로그인"Lo bener-bener iblis, Raga," desis Camelia dengan nada suara yang bergetar menahan amarah, matanya menatap tajam sepupu Kenan yang sedang merapikan kerah kemejanya dengan begitu santai di lorong remang dekat gudang. Raga hanya menyunggingkan seringai tipis yang teramat mengejek. "Bukannya lo yang nikmatin setiap detik dorongan gue tadi, Kak? Suara desahan lo nggak bisa bohong. Tubuh lo tuh selalu kangen sama keliaran gue." "Cabut dari sini sekarang sebelum gue bener-bener lupa diri dan tebas leher lo!" ancam Camelia seraya membetulkan gaun santainya yang sempat berantakan. Raga mengedipkan sebelah matanya penuh kemewahan dosa, lalu melangkah santai meninggalkan lorong gelap itu menuju area living room seolah tidak pernah terjadi adegan panas di antara mereka beberapa menit lalu. Begitu sosok Raga tak lagi terlihat, Camelia bergegas melangkah masuk ke dalam kamar mandi utama. Dia langsung menyalakan pancuran air hangat, berdiri di bawah g
"Jangan pernah sentuh atau ganggu Camelia, atau gue patahin kaki lo," tegur Kenan dengan nada suara yang teramat dingin dan mengintimidasi. Matanya menatap lurus sosok pria muda berpenampilan modis yang baru saja meletakkan koper besar di sudut living room penthouse. Raga—sepupu Kenan yang baru saja menyelesaikan program pertukaran pelajar di Jepang—terkekeh santai. Dia mengangkat kedua tangannya ke udara seolah menyerah. "Santai dong, Bang Kenan. Gue baru landing nih, masa langsung disambut ancaman? Gue cuma mau nengok calon kakak ipar gue yang cantik ini." Camelia yang sedang berdiri di dekat meja bar hanya menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Dia mengenal betul tabiat Raga. Dulu, sebelum pria ini berangkat ke Jepang, mereka pernah terlibat permainan gila yang tersembunyi dari pengetahuan siapa pun. Raga adalah tipe pria yang pantang dilarang; makin keras Kenan mempagari, makin tertantang Raga untuk membongkarnya dengan cara yang ektrem. "Gue ada rapat darurat sama dewan
"Gue masih nggak percaya dua hari lagi gue bakal resmi jadi Nyonya Kenan Abimanyu," gumam Camelia sembari menatap pantulan dirinya di cermin kamar utama apartemen Kenan. Gaun malam dari sutra tipis melekat di tubuh rampingnya, sementara jemarinya mengelus cincin pertunangan berlian yang melingkar sempurna di jari manisnya. Kenan yang baru keluar dari kamar mandi hanya mengenakan celana tidur hitam, memperlihatkan dada bidang serta perut berototnya yang masih basah oleh sisa titik air. Pria itu melangkah mendekat dari belakang, menyusupkan kedua lengannya memeluk pinggang Camelia, menarik tubuh gadis itu hingga menempel rapat pada dadanya. "Kenapa? Lo masih berniat buat kabur dari gue, Nona Camelia?" bisik Kenan rendah di ceruk leher Camelia. Bibirnya menyapu lembut kulit sensitif di sana, memicu denyut hangat yang membakar ulu hati sang mahasiswi. Camelia menyandarkan kepalanya di bahu Kenan, membiarkan jemari tangannya menyusup ke sela-sela rambut basah sang dosen. "Nggak akan
"Jangan pernah sentuh milik gue dengan tangan kotor lo itu, bajingan!" desis Kenan dengan suara bariton yang teramat dingin dan mengintimidasi. Cengkeraman tangan Kenan di pergelangan tangan Restu begitu kuat, seolah sanggup meremukkan tulang belulang pria itu dalam sekali pukulan. Restu terkesiap, matanya membelalak kaget saat menyadari keberadaan sang dosen muda yang mendadak muncul dari balik pintu rahasia. "Bangsat lo, Kenan!" teriak Restu histeris. Mengabaikan rasa sakit pada pergelangan tangannya, Restu mencoba mengayunkan pisau lipatnya menggunakan tangan kiri untuk menyayat dada Kenan. Namun, Kenan bergerak jauh lebih cepat. Dengan keliaran ala Lucifer yang dominan, Kenan memutar tubuh Restu secara brutal, memelintir tangannya ke belakang hingga bunyi krek nyaring bergema di seluruh ruangan. Pisau lipat taktis itu terlepas dari genggaman Restu, jatuh berdenting ke atas lantai kayu. "Arghhh!" Restu mengerang kesakitan, tubuhnya tersungkur ke lantai dengan posisi mengun
"Abang khawatir banget sama kamu, Ca! Kamu nggak diapain-apain sama Kenan, kan?" ujar Restu dengan napas memburu panik. Pria itu berhambur mendekat, langsung berlutut di depan sofa tempat Camelia duduk, berusaha meraih kedua tangan mahasiswi tersebut dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa iba. Camelia tidak bergerak. Dia membiarkan Restu menggenggam jemarinya yang terasa dingin, menatap wajah pria di hadapannya yang begitu rapi memainkan peran sebagai pelindung sejati. "Gue nggak apa-apa, Bang," jawab Camelia dengan suara pelan yang terdengar rapuh, memainkan sandiwaranya secara sempurna. "Gue cuma capek. Gue pikir gue bisa mengendalikan semua pria di hidup gue, tapi Kenan beda. Dia gila, Bang." Restu menyunggingkan senyum lembut yang menenangkan, mengelus punggung tangan Camelia dengan penuh rasa hangat. "Kan Abang sudah pernah bilang sama kamu dari awal, Ca. Pria-pria di luar sana itu cuma mau manfaatin kamu. Cuma Abang yang benar-benar peduli dan mengerti rasa sakit kamu. Se
"Bajingan ...." bisik Camelia dengan nada suara yang teramat dingin. Jemarinya mencengkeram tepi meja kerja Kenan hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang tajam menatap lurus layar ponsel yang masih menampilkan pesan penuh perhatian dari Restu. "Pria yang selama ini gue panggil abang ... tempat gue numpahin rasa sakit gue ... ternyata bajingan sakit jiwa yang mau hancurin hidup gue secara perlahan." Kenan melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Camelia. Kedua tangannya mendarat di bahu gadis itu, memberikan kehangatan sekaligus usapan yang menenangkan. "Jangan biarkan emosi lo menguasai logika mahal lo itu, Ca. Sekarang lo tahu siapa musuh sebenarnya. Ini saatnya kita balik mengurung dia." Camelia menghembuskan napas panjang, meredam gelombang kekecewaan yang sempat mencubit dadanya. Ketika dia mendongak, tatapannya sudah kembali keras dan penuh perhitungan khas seorang predator. "Lo benar. Dia pikir gue kelinci percobaan yang bisa dia permainkan emosinya? Dia salah b
Pintu lift khusus penghuni apartemen tertutup rapat, menyembunyikan senyuman sinis di wajah Kenan seiring dengan bergeraknya lift menuju lantai teratas. Di dalam genggamannya, dua kantong plastik besar berisi berbagai macam merek pembalut bersayap bergemerisik dalam genggaman."Sialan! Apa yang gue
Camelia masuk ke dalam mobilnya dengan gontai, rasanya energinya terkuras habis. Dia menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi kemudi lalu menutup pintu mobil dengan kasar. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, dia harus tetap mengikuti perintah Kenan untuk berangkat ke Bali awal bulan depan. Alasan
Camelia membalikkan tubuhnya dengan gerakan yang sangat anggun. Dia melangkah perlahan menjauhi area bar, membiarkan rambut panjangnya berayun mengikuti ritme kakinya yang sengaja dibuat tetap tenang. Di bawah pengaruh alkohol yang mulai membuat kesadarannya menipis, ego Miss Jiwa justru mendomin
Kenan menghentikan langkahnya di dekat meja bundar dengan sorot mata terkejut saat menangkap sosok Camelia duduk di sebelah Raga. Namun, ekspresi keterkejutan itu langsung disembunyikan dengan sangat rapi dalam hitungan detik, kembali berganti menjadi wajah dingin yang formal. "Baru sampai lo, Ba







