Chapter: 54 - MaafSetelah kepergian Tuan Tobias, Irish langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang kayu yang ada di sana. Bangunan itu hanya memiliki satu ruangan kecil dengan dua ranjang kayu yang saling berhadapan. Bukan tempat tinggal warga, tetapi lebih mirip gudang penyimpanan obat-obatan dan makanan.Leon memandang Irish yang tampak tak terganggu dengan keadaan di ruangan itu. Irish sama sekali tak mengeluh meski tubuhnya harus tidur di atas ranjang kayu yang keras, tanpa kasur empuk atau selimut tebal.“Kamu tidak tidur?” tanya Irish melihat pada Leon yang masih duduk di tempatnya semula.Tidak ada lampu, penerangan tempat itu hanya dari perapian yang kini menyala kecil. Meski begitu, perapian itu cukup memberi hangat di saat cuaca malam mulai terasa dingin.“Apa kamu merasa tak nyaman tidur di tempat seperti ini?” Irish yang sudah berbaring, kembali duduk di pinggir ranjang. Ia tak tahu seperti apa kehidupan Leon, tetapi sebagai tentara harusnya lelaki itu tidak masalah dengan kondisi tempat ini.
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: 53 - Menemanimu“Kamu pulang saja, aku akan sedikit lama di sini,” ucap Irish mengusir Leon begitu mereka tiba di depan kedai Julian. Kereta yang mereka tumpangi sudah berhenti. Kedua tangan Irish memegang kotak kayu dan bersiap untuk turun.“Sudah kukatakan kalau aku akan menemanimu, Irish.” Leon turun lebih dulu tanpa mempedulikan wajah Irish yang tampak keberatan.Dalam hatinya, Leon pun tak tahu mengapa dirinya bersikap seperti itu. Ingin berada dekat dengan Irish. Lebih tepatnya, ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Irish dan Julian. Leon tak akan membiarkan Irish berduaan dengan Julian.Irish menghela napas kasar. Padahal dirinya hanya ingin berterima kasih pada Julian dan meminta bantuan pada lelaki itu. Irish ingin menggunakan hadiah dari Ratu untuk membeli obat-obatan dan memberikannya pada Tuan Tobias di perkampungan hutan.Dengan berat hati, Irish turun dari kereta dan berjalan menuju kedai. Leon mengikutinya dari belakang.Suasana kedai cukup ramai, Irish yang tak melihat Julian di lant
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: 52 - BimbangRatu tersenyum melihat tingkah laku pasangan suami istri di hadapannya itu. Irish yang begitu antusias menerima tawaran Ratu, dan Leon yang tampak keberatan tetapi tak bisa berbuat apa-apa.“Bagaimana menurutmu, Kapten Leon? Apakah kamu setuju jika Lady Irish bekerja di markas? Tenang saja, Lady Irish akan mendapat bayaran yang layak atas pekerjaannya itu.” Ratu menatap Leon yang masih berwajah muram, seperti ada yang sedang dipikirkan oleh lelaki itu.Karena tak mendengar jawaban dari Leon, Irish menoleh ke arah samping, Leon pun langsung menatap sepasang mata istrinya itu. Irish mengerutkan dahi, tak mengerti maksud tatapan sang suami.Bukan hanya Irish, Ratu pun menunggu Leon membuka suara. Ingin mendengar apa yang menjadi keresahan lelaki itu. Bukankah jika Irish bekerja di markas maka Leon bisa memantaunya dari dekat?Tiba-tiba, sebuah pemikiran lain terlintas di benak Irish. Leon tidak ingin Irish bekerja di markas karena akan membuat Leon sulit untuk bertemu Celia. Gerak-gerik
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: 51 - HadiahBab 51-“Sandiwaramu sungguh bagus, Leon,” cibir Irish menoleh pada Leon saat mereka telah meninggalkan ruangan itu. Dia sangat lega karena sang ayah tidak akan memaksanya untuk menikah dengan Tuan Harrington.“Sepertinya kamu salah paham, Irish. Aku tidak bersandiwara.” Leon meyejajarkan langkah Irish yang berjalan cepat di depannya.Sebelum keluar ruangan, Tuan Arlo menyuruh Irish dan Leon untuk menemui Ratu. Katanya, ada yang ingin Ratu sampaikan terkait kejadian semalam.Irish menoleh sekilas, mengerutkan dahi dan menatap Leon penuh selidik. “Jangan katakan kalau kamu benar-benar jatuh cinta padaku, Leon. Aku tidak mengharapkan itu. Kamu sudah memiliki kekasih, begitu juga denganku. Mari kita lanjutkan pernikahan formalitas ini dengan damai. Aku akan mencabut gugatan pembatalan pernikahan kita, dan sebagai imbalannya … jangan melarangku melakukan apa pun yang kuinginkan.”Setelah mengatakan itu, Irish melanjutkan langkahnya. Leon segera mengejar Irish. Saat sudah dekat, dia menari
Last Updated: 2026-09-09
Chapter: 50 - JanjiIrish dan Leon terus melangkah menuju paviliun paling ujung. Langkah kaki mereka menelusuri koridor yang panjang di istana samping. Meski hari libur, tampak beberapa petugas yang berlalu lalang. Ada juga para kerabat kerajaan dari luar kota yang menginap di istana setelah pesta semalam.Begitu tiba di depan ruangan Kanselir Arlo, Irish langsung membuka pintu. Di dalam, kedua orang tua Irish sudah menunggu. Kanselir Arlo tampak tak senang saat tahu kalau Irish tak datang sendiri. Wajahnya yang dari tadi menahan kesal, tampak semakin masam.Irish langsung masuk dan menyapa kedua orang tuanya singkat. Leon yang mengikuti dari belakang, hanya mengangguk dan berdiri di samping Irish.“Kemasi barangmu sekarang. Siang ini kamu harus ikut kami pulang dan menyelesaikan pembatalan pernikahanmu,” ujar Kanselir Arlo dengan suara lantang. “Sudah cukup kamu mempermalukan keluarga kita, Irish. Setelah pembatalan selesai, kamu akan segera menikah dengan Tuan Harrington. Jangan membantah lagi!”Kata-ka
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: 49 - KepergokMatahari sudah bersinar cerah saat Irish membuka mata. Sebuah tangan yang melingkar di perutnya membuat Irish terkesiap. Dia menoleh perlahan ke samping. Wajah tampan Leon yang terlelap begitu dekat dengannya. Embusan napas teratur sang kapten menyapu lembut pucuk kepalanya.Mengingat apa yang terjadi semalam, kening Irish berkerut. Rasa pusing yang berdenyut di pelipisnya seketika menyadarkan Irish akan kebodohannya sendiri. Dia ingat rasa manis anggur ungu yang diberikan Tuan Harrington di balkon, ingatan samar tentang tatapan lapar pria paruh baya itu, lalu ... suara bentakan seseorang sebelum semuanya menggelap.Irish berusaha menggeser lengan kekar Leon yang mengunci pinggangnya, namun gerakan kecil itu justru membuat pelukan sang suami semakin mengerat. Leon melenguh pelan, lalu perlahan membuka kelopak matanya dan langsung menatap lurus pada Irish.“Sudah bangun?” seru Leon serak. Alih-alih melepaskan tangannya, Leon justru menarik tubuh Irish sedikit merapat.“Lepaskan, Leon,
Last Updated: 2026-09-06
Chapter: 157 - TAMATPagi-pagi sekali, Yudhistira sudah menyapa Bramantya dengan mengajak sang mantan raja itu sarapan bersama.“Pemandangan di sini sungguh indah. Sepagi ini, bisa melihat matahari terbit dari kediaman jenderal,” puji Bramantya sambil memandang matahari yang mulai menampakkan diri.“Terima kasih, Pangeran. Maafkan saya jika semalam belum menemui Pangeran. Jika boleh saya tahu … apa Pangeran hendak tinggal di Jayastamba? Atau sekadar berkunjung ke negeri kami ini?” Yudhistira bertanya sopan.Berita tentang Bramantya yang menyerahkan takhta pada Arya sudah menyebar sampai ke Jayastamba. Para nelayan atau pun pedagang sudah sering membicarakannya. Ada yang mengasihani Bramantya, tetapi ada juga yang berharap kepemimpinan Arya bisa lebih baik.Bramantya menghela napas berat. Setelah keluar istana, dirinya benar-benar menikmati hidup sebagai rakyat biasa, melakukan banyak hal yang dulu tidak pernah bisa dilakukannya.“Sebenarnya … maksud saya ke Jayastamba adalah mencari seseorang … saya dengar
Last Updated: 2026-05-26
Chapter: 156 - Kabar dari AmartapuraTok! Tok!Suara ketukan pintu membangunkan Nirmala. Untuk sesaat, ia merasa linglung. “Bukankah tadi aku sedang bicara dengan Pangeran Bramantya di kamar ini?” tanyanya dalam hati. Kepalanya terasa pusing.Ketukan itu kembali terdengar. “Nirmala … ini aku,” ucap suara dari luar.Mendengar suara Yudhistira, Nirmala menjadi lega. Ternyata kejadian tadi hanyalah mimpi. Tidak mungkin Bramantya berani ke kamar Nirmala. Di depan kamar itu selalu ada penjaga yang diperintahkan Yudhistira untuk menjaga Nirmala.“Kamu sudah pulang? Bukankah kamu akan menginap di istana?” tanya Nirmala setelah membuka pintu dan melihat suaminya berdiri di hadapannya.“Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu.” Yudhistira masuk dan segera mengunci pintu. “Maaf jadi membangunkanmu.”Nirmala menggeleng pelan. “Aku belum lama tidur. Ada Pangeran Bramantya di kamar tamu. Apa pelayan sudah memberitahumu? Maaf karena aku tidak meminta izin terlebih dahulu padamu.”“Tidak apa-apa, Nirmala. Saat aku ke Amartapura, mema
Last Updated: 2026-05-23
Chapter: 155 - Rindu TerlarangNirmala ingin mundur dan berbalik agar tidak menemui dua orang yang tak asing baginya. Namun, pelayan yang berjalan di depannya, langsung membuka suara sehingga kedua orang itu menyadari keberadaan Nirmala yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.“Tenang, Nirmala, mereka tidak akna mengenalimu,” ucap Nirmala dalam hati. Ia melangkah mendekati dua tamu itu.“Maaf mengganggu Nyonya Yudhistira sore hari begini,” ucap salah satu lelaki yang memakai baju biru muda. Pembawaan lelaki itu tetap tidak menghilangkan statusnya yang pernah menjadi raja Amartapura.Nirmala menatap lelaki itu, Bramantya yang juga menatapnya lekat. “Tidak apa-apa, Tuan. Maaf kalau Jenderal sedang tidak ada di sini. Kemungkinan nanti malam baru pulang,” ucap Nirmala sedikit canggung.Bramantya mengangguk, matanya tidak lepas dari kedua mata Nirmala. Seolah-olah ingin mencari tanda yang meyakinkannya kalau wanita di hadapannya adalah Nirmala, wanita yang dicarinya.“Kalau tidak keberatan, kami bermaksud untuk menumpan
Last Updated: 2026-05-22
Chapter: 154 - TamuBab 154-“Apa yang membuatmu datang ke sini?” tanya Arya begitu Paramitha berdiri di hadapannya. Wanita itu terlihat rapi dan masih cantik seperti trakhir kali Arya melihatnya.“Hamba datang untuk memberi penghormatan kepada Yang Mulia Raja Arya,” ucap Paramitha sembari membungkukkan badannya.Mata Arya menyipit, mencoba menebak apa yang diinginkan perempuan itu. Tidak mungkin Paramitha datang begitu saja hanay untuk memberi salam kepadanya. Apa perempuan itu tidak takut dengan kemarahan Arya?Meskipun Arya sudah menerima Nirmala dan mencintainya, tetap saja ia masih tak terima kalau mengingat Paramitha kabur di hari pernikahan mereka.“Apa yang kamu inginkan setelah dulu kabur karena tidak ingin menikah denganku, Nona Paramitha?” tanya Arya dengan wajah tanpa senyuman. Sorot matanya tajam penuh intimidasi.Perlahan, Paramitha menegakkan badannya, senyum tipis terukir di wajahnya yang cantik, walau ada sedikit gurat kecemasan di kedua matanya. Ia tahu betul pertanyaan itu pasti akan
Last Updated: 2026-05-21
Chapter: 153 - Paramitha?Tiga bulan telah berlalu setelah penobatan Arya menjadi Raja. Sempat terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh para pendukung Bramantya, tetapi bisa Arya hadapi dan menangkap pelakunya.Fraksi kanan sudah menyatakan diri bergabung dengan Arya, hal itu membuat kepemimpinan Arya semakin kuat.“Yang Mulia, petisi yang meminta Anda mundur sudha berkurang. Rakyat sudah mulai menerima Yang Mulia dna merasakan perubahan ke arah yang lebih baik,” ucap Prama yang sedang menemani Arya membaca laporan.Tiga bulan ini, Arya melakukan perombakan di dalam jajaran pemerintahan. Beberapa menteri fraksi kanan yang terbukti bersih tetap ia pertahankan untuk menjaga keseimbangan, sementara posisi-posisi penting lainnya kini diisi oleh orang-orang kepercayaannya dari fraksi kiri dan para petinggi aliansi gunung.Di bawah kepemimpinannya yang tegas dan tanpa kompromi, Amartapura yang semula goyah pasca-kudeta perlahan mulai stabil. Rakyat yang awalnya cemas kini bisa bernapas lega karena roda ekonomi dan k
Last Updated: 2026-05-19
Chapter: 152 - PenobatanPenobatan Arya sebagai raja baru di Amartapura, harus dihiasi duka karena kematian Ibu Suri. Tadi pagi, saat pelayan hendak membangunkan Ibu Suri, wanita itu sudah tergeletak tak bernyawa di pembaringan.Bramantya tak menyangka kalau sang ibu lebih memilih mengakhiri hidup daripada menyerahkan diri. Ia merasa telah gagal menjadi raja dan juga gagal menjadi anak. Hidupnya kini berubah dalam semalam.“Acara penobatan akan dilakukan setelah pemakaman Ibu Suri,” ucap Arya. Ia memakai baju berkabung yang sama seperti Bramantya. Kini, hanya tersisa mereka berdua pewaris kerajaan ini. Perlahan, istana semakin sunyi karena penghuninya pergi satu per satu.“Terima kasih karena kamu mau mendahulukan pemakaman ibuku,” sahut Bramantya. Meski berusaha tegar, matanya terlihat berkaca-kaca.Tak ada anak yang baik-baik saja ditinggalkan oleh orang tuanya. Ia bisa membayangkan bagaimana dulu Arya kecil harus menangis sendirian saat tahu ibunya meninggal. Tanpa pernah melihat jasadnya.Meski tak dibena
Last Updated: 2026-05-18