Mag-log inAruna pikir dengan berjuang dari nol bersama sang suami, akan bisa membuatnya diratukan. kenyataannya, ia hanyalah batu pijakan bagi Bram. Kebaikan hati dari Aruna memberikan celah kepada Bram untuk menikahi siri, Lina, sahabat Aruna. Antara cinta dan kecewa, Aruna memilih untuk pergi.
view more"Kamu ngapain pulang sekarang!?"
Aruna baru membuka pintu rumah ketika dikejutkan dengan pertanyaan dari Bram, suaminya. Senyum Aruna seketika lenyap, digantikan oleh rahang yang jatuh menganga. Kotak oleh-oleh brownies bakar yang ia bawa dari Bandung terlepas dari tangannya. Suara kotak kue yang menghantam lantai marmer itu menggema di ruang tengah yang hening. Namun, pemandangan di depan mata Aruna jauh lebih merusak daripada kue yang hancur itu. Di sana, di atas karpet bulu abu-abu kesayangan Aruna, Bram sedang duduk berselonjor santai bersama seorang wanita hamil yang mengenakan daster batik milik Aruna, sedang menyandarkan kepalanya manja di bahu Bram. Yang paling membuat jantung Aruna berhenti berdetak adalah keberadaan seorang bocah laki-laki berusia sekitar enam tahun. Bocah itu sedang tidur pulas dengan berbantalkan paha wanita itu, sementara kakinya yang mungil naik ke atas paha Bram. "Mas?" suara Aruna bergetar hebat, nyaris tak terdengar. Matanya memanas, napasnya tercekat di tenggorokan. "Ini ... ini apa? Kenapa Lina ada di sini?" Bram tidak tampak merasa bersalah. Dia justru berdecak kesal, seolah kedatangan Aruna adalah gangguan besar di siang bolong. Dia menepuk pelan bahu Lina, memberi kode agar wanita itu bangun. Lina adalah sahabat Aruna. "Aruna!" teriak Bram sambil berdiri, sedikit menghalangi pandangan Aruna ke arah Lina dan bocah itu. "Kenapa pulang nggak bilang-bilang? Main masuk aja kayak maling." "Maling? Ini rumahku, Mas!" air mata Aruna mulai tumpah. "Aku mau kasih kejutan. Tapi kenapa malah aku yang dikasih kejutan kayak gini? Lina...?" Lina menguap pelan, mengusap matanya yang masih mengantuk. Dia membenarkan letak dasternya yang sedikit tersingkap, memperlihatkan perut buncitnya yang hamil tua. Wajahnya tenang, bahkan cenderung kesal. "Duh, Aruna ... pelan dikit dong suaranya!" keluh Lina sambil memegangi kepalanya. "Aku lagi pusing banget nih, baru aja bisa tidur sebentar, kamu udah teriak-teriak. Kasihan Dito bangun nanti." Lina mengusap bocah tadi, yang ternyata bernama Dito. Aruna menatap wanita itu tak percaya. "Kamu ... kamu nyalahin aku?" Aruna melangkah maju dengan kaki gemetar, mendekati suaminya. Aruna meraih tangan Bram, menatapnya dengan tatapan memohon. Hatinya hancur, tapi rasa cintanya yang buta membuatnya menyangkal kenyataan. "Mas Bram, bilang sama aku ini nggak kayak yang aku pikirin! Anak itu ... anak siapa, Mas? Kenapa dia tidur di pangkuan kamu?" Bram menepis tangan Aruna. Dia menghela napas panjang, memasang wajah lelah. "Dito itu anakku, Run. Anak kandungku." Aruna terbelalak mendengarnya. Dunia Aruna runtuh seketika. Kakinya lemas hingga ia jatuh terduduk di lantai. "Nggak mungkin," isak Aruna, menggelengkan kepala histeris. Dia memeluk kaki Bram, merendahkan harga dirinya serendah-rendahnya. "Mas, bohong kan? Kita nikah udah lima tahun ... aku baru hamil sekarang. Kapan kamu punya anak segede itu? Mas, tolong jangan bercanda!" "Tuh, kan, Mas. Aruna mulai drama deh," sela Lina dari sofa. Dia mengelus perutnya dengan wajah cemas yang dibuat-buat. "Aku jadi deg-degan nih, Mas. Takut kontraksi dini kalau denger dia nangis-nangis gini. Bawaan bayi jadi ikutan stres." Bram langsung menoleh cemas ke arah Lina. "Sabar ya, Sayang. Tarik napas." Lalu Bram kembali menatap Aruna yang bersimpuh di kakinya. "Aruna, jangan egois," ucap Bram. “Tujuh tahun lalu, waktu aku pendidikan polisi. Kamu selalu sibuk kerja, tidak pernah perhatiin aku." "Aku kerja buat biayain kamu, Mas!" Aruna meraung pelan, suaranya parau. "Aku cari uang buat modal nikah kita ... buat renovasi rumah orang tuamu. Semua demi kamu." "Tapi aku butuh istri, bukan mesin ATM," potong Bram, nadanya seolah dialah yang paling tersakiti. "Jadi ini salahku?" Aruna menatap Bram dengan pandangan nanar. "Kamu selingkuh, kamu nikah siri, kamu punya anak, itu semua salahku?" "Ya, kamu introspeksi diri dong," selak Lina lagi, suaranya begitu enteng. "Kalau kamu becus ngurus suami dari dulu, Mas Bram nggak bakal cari kenyamanan di aku. Aku tuh di sini berkorban tau, Run. Aku rela jadi istri siri, rela ngalah demi kamu selama bertahun-tahun. Sekarang giliran kamu yang ngertiin posisi kami dong. Jangan mau menangnya sendiri." Ucapan Lina begitu menyakitkan, tapi entah kenapa, di telinga Aruna, itu terdengar seperti vonis. Aruna mulai meragukan dirinya sendiri. Apa benar dia yang salah? Apa benar dia terlalu ambisius dulu? "Mas…," Aruna masih mengemis, air matanya membasahi celana Bram. "Aku minta maaf kalau aku salah. Aku udah resign sekarang, Mas. Aku udah di rumah terus buat kamu. Tolong, Mas ... usir Lina. Kita mulai lagi dari awal sama anak kita…" Aruna menunjuk perut buncitnya sendiri. "Nggak bisa," jawab Bram cepat. "Lina lagi hamil anak keduaku. Dia butuh aku. Dito juga butuh ayahnya." "Terus aku gimana, Mas!?’’ Aruna memekik tidak percaya. "Entah," jawab Bram tanpa perasaan. "Kamu tidur di kamar tamu dulu. Jangan bikin keributan." Belum sempat Aruna menjawab lagi, suara yang lain memotongnya. "Ayah?" Suara serak khas bangun tidur terdengar. Bocah laki-laki itu, Dito, terbangun. Dia mengusap matanya, lalu menatap Aruna yang sedang menangis di lantai dengan tatapan bingung. "Ayah, Tante ini siapa? Kok nangis-nangis? Berisik banget, Dito mau tidur lagi," rengek bocah itu manja, langsung memeluk pinggang Bram. Bram tersenyum lembut pada Dito, lalu mengusap kepala anaknya. "Nggak apa-apa, Jagoan. Tante ini cuma tamu." Bram menatap Aruna lagi, kali ini dengan sorot mata mengusir. "Pergi sana, Run." Aruna merasa dadanya sesak bukan main. Ia mencoba berdiri dengan susah payah. Tiba-tiba, rasa nyeri yang tajam menghantam perut bagian bawahnya. Rasanya seperti ditarik paksa. "Ahh!" Aruna memekik, mencengkeram perutnya. Wajahnya memucat. "Mas ... sakit ... perutku sakit banget, Mas." Keringat dingin mengucur di pelipis Aruna. Dia mengulurkan tangan pada Bram, berharap suaminya akan menangkapnya. Tapi Bram tidak bergerak. Dia justru sibuk menggendong Dito yang merengek minta digendong. "Jangan akting deh!" cibir Lina dari sofa. "Aku juga hamil tua, nggak manja kayak kamu. Dikit-dikit sakit, dikit-dikit ngeluh. Mas Bram capek tau, Run. Jangan nambah beban pikiran dia." Aruna mengabaikan Lina. Ia meringis lagi. "Aku sakit beneran, Mas. Tolong ...." Aruna merintih, tubuhnya limbung. Bram menatapnya sekilas, lalu membuang muka. "Kamu istirahat aja di kamar tamu, nanti sakitnya juga hilang. Aku mau nidurin Dito dulu di kamar utama.""Dia lagi nunggu di warung kopi Terminal Kampung Rambutan!"Seruan Lina memecah ketegangan di ruang tamu. Napas wanita hamil itu tersengal, menatap layar ponselnya seolah baru saja mendapat undian lotre. Kepanikannya mendadak pudar, digantikan oleh senyum lega."Syukurlah! Ayo cepet jemput dia pura-pura, habis itu kita baru ke apartemen," balas Bram terburu-buru. Pria itu menyambar dua koper besar dengan kasar, sementara keringat dingin membasahi dahinya.Lina segera menuntun Dito yang masih setengah sadar. Mereka sama sekali tidak mempedulikan kenyamanan anak itu demi menyelamatkan sebuah kebohongan besar."Hati-hati di jalan, Mas. Jangan sampai koper isinya baju mahal itu lecet kejedot pintu," sindir Aruna pelan, namun nadanya setajam silet."Puas kamu sekarang?!" desis Bram tajam di ambang pintu samping. "Kamu bener-bener berubah jadi perempuan licik, Run.""Buru-buru amat marah-marahnya, Mas," kekeh Aruna santai. "Cepat sana pergi, keburu sepupu istrimu lumutan nunggu di terminal.
"Kayaknya kalian nggak bisa mutusin ya. Gini deh, ngapain ribet ngusir aku? Kalau otak kalian emang dipake, harusnya kalian berdua aja yang angkat kaki dari rumah ini."Suara Aruna memecah kepanikan. Ia melipat tangan di dada, bersandar dengan santai di kusen pintu sambil menatap dua manusia di depannya.Lina yang tadinya sibuk merengek seketika terdiam. Ia mengerutkan kening, menatap Aruna dengan bingung. "Maksud kamu apa, Run?""Kalian sewa aja apartemen fully furnished atau rumah harian yang mewah di daerah Jakarta Selatan. Tinggal di sana sampe urusan sepupumu itu kelar.""Sewa apartemen?" ulang Bram, wajahnya tampak tidak setuju."Iya, toh, orang kampung Lina nggak tau kan alamat persis rumah Bramantyo yang terhormat ini di mana? Mereka taunya Lina cuma pamer foto di dalem rumah, nggak pernah foto depan pagar."Mata Lina perlahan membulat. Ide cemerlang itu seakan menjadi oase di tengah gurun kepanikannya. Wajahnya yang pucat kembali bersemu, membayangkan ia bisa tetap tampil seb
"Aruna! Buka pintunya, Run! Aku mohon, buka sebentar aja!"Gedoran brutal di pintu menggelegar memecah keheningan malam. Aruna yang baru saja memejamkan mata di atas kasur busa tipisnya, terpaksa terbangun. Ia melirik layar ponsel yang retak. Pukul satu dini hari.Dengan langkah gontai dan napas berhembus malas, Aruna memutar kunci grendel dan membuka pintu. Di hadapannya, Lina berdiri dengan wajah pucat pasi, rambut berantakan, dan mata memerah. Di belakang wanita itu, Bram berdiri bersandar pada tembok lorong dengan tangan bersedekap, wajahnya kusut masai seperti kain lap kotor."Ada apa lagi sih?" keluh Aruna datar, menyandarkan bahunya di kusen pintu. "Nggak puas kalian seharian bikin aku muak? Sekarang jatah tidurku juga mau kalian rampas?""Run, tolongin aku. Kali ini aja, please," rengek Lina. Nada suaranya yang tadi sore begitu angkuh, kini berubah menjadi cicitan tikus yang terjepit. Ia bahkan memberanikan diri meraih sebelah tangan Aruna, meski Aruna langsung menepisnya deng
"Mas, kamu gila?! Aku nggak mau bikin video itu! Nggak akan pernah!"Lina melemparkan bantal sofa dengan kasar ke arah Bram. Napas wanita hamil itu memburu, wajah cantiknya yang tadi memerah karena akting menangis kini benar-benar pias dilanda kepanikan. Ia menatap suaminya dengan sorot mata tak percaya."Terus kamu mau nunggu Aruna beneran jalan ke Propam besok pagi?" balas Bram dengan nada tinggi, kesabarannya mulai menipis. "Lin, tolong ngertiin posisiku sekarang. Kita lagi di ujung tanduk. Aruna megang kartu mati kita!""Tapi masa aku harus ngemis maaf di sosmed, Mas?!" Lina merengek, menghentakkan kakinya ke lantai. "Muka aku mau ditaruh di mana? Pasti semuanya bakal ngetawain aku! Harga diriku hancur, Mas!""Harga diri?" Bram mendengus sinis, matanya menatap tajam istri sirinya itu. "Waktu kamu diam-diam pakai akun fake buat nyebarin foto Aruna dan fitnah dia maling, kamu mikirin harga diri nggak? Kamu yang mulai main api, Lina! Sekarang apinya bakar kita berdua, kamu malah lepa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu