska seorang janda. Dan hal yang lebih menarik lagi, Siska dianggap sebagai seorang janda yang meresahkan.
Isabella yang merupakan seorang penulis novel thriller mendapati dirinya terjebak dalam pusaran intrik yang merenggut kedamaian hidupnya. Setelah dikhianati oleh orang-orang terdekatnya, Isabella tidak bisa mempercayai orang lain lagi. Hingga akhirnya dia menyadari jika Nathaniel— adalah pengecualian. Pria yang terlihat dingin itu memiliki hati yang tulus bak gula kapas. Di tengah usahanya mendapatkan hati Nathaniel, pria yang ia cintai justru menjadi target serangan dari mantan pacarnya. Isabella dilema, haruskah dia memilih antara tetap bersama Nathaniel? Atau kembali pada mantan pacarnya, demi menjaga keamanan Nathaniel?
Hanya karena belum menikah lagi, mantan suamiku selalu mengusik. Bahkan dia merayuku untuk menjadi istri keduanya. "Tidak ada yang mau dengan wanita bekas seperti kamu," katanya setelah aku menolaknya.
Tiba-tiba hadir penyelamat seperti kiriman. Niatku hanya bersandiwara untuk mengusir mantan penasaran. Namun, kenapa lama-lama 'kiriman' ini membuatku nyaman?
Demi mengikuti trend hidup kekinian yang disebut dengan istilah Frugal Living, Maya Rosita, seorang ibu muda beranak dua harus rela dipaksa oleh Indra, suaminya untuk hidup serba pas-pasan.
Akhirnya ia bekerja banting tulang dan memutar otak agar jatah bulanan yang sudah dipangkas banyak bisa cukup untuk biaya hidup dirinya beserta kedua putri kembarnya.
Namun setelah satu tahun menerapkan gaya hidup ala Frugal Living, bukannya menjadi kaya raya, Indra malah menggunakan hasil tabungan mereka untuk menikah lagi dengan wanita lain.
Akankah Maya mampu bertahan menghadapi sikap egois Indra?
Ikuti terus kisah mereka hanya di GoodNovel. Selamat membaca~
Mama habis-habisan menentang hubunganku dengan Om Angga. Namun, karena aku terus memaksa bahkan hingga mengancam akan kabur dari rumah jika tidak juga direstui, orang tuaku akhirnya mengalah juga.
Om Angga adalah duda tiga kali yang punya dua anak dari pernikahan pertamanya. Dia begitu tampan, bugar, juga mencintaiku--terlihat dari tatapannya. Namun, aku tidak menyangka ... usai malam pertama kami, dia justru mengemukakan keinginan yang membuatku sangat di luar nalar.
Kenapa dia meminta hal yang mengorbankan diriku? Apa sebenarnya motif Om Angga menikahiku?
Di kehidupan pertamanya, dia meninggal sebagai perawan. Di kehidupan keduanya, dia menjadi villainess yang diasingkan ke perbatasan Kerajaan dengan bayinya yang baru lahir, berdasarkan novel romantis yang dia baca sebentar di kehidupan pertamanya.
Dia bersyukur mimpinya menjadi ibu dari bayi yang menggemaskan telah menjadi kenyataan, bukannya mati perawan!
TAPI ketika dia berpikir dia hanya perlu diasingkan dan hidup damai dengan bayinya, dia dan bayinya dibunuh secara brutal oleh orang yang tidak terduga.
Entah takdir atau kutukan, alam semesta menghidupkannya kembali sebagai Fuschia Mountravven, Putri Mahkota Kerajaan Drachentia lagi! Dia masih terjebak di dalam dunia novel!
“Aku tidak peduli dengan balas dendam! Aku ingin bayiku lagi, jadi bagaimana aku hamil?! Siapa ayah dari bayiku, huh?! ”
Ada beberapa serial TV yang menggambarkan broken home dengan begitu menyentuh hingga susah untuk tidak menitikkan air mata. Salah satunya adalah 'This Is Us'—serial ini benar-benar mengupas luka keluarga Pearson dengan detail yang memilukan. Adegan ketika Jack meninggal dan Rebecca harus membesarkan anak-anaknya sendirian selalu bikin hati remuk.
Yang juga tak kalah mengharukan adalah 'Boys Over Flowers'. Meski lebih dikenal sebagai drama romansa, konflik keluarga Geum Jan-di yang harus berjuang sendirian setelah ayahnya meninggal dan ibunya sakit-sakitan benar-benar menampar. Adegan ketika dia terpaksa menjual rambutnya demi uang itu...ugh, langsung bikin mata berkaca-kaca.
Pembaca 'Belenggu Dua Hati' pasti masih terngiang dengan ending yang meninggalkan banyak tanya. Tokoh utamanya, setelah berjuang melawan konflik batin dan hubungan toxic, memilih mengakhiri segalanya dengan keputusan ambigu—apakah dia benar-benar lepas atau justru terjebak dalam siklus baru? Adegan terakhir menggambarkannya berdiri di persimpangan jalan, senyum samar mengambang, sementara latar belakangnya gelap dan terang bertaruh. Ini seperti metafora visual yang brilian: kita dibiarkan memutuskan sendiri apakah itu kemenangan atau kekalahan.
Yang bikin gregetan, penulis sengaja menghilangkan monolog inner yang biasanya mendominasi novel. Tiba-tiba, semua jadi sunyi. Justru dari kesunyian itulah emosi meledak. Aku sampai revisi bab terakhir tiga kali, mencoba menangkap 'clue' tersembunyi di deskripsi setting—apakah cuaca mendung itu pertanda harapan atau keputusasaan? Rasanya seperti dihipnotis oleh ketidakpastian yang disengaja.
Melodi 'Pantun Cinta' itu nempel banget, jadi wajar kalau banyak yang ngejar versi instrumentalnya buat karaoke atau cuma buat dinikmati tanpa vokal.
Sebagai penggemar lama yang sering ngulik koleksi lama, aku bisa bilang dua hal: pertama, versi instrumental resmi untuk lagu-lagu dangdut lawas seperti yang dinyanyikan Rhoma Irama kadang susah ditemui karena di era rekaman kaset/vinyl label sering nggak merilis 'minus one' secara terpisah. Label lama seperti Soneta memang punya banyak arsip, tapi bukan berarti nggak ada opsi — beberapa rilisan kompilasi atau album karaoke lokal kadang menyertakan track instrumental. Jadi kalau mau yang benar-benar resmi, cara paling aman adalah cek katalog label, toko musik second-hand, atau platform streaming yang menampilkan album karaoke dari Indonesia.
Kedua, jalan praktis yang sering kupakai: YouTube dan layanan karaoke digital. Coba cari dengan kata kunci 'Rhoma Irama Pantun Cinta instrumental' atau variasinya seperti 'minus one', 'karaoke', atau 'backing track'. Banyak channel fan-made yang mengunggah versi instrumental atau versi minus vocal hasil proses penghilangan vokal. Kualitasnya beragam, tapi untuk karaoke rumahan biasanya cukup. Kalau mau hasil lebih rapi, ada juga jasa pembuatan backing track atau situs internasional yang menjual instrumental (misalnya situs backing track/karaoke), meski untuk lagu lokal ada kemungkinan tidak tersedia. Alternatif teknis yang makin populer adalah pakai tool penghilang vokal berbasis AI seperti LALAL.AI atau Spleeter; alat ini bisa mengekstrak vokal dari rekaman sehingga tersisa instrumental, namun ada artefak suara yang kadang terdengar aneh pada beberapa frekuensi.
Jangan lupa aspek hak cipta: memakai instrumental untuk latihan pribadi itu umumnya aman, tapi kalau mau diunggah ke publik, dipakai untuk pertunjukan komersial, atau dibagikan ulang, sebaiknya cek izin atau lisensi karena karya Rhoma Irama dilindungi hak cipta. Intinya, kemungkinan besar ada versi instrumental—baik resmi maupun buatan penggemar—tapi tingkat kemudahan mendapatkannya tergantung sumber yang kamu pilih dan seberapa perfeksionis hasil yang kamu inginkan. Kalau ingin, aku bisa tunjukkan trik pencarian yang biasa kubuat untuk menemukan versi terbaik sambil tetap hormati karya aslinya.
Ada satu hal yang selalu membuatku menikmati menyelami arsip musik lawas: mencari tahu kapan lirik sebuah lagu pertama kali muncul untuk umum. Untuk 'Pantun Cinta' yang dinyanyikan Rhoma Irama, masalahnya sering bukan soal tanggal pasti, melainkan dokumentasi yang kurang rapi dari era rilisan fisik itu. Banyak lagu-lagu Rhoma yang populer pada era 1970-an memang awalnya dirilis sebagai single atau masuk ke dalam album bersama Soneta, dan liriknya biasanya muncul pada sampul LP atau booklet kaset — namun tidak semua edisi mencantumkan tanggal pencetakan terperinci yang mudah diakses sekarang.
Dari koleksi dan katalog yang sempat kubaca, ada konsensus bahwa 'Pantun Cinta' berasal dari periode kejayaan Rhoma Irama di pertengahan hingga akhir 1970-an, saat Soneta tengah produktif menghasilkan banyak lagu yang melekat di ingatan publik. Karena kebiasaan saat itu, lirik sering dianggap bagian dari materi album dan tidak mendapat pernyataan rilis terpisah seperti single modern yang disertai press release khusus untuk lirik. Jadi kalau yang dimaksud adalah kapan lirik itu pertama kali “dirilis” kepada publik, kemungkinan besar itu berbarengan dengan keluarnya rekaman fisik sendiri — entah LP atau kaset pada dekade 1970-an tadi.
Kalau menengok versi digital dan ketersediaan lirik secara online, teks lirik 'Pantun Cinta' mulai mudah ditemukan di situs-situs lirik dan forum penggemar sejak awal 2000-an, ketika pendigitalan koleksi musik dan berbagi lirik lewat internet jadi lazim. Intinya, untuk tanggal pasti yang tercatat resmi: dokumentasinya agak samar, tapi jejak paling awal menunjukkan perilisan bersama rekaman fisik Rhoma di era 1970-an; lalu liriknya menyebar lebih luas lagi melalui cetakan di sampul dan kemudian lewat internet. Aku suka membayangkan seorang anak muda waktu itu membaca lirik di sampul kaset sambil mendengarkan lagu—momen kecil yang kini kita ulangi lewat layar, hanya bentuknya yang berubah.
Ada satu trik klasik yang selalu berhasil membuat pasangan penasaran: tanyakan sesuatu yang seolah-olah ada rahasia besar di baliknya. Misalnya, 'Aku penasaran nih, kamu pernah nggak sih ngomongin aku sama temen-temen kamu waktu kita belum kenal?' Pertanyaan ini langsung bikin dia mikir, 'Eh, emang ada apa ya?' atau 'Jangan-jangan dia dengar sesuatu.'
Atau coba tanya, 'Kamu lebih suka aku jujur tentang sesuatu yang mungkin nggak enak didengar, atau kamu mau hidup tenang aja?' Ini bikin dia deg-degan karena merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Kuncinya adalah nada bicara yang santai tapi mysterious, biar imajinasinya yang bekerja. Setelah dia mulai kepo, baru deh kasih jawaban yang nggak dia duga—misalnya bilang, 'Sebenernya... aku cuma pengen tau aja kamu tipe yang prefer honesty atau happiness.' Boom, plot twist!
Ada ritme yang langsung terasa beda ketika aku mendengarkan 'pantun' dari tanah Melayu dibandingkan dengan puisi Bugis tradisional.
Aku sering membandingkannya dalam kepala: 'pantun' punya struktur yang cukup ketat — biasanya empat baris dengan skema sajak ABAB, di mana dua baris pertama berfungsi sebagai sampiran yang kadang metaforis dan dua baris terakhir membawa makna langsung. Ritmenya cenderung teratur karena penekanan pada jumlah suku kata dan sajak di akhir, sehingga ketika dibacakan terasa seperti ayunan yang rapi dan predictable.
Puisi Bugis, menurut pengamatan saya waktu ikut ngumpul di acara tradisi dan dengar orang tua merapal, lebih lentur dan bernuansa oral. Ritmenya sering mengikuti intonasi bahasa Bugis sendiri: ada pengulangan frasa, paralelisme, dan jeda yang ditentukan oleh napas pembaca atau pengiring musik. Bukan soal sajak akhir yang wajib, melainkan ketukan internal, pengulangan, dan alunan yang membuatnya hidup. Akhirnya aku merasa pantun lebih like patterned jewelry, sementara puisi Bugis itu seperti lagu panjang yang bernapas—kedua-duanya indah dengan caranya masing-masing.
Membuat bunga mawar dari kain flanel itu menyenangkan banget! Awalnya aku coba-coba lihat tutorial di YouTube, tapi ternyata lebih gampang dari yang kuduga. Pertama, siapin pola kelopak mawar dalam tiga ukuran—kecil, sedang, besar. Gunting kain flanel sesuai pola, lalu panaskan sedikit tepinya pakai lilin biar nggak berbulu. Gabungkan kelopak dari yang kecil dulu, rekatkan pakai lem tembak, terus lapisi dengan kelopak lebih besar sampai dapat bentuk volumed. Jangan lupa tambahkan daun dari flanel hijau biar makin realistis!
Tips dari aku: pilih warna flanel yang natural kayak merah tua atau pink pastel. Kalau mau ada efek gradient, bisa dicat tipis pakai cat tekstil. Awalnya hasilku jelek banget, tapi setelah bikin 3-4 kali, akhirnya bisa dijual juga di marketplace lho!
Menggali ritme alam sekitar bisa jadi titik awal yang manis untuk menulis pantun. Aku sering duduk di teras rumah sambil mendengar gemericik air atau kicau burung, lalu mencoba menangkap pola bunyinya. Misalnya, 'air terjun bunyinya deras' (a) langsung memicu imajinasi untuk mencari sajak seperti 'hati senang jadi bergemas' (a). Kuncinya adalah bermain-main dengan kata tanpa terlalu kaku. Pantun itu seperti percakapan santai yang dirangkai indah, bukan puisi formal.
Coba mulai dengan tema sederhana: alam, cinta sehari-hari, atau bahkan kelucuan hidup. Pantun 'nasi dimakan sambal ditelan' (a) bisa dilanjutkan dengan 'jangan marah nanti cepat tua' (a) untuk efek jenaka. Latihan kecil-kecilan ini membantu mengasah kepekaan terhadap rima dan irama. Jangan takut salah—justru pantun yang 'gagal' sering jadi bahan tertawa sekaligus pelajaran berharga.
Ada sesuatu yang magis tentang bagaimana caramu menjaga jarak, tapi justru itu yang membuatku semakin ingin mendekat. Kamu seperti puzzle yang sulit dipecahkan, tapi setiap kali aku berhasil mendapatkan senyum kecilmu, rasanya seperti menemukan harta karun.
Coba deh, 'Aku tahu kamu bukan tipe yang suka kata-kata manis, tapi maukah kamu mendengar satu kalimat jujur? Keberadaanmu yang tenang itu justru membuat hidupku terasa lebih berwarna.' Kadang, orang yang cuek justru paling tersentuh oleh kejujuran sederhana seperti ini. Mereka mungkin tidak merespons dengan ledakan emosi, tapi percayalah, mereka menyimpannya jauh di hati.
Ada sesuatu yang magis dari lagu 'Happy' yang bikin semangat melonjak tiba-tiba. Mungkin karena ritmenya yang upbeat, liriknya yang sederhana tapi menggugah, atau cara Pharrell Williams menyanyikannya dengan energi yang menular. Aku sering memutar lagu ini saat merasa down, dan entah bagaimana, dalam beberapa menit, kaki sudah mulai mengetuk-ngetuk lantai dan senyum muncul tanpa disadari.
Lagu ini seperti reminder bahwa kebahagiaan itu sederhana—bisa datang dari hal kecil seperti menari sendiri di kamar atau menyanyi sambil mandi. Kombinasi antara instrumen yang ceria dan pesan universal tentang mencari kebahagiaan dalam keseharian bikin lagu ini cocok untuk segala suasana. Bahkan setelah bertahun-tahun dirilis, 'Happy' tetap jadi lagu penyemangat yang ampuh.