Jodoh yang Tertunda
Setelah pintu terbuka, nampaklah wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya.
“Maaf, cari siapa?” tanyaku.
Lelaki itu memandangiku dari atas hingga bawah. Aku merasa sedikit risih dibuatnya.
“Ardannya, ada, Mbak?”
“Iya, ada. Mas siapa?” Aku menyipitkan mata.
“Oh, saya temannya. Tolong panggilkan Ardan ya, Mbak. Bilang saja, nama Dodi!” pinta lelaki itu.
“Oh, iya. Tunggu ya, Mas. Silakan duduk,” ucapku sebelum berlalu. Lelaki itu kemudian duduk di kursi teras.
Bab Populer