Ya, aplikasi ini dilengkapi eReader yang dirancang untuk membaca ebook dengan nyaman, termasuk penyesuaian ukuran font dan mode tampilan. Ini membantu menjaga kenyamanan mata saat membaca dalam waktu lama.
Pengguna dapat mendaftar akun EPerpusdikbud dengan menghubungi alamat email resmi perpustakaan, yaitu perpustakaan@kemdikbud.go.id, untuk mendapatkan panduan pendaftaran.
Ya, EPerpusdikbud menawarkan ribuan ebook dari berbagai kategori, mulai dari pendidikan, sastra, sejarah, hingga ilmu pengetahuan. Pengguna dapat dengan mudah menemukan judul favorit sesuai minat mereka.
Berdasarkan informasi aplikasi, pengguna dapat meminjam dan membaca ebook secara cepat dan tidak terbatas, sehingga dapat membaca banyak buku tanpa khawatir batasan jumlah.
Baru-baru ini gue nemuin konten terbaru Pak Erdwad yang lagi ramai dibicarain di grup-grup hiburan online. Dia bikin video parodi sketsa politik dengan twist komedi gelap yang bener-bener ngena. Pakai karakter-karakter yang mirip figur publik tapi dikasih sentuhan absurd, kayak menteri yang rapat sambil main game mobile atau presiden ngomongin kebijakan pakai bahasa gaul anak Jaksel. Yang bikin viral sih selain timing-nya tepat, juga karena editingnya keren banget – transisi antar adegan smooth kayak film bioskop.
Yang gue suka dari konten ini adalah cara dia menyelipin kritik sosial tanpa terkesan menggurui. Adegan where a politician debates with a literal 'ghost of corruption' is both hilarious and thought-provoking. Komentar netizen pada bilang ini kayak 'The Office' versi Indonesia tapi lebih satir. Gue sendiri udah tonton ulang tiga kali dan masih ketawa ngakak setiap liat ekspresi wajah karakternya yang deadpan.
Ada satu cerita yang beredar di kalangan penggemar urban legend di Indonesia, yaitu tentang 'Di Perkoss'. Konon, ini adalah kisah horor yang sering diceritakan secara lisan atau lewat pesan berantai. Aku pertama kali dengar tentang ini dari teman kos waktu kuliah dulu—mereka bilang itu tentang hantu perempuan yang muncul di area kos-kosan, terutama yang dekat dengan kamar mandi atau tangga. Versi ceritanya beda-beda, tapi intinya selalu tentang penampakan yang bikin merinding. Beberapa orang mengaitkannya dengan kisah nyata, seperti kecelakaan atau pembunuhan yang pernah terjadi di tempat itu. Aku sendiri pernah ngerasain suasana mistis di kosan lama, dan meski enggak lihat langsung, cerita 'Di Perkoss' bikin aku selalu waspada kalau pulang malem.
Yang menarik, cerita ini kayaknya berkembang dari mulut ke mulut dan jadi semacam 'shared fear' di antara anak kos. Ada yang bilang hantunya suka ngetok pintu atau narik selimut, tergantung versi yang lo dengar. Aku suka ngumpulin cerita-cerita kayak gini karena selain seru, mereka juga ngejadiin kultur urban Indonesia yang unik. Meski kadang cuma mitos, tapi efek psikologisnya beneran kerasa, apalagi buat yang tinggal sendiri.