LOGINDi kehidupan pertamanya, dia meninggal sebagai perawan. Di kehidupan keduanya, dia menjadi villainess yang diasingkan ke perbatasan Kerajaan dengan bayinya yang baru lahir, berdasarkan novel romantis yang dia baca sebentar di kehidupan pertamanya. Dia bersyukur mimpinya menjadi ibu dari bayi yang menggemaskan telah menjadi kenyataan, bukannya mati perawan! TAPI ketika dia berpikir dia hanya perlu diasingkan dan hidup damai dengan bayinya, dia dan bayinya dibunuh secara brutal oleh orang yang tidak terduga. Entah takdir atau kutukan, alam semesta menghidupkannya kembali sebagai Fuschia Mountravven, Putri Mahkota Kerajaan Drachentia lagi! Dia masih terjebak di dalam dunia novel! “Aku tidak peduli dengan balas dendam! Aku ingin bayiku lagi, jadi bagaimana aku hamil?! Siapa ayah dari bayiku, huh?! ”
View MoreKaren
Fatigue enveloped me completely after long hours on duty at the hospital. The smell of clean corridors, permeated by the antiseptic odor, became suffocating. My head throbbed, and a growing sense of malaise began to overwhelm me. Ignoring the signs wasn't an option, so finally, I succumbed to weakness and sought help in the same place where I used to offer it: the hospital.
The doctor, solemn and thoughtful, explained the stress overload and the need for immediate rest. I understood the gravity of the situation, but my mind insisted on focusing on another concern. Max, my fiancé, wasn't answering my calls. Where could he be? Why wasn't he answering just when I needed him the most?
I decided to go straight to Max's apartment, ignoring the advice to rest, longing for the comforting embrace of my fiancé. Upon arriving at the apartment and turning the key in the lock, the scene before my eyes was confusing. Clothes scattered on the floor, and a heavy silence hung in the air, despite my heart pounding in my ears.
I didn't need to go to the bedroom to understand what was happening. On the couch, Max seemed to be resting, embraced by a long-haired blonde whose tresses cascaded disorderly over his bare chest. The shock froze even my soul.
The couple, naked and completely asleep, was an image I never imagined witnessing. A scream of horror escaped my lips, breaking the silence. The sound of the scream echoed in the apartment, and the beautiful couple seemed to awaken. I didn't look once at the woman. My eyes were fixed on Max. Max's bewildered eyes met mine, and for a moment, he seemed unable to process the reality of what was happening at that exact moment.
Max, with a dexterity that revolted me, grabbed a pair of shorts from the nearby armchair and put them on with disconcerting speed. A cynical mask covered his face as if he were about to greet me after an ordinary day.
"You're home early, love?" His question sounded like an insult.
My eyes narrowed in disbelief at the audacity of the traitor. The indignation boiling inside me finally exploded, and I lunged towards Max, determined to make him feel, even for a moment, the pain he had caused me. My hands rose, ready to strike his face, as furious words escaped my lips.
"You bastard! How dare you?" I cursed him with a torrent of obscenities, my voice choked by a mix of fury and pain.
Yet, before my hands could find their deserved target, I was restrained by him, his firm hands gripping mine, preventing any gesture of despair as I struggled against him.
As I struggled against Max, the woman with him seemed to react, getting up. I was so stunned that I hadn't even glanced in the direction of Max's lover. When I realized that the woman with Max was Lilian, an old friend of mine, I felt my world collapse even further. Lilian is someone I hadn't kept in touch with, precisely because Max had managed to convince me that Lilian wasn't a good friend. And now, there was Lilian, with Max. He was right after all. But of course, he knew she wasn't a good friend! He was having an affair with her.
"Lilian!?" The new shock made me stop struggling.
Lilian, now standing, stared at me with a mixture of guilt and surprise, but her expression soon turned into a mask of indifference, as if the lost friendship didn't affect her anymore. Max, in turn, released my hands, taking a step back.
"Karen, I can explain..." Max tried to start, but he was interrupted by the sharp, pain-laden look I shot his way.
Amidst my pain, addressing Max:
"Listen to me very carefully, Max," I declared firmly and clearly, pointing my finger at him. "Never again, do you hear me? Never again do I want to look at your face!"
Without waiting for the explanation he could offer, I turned my back on the man who had betrayed my trust. But it wouldn't be that easy, it seemed. Max ran after me, declaring desperately:
"Karen, I love you. She's not important like you are to me," Max tried to justify himself.
"It's over, Max. There's no forgiveness for what you two did!"
"Karen, please, listen to me," Max held onto my arm, seeking a connection that seemed impossible at that moment. "You were always busy, working so much. You never had time for us. I was feeling lonely. This with Lilian was a mistake, just a distraction, you understand? It has nothing to do with what we have."
I wanted to speak, to explain how much it hurt, but the pain choked my words. However, before I could respond, Lilian, enraged, interrupted Max's attempt to explain himself.
"Just a distraction, is that it?" she snapped, her eyes flashing with indignation. "I'm not just an object, Max! How dare you reduce me to that?"
The argument between the two quickly escalated, while my heart ached. I wanted to scream, but the words stubbornly refused to come out. Max's painful accusations pierced my chest, and I knew that, partly, he was right. I worked too much, I was always busy, and maybe I hadn't reserved enough time for us to have fun together. However, I was only trying to build a solid financial foundation for our future, for our marriage.
The tears I held back threatened to overflow. Yet, Lilian was furious at being labeled merely as an object of desire, and the argument between the two escalated, leaving no room for me to express what I wished.
With nothing else to do in that apartment, I decided to leave at once. My faltering steps led me out of the apartment, and tears began to stream down my face as I distanced myself. I wondered how I could overcome the pain of such betrayal. Max was too busy arguing with Lilian to pay attention to my departure, and that was painful too. What remained of our three-year love story was crumbling before my eyes, and I felt powerless in the face of it.
Tuyul tak kunjung ditemukan.Sekeras apapun aku dan Mbayul mencarinya, kami hanya bisa menyimpulkan bahwa Tuyul telah meninggalkan kami. Sulit untuk menerima kenyataan itu, terutama ketika kami tidak mengucapkan selamat tinggal satu sama lain.Mbayul dan peri pengembara lainnya masih bersama kami. Mereka bekerja untuk aku sebagai CCTV kerajaan. Mereka adalah makhluk yang tepat untuk pekerjaan itu karena hanya sedikit orang yang dapat melihat mereka, meskipun banyak penyihir yang muncul sekarang.Kemudian, ketika Pasha berusia tiga tahun, aku mengetahui kisah terakhir Tuyul.“Ibu, masih ingat Paman Tuyul?”Suatu malam, Pasha menanyakan hal itu.Pasha memiliki kemampuan verbal yang sangat baik di usia dini, dia sudah bisa membentuk kalimat kompleks dengan baik, sehingga memudahkan kami untuk berkomunikasi. Dia juga mengingat beberapa hal tentang masa kecilnya, ketika dia berusia satu tahun.Dia bahkan mengingat rumah di tengah hutan yang pernah kami tinggali di Kerajaan Haddad, dan dia
Belum genap enam bulan Dylan menjabat sebagai raja baru Kerajaan Drachentia dan ia sudah menyandang gelar 'serigala emas Drachentia'. Dalam waktu singkat itu, dia ditakuti oleh kerajaan-kerajaan di sekitar Drachentia. Terutama karena prestasinya dalam membasmi semua monster dan alkemis yang tersisa di Drachentia.Tidak hanya itu, ia juga melumpuhkan perdagangan ilegal yang terjadi di lautan Drachentia. Tanpa ampun. Dan ternyata tindakannya tersebut merembet hingga mengguncang stabilitas ekonomi kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya, yang selama ini mengakali Drachentia dalam hal perdagangan di laut.Maka hari ini adalah pertemuan besar dengan diplomasi kerajaan-kerajaan sekutu, yang hadir karena takut Dylan akan memangsa kerajaan mereka. Seperti yang diketahui banyak orang bahwa Drachentia adalah sebuah kerajaan kepulauan, aku rasa mereka takut kerajaan mereka akan menjadi salah satu pulau baru milik Dylan.“Tapi dia tidak sekejam itu. Aku tersenyum bangga pada Dylan yang duduk di samp
Upacara pernikahan aku yang kedua.Seperti yang diminta Dylan, sebelum upacara penobatan raja, kami mengadakan upacara pernikahan.Tentu saja, banyak yang perlu dipersiapkan untuk pernikahan keluarga kerajaan, tetapi karena kami ingin melakukannya sesegera mungkin, persiapannya cukup sederhana. Lagipula, kami ingin segera dinobatkan sebagai suami dan istri. Jadi kami tidak terlalu memikirkan tentang jamuan makan dan sebagainya.Aku mengenakan gaun pengantin putih yang terlihat sangat indah seperti taburan berlian di atasnya. Saat sinar matahari menyinari ku, gaun aku akan berkilauan.Mengapa bisa ada gaun pengantin yang begitu indah yang siap dalam waktu singkat? Jawabannya adalah karena antusiasme Laura dan Pak Andre, yang telah mempersiapkan gaun tersebut jauh-jauh hari, bahkan saat mereka tidak tahu kapan aku bisa memakainya. Begitu juga dengan tuksedo pernikahan Dylan.“Nyonya-oops, Yang Mulia, Kau terlihat sangat cantik. Kau seperti seorang dewi!”“Bukankah dia lebih mirip seora
Hari persidangan Putra Mahkota Hayden akhirnya tiba. Langit berwarna abu-abu kusam, dan orang-orang berbondong-bondong ke Pengadilan Tinggi untuk menyaksikan persidangan bersejarah itu dengan suasana hati yang tidak tenang. Pikiran mereka kacau.Dylan dan aku duduk di kursi saksi. Aku bisa merasakan semua mata tertuju pada kami. Aku mendengar bisikan orang-orang di belakang kami yang merupakan tempat duduk para bangsawan.“Aku di sini. Jangan gugup.” Dylan berbisik. Menarik kegugupan yang tidak kusadari telah menggerogoti kesadaranku.Meskipun aku mendengar bahwa Nyonya Luxor dan Laura sedang berusaha membuat banyak berita yang ditulis di koran yang menguntungkan kami, bukan berarti semua orang akan percaya dengan semua itu. Terutama para bangsawan yang mungkin mengincar kekuasaan kerajaan melalui keluarga kerajaan.Terlebih lagi ketika mereka mendengar bahwa raja mereka berikutnya adalah mantan budak dan korban eksperimen alkemis. Tidak lupa bahwa aku juga akan menjadi ratu mereka.“
Sarah hanya berdiri di sisi pintu dengan postur tegap. Ia tetap berdiri di sana hingga pelayan terakhir keluar dari kamarku. Aku memandanginya sesekali. Dan di setiap waktu aku selalu terpana oleh kecantikannya.Jembatan hidungnya tinggi dengan pipi merona merah yang bukan karena olesan blu
Fuschia berjalan cepat keluar dari kediaman Paduka Ratu. Ia tidak ingin berada di tempat itu lebih lama lagi atau, suasana hatinya memburuk. Laura dan Sophie yang mengekori Fuschia mulai tampak kelelahan. Langkahnya yang gegabah menarik perhatian orang-orang di istana.Mungkin
Aku baru tahu kalau air di danau ini lebih hangat dari yang kubayangkan. Syukurlah, aku akan mati dalam kehangatan.Tapi untuk beberapa alasan aneh, banyak pertanyaan malah seliweran di otakku saat tubuhku mulai tenggelam. Seperti, kenapa Hayden begitu membenciku? Kapan aku tidur seranjang
Mataku terbuka perlahan, aku merasakan sentuhan lembut berputar di atas tanganku. Aku menatap Merri yang tersenyum bebas untuk beberapa saat. Aku bersyukur.“Merri, aku senang melihatmu lagi…”‘Tapi babyku tidak ada di sini… babyku tidak ada.’ a






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore