MasukNirmala harus menggantikan kakaknya, Paramitha yang kabur di hari pernikahan. Calon suaminya, pangeran Arya tahu dan menghukum keluarga Nirmala: Selama 100 hari, keluarga Nirmala harus mencari Paramitha. Apabila tidak ketemu, maka seluruh keluarga Nirmala akan dihukum mati. Apabila Paramitha ditemukan, maka Nirmala akan diceraikan. Bagaimana kehidupan Nirmala di istana? Mampukah ia bertahan menghadapi arogansi Pangeran Arya dan wanita lain yang selalu ada di hati pangeran itu. Apa yang akan terjadi setelah 100 hari? Akankah Paramitha kembali atau justru kematian yang menunggu Nirmala? #pengantinpengganti #bangsawan #takhta
Lihat lebih banyak“Paramitha tidak ada di kamarnya!” Abhimata terburu-buru memasuki ruang keluarga. Ia menyerahkan sebuah kertas pada ayahnya. “Dia meninggalkan sebuah surat.”
Wajah Seno Wiratama langsung mengeras. Rahang-rahang wajahnya terlihat jelas, matanya menatap nyalang pada selembar kertas yang ia baca. Berani-beraninya Paramitha kabur saat acara sakral yang melibatkan kerajaan.
Hari ini adalah pernikahan sang putri pertama, Paramitha Wiratama dengan pangeran ketiga. Semuanya telah siap, kereta kuda sudah datang dari kemarin sore, tinggal menunggu calon pengantin wanita untuk berangkat ke istana.
“Apa yang ditulisnya? Kenapa ia pergi di hari pernikahan?” Utari menatap sang suami. Mata wanita itu berkaca-kaca. Paramitha adalah putri kesayangannya, bagaimana bisa pergi sendiri tanpa tahu ke mana?
Sejak kecil Paramitha terbiasa di rumah dan bermain dengan anak-anak sekitar rumah saja, tidak pernah pergi jauh. Gadis itu seperti permata Wiratama yang dijaga dengan sangat hati-hati.
Saat keluarga kerajaan datang melamar Paramitha, Seno dan Utari sangat senang dan berbangga hati. Anak kesayangan mereka akan mengangkat derajat keluarga. Menikah dengan keluarga kerajaan adalah kebanggaan semua orang.
“Paramitha pergi bersama Caraka. Ia tidak mau menikah dengan pangeran ketiga,” ucap Seno dengan suara rendah dan berat. Terdengar helaan napas beberapa kali, berpikir jalan keluar untuk menghadapi keluarga kerajaan,
Pangeran ketiga bukanlah pewaris kerajaan, lelaki itu lahir dari selir yang dihukum mati. Ia dianggap pangeran yang terbuang dan terkenal kejam. Itu juga yang menjadi alasan Paramitha kabur.
Seno mengurut keningnya perlahan, kalau sampai pangeran ketiga tahu Paramitha kabur, habis sudah keluarga Wiratama. Pasti akan dihukum, entah diusir atau dipenjara. Keduanya tidak ada yang lebih baik.
Netranya tiba-tiba melihat Nirmala, anak bungsu yang memiliki perangai berlawanan dengan Paramitha. Tidak ada jalan lain. Seno berseru, “Nirmala, kamu harus menggantikan Paramitha menikah dengan pangeran!”
Nirmala berdiri. “Tidak Ayah! Aku tidak mau me–”
“Ini perintah! Kamu tidak bisa membantah. Demi nama baik keluarga kita dan untuk menghindari hukuman dari kerajaan.” Seno berdiri menatap tajam Nirmala, suara lantangnya membuat keluarga yang hadir terdiam. “Utari, dandani Nirmala agar bisa segera berangkat menuju kerajaan!”
“Ayah! Aku tidak mau!” teriak Nirmala. Ia berlari mengejar Seno yang keluar dari ruang keluarga. “Ayah!”
Gadis itu menghadang jalan Seno. “Aku tidak mau pergi ke istana, Ayah. Tolong jangan paksa aku.”
“Kalau kamu tidak mau menikah dengan pangeran, maka kamu bukan anak keluarga Wiratama lagi!” ancam Seno.
Nirmala terdiam. Matanya berkaca-kaca. Ini lebih menakutkan dari sekadar mimpi buruk.
Setelah langkah Seno menjauh, Utari mendekati Nirmala dan menariknya ke ruangan untuk didandani. Tidak ada kelembutan dari sang ibu. Wanita itu mendandani Nirmala seperti mendandani boneka.
“Ibu …,” lirih Nirmala. Berharap ibunya membuka suara untuk menghibur atau sekadar basa-basi.
“Jangan merengek! Setidaknya masa depanmu terjamin di istana. Dibandingkan dengan Paramitha yang entah di mana ia berada,” ujar Utari mengusap air mata.
Bukan kesedihan karena Nirmala akan pergi meninggalkannya, tetapi sedih karena kehilangan Paramitha.
***
Kereta kuda melaju meninggalkan halaman rumah Wiratama. Roda kayunya berderak pelan, terdengar menyayat hati. Seolah ikut meratapi nasib penumpang di dalamnya. Nirmala duduk kaku, pandangannya kosong. Setiap getaran kereta seperti membawanya menjauh dari rumah, menuju dunia yang belum pernah ia jamah.
Nirmala menahan tangis. Karena ia tahu menangis tidak akan mengubah apa pun. Sejak kecil, ia selalu berada di balik bayang-bayang Paramitha, anak yang disayangi semua keluarga. Sedangkan dirinya? Anak bungsu yang dianggap keras kepala dan sering membantah. Namun kini, justru ia yang harus menanggung akibat dari kepergian sang kakak.
“Putri Wiratama, kita sudah sampai istana.” Seorang penjaga membuka tirai kereta dan membantu Nirmala turun.
Setelah turun dari kereta, Seno berdiri di samping Nirmala. Di belakang mereka, semua keluarga Wiratama mengiringi menuju aula.
Pintu aula terbuka lebar, sudah dipenuhi oleh para tamu dan keluarga kerajaan. Duduk di paling depan, sang raja didampingi ratu. Tepat di tengah aula, pangeran ketiga sudah menanti calon pengantinnya.
Langkah Nirmala terasa berat, banyak ketakutan hinggap di benaknya. Akankah sang pangeran menerima pengantinnya diganti?
“Berhenti!” seru sang pangeran. Matanya menatap nyalang Nirmala. Ia mendekat dan tiba-tiba menghunuskan pedang pada Nirmala. “Kamu bukan pengantinku. Siapa kamu? Di mana Paramitha?”
Ujung pedang itu berkilat, hanya berjarak sejengkal dari leher Nirmala. Gadis itu membeku. Wajahnya pucat pasi. Kakinya terasa lemas.
Seluruh aula mendadak sunyi. Terkejut dan penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pangeran Arya, sang pangeran ketiga itu tak pernah bermurah hati pada siapa pun.
“Jawab!” bentak Arya, “aku bertanya, siapa kamu?”
Nirmala menelan ludah. Tangannya gemetar, namun ia memaksa diri berdiri tegak. Jika hari ini memang akhir hidupnya, ia tidak ingin mati sambil berlutut.
“Hamba … Nirmala Wiratama,” jawabnya dengan nada bergetar, “adik dari Paramitha.”
Para tamu semakin kaget. Beberapa bangsawan saling berbisik, baru kali ini ada kejadian mengejutkan seperti ini. Sementara itu, Ratu menegakkan punggungnya, menatap tajam ke depan. Raja sendiri mengernyitkan dahi, sorot matanya penuh pertanyaan.
“Adik? Berani sekali keluarga Wiratama mempermainkan kerajaan. Apakah kamu tidak tahu hukuman atas perbuatan kalian ini?” Mata Arya tajam menatap Nirmala, kemudian menatap satu per satu keluarga Wiratama. Wajah mereka pucat pasi.
Ujung pedang itu sedikit terangkat. Nirmala menelan ludah. Selangkah saja Arya maju, maka pedang itu akan menembus leher Nirmala.
Abhitama maju ke depan, kemudian berlutut di hadapan Arya. “Mohon ampun, Pangeran. Maaf atas kelancangan kami. Adik hamba, Paramitha Wiratama telah kabur dari rumah. Sehingga kami membawa Nirmala Wiratama sebagai pengantin pengganti. Semoga Pangeran bermurah hati dan mengampuni kelancangan kami.”
Seno ikut berlutut, diikuti seluruh keluarga Wiratama, kecuali Nirmala. Gadis itu tak berani bergerak sedikit pun.
“Hukuman bagi pengkhianat adalah mati ….” Suara berat itu menggelegar di aula yang seketika hening. Pangeran Arya menatap tajam pada Nirmala.
Hari pernikahan yang seharusnya dirayakan sukacita, akankah berubah menjadi acara kematian?
-
Bersambung
Pagi-pagi sekali, Yudhistira sudah menyapa Bramantya dengan mengajak sang mantan raja itu sarapan bersama.“Pemandangan di sini sungguh indah. Sepagi ini, bisa melihat matahari terbit dari kediaman jenderal,” puji Bramantya sambil memandang matahari yang mulai menampakkan diri.“Terima kasih, Pangeran. Maafkan saya jika semalam belum menemui Pangeran. Jika boleh saya tahu … apa Pangeran hendak tinggal di Jayastamba? Atau sekadar berkunjung ke negeri kami ini?” Yudhistira bertanya sopan.Berita tentang Bramantya yang menyerahkan takhta pada Arya sudah menyebar sampai ke Jayastamba. Para nelayan atau pun pedagang sudah sering membicarakannya. Ada yang mengasihani Bramantya, tetapi ada juga yang berharap kepemimpinan Arya bisa lebih baik.Bramantya menghela napas berat. Setelah keluar istana, dirinya benar-benar menikmati hidup sebagai rakyat biasa, melakukan banyak hal yang dulu tidak pernah bisa dilakukannya.“Sebenarnya … maksud saya ke Jayastamba adalah mencari seseorang … saya dengar
Tok! Tok!Suara ketukan pintu membangunkan Nirmala. Untuk sesaat, ia merasa linglung. “Bukankah tadi aku sedang bicara dengan Pangeran Bramantya di kamar ini?” tanyanya dalam hati. Kepalanya terasa pusing.Ketukan itu kembali terdengar. “Nirmala … ini aku,” ucap suara dari luar.Mendengar suara Yudhistira, Nirmala menjadi lega. Ternyata kejadian tadi hanyalah mimpi. Tidak mungkin Bramantya berani ke kamar Nirmala. Di depan kamar itu selalu ada penjaga yang diperintahkan Yudhistira untuk menjaga Nirmala.“Kamu sudah pulang? Bukankah kamu akan menginap di istana?” tanya Nirmala setelah membuka pintu dan melihat suaminya berdiri di hadapannya.“Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu.” Yudhistira masuk dan segera mengunci pintu. “Maaf jadi membangunkanmu.”Nirmala menggeleng pelan. “Aku belum lama tidur. Ada Pangeran Bramantya di kamar tamu. Apa pelayan sudah memberitahumu? Maaf karena aku tidak meminta izin terlebih dahulu padamu.”“Tidak apa-apa, Nirmala. Saat aku ke Amartapura, mema
Nirmala ingin mundur dan berbalik agar tidak menemui dua orang yang tak asing baginya. Namun, pelayan yang berjalan di depannya, langsung membuka suara sehingga kedua orang itu menyadari keberadaan Nirmala yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.“Tenang, Nirmala, mereka tidak akna mengenalimu,” ucap Nirmala dalam hati. Ia melangkah mendekati dua tamu itu.“Maaf mengganggu Nyonya Yudhistira sore hari begini,” ucap salah satu lelaki yang memakai baju biru muda. Pembawaan lelaki itu tetap tidak menghilangkan statusnya yang pernah menjadi raja Amartapura.Nirmala menatap lelaki itu, Bramantya yang juga menatapnya lekat. “Tidak apa-apa, Tuan. Maaf kalau Jenderal sedang tidak ada di sini. Kemungkinan nanti malam baru pulang,” ucap Nirmala sedikit canggung.Bramantya mengangguk, matanya tidak lepas dari kedua mata Nirmala. Seolah-olah ingin mencari tanda yang meyakinkannya kalau wanita di hadapannya adalah Nirmala, wanita yang dicarinya.“Kalau tidak keberatan, kami bermaksud untuk menumpan
Bab 154-“Apa yang membuatmu datang ke sini?” tanya Arya begitu Paramitha berdiri di hadapannya. Wanita itu terlihat rapi dan masih cantik seperti trakhir kali Arya melihatnya.“Hamba datang untuk memberi penghormatan kepada Yang Mulia Raja Arya,” ucap Paramitha sembari membungkukkan badannya.Mata Arya menyipit, mencoba menebak apa yang diinginkan perempuan itu. Tidak mungkin Paramitha datang begitu saja hanay untuk memberi salam kepadanya. Apa perempuan itu tidak takut dengan kemarahan Arya?Meskipun Arya sudah menerima Nirmala dan mencintainya, tetap saja ia masih tak terima kalau mengingat Paramitha kabur di hari pernikahan mereka.“Apa yang kamu inginkan setelah dulu kabur karena tidak ingin menikah denganku, Nona Paramitha?” tanya Arya dengan wajah tanpa senyuman. Sorot matanya tajam penuh intimidasi.Perlahan, Paramitha menegakkan badannya, senyum tipis terukir di wajahnya yang cantik, walau ada sedikit gurat kecemasan di kedua matanya. Ia tahu betul pertanyaan itu pasti akan
Nirmala berdiri terpaku. Di hadapannya memang Putra Mahkota, tetapi tanpa baju kebesaran yang selalu dipakainya di istana. Meski dalam balutan baju sederhana, lelaki itu tetap terlihat gagah dan berkharisma.“Kenapa Anda ada di sini?” tanya Nirmala lagi, “ini … rumah siapa ini? Kenapa tidak ada sia
Seminggu berlalu, Arya belum juga datang menjemput Nirmala. Perempuan itu semakin cemas, khawatir terjadi apa-apa dengan Arya.“Daya, terima kasih karena sudah merawatku di sini,” ucap Nirmala memeluk Daya. Hari ini ia akan menuju ibu kota bersama Jayendra. Semakin lama di pemukiman dan menunggu Ar
Di pemukiman, Nirmala masih menunggu Arya. Luka di punggungnya sudah sembuh, ia ingin segera kembali ke istana agar bisa selalu bersama Arya. Seperti janjinya saat nyawanya terancam di lautan, ia akan bersikap baik pada lelaki itu jika kembali ke istana.Tanpa Nirmala ketahui, di istana, tepatnya d
Pagi-pagi, Arya sudah berada di kediaman Anindiya untuk melihat kondisi perempuan itu. Semalam hujan, sehingga Arya tidak jadi menyusul Nirmala. “Pangeran belum menjemput Putri Nirmala?” tanya Anindiya begitu melihat Arya datang. Dirinya sedang menikmati udara pagi di gazebo.Beberapa dayang berdi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan