Pembantu Kesayangan Tuan Muda
Dia kemarin melihat Jelita sedang asyik membaca buku itu sambil selonjoran di sofa, saking asyiknya sampai tak mendengar tegurannya hingga William harus memanggilnya berulang kali.
Jelita tertawa dan mengangguk. “Buku itu memotivasi saya, Bang. Saya jadi sadar kalau saya bukan lagi bocah ingusan yang hanya bertanggung jawab pada sebongkah celengan ayam yang isinya uang recehan. Saya sudah masuk usia produktif dan harus memprogram setiap tujuan keuangan pribadi agar efektif di masa sekarang dan nanti. Syukur-syukur, bisa memberi dampak secara finansial juga bagi lingkungan.”
“Pria yang jadi suamimu nanti pastilah orang yang beruntung. Kamu baik, cantik, rajin, juga pintar.”