Chapter: Perubahan yang Mulai TerlihatSuasana meja makan perlahan kembali tenang setelah percakapan tadi. Tidak ada lagi yang benar-benar diperdebatkan, tapi jelas sesuatu sudah berubah—cara mereka melihat, cara mereka berpikir.Yancheng menghabiskan suapan terakhirnya tanpa terburu-buru. Ia tidak banyak bicara lagi, seolah memberi ruang setelah apa yang ia katakan tadi.Beberapa detik kemudian, ia meletakkan sendoknya.“Kalau sudah selesai,” katanya santai sambil berdiri, “aku lanjut olahraga dulu.”Linyue sedikit mengangkat kepala. “Masih lanjut?”“Belum cukup,” jawab Yancheng ringan. “Tadi cuma pemanasan.”Nada bicaranya tidak dibuat-buat.Xueyi meliriknya sekilas. “Kamu tidak takut berlebihan di hari pertama?”Yancheng mengambil handuk di kursinya. “Kalau berhenti sekarang, nanti jadi malas lagi.”Ia menoleh sedikit ke arah mereka berdua. “Lagipula… lebih baik capek karena ini daripada capek karena hal lain.”Linyue tidak menahan senyum tipis.Xueyi tidak berkomentar, tapi tatapannya mengikuti gerakan Yancheng yang su
Last Updated: 2026-05-05
Chapter: Hal Kecil yang Mulai Mengubah SegalanyaMalam semakin larut. Rumah besar itu kembali tenang setelah aktivitas hari ini selesai. Lampu di lorong redup, hanya menyisakan suasana hangat yang nyaman.Di kamar mereka, Zhao Linyue masuk lebih dulu lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan santai. Ia melepas sepatu, menghela napas panjang, baru setelah itu melirik ke arah pintu.Tak lama, Qin Xueyi masuk. Kursi rodanya didorong oleh Lin Suyun sampai ke dalam, lalu Suyun membungkuk sedikit. “Saya di luar, Nona.”Xueyi mengangguk ringan. “Hm.”Pintu tertutup. Kini hanya mereka berdua.Beberapa detik hening.Linyue menyandarkan kepala ke sandaran sofa, lalu membuka suara, “Kak.”Xueyi memutar kursinya sedikit agar menghadap ke arahnya. “Kamu mau bahas dia, kan.”Bukan tanya—lebih seperti sudah tahu.Linyue tersenyum tipis. “Keliatan ya.”“Lumayan.”Linyue tidak bertele-tele. “Menurutmu?”Xueyi tidak langsung jawab. Ia diam sebentar, seolah merapikan pikirannya dulu, baru berkata, “Dia berubah. Itu kelihatan.”Nada suaranya tetap tenan
Last Updated: 2026-05-03
Chapter: Aku Hampir PergiLinyue tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap ke bawah, seolah menyusun sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ucapkan dengan jelas.“Karena…” suaranya pelan, tapi tidak ragu, “aku sebenarnya sudah ingin pergi.”Yancheng terdiam.Linyue menarik napas perlahan sebelum melanjutkan. “Waktu itu aku sudah sampai di titik di mana bertahan tidak masuk akal lagi. Sifatmu… terlalu buruk. Kamu mudah marah, tidak mau dengar siapa pun, dan…” ia berhenti sebentar, “…cara kamu memperlakukanku juga tidak bisa dibilang ringan.”Tangannya kembali saling menggenggam, tapi kali ini lebih tenang.“Aku takut,” lanjutnya jujur. “Bukan sekali dua kali.”Yancheng tidak menyela.“Jadi aku menyiapkan surat cerai,” katanya datar, seolah membicarakan sesuatu yang sudah lama lewat. “Semuanya sudah siap. Tinggal menunggu waktu yang tepat.”Ia akhirnya menoleh ke arah Yancheng, tapi tatapannya tidak menyalahkan. Lebih seperti mengingat sesuatu yang sudah terjadi.“Lalu kecelakaan itu terjadi.”Yancheng menahan
Last Updated: 2026-05-03
Chapter: Kenapa Kamu Masih Bertahan?Mereka berjalan tanpa tujuan jelas beberapa menit setelah kejadian itu. Keramaian mall tetap sama, suara langkah kaki, percakapan, dan musik latar bercampur jadi satu, tapi suasana di antara mereka justru terasa lebih tenang.Zhao Linyue akhirnya berhenti di depan sebuah café dengan interior hangat dan pencahayaan lembut. Ia melirik ke dalam sebentar sebelum berkata, “Kita istirahat sebentar.”Yancheng tidak protes. “Setuju.”Mereka masuk dan memilih meja di dekat jendela. Tang Mimi duduk agak terpisah, memberi ruang tanpa benar-benar menjauh.Pelayan datang, mencatat pesanan singkat, lalu pergi. Tidak lama kemudian, minuman mereka datang—kopi untuk Yancheng, dan minuman dingin untuk Linyue.Beberapa detik pertama, mereka hanya duduk diam. Linyue memutar pelan sedotannya di dalam gelas, lalu berkata tanpa melihat langsung, “Tadi… kamu tidak marah.”Yancheng menyandarkan punggung ke kursi. “Aku harusnya marah?”“Biasanya begitu.”Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Dulu, hal seper
Last Updated: 2026-05-01
Chapter: Menunggu di KoridorSaat Yancheng keluar dari ruang CEO, ia langsung melihat Zhao Linyue berdiri di dekat jendela koridor bersama Tang Mimi. Dari cara Linyue bersandar santai sambil melihat ke luar, orang lain mungkin mengira ia hanya sedang lewat. Namun begitu mata mereka bertemu, Yancheng tahu wanita itu memang sedang menunggu.Ia berjalan mendekat. “Sudah lama di sini?”Linyue menoleh pelan. “Tidak terlalu. Hanya cukup lama untuk tahu kau dipanggil masuk sendirian dan baru keluar sekarang.”Tang Mimi buru-buru menunduk menatap tablet di tangannya, seolah tidak mendengar apa pun.Yancheng menghela napas kecil. “Kalau begitu, pertanyaan berikutnya pasti apa yang kami bicarakan.”“Bagus,” jawab Linyue tenang. “Berarti kau mulai paham.”Mereka berjalan bersama menuju lift. Baru beberapa langkah, tatapan Linyue jatuh ke saku jas Yancheng saat ujung sebuah kartu tampak sedikit keluar.“Apa itu?” tanyanya.Yancheng spontan menutup saku jas dengan tangan. “Bukan apa-apa.”Jawaban yang terlalu cepat justru mem
Last Updated: 2026-04-30
Chapter: Harga Diri dan Kartu HitamMakan siang tiba tepat saat tumpukan pesanan mulai berdatangan ke lantai timur. Kotak pizza disusun seperti menara kecil, ayam goreng memenuhi dua meja rapat kosong, kopi dingin berjejer rapi dalam tray besar, belum lagi burger, kentang goreng, salad, roti, dan berbagai camilan yang entah siapa duluan memesan. Divisi Strategi Digital yang biasanya muram kini berubah seperti festival dadakan. Beberapa pegawai bahkan terlihat bingung harus senang atau takut. “Tuan Gu... ini terlalu banyak.” Yancheng berdiri di dekat pintu sambil melihat lautan makanan itu. “Aku juga baru sadar kalian lapar secara emosional.” Tawa langsung pecah. Luo Wen buru-buru menarik kursi. “Tuan, silakan makan bersama kami.” Pegawai lain ikut menyahut. “Benar, Tuan!” “Kami sisakan pizza terbaik!” “Ayam paha besar untuk Tuan!” Yancheng mengangkat tangan menolak. “Tidak usah. Ini untuk kalian. Habiskan sampai puas.” Ia menatap seluruh ruangan lalu berkata lebih santai, “Dan satu lagi. Jangan
Last Updated: 2026-04-29