Chapter: 128 - Tumbuh“Silakan istirahat di ruangan ini, Jenderal Yudhistira sedang di istana, kemungkinan tiba larut malam. Mungkin, Tuan bisa bertemu dengan Jenderal esok pagi,” ucap seorang pelayan membuka pintu sebuah kamar.Nirmala dan Tara baru saja tiba di kediaman Yudhistira dengan diantar seorang petugas. Tempatnya tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Namun, sayangnya, sang jenderal sedang pergi menemui Raja.“Terima kasih,” sahut Tara sambil memasuki ruangan yang lebih mirip kamar penginapan itu. Ia sangat terkesan dengan pelayanan di kediaman Yudhistira yang sangat ramah dan menghormati tamu yang datang.Setelah pelayan itu pergi, Tara meminta Nirmala untuk istirahat. Perempuan itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang jauh lebih empuk daripada papan kayu di kapal. Meski tubuhnya sangat lelah, pikirannya tetap terjaga. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, mencoba mencerna kenyataan bahwa ia kini berada jauh dari Amartapura.“Beristirahatlah, Nirmala. Aku akan berjaga di depan,
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: 127 - PelabuhanSelama dua hari, Nirmala tidak keluar kabin. Pusing dan mual semakin membuatnya lemah. Makanan yang masuk ke mulutnya pun hanya sedikit, tak lama akan dimuntahkan lagi. Kondisi Nirmala yang semakin menurun membuat Tara khawatir. Setiap pagi ia membawakan bubur hangat agar Nirmala mau makan, tetapi hanya beberapa suap saja yang lolos ke mulut perempuan itu.“Makanlah yang banyak, Nirmala. Jika tidak, tubuhmu akan semakin lemas. Sebentar lagi kita akan tiba di pelabuhan, kamu harus makan agar kuat berjalan nanti,” bujuk Tara sembari menyodorkan mangkuk.Nirmala hanya menggeleng lemah, aroma makanan yang menyengat justru membuat perutnya kembali bergejolak. “Aku tidak bisa, Tara. Kepalaku sangat pusing, semuanya terasa berputar.”Tara menarik napas panjang, ia merasa iba melihat keadaan temannya itu. Di dalam hati, kecurigaannya tentang kehamilan Nirmala semakin kuat. Namun, ia tidak berani mengatakannya lagi karena tahu hal itu hanya akan menambah beban pikiran Nirmala. “Jika kita sud
Last Updated: 2026-04-18
Chapter: 126 - MualHari kedua di atas kapal, pagi-pagi sekali Nirmala terbangun karena perutnya terasa mual. Goyangan kapal yang dihantam ombak membuat rasa tidak nyaman di ulu hatinya semakin menjadi. Nirmala segera berlari ke kamar mandi, memuntahkan cairan bening karena perutnya memang belum terisi apa pun sejak semalam.“Nala, kamu tidak apa-apa?” Tara menghampiri, wajahnya tampak cemas sembari memberikan sebotol air minum. Ia memanggil Nirmala dengan nama samarannya. Atas permintaan Tara, ia dan Nirmala tidur di kabin yang sama agar tidak menimbulkan kecurigaan. Namun, saat malam tiba, Tara memilih tidur di luar bersama yang lainnya.Nirmala membasuh mulutnya, napasnya tersengal. Wajahnya tampak pucat pasi. “Hanya mual biasa, mungkin karena aku tidak terbiasa naik kapal laut.”Dahi Tara mengernyit. Ia menatap Nirmala dengan tatapan menyelidik. Sebagai lelaki yang sudah sering mengembara, ia tahu mual karena mabuk laut biasanya terjadi sejak hari pertama, bukan baru muncul di hari kedua seperti ini
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: 125 - PerpisahanSudah hari kedua Arya berada di pelabuhan, tetapi belum menemukan tanda-tanda keberadaan Nirmala. Para pengawal yang mencari pun belum ada yang melaporkan kabar baik.“Apa ia sudah lebih dulu melintasi lautan sebelum aku tiba di sini?” tanyanya pada penjaga pelabuhan yang selalu memeriksa setiap orang yang akan menaiki kapal.“Saya pastikan belum, Pangeran,” ujar lelaki itu, “sejak beberapa hari lalu, belum ada perempuan muda seperti ciri-ciri yang Pangeran sebutkan. Kebanyakan dari mereka adalah para budak atau pekerja yang akan dijual ke negeri seberang.”Arya mengangguk pelan. Ia tidak bisa berlama-lama di pelabuhan karena harus segera menyelesaikan urusannya dengan Ratu. Rencananya, hari ini adalah hari terakhir ia di sini sebelum kembali ke istana.Meskipun penjaga pelabuhan sudah meyakinkannya, kegelisahan di hati Arya tak kunjung surut. Ia melangkah menuju ujung dermaga, menatap hamparan laut biru yang luas. Angin laut yang kencang menerbangkan rambutnya yang mulai berantakan.
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: 124 - RencanaArya memerintahkan pengawal mencari ke beberapa rute yang kemungkinan dilewati Nirmala. Seharusnya, perempuan itu belum pergi terlalu jauh meskipun mengendarai kuda.“Jadi kamu membantu Nirmala kabur dengan membuka gerbang belakang?” Suara Arya tidak tinggi, tetapi nadanya sangat mengintimidasi. Apalagi sorot matanya menatap tajam Prama yang berada di hadapannya.“Iya, Pangeran,” ujar Prama jujur. Berbohong pun percuma, karena Arya pasti akan mengetahuinya juga.Mata Arya menyipit. “Kamu mengatakannya dengan sangat percaya diri, Prama. Apa kamu memiliki seribu nyawa sehingga tidak takut sama sekali?” tanyanya dengan wajah menahan amarah.Ia tak memperhitungkan sebelumnya kalau Nirmala akan melarikan diri begitu saja. Tanpa satu katapun untuknya. Dari tadi, dadanya terus berdebar kencang, antara marah dan takut kalau Nirmala benar-benar tak bisa ditemukan.Wajahnya semakin kesal saat tahu Nirmala pergi bersama kuda putih pemberian Putra Mahkota. Seakan-akan menunjukkan bahwa perempuan
Last Updated: 2026-04-15
Chapter: 123 - Melarikan DiriSaat malam semakin larut, Nirmala mengendap-endap keluar kamar. Tangannya membawa sebuah bungkusan besar berisi barang-barang penting miliknya dan beberapa pakaian. Malam ini, sebelum orang-orang terbangun, Nirmala harus pergi dari istana.Sebelumnya, saat masih sebagai istri Arya, Nirmala tak pernah terbersit untuk melarikan diri. Meskipun awalnya ia merasa menjadi tawanan di dalam istana dan menunggu Paramitha akan membebaskannya. Lambat laun, ia mulai jatuh hati pada Arya dan menjalani posisinya sebagai istri dengan sukarela.Akan tetapi, sikap Arya yang menceraikannya padahal ia mengatakan kalau perjanjian seratus hari itu sudah batal, membuat Nirmala sangat kecewa. Ditambah lagi lelaki itu lebih mempercayai Anindiya.“Apa kudanya sudah siap?” bisik Nirmala pada Anila.Ia meminta bantuan Anila dan Prama untuk menyiapkan kuda dan mengelabui penjaga gerbang nanti. Nirmala tidak bisa bertindak sendirian.“Sudah, Putri. Prama sudah menunggu di gerbang belakang,” sahut Anila, wajahnya
Last Updated: 2026-04-13