Chapter: 6. Sang Pemilik ArenaCamelia merutuki kebodohannya dalam hati. Bagaimana bisa ia tidak tahu kalau Midnight Garden, tempat yang ia anggap sebagai wilayah kekuasaannya, ternyata milik dosen pembimbingnya sendiri? Ia merasa seperti kancil yang merasa paling cerdik, padahal sedang menari di atas telapak tangan harimau. Namun, Camelia sudah membulatkan tekad. Ia tidak boleh terpancing. Fokusnya sekarang hanya satu: kerjakan penelitian secepat mungkin, selesaikan skripsi, lalu menghilang selamanya dari radar dosen dingin ini. Ia harus menjadi mahasiswi yang paling membosankan dan penurut agar Kenan tidak punya alasan untuk menahannya lebih lama. Satu jam terakhir di kafe itu diisi dengan upaya Camelia menunjukkan keseriusannya. Beberapa kali ia memberanikan diri bertanya tentang poin-poin yang kurang dia pahami dalam jurnal yang sedang ia bedah. "Pak, soal bagian analisis ini... apakah saya harus membandingkan dengan teori yang lama atau langsung fokus ke hasil yang baru?" tanya Camelia hati-hati.
Last Updated: 2026-04-24
Chapter: 5. Singgasana yang RentanCamelia berdiri di depan cermin apartemennya dengan perasaan campur aduk. Perintah Kenan kemarin terus terngiang, seolah berbisik tepat di telinganya, “Pakai sesuatu yang menunjukkan kalau kamu punya... jiwa.”"Hah, bapak-bapak dingin dan otoriter itu. Argh!" Gerutu Camelia sambil membuka lemari pakaiannya, ia sempat tergoda untuk menarik gaun merah satin dengan potongan rendah—seragam kebesarannya sebagai "Miss Jiwa". Ia ingin muncul begitu saja dan menantang Kenan secara terbuka di medannya sendiri. Namun, akal sehatnya segera menyentakkan kesadarannya. Jika ia melakukannya sekarang, skripsinya akan tamat, dan Kenan punya seribu cara untuk menghancurkan reputasinya sebelum ia sempat lulus. "Jangan macam-macam, Cantik. Saatnya kamu bermain aman," ucapnya pada diri sendiri sambil menatap pantulannya di cermin. Sambil memoles tipis bibirnya, Camelia teringat pesan dari Lucifer semalam yang mengajaknya bertemu sore ini. Sebuah seringai kecil muncul di wajahnya. Ia sudah membalas pe
Last Updated: 2026-04-24
Chapter: 4. Memancing di Air KeruhBunyi detak jam dinding di laboratorium lantai tiga terdengar seperti dentang lonceng kematian yang terasa lambat. Sudah masuk jam ketiga sejak istirahat makan siang berakhir, dan Camelia merasa otaknya sudah mencapai titik didih. Bahunya benar-benar terasa kaku, dan jari tangannya mulai gemetar karena terlalu lama memegang alat-alat laboratorium. Di ujung meja, Kenan duduk dengan tenang. Pria itu tampak seperti tidak memiliki saraf lelah sedikit pun. Tangannya sesekali menggoreskan pena di atas jurnal di hadapannya, sementara kopi hitam di sampingnya masih mengepulkan aroma yang kini mulai membuat Camelia mual. Entah sudah cangkir ke berapa yang Kenan seduh—aroma pahit itu seolah menjajah paru-parunya, mengingatkannya pada intimidasi yang Kenan berikan setiap kali pria itu melintas di sekitarnya. Dia benar-benar robot atau apa? batin Camelia kesal sambil menekan keningnya, pening merayap datang. Camelia berjalan menuju wastafel, sengaja membuat suara gemericik air yang agak ke
Last Updated: 2026-04-24
Chapter: 3. Di Bawah Tatapan Dosen BaruLangkah kaki Camelia terasa berat saat ia menyusuri lorong parkiran kampus yang sepi menuju mobil miliknya. Berjalan santai dengan wajah yang sengaja dia pasang secuek mungkin seperti biasa, namun sisi lain batinnya berteriak lelah. Rasanya hari ini luar biasa sekali. Di kampus, ia hanya bertemu Bu Ratri selama lima belas menit dan berhadapan dengan Pak Kenan kurang dari sepuluh menit, namun energi di tubuhnya seolah terkuras habis hingga ke tetes terakhir. Pertemuan dengan Kenan bahkan meninggalkan sensasi kegerahan yang tidak nyaman dan lain daripada ia bertemu dengan banyak pria diluar sana. Setibanya di apartemen, Camelia berusaha mengusir bayangan dingin Kenan dengan dunianya sendiri. Sambil menyantap makanan yang dipesan online, ia mulai membuka ponsel. Di sanalah Miss Jiwa hidup. Ia membalas satu per satu pesan yang masuk mulai dari curhatan tentang pasangan, solusi-solusi manipulatif yang dikemas sebagai nasehat juga ia berikan, hingga senda gurau yang dibumbui rayuan maut
Last Updated: 2026-04-24
Chapter: 2. Dosen Pembimbing BaruCamelia keluar dari ruangan Bu Ratri dengan bahu merosot, langkahnya terasa berat. Tapi segera dia kembalikan moodnya agar terlihat kuat dan tak tersentuh seperti biasa. Kenan Abimanyu? Nama itu terdengar seperti nama tokoh antagonis di novel-novel yang sering ia baca. Sambil berjalan di koridor, ia merogoh ponselnya, mengecek grup "Miss Jiwa House". Ia butuh asupan sedikit ego untuk menaikkan mood-nya yang mendadak hancur. “Ada mangsa baru, Lucifer mendaftar,” gumamnya saat melihat satu akun baru masuk. Ia menyeringai tipis. Nanti malam ia akan mengurus si Lucifer ini, niat dalam hati. Karena terlalu fokus pada layar ponsel, Camelia tidak memperhatikan tikungan di depan lorong lantai dua. BRAK! "Aduh!" Camelia terhuyung. Bahunya menghantam sesuatu yang keras seperti tembok beton, namun hangat dan beraroma kayu. Ponselnya nyaris saja terpelanting ke lantai kalau saja dia tidak cepat menangkap. "Ck. Jalan pakai mata, Nona," sahut sebuah suara bariton yang sangat dingin, re
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: 1. Sang Pemanen JiwaAroma maskulin bercampur wangi floral yang tajam memenuhi ruangan kamar hotel yang masih temaram pagi ini. Sisa-sisa kegilaan semalam berserakan di atas karpet bulu, dengan banyaknya bukti seperti sebotol wine yang sudah tiris, tumpukan pakaian, bungkus bekas "permen" dimana-mana dan napas berat seorang pria yang baru saja terbangun dari mimpi indahnya. "Selamat pagi, Princess..." Camelia hanya menjawab dengan erangan malas. Kepalanya masih sedikit berdenyut, efek dari kurang tidur dan permainan panjang yang baru saja berakhir beberapa jam lalu. "Hmmm..." "Makasih ya, kamu luar biasa sekali semalam. Mau nggak kita ulangi lagi pagi ini?" Suara pria di sebelahnya terdengar serak, khas orang bangun tidur, tapi penuh harap. "No... Sana menjauh. Aku mau pulang sekarang, Devan," jawab Camelia dingin, suaranya kini mulai terdengar jernih namun tanpa emosi. Kosong. "Yah... Please, Miss Jiwa... Aku akan jadi pria paling penurut buat kamu. Aku benar-benar jatuh hati, aku... a
Last Updated: 2026-04-22