LOGINAruna pikir dengan berjuang dari nol bersama sang suami, akan bisa membuatnya diratukan. kenyataannya, ia hanyalah batu pijakan bagi Bram. Kebaikan hati dari Aruna memberikan celah kepada Bram untuk menikahi siri, Lina, sahabat Aruna. Antara cinta dan kecewa, Aruna memilih untuk pergi.
View More"Dia lagi nunggu di warung kopi Terminal Kampung Rambutan!"Seruan Lina memecah ketegangan di ruang tamu. Napas wanita hamil itu tersengal, menatap layar ponselnya seolah baru saja mendapat undian lotre. Kepanikannya mendadak pudar, digantikan oleh senyum lega."Syukurlah! Ayo cepet jemput dia pura-pura, habis itu kita baru ke apartemen," balas Bram terburu-buru. Pria itu menyambar dua koper besar dengan kasar, sementara keringat dingin membasahi dahinya.Lina segera menuntun Dito yang masih setengah sadar. Mereka sama sekali tidak mempedulikan kenyamanan anak itu demi menyelamatkan sebuah kebohongan besar."Hati-hati di jalan, Mas. Jangan sampai koper isinya baju mahal itu lecet kejedot pintu," sindir Aruna pelan, namun nadanya setajam silet."Puas kamu sekarang?!" desis Bram tajam di ambang pintu samping. "Kamu bener-bener berubah jadi perempuan licik, Run.""Buru-buru amat marah-marahnya, Mas," kekeh Aruna santai. "Cepat sana pergi, keburu sepupu istrimu lumutan nunggu di terminal.
"Kayaknya kalian nggak bisa mutusin ya. Gini deh, ngapain ribet ngusir aku? Kalau otak kalian emang dipake, harusnya kalian berdua aja yang angkat kaki dari rumah ini."Suara Aruna memecah kepanikan. Ia melipat tangan di dada, bersandar dengan santai di kusen pintu sambil menatap dua manusia di depannya.Lina yang tadinya sibuk merengek seketika terdiam. Ia mengerutkan kening, menatap Aruna dengan bingung. "Maksud kamu apa, Run?""Kalian sewa aja apartemen fully furnished atau rumah harian yang mewah di daerah Jakarta Selatan. Tinggal di sana sampe urusan sepupumu itu kelar.""Sewa apartemen?" ulang Bram, wajahnya tampak tidak setuju."Iya, toh, orang kampung Lina nggak tau kan alamat persis rumah Bramantyo yang terhormat ini di mana? Mereka taunya Lina cuma pamer foto di dalem rumah, nggak pernah foto depan pagar."Mata Lina perlahan membulat. Ide cemerlang itu seakan menjadi oase di tengah gurun kepanikannya. Wajahnya yang pucat kembali bersemu, membayangkan ia bisa tetap tampil seb
"Aruna! Buka pintunya, Run! Aku mohon, buka sebentar aja!"Gedoran brutal di pintu menggelegar memecah keheningan malam. Aruna yang baru saja memejamkan mata di atas kasur busa tipisnya, terpaksa terbangun. Ia melirik layar ponsel yang retak. Pukul satu dini hari.Dengan langkah gontai dan napas berhembus malas, Aruna memutar kunci grendel dan membuka pintu. Di hadapannya, Lina berdiri dengan wajah pucat pasi, rambut berantakan, dan mata memerah. Di belakang wanita itu, Bram berdiri bersandar pada tembok lorong dengan tangan bersedekap, wajahnya kusut masai seperti kain lap kotor."Ada apa lagi sih?" keluh Aruna datar, menyandarkan bahunya di kusen pintu. "Nggak puas kalian seharian bikin aku muak? Sekarang jatah tidurku juga mau kalian rampas?""Run, tolongin aku. Kali ini aja, please," rengek Lina. Nada suaranya yang tadi sore begitu angkuh, kini berubah menjadi cicitan tikus yang terjepit. Ia bahkan memberanikan diri meraih sebelah tangan Aruna, meski Aruna langsung menepisnya deng
"Mas, kamu gila?! Aku nggak mau bikin video itu! Nggak akan pernah!"Lina melemparkan bantal sofa dengan kasar ke arah Bram. Napas wanita hamil itu memburu, wajah cantiknya yang tadi memerah karena akting menangis kini benar-benar pias dilanda kepanikan. Ia menatap suaminya dengan sorot mata tak percaya."Terus kamu mau nunggu Aruna beneran jalan ke Propam besok pagi?" balas Bram dengan nada tinggi, kesabarannya mulai menipis. "Lin, tolong ngertiin posisiku sekarang. Kita lagi di ujung tanduk. Aruna megang kartu mati kita!""Tapi masa aku harus ngemis maaf di sosmed, Mas?!" Lina merengek, menghentakkan kakinya ke lantai. "Muka aku mau ditaruh di mana? Pasti semuanya bakal ngetawain aku! Harga diriku hancur, Mas!""Harga diri?" Bram mendengus sinis, matanya menatap tajam istri sirinya itu. "Waktu kamu diam-diam pakai akun fake buat nyebarin foto Aruna dan fitnah dia maling, kamu mikirin harga diri nggak? Kamu yang mulai main api, Lina! Sekarang apinya bakar kita berdua, kamu malah lepa


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews