“Hahh, Paman .… Aku belum pernah disentuh oleh siapa pun .… Ini sangat aneh, hmmh …!”
Saat Natal, paman yang selalu merawatku sedang memelukku sambil mengajari bagaimana merasakan kesenangan sambil bertanya apakah diriku pernah melakukannya dengan pacarku.
Kesenangan asing itu hampir membuatku gila, dan insting membuatku menjawab dengan kata-kata yang paling patuh.
Aku selalu mendengarkannya, dan bahkan setelah memiliki pacar, diriku tidak pernah membiarkannya menyentuhku … seperti sedang menunggu saat ini.
Tetapi aku tidak pernah menyangka hadiah malam Natal ini membuatku begitu tidak terkendali ….
Kebahagiaan pernikahan Airi tidak bertahan lama. Hanya satu hari. Kehangatan suami lenyap tak berbekas ketika Faisal tidak menemukan bercak darah setelah malam pengantin mereka. Airi berusaha menjelaskan tetapi suaminya bergeming. Keadaan diperparah dengan Sang mertua yang terus menerus menjodohkan Faisal dengan Bella, seorang wanita yang menurut Sang mertua lebih cocok dengan anaknya.
Pahit. Itu yang dirasakan Airi ketika Faisal pulang dengan memeluk madunya. Haruskah Airi bertahan dalam pernikahan yang sudah beku? Atau membebaskan diri dan mencari kebahagiaan di tempat lain?
Warning!! Ini kisah khusus pembaca dewasa dengan rate 21+
Jordan Freemantle memiliki amarah besar yang tak terbendung kepada Lawrence Brickman karena pria tua bangka itu telah menggelapkan dana megaproyek perusahaan mereka berdua dan kini Lawrence minggat entah kemana bak ditelan bumi.
Kebetulan sekali puteri tunggal kesayangan pak tua mengunjungi rumahnya di Malibu, LA. Chantal Brickman yang mandiri dan cantik tidak paham kenapa pria kasar arogan yang baru ditemuinya di rumah papanya dengan semena-mena memaksa gadis itu untuk patuh pada segala hasrat gilanya.
Namun, Jordan tak akan membiarkan Chantal kabur dengan mudah dari cengkeramannya terlebih ketika dia teringat papa gadis itu menipu uangnya terlalu banyak. Membayar utang papanya adalah kewajiban Chantal, bahkan ia harus menuruti segala keinginan Jordan, tak terkecuali apa pun itu.
Follow IG: agneslovely2014 untuk info karya literasi lainnya ya! Selamat membaca kisah Jordan dan Chantal ...
==PEMENANG JUARA FAVORIT 1 Kompetisi Menulis Novel Bertema 'Ini Bukan Cerita Dongeng' 2022==
==PEMENANG NOVEL ROMAN TERFAVORIT GOODNOVEL VAGANZA 2022==
Harusnya semua berjalan sempurna. Rencana mereka sudah matang. Wira bisa menyelesaikan urusannya di desa tanpa dipaksa menikah, sedangkan Sully mendapat tumpangan gratis yang aman sembari menyelesaikan masalahnya di kota. Seharusnya Sully dan Wira hanya berpura-pura menjadi pengantin baru yang kembali ke kampung halaman kepala keluarga untuk berbakti. Namun, bagaimana jadinya kalau Bapak Wira membuat prosesi pernikahan sungguhan untuk memuaskan hati para tetua di desa? Apa Sully, si selebgram tenar, bersedia terjebak dalam sepetak kamar kecil bersama Wira dan menyandang gelar sebagai istri petani? ****ikuti akun sosmed instgram @juskelapa_ untuk update novel lainnya****
Berandal itu bernama Morgan.
Pria dengan wajah tampan, tapi bukan tampan yang menarik. Melainkan tampan karena wajahnya yang keras dan berandal. Real Badboy. Kerasnya kehidupan jalanan menempa pribadinya menjadi brutal dan liar. Berani menggugat siapapun yang mengusiknya.
Sampai dia mengalami fase terendah dalam hidupnya. Dikhianati oleh para sahabatnya sendiri. Plus fitnah keji dari calon mama tiri. Membuat papa kandungnya sendiri tega mengusirnya dari Mansion mewah tempat dia dibesarkan dan menjebloskannya ke penjara.
Lima tahun berlalu, terlahir sosok Morgan yang baru. Memimpin gangster besar Black Cobra. Siap membalas orang-orang yang dulu pernah menyakitinya. Sampai pertemuannya dengan wanita tomboy, pewaris kekayaan Hartanto internasional. Menjadi awal titik balik kehidupannya.
"Kamu janda'kan? berarti sudah mahir dalam urusan ranjang. Ayo, buktikan padaku bagaimana caramu memuaskan suami di kamar!" wanita itu masih terpaku di tempatnya.
"Ayolah, jangan diam saja! Buka bajumu!"
Ada satu karakter yang langsung melompat ke pikiran ketika mendengar ekspresi 'hahh' itu. Karakter itu adalah Kyon dari 'The Melancholy of Haruhi Suzumiya'. Setiap kali dia berhadapan dengan tingkah laku Haruhi yang unpredictable, reaksinya selalu klasik: menghela napas panjang sambil mengeluarkan 'hahh' yang penuh dengan rasa lelah dan frustrasi.
Karakter seperti Kyon memang sering menggunakan ekspresi ini karena mereka biasanya menjadi 'straight man' dalam komedi, yang harus bereaksi terhadap keanehan karakter lain. Dalam kasus Kyon, 'hahh' bukan sekadar ekspresi kelelahan, tapi juga bentuk penerimaan pasrah terhadap kekacauan di sekitarnya. Ini membuatnya sangat relatable bagi penonton yang juga pernah merasa lelah secara mental.
Ada sesuatu yang sangat universal tentang ekspresi 'hahh' dalam anime dan manga. Ini bukan sekadar onomatopoeia, melainkan sebuah bahasa tubuh yang kompleks. Dalam konteks tertentu, ia bisa menggambarkan kelegaan setelah ketegangan panjang, seperti ketika karakter utama akhirnya selamat dari pertarungan sengit. Di lain waktu, ia menjadi tanda kepasrahan atau frustrasi halus—semacam desahan yang lebih dalam daripada sekadar 'uhh' biasa.
Yang menarik, 'hahh' sering muncul dalam adegan transisi emosional. Misalnya, di 'Hunter x Hunter', Gon mengeluarkan 'hahh' panjang setelah pertarungan dengan Hisoka, mencerminkan campuran kelelahan fisik dan pelepasan tekanan mental. Nuansa seperti ini membuatnya lebih dari sekadar efek suara; itu adalah alat naratif untuk menyampaikan kedalaman psikologis karakter.
Membahas sound effect dalam manga selalu menarik karena kreativitasnya yang unik. 'Hahh' bisa dianggap sebagai sound effect, tapi konteksnya penting. Biasanya, manga menggunakan katakana atau kanji untuk mengekspresikan suara napas, terkejut, atau lelah—seperti 'ハァ' (haa) atau 'はっ' (ha!). Jika 'hahh' muncul dengan font yang mencolok atau dalam balon khusus, jelas itu sound effect. Tapi kalau hanya dialog biasa, mungkin sekadar ekspresi karakter.
Yang keren dari sound effect manga adalah cara mereka menghidupkan adegan. Misalnya, 'ドン' (don) untuk pukulan keras atau 'サラサラ' (sarasara) untuk suara daun. 'Hahh' mungkin kurang umum, tapi bukan mustahil. Kadang, sound effect bisa jadi seni tersendiri, seperti di 'One Piece' atau 'Demon Slayer' yang penuh dengan onomatopoeia kreatif.
Pernah nggak sih memperhatikan betapa seringnya karakter anime mengeluarkan ekspresi 'hahh'? Aku selalu penasaran dengan ini sejak pertama kali terjun ke dunia anime. Ternyata, ini bukan sekadar kebiasaan random. Di budaya Jepang, interjeksi seperti 'hahh' sering digunakan untuk menunjukkan emosi yang kompleks—bisa keheranan, frustrasi, atau bahkan rasa lelah. Aku perhatikan ini terutama di scene slice-of-life atau komedi, di mana ekspresi vocal kecil ini menambah kedalaman emosi tanpa perlu dialog panjang.
Menariknya, kebiasaan ini juga berkaitan dengan teknik voice acting di Jepang yang sangat menekankan ekspresi natural. Seorang seiyuu (pengisi suara) pernah bilang dalam wawancara bahwa 'hahh' adalah alat untuk 'menghirup karakter'—memberi jeda alami dalam percakapan. Bandingkan dengan budaya Barat di mana ekspresi serupa mungkin diisi dengan 'uh' atau 'well'. Jadi, ini semacam signature touch yang bikin anime terasa autentik.
Ada nuansa emosi yang berbeda antara 'hahh' dan 'hmm' dalam dialog novel. 'Hahh' biasanya menggambarkan keheranan atau keterkejutan yang lebih ekspresif, seperti ketika karakter mendengar sesuatu yang mengejutkan atau tidak masuk akal. Contohnya, "Hahh? Kamu serius mau pergi sekarang?" Di sisi lain, 'hmm' lebih sering digunakan untuk menunjukkan keraguan, kebingungan, atau proses berpikir. Misalnya, "Hmm... aku belum yakin tentang keputusan ini." Keduanya punya peran penting dalam membangun suasana percakapan.
Perbedaan ini juga terlihat dari cara pembaca memvisualisasikannya. 'Hahh' cenderung membuat karakter terlihat lebih hidup dan dramatis, sementara 'hmm' memberi kesan contemplative. Penggunaan keduanya tergantung pada konteks adegan—apakah penulis ingin menekankan shock value atau depth of thought.
Menggambarkan ekspresi seperti 'hahh' dalam fanfiction memang butuh sentuhan personal. Aku sering melihat variasi penulisan tergantung konteks emosinya—apakah karakter sedang kelelahan, terkejut, atau frustrasi. Misalnya, 'Hahh...' dengan elipsis bisa memberi kesan lelah atau pasrah, sementara 'Hahh?!' dengan tanda tanya dan seru lebih cocok untuk adegan kaget. Beberapa penulis bahkan menambahkan deskripsi fisik seperti 'dadanya naik turun' untuk memperkuat efek. Kuncinya adalah konsistensi: pilih gaya yang sesuai dengan suara karakter dan pertahankan sepanjang cerita.
Oh, dan jangan lupa, terkadang kurang lebih lebih lebih efektif. Terlalu banyak 'hahh' bisa bikin pembaca bosan, jadi gunakan dengan bijak di momen-momen yang benar-benar membutuhkan penekanan emosi.