LOGINSatu misi Camelia a.k.a Miss Jiwa yaitu membuat para pria memujanya, lalu curi jiwanya, dan ghosting tanpa ampun. Sebagai predator cinta, Camelia tak pernah kalah, sampai Dr. Kenan Abimanyu datang mengacaukan segalanya. Dosen pembimbing berdarah dingin ini tidak hanya mengancam kelulusan Camelia, tapi juga menyimpan rahasia yang jauh lebih gelap dari persona "Miss Jiwa". Di kampus Kenan menjerat, di dunia maya ia mengintai. Siapa yang sebenarnya sedang berburu, dan siapa yang akan menjadi mangsa?
View MoreAroma maskulin bercampur wangi floral yang tajam memenuhi ruangan kamar hotel yang masih temaram pagi ini. Sisa-sisa kegilaan semalam berserakan di atas karpet bulu, dengan banyaknya bukti seperti sebotol wine yang sudah tiris, tumpukan pakaian, bungkus bekas "permen" dimana-mana dan napas berat seorang pria yang baru saja terbangun dari mimpi indahnya.
"Selamat pagi, Princess..." Camelia hanya menjawab dengan erangan malas. Kepalanya masih sedikit berdenyut, efek dari kurang tidur dan permainan panjang yang baru saja berakhir beberapa jam lalu. "Hmmm..." "Makasih ya, kamu luar biasa sekali semalam. Mau nggak kita ulangi lagi pagi ini?" Suara pria di sebelahnya terdengar serak, khas orang bangun tidur, tapi penuh harap. "No... Sana menjauh. Aku mau pulang sekarang, Devan," jawab Camelia dingin, suaranya kini mulai terdengar jernih namun tanpa emosi. Kosong. "Yah... Please, Miss Jiwa... Aku akan jadi pria paling penurut buat kamu. Aku benar-benar jatuh hati, aku... aku nggak bisa lepas dari kamu, Miss." Devan duduk bersandar di kepala ranjang masih di atas kasur, menatap punggung Camelia yang kini sudah berdiri di depan sofa. Wanita yang dipanggil Miss Jiwa itu tidak peduli sama sekali. Dia malah lanjut memejamkan mata dengan memeluk bantal yang ia tarik dari badan Devan dan membelakanginya. “Tidur sana. Nanti kamu kan kerja. Mumpung masih jam 6 pagi.” “Baik, Tuan Putri.” Devan mengecup lembut bahu Camelia yang terbuka. Dia membetulkan letak selimut hingga menutupi dada mereka dan dia memilih tidur terlentang sebelum kembali terlelap. "Drrrt. Drrrt. Drrrt." Setelah malam yang panjang bersama Devan, Camelia hanya sempat memejamkan mata selama tiga jam. Ia baru saja bermimpi sedang menenggelamkan semua berkas skripsinya ke laut saat suara melengking dari ponselnya memaksa kesadarannya kembali ke dunia nyata. "Sial... siapa sih?" gerutunya dengan suara serak. Ia menarik selimut menutupi kepala, mencoba mengabaikan getaran itu. Namun, ponselnya seolah kerasukan arwah gentayangan, terus menjerit tanpa henti pagi ini. Begitu ia mengintip layar ponsel dari balik selimut, jantung Camelia nyaris melompat keluar. 25 Panggilan Tak Terjawab: Bu Ratri. "Mati gue!" Camelia langsung terduduk kaku. Efek alkohol masih tersisa sedikit dan lelah semalam menguap seketika, digantikan oleh adrenalin yang terpacu. Ia melirik jam di dinding sudah pukul 09.15 pagi, lewat dari sesi bimbingan yang seharusnya dimulai dua jam yang lalu. Sebagai mahasiswi Biologi semester akhir yang sudah dicap "hampir kadaluarsa", ini adalah bencana nasional lagi dan lagi baginya. "Aduh... alasan apa lagi ya? Sakit sudah, ban bocor sudah, nenek meninggal sudah dua kali..." Camelia berpikir keras sambil mengacak rambutnya yang panjang dan berantakan. "Ah, bodo amat. Bilang aja nanti HP nggak sengaja ke mode diam." "Kamu kenapa?" Tanya Devan yang baru saja selesai mengangkat panggilan dari asistennya. Dia sudah rapi dan wangi bersiap untuk ke kantor. "Diam, Dev! Gue buru-buru." Ia sibuk memungut gaun hitamnya yang teronggok mengenaskan di atas sofa kulit. Dengan gerakan elegan namun cepat, ia menyelinap masuk ke dalam gaunnya memakai dengan hati-hati, lalu berjalan menuju meja rias. Di depan cermin besar, ia memoles kembali make-up tipis untuk menutupi jejak lelah di wajahnya. Rambut hitam legamnya yang semula berantakan kini ia urai dengan cantik, menutupi bahu yang masih menyimpan sedikit bekas kemerahan hasil dari Devan yang memberi tanda dimana-mana. "Ok, ok, Miss. Tapi nanti bisa aku hubungi kamu lagi, kan? Please, jangan buang aku. Aku butuh kamu," mohon Devan lagi. Pria sukses di dunia bisnis itu kini tampak seperti anak kecil yang kehilangan arah di depan Camelia. Dia jelas tidak mau kehilangan Camelia alias Miss Jiwa yang sudah membuatnya jatuh hati dan melupakan kekasihnya yang sudah berselingkuh. Camelia jelas tidak menjawab. Ia langsung menyambar tas tangannya, memakai kacamata hitam berbingkai besar, lalu berjalan menuju pintu. "Duluan!" "Miss! Miss! Akh...!" BLAM! Suara pintu kamar hotel yang tertutup rapat menjadi akhir dari drama Devan pagi itu. Tepat setelah pintu terkunci, Camelia memasang masker hitamnya. Ia berjalan menuju lift dengan langkah anggun, kepalanya tegak seolah ia baru saja memenangkan sebuah medali, permainan selesai. Begitu juga dengan nama "Devan". *** Satu jam kemudian, di kampus. "Saya menyerah, Camelia! Saya menyerah!" suara Bu Ratri menggelegar di dalam ruangan dosen yang sempit itu, membuat beberapa dosen lain melirik sekilas tanpa sengaja saat melintas di depan ruangan Bu Ratri. Camelia menunduk sedalam mungkin, meremas ujung kemeja flanelnya dengan wajah sangat menyesal dan bersalah. Ia memasang wajah paling melas yang ada di stok aktingnya. "Maaf, Bu. Saya tadi... ketiduran karena begadang mengerjakan revisian, Bu. HP juga saya mode diam." "Tidak ada tapi-tapi! Kamu itu cerdas, Camelia. Saya tahu kamu bisa menganalisis data-data dengan luar biasa, tapi malasmu itu sudah di stadium empat! Kamu tahu sudah berapa mahasiswa bimbingan saya yang sudah wisuda sementara kamu masih berkutat di bab yang sama selama setahun?" "Bu, tolong... satu kesempatan lagi," bisik Camelia lirih dengan wajah ketakutan. "Tidak. Saya sudah bicara dengan ketua jurusan. Saya mengundurkan diri sebagai pembimbing kamu. Kamu akan dialihkan ke dosen pembimbing baru." Bu Ratri menghela napas panjang, menatap Camelia dengan perpaduan rasa kasihan dan juga jengkel. "Saya harap dosen ini bisa menjinakkan kamu. Dia masih muda, sangat pintar, lulusan terbaik dari Jerman. Tapi ingat Camelia, yang saya tahu dia sangat disiplin. Jangan harap kamu bisa pakai alasan nenek meninggal atau ban bocor lagi padanya." Camelia membeku. "S-siapa, Bu?" "Dr. Kenan Abimanyu. Pergi ke ruangannya sekarang di lantai dua, nomor 204 paling pojok. Dia sudah menunggu kedatangan kamu."Camelia merutuki kebodohannya dalam hati. Bagaimana bisa ia tidak tahu kalau Midnight Garden, tempat yang ia anggap sebagai wilayah kekuasaannya, ternyata milik dosen pembimbingnya sendiri? Ia merasa seperti kancil yang merasa paling cerdik, padahal sedang menari di atas telapak tangan harimau. Namun, Camelia sudah membulatkan tekad. Ia tidak boleh terpancing. Fokusnya sekarang hanya satu: kerjakan penelitian secepat mungkin, selesaikan skripsi, lalu menghilang selamanya dari radar dosen dingin ini. Ia harus menjadi mahasiswi yang paling membosankan dan penurut agar Kenan tidak punya alasan untuk menahannya lebih lama. Satu jam terakhir di kafe itu diisi dengan upaya Camelia menunjukkan keseriusannya. Beberapa kali ia memberanikan diri bertanya tentang poin-poin yang kurang dia pahami dalam jurnal yang sedang ia bedah. "Pak, soal bagian analisis ini... apakah saya harus membandingkan dengan teori yang lama atau langsung fokus ke hasil yang baru?" tanya Camelia hati-hati.
Camelia berdiri di depan cermin apartemennya dengan perasaan campur aduk. Perintah Kenan kemarin terus terngiang, seolah berbisik tepat di telinganya, “Pakai sesuatu yang menunjukkan kalau kamu punya... jiwa.”"Hah, bapak-bapak dingin dan otoriter itu. Argh!" Gerutu Camelia sambil membuka lemari pakaiannya, ia sempat tergoda untuk menarik gaun merah satin dengan potongan rendah—seragam kebesarannya sebagai "Miss Jiwa". Ia ingin muncul begitu saja dan menantang Kenan secara terbuka di medannya sendiri. Namun, akal sehatnya segera menyentakkan kesadarannya. Jika ia melakukannya sekarang, skripsinya akan tamat, dan Kenan punya seribu cara untuk menghancurkan reputasinya sebelum ia sempat lulus. "Jangan macam-macam, Cantik. Saatnya kamu bermain aman," ucapnya pada diri sendiri sambil menatap pantulannya di cermin. Sambil memoles tipis bibirnya, Camelia teringat pesan dari Lucifer semalam yang mengajaknya bertemu sore ini. Sebuah seringai kecil muncul di wajahnya. Ia sudah membalas pe
Bunyi detak jam dinding di laboratorium lantai tiga terdengar seperti dentang lonceng kematian yang terasa lambat. Sudah masuk jam ketiga sejak istirahat makan siang berakhir, dan Camelia merasa otaknya sudah mencapai titik didih. Bahunya benar-benar terasa kaku, dan jari tangannya mulai gemetar karena terlalu lama memegang alat-alat laboratorium. Di ujung meja, Kenan duduk dengan tenang. Pria itu tampak seperti tidak memiliki saraf lelah sedikit pun. Tangannya sesekali menggoreskan pena di atas jurnal di hadapannya, sementara kopi hitam di sampingnya masih mengepulkan aroma yang kini mulai membuat Camelia mual. Entah sudah cangkir ke berapa yang Kenan seduh—aroma pahit itu seolah menjajah paru-parunya, mengingatkannya pada intimidasi yang Kenan berikan setiap kali pria itu melintas di sekitarnya. Dia benar-benar robot atau apa? batin Camelia kesal sambil menekan keningnya, pening merayap datang. Camelia berjalan menuju wastafel, sengaja membuat suara gemericik air yang agak ke
Langkah kaki Camelia terasa berat saat ia menyusuri lorong parkiran kampus yang sepi menuju mobil miliknya. Berjalan santai dengan wajah yang sengaja dia pasang secuek mungkin seperti biasa, namun sisi lain batinnya berteriak lelah. Rasanya hari ini luar biasa sekali. Di kampus, ia hanya bertemu Bu Ratri selama lima belas menit dan berhadapan dengan Pak Kenan kurang dari sepuluh menit, namun energi di tubuhnya seolah terkuras habis hingga ke tetes terakhir. Pertemuan dengan Kenan bahkan meninggalkan sensasi kegerahan yang tidak nyaman dan lain daripada ia bertemu dengan banyak pria diluar sana. Setibanya di apartemen, Camelia berusaha mengusir bayangan dingin Kenan dengan dunianya sendiri. Sambil menyantap makanan yang dipesan online, ia mulai membuka ponsel. Di sanalah Miss Jiwa hidup. Ia membalas satu per satu pesan yang masuk mulai dari curhatan tentang pasangan, solusi-solusi manipulatif yang dikemas sebagai nasehat juga ia berikan, hingga senda gurau yang dibumbui rayuan maut
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.