Chapter: 115. TamatHari yang dinantikan itu akhirnya tiba di bawah langit Jakarta yang cerah. Aula utama salah satu hotel bintang lima terbesar di ibu kota telah disulap menjadi taman botani dalam ruangan yang megah.Ribuan bunga mawar putih dan seruni segar menghiasi setiap sudut, memancarkan keharuman yang menenangkan. Ratusan pasang mata dari kalangan konglomerat, pejabat publik, hingga kerabat dekat tertuju pada altar yang berdiri megah di ujung ruangan.Di atas altar, Damian berdiri dengan setelan tuksedo hitam potongan klasik yang membuatnya tampak sangat gagah. Rahangnya yang tegas sedikit mengeras, memperlihatkan ketegangan yang jarang ia tunjukkan di ruang sidang ataupun ruang rapat komisaris. Jantungnya berdegup kencang saat pintu aula besar itu perlahan terbuka.Joanna melangkah masuk. Ia tampak luar biasa anggun dalam balutan gaun pengantin A-line putih gading dengan ekor panjang yang menjuntai. Tiara kecil di atas sanggulkannya berkilau diterpa lampu aula.Di lengannya, tidak ada sosok ayah
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: 114. Kesibukan Menjelang Hari HDua bulan setelah badai di Zurich mereda, lantai teratas butik pengantin paling eksklusif di Jakarta Selatan ditutup total untuk umum.Ruangan bernuansa putih gading itu dipenuhi dengan deretan gaun pengantin adibusana yang berkilauan di bawah lampu kristal. Musik klasik mengalun lembut, menemani kesibukan persiapan pernikahan yang disebut-sebut sebagai perhelatan termegah tahun ini.Joanna berdiri di atas podium bundar kecil, menatap pantulannya di cermin besar. Ia mengenakan gaun putih potongan A-line dengan detail brokat Prancis yang dijahit tangan di sepanjang lengan dan dadanya."Bagaimana, Tante? Lingkar pinggangnya terlalu ketat tidak?"Suara itu berasal dari Angel. Gadis remaja itu duduk di sofa beledu sambil memangku beberapa katalog payet. Wajahnya yang dulu selalu tampak muram kini terlihat segar dan penuh energi.Sejak kembali dari Swiss, hubungan mereka mencair dengan cepat. Angel bahkan dengan sukarela mengajukan diri menjadi kepala perancang konsep untuk para pengiring
Last Updated: 2026-06-09
Chapter: 113. Kepulangan yang MenangPenerbangan kembali ke Jakarta dengan jet pribadi milik Damian terasa jauh berbeda dari keberangkatan mereka beberapa hari lalu. Tidak ada lagi keheningan yang mencekam atau tatapan penuh kecurigaan.Di dalam kabin yang luas itu, Angel duduk di sofa seberang, tertidur pulas berselimut kain wol tebal setelah meminum obatnya. Wajahnya tampak damai, seolah beban berat yang selama ini menghimpitnya telah menguap bersama udara dingin Swiss.Damian dan Joanna duduk berhadapan di dekat jendela. Di atas meja kecil di antara mereka, beberapa draf pernyataan pers yang disiapkan oleh Anthony sudah tercetak rapi."Anthony sudah mengurus semuanya di Jakarta," ujar Damian sambil menggeser kertas-kertas itu. "Konferensi pers dijadwalkan besok sore, tepat setelah kita mendarat dan beristirahat. Semua media besar sudah mengonfirmasi kehadiran mereka."Joanna mengambil salah satu lembar draf dan membacanya sekilas. "Kau benar-benar akan mengumumkan tanggal pernikahan kita bersamaan dengan klarifikasi k
Last Updated: 2026-06-09
Chapter: 112. Kata Maaf PertamaSuasana di dalam kamar hotel yang mewah itu seketika membeku. Damian segera menarik selimut untuk menutupi bahu Joanna, sementara ia sendiri dengan cepat menyambar bathrobe sutra di pinggir tempat tidur. Jantungnya berdegup kencang, bersiap menghadapi ledakan amarah atau histeria lain dari putrinya.Namun, ledakan itu tidak pernah datang.Angel tetap berdiri di sana. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena amarah, melainkan karena rasa dingin dan kelelahan yang luar biasa. Air mata mulai mengalir di pipinya yang pucat, jatuh menetes ke lantai karpet bulu yang tebal."Angel? Bagaimana kau bisa sampai di sini?" Damian melangkah mendekat dengan hati-hati, suaranya lembut namun penuh kekhawatiran.Angel tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menutup wajahnya dengan kedua tangan dan terisak hebat. Bahunya berguncang, dan suara tangisnya terdengar begitu pilu, suara seorang anak yang baru saja menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya karena kebodoh
Last Updated: 2026-06-08
Chapter: 111. Dominasi di Hotel ZurichSetelah Clara dibawa pergi oleh kepolisian Zurich, ketegangan yang menghimpit selama berhari-hari mendadak lepas. Damian membawa Joanna kembali ke suite mewah mereka di sebuah hotel yang menghadap langsung ke puncak Pegunungan Alpen.Di dalam ruangan yang luas itu, hanya ada keheningan yang intim, kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi di kafe bawah.Damian menutup pintu kamar dengan tendangan pelan. Ia langsung menarik Joanna ke dalam pelukannya, mencium wanita itu dengan intensitas yang hampir meledak.Adrenalin dari kemenangan dan rasa syukur karena Joanna selamat membuat gairahnya memuncak ke level yang belum pernah ia rasakan sebelumnya."Kau sangat berani, Joanna. Sangat berani," bisik Damian di sela ciuman mereka. Suaranya serak, penuh dengan kebanggaan dan keinginan yang mendalam.Joanna tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mencengkeram kerah kemeja Damian, menariknya semakin mendekat. Rasa takut yang sempat menderanya kini
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: 110. Perlawanan Balik JoannaJoanna melangkah masuk ke dalam sebuah kafe kecil yang remang-remang di sudut kota Zurich. Ia sengaja memilih tempat yang tidak terlalu ramai untuk menemui Clara. Setelah pembicaraan telepon dengan Damian, Joanna tahu bahwa kali ini ia tidak bisa hanya diam dan dilindungi. Ia harus menghadapi sumber masalah ini secara langsung.Clara sudah duduk di sana, menyesap espresso dengan gaya angkuh seolah ia masih memegang kendali penuh. Ia tampak terkejut melihat Joanna yang datang sendirian, tanpa pengawalan ketat Damian di sampingnya."Berani juga kau menemuiku tanpa pelindungmu itu," ujar Clara dengan senyum sinis.Joanna duduk di hadapan Clara, meletakkan tas tangannya di atas meja. Ia telah mengaktifkan alat perekam medis tingkat tinggi yang tersembunyi di balik bros blazernya. "Damian sedang menjaga Angel. Aku tidak butuh dia untuk bicara dengan wanita sepertimu."Clara tertawa meremehkan. "Kau pikir dengan menjaga Angel, kau akan mendapatkan simpati? Dia
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: 57. Larangan IstirahatKevin berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat kasar hingga kaki kursi berderit di atas lantai marmer. Ia menatap mangkuk sup yang masih dipegang Ana dengan tangan bergetar. Wajah Kevin merah padam, tidak lagi bisa menyembunyikan amarahnya di depan para tamu.“Cukup, Clara! Ana, taruh mangkuknya. Masuk ke kamarmu sekarang dan istirahat,” perintah Kevin. Suaranya berat dan tidak menerima bantahan.Ana sempat ragu, ia melirik ke arah Clara dengan mata yang mulai berair karena rasa asin yang menyengat di tenggorokannya. Namun, Clara segera menimpali dengan tawa sinis yang sengaja dikeraskan.“Jangan ikut campur, Mas. Ini urusan domestik, urusan aku sebagai nyonya rumah dengan pelayannya. Kamu urus saja bisnismu di kantor,” sahut Clara sambil tetap menekan bahu Ana agar tidak beranjak.“Ini bukan urusan domestik kalau sudah menyangkut penyiksaan, Clara! Dia manusia, bukan binatang!” bentak Kevin.Keheningan yang canggung menyelimuti ruang makan. Para tamu mulai saling lirik, meras
Last Updated: 2026-04-28
Chapter: 56. Sabotase di DapurMalam itu, dapur rumah utama terasa seperti zona perang yang panas dan menyesakkan. Ana sudah berdiri di depan kompor selama hampir lima jam, menyiapkan menu makan malam mewah untuk sepuluh orang kolega sosialita Clara.Keringat membasahi dahi dan punggungnya, namun ia tidak punya waktu untuk mengeluh. Semua harus sempurna jika ia tidak ingin mendengar makian Clara lagi.“Ana, pastikan sup asparagusnya sudah siap. Tamu sebentar lagi duduk,” teriak Clara dari ruang makan, suaranya terdengar sangat manis di depan para tamunya, kontras dengan nada tajam yang biasa ia gunakan.“Sedikit lagi, Nyonya,” sahut Ana sambil mengaduk panci besar berisi sup yang aromanya sudah menggugah selera.Perut Ana mendadak melilit. Mungkin karena ia belum makan sejak pagi karena tugas yang bertumpuk. Ia mematikan api kecil pada sup, lalu bergegas menuju toilet di dekat area servis untuk urusan mendesak. Ia hanya pergi tidak lebih dari dua menit.Namun, dalam dua menit itu, sebuah bayangan merah menyelinap k
Last Updated: 2026-04-28
Chapter: 55. Daftar Pekerjaan MustahilPagi itu, rumah besar milik Kevin dan Clara terasa jauh lebih sunyi namun sangat mencekam. Dua asisten rumah tangga lainnya, Bi Siti dan Sari, sudah mengepak barang-barang mereka sejak subuh.Clara berdiri di ruang tengah dengan angkuh, memegang map berisi laporan keuangan rumah tangga yang ia klaim sebagai alasan pemecatan.“Efisiensi,” ucap Clara dingin saat Ana baru saja selesai menyiapkan sarapan.“Mulai hari ini, Bi Siti dan Sari tidak lagi bekerja di sini. Mas Kevin bilang kita harus mulai berhemat demi stabilitas perusahaan, jadi saya rasa satu orang pelayan saja sudah cukup untuk mengurus rumah ini.”Ana terpaku di depan meja makan. “Nyonya? Tapi rumah ini terlalu besar untuk saya urus sendiri. Saya harus masak, menyapu, mengepel, mencuci baju, sampai mengurus taman...”“Kamu mengeluh?” Clara memotong dengan nada tajam, matanya menyipit penuh kebencian.“Bukankah kamu asisten 'istimewa' pilihan suamiku? Kalau kamu merasa tidak sanggup, pintu keluar terbuka lebar. Tapi ingat, u
Last Updated: 2026-04-28
Chapter: 54. Aku Hidup KarenamuMalam itu, rumah besar tersebut terasa sangat dingin. Acara pesta perusahaan baru saja berakhir dua jam yang lalu, namun ketegangan masih tertinggal di setiap sudut ruangan.Ana sudah melepas setelan blazernya dan kembali mengenakan seragam pelayan yang biasa. Ia berdiri sendirian di dapur yang luas, mencuci tumpukan piring terakhir dengan gerakan mekanis.Suara gemericik air dari keran adalah satu-satunya bunyi yang mengisi kesunyian. Ana terus menunduk, mencoba membuang bayangan wajah Clara yang memegang antingnya di taman hotel tadi. Ia tahu hari-hari tenangnya di rumah ini sudah berakhir.Tiba-tiba, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Ana tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Bau kayu cendana yang familiar mulai memenuhi indra penciumannya.“Tuan, ini sudah malam. Nyonya Clara pasti menunggu di kamar,” ucap Ana tanpa menghentikan pekerjaannya.Kevin tidak menjawab. Ia justru melangkah maju, melewati batas privasi yang biasanya Ana jaga.Sebelum Ana sempat berea
Last Updated: 2026-04-27
Chapter: 53. Menemukan SesuatuDi dalam ballroom, musik masih mengalun, tapi Clara sudah tidak bisa lagi memasang senyum palsunya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok suaminya yang seharusnya berdiri di sampingnya untuk menyalami tamu-tamu penting.Kevin sudah menghilang lebih dari lima belas menit. Matanya beralih ke sudut ruangan, ke arah meja registrasi, dan ia menyadari asisten “tambahan” itu juga tidak ada di posisinya.“Permisi, saya mau cari angin sebentar,” ucap Clara pada Pak Hendra yang sedang asyik bercerita.Clara melangkah cepat menuju pintu samping yang mengarah ke taman hotel. Instingnya mengatakan ada yang tidak beres.Ia tidak memedulikan gaun merahnya yang sedikit terseret di lantai kayu teras. Begitu sampai di area luar, suasana sangat sunyi, hanya ada suara air mancur dan hembusan angin malam.Di balik pohon besar, Kevin melepaskan tautan bibirnya dari Ana. Napas mereka masih berburu, namun telinga Kevin menangkap suara langkah kaki yang mendekat. Suara hak sepatu yang beradu dengan lant
Last Updated: 2026-04-27
Chapter: 52. Pelarian ke TamanBallroom yang megah itu mendadak terasa sesak bagi Ana. Suara denting gelas kristal dan tawa basa-basi para sosialita terdengar seperti dengungan lebah yang menyakitkan telinga.Ia tidak sanggup lagi berdiri di sana, menyaksikan Kevin yang masih betah merangkul pinggang Clara di bawah sorotan lampu panggung. Dengan langkah terburu-buru, Ana menyelinap keluar melalui pintu samping menuju taman belakang hotel yang remang-remang.Udara malam yang dingin langsung menyergap kulitnya, sedikit meredakan panas di dadanya. Ana berjalan menjauh dari kebisingan, menuju sudut taman yang hanya diterangi lampu-lampu hias kecil di sela pepohonan. Ia berhenti di dekat air mancur kecil, mencoba mengatur napasnya yang tersengal.“Kenapa kamu di sini?”Suara itu membuat Ana tersentak. Ia berbalik dan menemukan Kevin sudah berdiri beberapa meter darinya. Jas tuxedo-nya masih rapi, tapi dasi kupu-kupunya sudah sedikit dilonggarkan.“Tuan? Kenapa Tuan di sini? Nyonya Clara pasti mencari Tuan,” ucap Ana sam
Last Updated: 2026-04-27