เข้าสู่ระบบNirmala harus menggantikan kakaknya, Paramitha yang kabur di hari pernikahan. Calon suaminya, pangeran Arya tahu dan menghukum keluarga Nirmala: Selama 100 hari, keluarga Nirmala harus mencari Paramitha. Apabila tidak ketemu, maka seluruh keluarga Nirmala akan dihukum mati. Apabila Paramitha ditemukan, maka Nirmala akan diceraikan. Bagaimana kehidupan Nirmala di istana? Mampukah ia bertahan menghadapi arogansi Pangeran Arya dan wanita lain yang selalu ada di hati pangeran itu. Apa yang akan terjadi setelah 100 hari? Akankah Paramitha kembali atau justru kematian yang menunggu Nirmala? #pengantinpengganti #bangsawan #takhta
ดูเพิ่มเติมNirmala terbangun dalam dekapan tangan kekar sang pangeran. Udara dingin pagi hari menusuk kulitnya yang tak terbungkus pakaian. Selimut tebal yang menutupi tubuhnya tidak cukup memberinya kehangatan.Ia bergerak merapatkan diri. Tangannya melingkari punggung lebar sang pangeran. “Dingin sekali,” gumamnya masih memejamkan mata.“Aku akan meminta Bibi Lastri membuatkan sup.” Suara bariton itu membuat mata Nirmala terbuka.Sedikit mendongak, ia melihat Pangeran Arya yang sedang menatapnya. “Maaf membangunkan Pangeran,” ucapnya pelan.“Aku memang belum tidur.” Netra sang pangeran begitu intens melihat wajah Nirmala. Ia merasa wanita itu terlihat lebih cantik berkali lipat dari sebelumnya. Arya menggeleng cepat, ia tidak boleh lengah.Baginya, perempuan hanya akan membuatnya lemah. Terlibat terlalu dalam dengan mahluk itu hanya akan memberinya kehancuran. Arya terkenal kejam dan tak pandai memaafkan. Ia juga sering mabuk-mabukan dan membuat masalah. Namun, tak pernah menyentuh perempuan.
“Salam pada Raja Danendra dan Permaisuri Nareswati.” Nirmala membungkuk di hadapan raja dan ratu. Sementara Arya hanya berdiri kaku.Kemudian Nirmala melakukan salam juga kepada kedua pangeran beserta istrinya. Setelah itu ia duduk bersama Arya di kursi paling ujung. Di hadapan mereka sudah tersedia berbagai macam hidangan.Bangunan terbuka itu berada di tengah-tengah pohon rasamala yang menjulang tinggi. Aroma wangi khas kayu itu menjadi parfum alami di sepanjang taman. Di samping bangunan itu ada taman kecil yang terdiri dari berbagai bunga, membuat mata dimanjakan dengan indah warna warninya.“Apakah kamu kesulitan di paviliun Pangeran Arya?” tanya permaisuri di tengah-tengah acara jamuan itu. Raja sudah pergi karena harus menghadiri pertemuan dengan para menteri.“Tidak,” jawab Nirmala sambil tersenyum. “Paviliun itu sangat sempurna untuk kami sebagai pengantin baru. Tidak ada dayang atau pun penjaga yang mengganggu.”“Salahkan suamimu yang selalu mengusir para pelayan dengan kasar
Nirmala tidak bisa benar-benar tidur. Badannya tak nyaman, meringkuk di atas dua kursi kayu yang keras dan dingin membuatnya tak bisa memejamkan mata. Apalagi ada seorang lelaki asing yang baru dikenalnya tidur nyaman di atas kasur. Membuat Nirmala sedikit waspada.Bisa saja sang pangeran melakukan hal yang tidak baik saat dirinya tertidur, melecehkan atau mungkin membunuhnya. Lelaki itu sepertinya tak akan ambil pusing kalau harus menghilangkan nyawa putri Wiratama lebih dulu.Setiap kali Nirmala mencoba mengubah posisi, kursi itu berderit, memecah keheningan paviliun dan membuatnya terjaga karena takut suara itu akan mengganggu tidur sang pangeran. Ia tidak mau lelaki itu terbangun dan menyuruhnya tidur di luar.Saat cahaya fajar mulai menyelinap masuk melalui celah jendela, Nirmala langsung duduk tegak, meregangkan punggung dan otot kakinya yang sedikit kaku. Ia melihat ke arah ranjang, Arya masih tidur pulas.“Apa tidak ada pelayan yang mengantarkan air?” gumamnya. Ia ingin mencuc
“Hukuman bagi pengkhianat adalah mati.”“Jika Pangeran membunuh kami di sini, bukankah itu akan menodai nama baik kerajaan?” Nirmala memberanikan diri. Ia tidak bisa diam saja dalam situasi seperti ini. Persetan dengan nama baik, ia hanya tidak ingin mati konyol di tangan pangeran kejam hanya karena kesalahan Paramitha."Lancang!" bentak salah seorang menteri kerajaan.Arya mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua orang diam. Ia sedikit menurunkan pedangnya dan berkata. "Kau punya nyali, gadis kecil. Sayang keberanianmu tidak diperlukan saat ini. Kalian akan mendapat hukuman.""Paramitha pergi karena ia takut pada desas-desus tentang kekejaman Anda, Pangeran" lanjut Nirmala, mengabaikan tarikan napas tertahan dari kakaknya, Abhimata. "Tapi saya di sini. Saya tidak lari. Bukankah itu bukti bahwa saya lebih layak berada di samping Anda daripada seorang pengecut yang pergi demi lelaki lain?"Mendengar ucapan Nirmala, sang pangeran menyeringai, sebuah senyum miring terhias di waja






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.