Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Dihina Miskin, Aku Istri Konglomerat

Dihina Miskin, Aku Istri Konglomerat

Pada hari peringatan lima tahun kebersamaan kami, pacarku Luis Loren memberiku sebuah gelang yang harganya tidak sampai dua ratus ribu. Malam itu juga, dia membelikan sebuah kapal pesiar seharga 20 miliar untuk cinta pertamanya, Paula Santoso. Aku menolak gelang itu. Dia malah mengataiku tidak pengertian. "Aku memberikan hadiah pada Paula demi saham perusahaan, bukan karena aku masih memiliki perasaan padanya." "Kamu hanyalah orang miskin, aku sudah berjanji akan menikahimu, memangnya masih nggak cukup? Padahal ini adalah ujian terakhir untukmu, Ziva, kamu gagal." Aku mengakhiri hubungan kami. Dia langsung melamar Paula. Lima tahun kemudian, kami bertemu di sebuah hotel mewah, tepatnya tempat diadakan Konferensi Bisnis. Perusahaannya akan segera menjadi pemimpin industri, dia masuk dengan menggandeng Paula. Ketika dia melihatku, aku sedang berdiri di kolam air mancur dengan pakaian yang berantakan. "Ziva." Dia berkata dengan nada sinis, "Dulu, kamu menolakku. Kamu nggak menyangka setelah berpisah denganku, hidupmu akan lebih buruk dari pengemis, 'kan?" "Jangan kira karena kamu merekayasa pertemuan ini dan menunjukkan betapa menderitanya hidupmu, aku akan mengasihanimu dan membawamu pergi." Aku mengabaikannya. Berlian biru kesayangan putraku yang ayahnya berikan sebagai hadiah ulang tahun pertama tidak sengaja jatuh ke dalam air mancur. Putraku menangis tersedu-sedu, aku harus segera menemukan berlian biru itu.
Baca
Tambahkan
A Night With Uncle Ib

A Night With Uncle Ib

“I’ll pay you as much as you want, layuan mo lang ang pamangkin ko," alok ni Ibrahim sa babaeng kinababaliwan ng pamangkin niyang si Khaleb. Halos hindi naman makagalaw si Loraine sa narinig. Hindi niya maintindihan kung paano mag-re-react sa sinabing iyon ng Uncle ni Khaleb. At napagkamalan pa yata siyang girlfriend nito. “Huh! Nakakatawa ha. Hindi magandang paratang.” Sa inis niya, nahawakan niya ang booklet na nasa ibabaw ng side table at saka ibinato rito. “Gago ka! Anong palagay mo sa akin sugar mommy? Ang kapal ng mukha mo!” “Hey! Stop! Stop! Stop!” Nagawa ni Ibrahim na umiwas, saka hinagilap ang bewang at braso nito. Hindi inaasahang nagdikit ang kanilang mukha. Her eyes met his, and it feels like searching him deeply in his bones. Aminado siyang nakuryente siya sa init ng hininga nito na amoy coffee latte. It makes his manhood alive, lalo na nang masalat niya ang mala-artistic na kurba ng bewang nito. Same as Loraine, kakaibang kilig ang hatid ng maaamo at mapupunagy nitong mga mata. Ang ilong nitong parang goddess ang hugis maging ang mga labing mapupula at magandang korte. Parang magnet na humuhila patungo sa kanyang mga labi. “Is this how you seduce my nephew. Because if it is, you’re doing a great job,” bulong ni Ibrahim. Hindi mawari ni Loraine kung papuri ba iyon o insulto. Mas pinili niya ang pangalawang statement ng kanyang isipan kaya buong lakas niya itong itinulak. Walong taon na ang lumipas nang muling magtagpo ang landas nina Ibrahim at Loraine. Wala silang kaalam-alam na minsan na nilang nakatagpo ang isat-isa sa isang malagim na pangyayari. No print, no clues, only fate will let them know who they really are and what would they be in the future.
Romance
682 DibacaOngoing
Baca
Tambahkan
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status