INICIAR SESIÓN"Aku berubah pikiran... Aku ingin keturunan dari Mbah Damar!" ucap Laras sambil mendekat. "Tidak bisa! Giliranku lebih dulu!" Sekar langsung menarik lengan Damar, tak mau mengalah. Damar Wisesa adalah dukun sakti yang hidup sejak ratusan tahun lalu. Sebuah ritual terlarang yang gagal mengutuknya menjadi lelaki tua dalam sekejap dan membuatnya tertidur selama berabad-abad. Saat terbangun di era modern, kutukan itu belum berakhir. Ia hanya bisa kembali menjadi pria muda yang tampan dan perkasa saat malam tiba. Kini, satu per satu wanita datang mencari pertolongannya, tanpa menyadari bahwa setiap kehidupan baru yang ia bantu lahirkan membawa Damar selangkah lebih dekat untuk mematahkan kutukannya.
Ver más“Kamu telah membangunkanku. Sebagai balasannya, Aku akan membantumu.”
Pria tua itu akhirnya terjaga setelah lebih dari seratus tahun tertidur, kini dipanggil oleh permohonan putus asa seorang wanita. “A-Aku... ingin memiliki anak. Tolong, bantu Aku mewujudkannya, Mbah. Apa pun yang harus Aku lakukan, Aku siap.” Wajah pria tua bernama Damar Wisesa seorang dukun sakti, tersenyum mendengar permintaan wanita itu meski tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Namun, di malam hari ia yakin tubuhnya akan berubah jadi lebih perkasa. Kembali ke tiga jam sebelum pertemuan itu … Suara kicau burung di udara hingga suara hewan lainnya juga terdengar, di sana tidak ada suara lain hanya itu dan langkah kaki seorang wanita yang menginjak ranting pepohonan. Namun, meski di sana tidak ada siapa-siapa tidak membuat langkah kaki wanita itu berhenti untuk melangkah. “Huuff … apa tempatnya masih jauh?” gumam wanita itu sambil kebingungan mencari arah yang diberitahu secara lisan oleh warga desa mengenai tempat yang akan ditujunya. Nafasnya memburu karena berjalan terburu-buru ditambah lagi udara di bawah bukit masih terasa dingin sehingga membuat nafas di mulut dan hidungnya jadi seperti asap mengembun di udara. Seorang wanita kaya yang putus asa mencoba untuk mendaki dan masuk lebih dalam ke area hutan. Namanya Laras Ayuningtias seorang wanita mandul yang tidak bisa memiliki anak. Namun, ia tidak menyerah agar bisa hamil Laras bisa melakukan segala cara termasuk yang ia lakukan saat ini. “Huh, mereka tidak membohongi ku, kan?” tanyanya pada diri sendiri. Sedari tadi ia terus berputar-putar di sana tidak menemukan apa-apa hingga wajahnya menunduk sambil berjalan dengan bahu yang layu ke bawah. Laras mulai berpikir kalau warga desa setempat telah membohonginya tentang seorang dukun sakti yang tinggal di sana. Sampai ketika kakinya tersandung papan kayu dari sebuah tempat masuk ke dalam kediaman yang sangat tua. Bukh! Laras terjatuh ke depan ia reflek memajukan kedua tangannya agar menahan tubuhnya saat terjatuh. Namun, di depannya terdapat pintu masuk ia tidak sengaja mendorong pintu yang sudah bobrok, akibat dorongannya pintu itu rusak dan tubuhnya terjatuh ke tanah. Gedebuk! “Aww … sssht! Ah, tangan dan lututku sakit!” pekik Laras sembari menyipitkan matanya meringis. Dengan cepat ia bangun dan melihat rumah tua yang tidak berpenghuni. Meski begitu halamannya rapi seolah dedaunan yang jatuh dari pohon di sana baru disapu bersih. “Siapapun, apa ada orang?!” Laras melangkah masuk ke dalam rumah tua yang seperti peninggalan zaman Majapahit. Langkah Laras terhenti di sebuah tempat seperti sebuah kuil tapi lebih mirip tempat jampi-jampi seorang dukun. Di sana ia yakin kalau dukun yang dicarinya itu benar-benar ada. Namun, setelah pandangannya menyapu sekeliling tidak ada siapa-siapa. Karena merasa lelah Laras duduk di depan tempat yang biasa dipakai untuk menaruh sesajen atau persembahan yang diperlukan. Pandangannya melihat ke depan yang seharusnya jadi tempat dukun untuk duduk tetapi hanya tirai hitam yang menutupi. Namun, Laras bisa melihat kalau ada sedikit bayangan sosok pria di balik tirai yang masih agak sedikit tembus pandang meski hanya seperti bayangan dengan hati gelisah membuat punggungnya terasa menegang. “Mbah Dukun, saya datang untuk meminta bantuan agar Mbah mau membantuku!” Laras menyatukan kedua tangannya lalu wajahnya menunduk. Matanya sempat terpejam sambil terus mengatakan kalimat yang sama selama beberapa kali. “Mbah, tolong jawab saya. Apakah Mbah mau membantu saya?” Laras masih tidak mendengar jawaban. Dalam hatinya mulai kecewa karena pria dibalik tirai tidak bicara hingga Laras tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Sampai ia berpikir mungkin saja dukun itu tidak mau karena sejak tadi dia hanya diam saja meski begitu Laras kembali menundukkan diri hingga merubah posisinya jadi agak sujud. “Uhuk, haah … siapa?” Suaranya saat berbicara terdengar serak khas seperti pria tua terdengar dari balik tirai. Mendengar suara pria tua itu Laras mulai mengangkat wajahnya. Pandangannya terus tertuju pada tirai hitam di depan. “Kenapa tidak menjawab? Aku tanya siapa?” Pria tua yang terbangun dari tidur panjangnya karena permintaan putus asa dari seorang wanita akhirnya membuka mata dan kesadarannya mulai pulih. “Saya Laras Ayuningtiyas datang dari kota ke sini untuk meminta bantuan pada Mbah! Saya siap membayar berapapun harganya!” “Hmm … kamu sudah membantuku untuk bangun kembali karena selama seratus tahun lebih tidak ada yang datang untuk membuat permohonan. Jadi jiwa dan ragaku tertidur cukup lama karena suatu alasan, sebagai imbalan aku akan coba membantumu!” Damar Wisesa dukun sakti yang raganya sudah lama tertidur akibat sebuah kutukan kegagalan dalam ritual kuno. Namun, hal itu malah membuatnya hidup sangat lama hingga sekarang barulah ia terbangun. Sebelum Damar tertidur gurunya yang sedang bertapa di bawah bukit itu sudah meramalnya kalau Damar akan bangun saat seseorang datang memohon dengan putus asa. Namun, karena dulu Damar dikenal sebagai dukun yang gagal maka tidak ada seorangpun yang mau mendatanginya hingga waktu yang cukup lama. Meski pernah terkenal sebagai dukun sakti mandraguna tapi hanya karena satu kesalahan semuanya berubah hingga semua orang menjauhinya, alih-alih mendatanginya yang selama ini sudah banyak membantu warga dalam berbagai ritual untuk memenuhi keinginan mereka “ … Mbah! Mbah!” Laras memanggilnya berulang kali karena Damar tidak menjawab. Damar langsung berdehem, “Ekhem, aku tidak mendengar jelas keinginanmu yang kamu ucapkan barusa.” Ingatan Damar sebelumnya baru saja pulih jadi ia sempat terdiam sejenak. Namun, sudut bibir Damar sempat melengkung saat melihat wajah wanita di depannya karena mengenali sosok asli dari jiwa Laras yang pernah hidup di masa lalu. Detik berikutnya tirai sekat pembatas yang menutupi tempat duduk Damar digesernya agar ia bisa melihat wajah Laras. “A-aku … menginginkan keturunan, tolong buat aku mengandung dengan cara apapun agar aku bisa hamil, Mbah!” “Hamil? Karena tidak bisa menghasilkan keturunan, kamu berniat datang ke sini agar aku membantumu untuk bisa hamil. Untuk siapa? Suamimu yang sudah berselingkuh itu?” Damar tetap tenang sambil mengangguk mencoba untuk memahami keinginan Laras. Namun, kekuatan tembus pandangannya sebagai dukun baginya hanya melihat wajah wanita dibdepannya saja ia sudah tahu apa yang dialaminya. “A-apa? Darimana Mbah tahu kalau suami saya berselingkuh?” tanya Laras dengan suara bergetar. Pandangan matanya melebar membuat Laras bisa melihat wajah Damar yang sudah tua di depannya. Namun, tatapan Damar sangat mendominasi ditambah lagi dia bisa tahu sampai sejauh itu. Dalam hati, ‘Pria ini bukan orang sembarang berarti apa yang dikatakan warga desa itu ada benarnya.’Sehingga mereka bisa bicara dengan serius. Damar melihat Dewi yang sepertinya agak kedinginan setelah berjalan masuk ke hutan malam-malam sendirian.Damar mengambilkan selimut berukuran sedang lalu memberikannya kepada Dewi.“Pakai ini, kamu pasti kedinginan pergi ke sini malam-malam.”Tangan Dewi pun dengan cepat mengambil selimut itu dan memakainya. Rasa hangat langsung dirasakannya setelah itu.“Uhm … makasih ya, Mar.”Pandangan Dewi melihat sekeliling ruang tengah, dia sama sekali tidak melihat siapa pun di sana dan hanya ada Damar seorang.“Di sini nggak ada siapa-siapa, maksudnya kakek atau gadis bernama Sekar itu nggak ada?”Damar pun kembali beralasan, “Kakekku, dia ada urusan. Kalau Sekar, dia pergi kuliah ke Kota. Jadi di sini hanya aku seorang saja.”“Ah, begitu. Kebetulan sekali sebenarnya aku datang ingin bertemu denganmu.”Dewi pindah tempat duduk tepat di samping Damar. Dengan sengaja Dew
“Jadi kiriman mantra guna-guna pemikat itu akan teralihkan pada boneka ini?”“Benar, boneka itu akan menyerap dan menanggung guna-guna pemikat itu. Maka secepatnya adik iparmu akan segera sadar dari pengaruh guna-guna dan akan kembali pada istrinya.”“Itu beneran, kan, Mbah?” tanya Joko memastikan.Damar menyentuh jenggotnya sambil mengangguk dengan yakin,“Iya, itu benar adanya, jadi kamu bisa tunggu saja. Akan tetapi, jika adik iparmu itu tidak juga kunjung pulang dan tidak ada yang terjadi, maka kamu bisa datang lagi ke sini.”Mendengar itu tentu saja membuat Joko jadi lebih tenang dan pastinya percaya pada Damar. Karena jika tidak berhasil maka ia hanya perlu datang ke sini lagi untuk menuntutnya.“Kalau begitu saya akan pulang ke rumah adik saya dulu. Untuk hasilnya akan ditunggu sampai dua hari ke depan, jika tidak berhasil maka saya akan datang lagi ke sini.”Damar dengan santai menjawab, “Ya, aku akan selalu
“Hah, apa maksud Mbah Dukun? Mungkinkah adik ipar saya dalam bahaya?” tanya Joko.“Itu bisa saja terjadi, saat ini adik iparmu juga sering mengingat kembali istrinya. Namun, wanita itu tidak mau membiarkannya begitu saja. Karena hal itu dia terus menekan ingatan dengan ritual ilmu hitam.”Damar kembali menjelaskan, “Jika wanita itu terus melakukan hal itu secara terus-menerus. Maka hal itu akan membuat kondisi dari adik iparmu dalam bahaya. Jadi sebelum terlambat kita harus adakan ritual khusus itu secepatnya.”Joko sempat terdiam beberapa saat dan memikirkan kondisi adik iparnya dan juga adiknya jika dia sampai kehilangan suaminya.“Aku … tidak bisa membiarkan adik iparku dalam bahaya hanya karena wanita perebut itu!”Dengan tangan yang mengepal kuat Joko bertekad akan membuat adik iparnya kembali pada adiknya.Damar segera memanggil Ririn yang berada jauh dari pondok. Kemudian dia kembali melihat ke arah Joko.
“Ya, aku harus mencari cara untuk mengeluarkannya. Apa sebaiknya aku gunakan artefak saja, ya?”“Uhm … bukankah maaf itu adalah milik para penyihir? Di zaman sekarang, bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan benda itu dari para penyihir.”Wurip kembali melanjutkan, “Bahkan aku dengar keturunan penyihir itu sudah punah. Aku rasa tidak akan ada kesempatan bagimu untuk memiliki artefak itu.”Damar tidak bisa menyangkal ucapan Wurip karena benar adanya.“Itu benar, tetapi aku masih ingin mencoba untuk mencari. Jika tidak bisa dapat maka aku akan mengambil paksa jasad itu dari Gunung Lewi.” Damar sudah bertekad akan mengeluarkan jasad itu, maka hanya menunggu masalah waktu saja.----Beberapa hari berlalu semenjak kunjungan ke Gunung Lewi waktu itu. Damar juga sudah semakin berlatih keras untuk melepaskan benang kutukan yang masih berada di tangannya.Meski sudah retak, tapi kekuatan dari kutukan itu masih mengikat, menahan 9
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas