Aku tak pernah menyangka jika suami yang sudah menikahiku selama empat tahun itu ternyata masih menyimpan nama perempuan lain di hatinya. Bahkan nama anakku adalah nama mantan kekasihnya.
Sekuel : KUKEMBALIKAN GAJI SUAMI PADA IBUNYA
Aku mencintai seorang wanita dengan sepenuh hati. Akan tetapi, dia justru melakukan hal tak terduga di hari pertunangan kami. Lantas, mereka semua menertawakanku dan memperlakukanku seperti sampah. Namun, lihatlah, apakah mereka akan tetap demikian saat tahu jati diriku yang sebenarnya?
Aku bahkan tidak sudi jika mulut mereka mengotori kakiku!
Suamiku punya banyak uang?
Padahal kemarin dia bilang gajinya turun Aku menemukan dompet yang terselip diantara lipatan baju berisikan uang cash dan juga tiga ATM.
Apa kabar dengan kebutuhan kami yang selama ini pas-pasan?
(21+)
Harap bijak dalam membaca!
***
Nasib nahas menimpa seorang cleaning service panggilan, Gladys Rafflesia. Senyuman yang terukir di wajahnya saat mendapatkan tugas membersihkan kediaman seorang CEO muda nan tampan, harus berakhir dengan luka. Keenan Setyawardhana sang pemilik rumah, mengikat dan menyiksa Gladys di dalam rumahnya. Alasannya karena gadis itu mencoba membuka brankas yang terletak di ruang kerja Keenan.
Sebenarnya apa isi dari brankas tersebut? Dan bagaimanakah nasib Gladys di tangan Keenan?
Ikuti kisah mereka hanya di “My Dominant CEO”.
Follow ig aku di : @mayuunice.feli
"Sedang apa kau di ranjangku?!!!"
Serena membuka matanya perlahan dan menyadari jika matahari pagi menyinari tubuhnya. Ia mengucek matanya yang masih asing dengan pantulan matahari. Senyumnya mendadak hilang ketika mendengar teriakan yang begitu keras di sampingnya.
"Hei. Apa yang sedang kau lakukan di atas ranjangku?!"
Serena menoleh ke samping dan menyadari jika sesosok tubuh besar sedang setengah berbaring di atas tempat tidur yang sama dengannya. Hal itu membuat Serena berjingkat. "Tu... Tuan Dominic! Sedang apa anda di sini?!" tanyanya kaget.
Yang ditanya hanya bisa mengepalkan tangan. "Hei, Jalang. Seharusnya aku yang bertanya sedang apa kau di sini?!!"
Serena bergeser hingga ujung tempat tidur begitu menyadari jika Mr Dominic tidak memakai sehelai baju pun dalam selimut tebal itu. Buru-buru Serena mengintip tubuhnya sendiri yang terbungkus selimut tebal itu. Dan betapa kaget dirinya ketika ia mendapati fakta jika ia juga sama tidak berpakaiannya dengan pria itu.
Shittt! Apa yang sudah mereka lakukan semalam?!
Baginya, kebebasan adalah segalanya. Ia tidak ingin terjerat dalam rumitnya skandal kerajaan yang menjemukan. Jika bisa, dirinya ingin bernegosiasi dengan Tuhan agar tak terlahir di keluarga kerajaan sebagai seorang pangeran. Ia ingin terbang bebas laksana burung-burung di angkasa dengan riang. Tanpa beban. Dan tanpa kerumitan hidup yang melelahkan. Namun sayangnya, takdirnya telah ditetapkan. Dirinya adalah Arion Nap. Seorang putra mahkota dari White Kingdom. Sebuah kerajaan yang menguasai belahan bumi utara. Dimana kehidupannya akan terus diselubungi oleh kutukan tentang keserakahan manusia, perebutan tahta, dan hal-hal menjemukan lainnya.Sang putra mahkota bahkan harus dihadapkan pada pemberontakan rakyatnya. Sebuah gerakan yang ingin menumbangkan sistem monarki yang dianggap menindas rakyat.Apa yang akan dilakukan oleh Pangeran Arion ketika mengetahui bahwa gerakan itu dipimpin oleh gadis yang telah menguasai hati dan pikirannya? Akankah ia mengorbankan perasaannya untuk mempertahankan kekuasaannya? Ataukah sebaliknya?Simak kisahnya hanya di Goodnovel. @copyright2021 by Richa Susilo
Ada satu hal yang selalu bikin aku senyum tiap kali membuka ulang adegan pertemuan Naruto dengan bijuu: detail visual Matatabi di manga dan animenya terasa seperti dua versi karakter yang saling melengkapi.
Di manga, Matatabi muncul dengan garis tinta tegas, kontras tinggi, dan banyak tekstur bulu yang dibuat oleh penggambaran berbayang Kishimoto. Karena hitam-putih, kesan api atau aura lebih disampaikan lewat efek goresan dan pola bayangan—jadinya Matatabi terlihat lebih ‘garang’ dan kasar, hampir seperti sketsa yang menangkap energi mentahnya. Proporsi kadang terlihat padat dan massif di panel-panel tertentu, sehingga menghadirkan rasa berat saat berdampingan dengan figur manusia dalam bingkai komik.
Sementara di anime 'Naruto Shippuden', studio memberi Matatabi warna dan efek yang hidup: tubuh berwarna biru-ungu yang menyala, pola api yang mengalir, dan detail kilau di mata yang bikin dia terasa lebih etereal. Animasi menambahkan gerak helaian bulu dan lidah api yang menari, plus efek transparan pada chakra—ini memperkuat kesan supernatural yang kadang agak hilang di halaman hitam-putih. Skala juga kadang disesuaikan untuk kebutuhan shot sinematik; ada adegan di anime yang memperbesar Matatabi demi dramatisasi, atau memberi slow-motion saat serangan, hal yang sulit ditiru di manga.
Intinya, kalau manga kasih impresi kasar dan intens lewat garis-garis, anime menyulapnya jadi kompleks lewat warna, cahaya, dan gerak. Dua versi itu saling memperkaya cara aku memaknai karakter Matatabi—satu lebih primitif dan kuat, satu lagi lebih magis dan hidup.
Ada beberapa judul yang selalu bikin aku gregetan karena tokoh laki-lakinya polos tapi sangat posesif; kombinasi itu gampang sekali nyentuh hati dan bikin gemas.
Contohnya yang langsung terlintas adalah 'Ore Monogatari!!' — Takeo itu mah tipe raksasa baik hati yang cemburu tapi niatnya murni banget. Cara dia melindungi Rinko terasa naif dan tulus, bukan manipulatif. Lalu ada 'Tonari no Kaibutsu-kun' di mana Haru sering bertindak impulsif dan posesif terhadap Shizuku, tapi karena kebodohannya dalam urusan sosial, tingkahnya masih terasa lucu dan menghangatkan. Aku suka bagaimana manga-manga ini menyeimbangkan kecemburuan dengan perkembangan karakter.
Di sisi lain, aku juga suka 'Sukitte Ii na yo' yang memperlihatkan sisi posesif Yamato dengan nuansa remaja yang canggung, serta 'Kamisama Kiss' di mana Tomoe lebih dewasa tapi kadang bersikap sangat protektif. Penting buat diingat bahwa beberapa adegan bisa terasa intens atau borderline toxic—aku selalu siapkan catatan kecil ke teman kalau mereka sensitif soal kontrol dalam hubungan. Intinya, kalau kamu suka karakter yang polos tapi posesif, pilih judul yang menonjolkan pertumbuhan emosional sehingga posesifnya terasa manis, bukan berbahaya. Aku sendiri selalu berakhir nyari rewatch atau reread setelah nangkep sisi lunak mereka.
Barangkali hal paling menarik dari perkembangan jiwa Jae adalah betapa bertahap dan tak terduga transformasinya terasa. Di awal, Jae tampak seperti kumpulan reaksi spontan: marah, ketakutan, atau menutup diri. Seiring panel demi panel, penulis memberi ruang pada momen-momen hening—sekadar tatapan, kilas balik singkat, atau satu baris monolog—yang perlahan membuka lapisan trauma dan harapan yang tersembunyi.
Aku melihat tiga fase jelas: pembentukan luka, konfrontasi, lalu integrasi. Pembentukan luka terjadi lewat peristiwa traumatis yang membuat Jae membangun dinding; konfrontasi adalah ketika hubungan dengan karakter lain—teman, musuh, atau figur keluarga—memaksa dia menoleh ke dalam; integrasi muncul ketika Jae mulai menerima bagian gelap dirinya, tanpa memaksa diri menjadi sempurna. Teknik visual manga—close-up mata, pengulangan simbol seperti cermin retak, dan halaman penuh sepi—membuat perubahan batin itu terasa nyata.
Sebagai pembaca yang ikut menangis dan tersenyum di sampingnya, aku paling terkesan pada bagaimana pertumbuhan Jae bukanlah kemenangan dramatis, melainkan serangkaian kecil keberanian sehari-hari. Itu membuat akhir perjalanannya terasa jujur, bukan dibuat-buat.
Manga dengan tema cinta beda usia memang sering memicu perdebatan, tapi justru karena kontroversinya, beberapa judul malah jadi bahan diskusi seru. Salah satu yang paling iconic ya 'Nana' karya Ai Yazawa—cerita tentang dua wanita bernama Nana ini nggak cuma soal romansa, tapi juga eksplorasi kompleksitas hubungan Hachi dengan pria lebih tua. Yang bikin menarik, Yazawa nggak sekadar glorifikasi, tapi juga tunjukkan konsekuensi emosionalnya.
Lalu ada 'Kimi wa Pet' tentang dynamic power imbalance yang unik antara jurnalis wanita karir dan pemuda lebih muda. Di sini, usia bukan satu-satunya faktor, melainkan bagaimana relasi itu berkembang di tengah tekanan sosial. Justru karena nuansa 'forbidden love'-nya, pembaca diajak melihat sisi humanis dari karakter-karakternya.
Ada sesuatu yang benar-benar memikat dalam senyum manis yang sering muncul di manga – itu bukan sekadar ekspresi wajah biasa. Dalam banyak cerita, terutama yang punya nuansa gelap atau misterius, senyum itu bisa jadi tanda bahwa karakter tersebut menyembunyikan sesuatu. Misalnya, di 'Tokyo Ghoul', senyum manis Kaneki sering muncul justru saat dia mengalami pergolakan emosi yang sangat dalam. Ini seperti topeng untuk menyembunyikan rasa sakit atau bahkan niat jahat.
Di sisi lain, ada juga senyum manis yang dipakai untuk menunjukkan ketulusan atau kelembutan. Karakter seperti Hinata dari 'Naruto' menggunakan senyumnya untuk menyampaikan dukungan tanpa kata-kata. Tapi, konteksnya selalu krusial – kadang-kadang, senyum yang sama bisa memiliki makna berbeda tergantung pada alur cerita. Manga punya cara unik untuk memainkan ekspresi wajah sebagai alat naratif yang powerful.
Manga sering kali menggunakan 'patkai' sebagai ekspresi khas untuk menunjukkan ketegangan atau momen dramatis. Dalam 'One Piece', misalnya, Luffy kerap mengucapkannya saat sedang menghadapi musuh kuat, seolah memberi semangat pada diri sendiri. Kata ini juga muncul di 'Naruto' ketika karakter sedang mempersiapkan jurus akhir, menciptakan atmosfer yang epic.
Uniknya, 'patkai' bisa dipakai sebagai onomatopoeia untuk suara ledakan atau pukulan keras. Di 'Dragon Ball', Goku menggunakannya saat bertarung dengan Frieza, mempertegas intensitas pertarungan. Beberapa judul bahkan memodifikasinya menjadi 'pat-kai-don' untuk efek lebih dramatis. Rasanya seperti ada energi tersendiri saat kata ini muncul di panel penting.
Bagi yang suka baca manga 'Si Cantik dan Si Buruk Rupa', ada beberapa platform legal yang bisa dicoba. Aku sendiri sering pakai Manga Plus karena mereka punya kerja sama resmi dengan Shueisha, jadi pasti terjamin. Selain itu, ada juga Shonen Jump yang kadang menawarkan chapter gratis. Kalau mau langganan, Viz Media juga opsi bagus meskipun perlu bayar. Yang penting sih, kita dukung kreator dengan membaca lewat saluran resmi. Rasanya lebih puas tahu bahwa kontribusi kita sampai ke mangaka-nya langsung.
Oh iya, jangan lupa cek juga layanan digital seperti ComiXology atau Amazon Kindle. Mereka sering punya koleksi lengkap untuk judul-judul populer. Meskipun harus beli per volume, tapi kualitas terjemahan dan gambarnya biasanya lebih rapi dibanding versi scan ilegal. Aku pernah bandingin sendiri, dan bedanya lumayan signifikan!
Pertanyaan ini bikin aku langsung teringat obrolan seru di forum fans Jepang tempo hari. 'Fly High to Heaven' bukan judul anime atau manga mainstream yang pernah aku temui, tapi setelah ngecek beberapa database, kayaknya ini lebih mirip lagu atau OST dari suatu series. Aku ingat ada track soundtrack drama Korea 'Boys Over Flowers' yang judulnya mirip, 'Almost Paradise', tapi versi Inggrisnya. Mungkin ada mistranslation atau fansub yang bikin judulnya jadi ambigu gitu.
Kalau dari sisi manga, belum nemu yang judulnya persis begitu. Tapi menariknya, di komunitas kita sering banget ada kasus judul karya yang 'terbang' karena terjemahan fanmade atau meme. Jadi siapa tahu ini salah satunya? Aku sendiri penasaran nih, mungkin ada fans lain yang punya info lebih lengkap.
Anime BL yang diadaptasi dari manga populer memang cukup banyak, dan beberapa di antaranya bahkan menjadi iconic dalam genre ini. Salah satu yang langsung terlintas di pikiran adalah 'Given', yang awalnya adalah manga karya Natsuki Kizu. Adaptasi animenya berhasil menangkap atmosfer musik dan dinamika hubungan antar karakter dengan sangat apik. Kemudian ada 'Yuri!!! on Ice' yang meski bukan manga, tapi novel visual, tetap menjadi fenomenal dengan chemistry antara Yuuri dan Victor. Lalu 'Doukyuusei' yang diangkat dari manga klasik karya Asumiko Nakamura, dengan animasi filmnya yang memukau dan cerita yang sederhana namun dalam.
Adaptasi lain yang patut disorot adalah 'Hitorijime My Hero' dari manga Mengo Yokoyari. Anime ini punya vibe shounen-ai dengan sentuhan heroik yang unik. Jangan lupa 'Sekaiichi Hatsukoi', spin-off dari 'Junjo Romantica' karya Shungiku Nakamura, yang selalu jadi favorit penggemar BL sejak era 2000-an. Proses adaptasi seringkali menambahkan dimensi baru lewat musik dan voice acting, seperti yang dilakukan 'Banana Fish' dengan pendekatan lebih gelap meski sumbernya bukan murni BL.
Ada satu momen dalam 'Tokyo Ghoul' yang bikin hati remuk ketika Ken Kaneki menyadari kekejaman manusia terhadap ghoul. Awalnya dia polos, berpikir bisa hidup damai di kedua dunia. Tapi setelah jadi korban eksperimen dan pengkhianatan, ekspresi hancurnya pas ngeliat Aogiri Tree membantai manusia—itu bikin aku merinding. Paradoksnya, justru sebagai 'monster', dia lebih manusiawi daripada para investigator CCG yang fanatik. Manga ini jago banget nunjukin how idealism crashes into cruel reality.
Yang bikin ngena, Ken nggak cuma kecewa sama manusia—dia juga bingung sama identitasnya sendiri. Scene dimana dia nangis sambil gigit jarinya sendiri itu simbol frustasi level dewa. Yoshimura pernah bilang, 'Kebencian hanya melahirkan kebencian,' tapi manusia di cerita ini kayaknya nggak pernah belajar. Endingnya yang bittersweet malah bikin pertanyaan: siapa sih yang lebih monster sebenernya?