Asisten Suamiku Adalah Maut Rumah TanggakuKetika suamiku yang seorang direktur utama tahu bahwa aku dengan suka rela menyerahkan proyek bernilai puluhan miliar kepada asisten yang paling dia sayangi, dia mengira perang dingin selama tiga bulan terhadapku akhirnya membuahkan hasil. Dia pun berinisiatif mengajakku pergi bulan madu ke Islandia.
Namun setelah asisten itu mengetahuinya, dia langsung diliputi rasa cemburu dan bersikeras ingin mengundurkan diri dari perusahaan.
Suamiku yang selama ini selalu memanjakannya, langsung merasa panik. Setelah menenangkannya selama tiga hari tiga malam, dia kembali membatalkan bulan madu dengan alasan dinas luar kota, lalu memberikan sebuah tiket bulan madu lainnya kepada asisten itu.
Setelah itu, dia menjelaskan kepadaku dengan sikap acuh tak acuh. "Masalah cinta itu hal kecil, pekerjaan tetap yang paling penting. Sebagai bos, aku harus menempatkan pekerjaan di posisi pertama. Kamu istriku, kamu pasti akan mendukung aku, 'kan?"
Aku menatap unggahan terbaru asisten itu di media sosial, serta foto mereka berdua yang saling menempelkan kepala dan membentuk tanda hati seperti sepasang kekasih. Aku tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk pelan.
Dia mengira aku sudah berubah menjadi lebih lapang dada dan pengertian. Dia tampak sangat puas, bahkan mengatakan bahwa dia akan menggantinya dengan bulan madu yang lebih romantis untukku setelah kembali ke dalam negeri.
Namun, dia tidak tahu.
Aku sudah mengajukan pengunduran diri dan dia juga sudah menandatangani surat perjanjian perceraian.
Aku dan dia ... tidak akan pernah punya masa depan lagi.