Chapter: Dimadu 19"Dia lagi nunggu di warung kopi Terminal Kampung Rambutan!"Seruan Lina memecah ketegangan di ruang tamu. Napas wanita hamil itu tersengal, menatap layar ponselnya seolah baru saja mendapat undian lotre. Kepanikannya mendadak pudar, digantikan oleh senyum lega."Syukurlah! Ayo cepet jemput dia pura-pura, habis itu kita baru ke apartemen," balas Bram terburu-buru. Pria itu menyambar dua koper besar dengan kasar, sementara keringat dingin membasahi dahinya.Lina segera menuntun Dito yang masih setengah sadar. Mereka sama sekali tidak mempedulikan kenyamanan anak itu demi menyelamatkan sebuah kebohongan besar."Hati-hati di jalan, Mas. Jangan sampai koper isinya baju mahal itu lecet kejedot pintu," sindir Aruna pelan, namun nadanya setajam silet."Puas kamu sekarang?!" desis Bram tajam di ambang pintu samping. "Kamu bener-bener berubah jadi perempuan licik, Run.""Buru-buru amat marah-marahnya, Mas," kekeh Aruna santai. "Cepat sana pergi, keburu sepupu istrimu lumutan nunggu di terminal.
Last Updated: 2026-03-14
Chapter: Dimadu 18"Kayaknya kalian nggak bisa mutusin ya. Gini deh, ngapain ribet ngusir aku? Kalau otak kalian emang dipake, harusnya kalian berdua aja yang angkat kaki dari rumah ini."Suara Aruna memecah kepanikan. Ia melipat tangan di dada, bersandar dengan santai di kusen pintu sambil menatap dua manusia di depannya.Lina yang tadinya sibuk merengek seketika terdiam. Ia mengerutkan kening, menatap Aruna dengan bingung. "Maksud kamu apa, Run?""Kalian sewa aja apartemen fully furnished atau rumah harian yang mewah di daerah Jakarta Selatan. Tinggal di sana sampe urusan sepupumu itu kelar.""Sewa apartemen?" ulang Bram, wajahnya tampak tidak setuju."Iya, toh, orang kampung Lina nggak tau kan alamat persis rumah Bramantyo yang terhormat ini di mana? Mereka taunya Lina cuma pamer foto di dalem rumah, nggak pernah foto depan pagar."Mata Lina perlahan membulat. Ide cemerlang itu seakan menjadi oase di tengah gurun kepanikannya. Wajahnya yang pucat kembali bersemu, membayangkan ia bisa tetap tampil seb
Last Updated: 2026-03-13
Chapter: Dimadu 17"Aruna! Buka pintunya, Run! Aku mohon, buka sebentar aja!"Gedoran brutal di pintu menggelegar memecah keheningan malam. Aruna yang baru saja memejamkan mata di atas kasur busa tipisnya, terpaksa terbangun. Ia melirik layar ponsel yang retak. Pukul satu dini hari.Dengan langkah gontai dan napas berhembus malas, Aruna memutar kunci grendel dan membuka pintu. Di hadapannya, Lina berdiri dengan wajah pucat pasi, rambut berantakan, dan mata memerah. Di belakang wanita itu, Bram berdiri bersandar pada tembok lorong dengan tangan bersedekap, wajahnya kusut masai seperti kain lap kotor."Ada apa lagi sih?" keluh Aruna datar, menyandarkan bahunya di kusen pintu. "Nggak puas kalian seharian bikin aku muak? Sekarang jatah tidurku juga mau kalian rampas?""Run, tolongin aku. Kali ini aja, please," rengek Lina. Nada suaranya yang tadi sore begitu angkuh, kini berubah menjadi cicitan tikus yang terjepit. Ia bahkan memberanikan diri meraih sebelah tangan Aruna, meski Aruna langsung menepisnya deng
Last Updated: 2026-03-11
Chapter: Dimadu 16"Mas, kamu gila?! Aku nggak mau bikin video itu! Nggak akan pernah!"Lina melemparkan bantal sofa dengan kasar ke arah Bram. Napas wanita hamil itu memburu, wajah cantiknya yang tadi memerah karena akting menangis kini benar-benar pias dilanda kepanikan. Ia menatap suaminya dengan sorot mata tak percaya."Terus kamu mau nunggu Aruna beneran jalan ke Propam besok pagi?" balas Bram dengan nada tinggi, kesabarannya mulai menipis. "Lin, tolong ngertiin posisiku sekarang. Kita lagi di ujung tanduk. Aruna megang kartu mati kita!""Tapi masa aku harus ngemis maaf di sosmed, Mas?!" Lina merengek, menghentakkan kakinya ke lantai. "Muka aku mau ditaruh di mana? Pasti semuanya bakal ngetawain aku! Harga diriku hancur, Mas!""Harga diri?" Bram mendengus sinis, matanya menatap tajam istri sirinya itu. "Waktu kamu diam-diam pakai akun fake buat nyebarin foto Aruna dan fitnah dia maling, kamu mikirin harga diri nggak? Kamu yang mulai main api, Lina! Sekarang apinya bakar kita berdua, kamu malah lepa
Last Updated: 2026-03-10
Chapter: Dimadu 15"Aku emang perempuan bodoh," racau Lina di sela isaknya. "Harusnya aku sadar diri dari dulu kalau aku ini cuma benalu. Harusnya aku nggak usah muncul lagi di kehidupan Mas Bram biar kamu nggak semarah ini. Maafin aku, Aruna ... aku pantes mati aja sekalian sama bayi ini ...."Bram yang berdiri tak jauh dari sofa tampak frustrasi. Pria itu mengusap wajahnya kasar, lalu menatap Aruna dengan sorot memelas sekaligus menuntut."Kamu denger sendiri, kan, Run? Lina udah ngaku salah. Dia nyesel. Jangan keras kepala terus, kasihan dia lagi hamil tua. Turunin sedikit ego kamu," bujuk Bram.Aruna yang masih bersandar di dinding hanya menatap adegan di depannya dengan wajah datar. Tidak ada sebersit pun rasa iba di matanya. Hatinya sudah sedingin es."Udah selesai dramanya?" tanya Aruna tenang, memecah tangisan Lina yang sengaja dibuat-buat. "Kalau udah, sekarang giliran aku yang ngomong."Lina menghentikan isaknya sejenak, mengintip dari sela jari-jarinya."Dengerin baik-baik, karena aku nggak a
Last Updated: 2026-03-09
Chapter: Dimadu 14"Ceraiin dia sekarang, Mas! Aku nggak sudi serumah sama orang gila kayak dia! Liat tuh baju dinas kamu, Mas! Liat baju sutra aku! Semuanya hancur!"Teriakan histeris Lina menyambut kedatangan Bram yang baru saja melangkah masuk ke ruang tengah. Napas pria itu memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia baru saja melihat pemandangan horor di selokan belakang rumah. Bram menatap Aruna yang duduk tenang di sofa sambil membolak-balik majalah lama, seolah tidak terjadi apa-apa."Aruna!" Suara Bram bergetar menahan amarah yang meluap. "Kamu sadar nggak apa yang udah kamu lakuin? Itu atribut negara! Kamu bisa dipidana karena melecehkan simbol institusi!"Aruna menutup majalahnya perlahan, lalu menatap Bram dengan tatapan bosan."Simbol institusi? Bukannya itu cuma kain pel buat kamu selingkuh? Lagian, aku cuma nyuciin kok. Kan, Lina minta bajunya bersih, ya udah aku bersihin sebersih-bersihnya dari dosa kalian.""Mas! Denger, kan, mulutnya?!" Lina menghentak-hentakkan kakinya ke lanta
Last Updated: 2026-03-05