LOGIN🧾 Sinopsis Final Gu Yancheng dikenal sebagai pecundang yang dibenci semua orang. Pemabuk, penjudi, kasar, dan perusak rumah tangga meski memiliki dua istri cantik dari keluarga berpengaruh. Namun setelah kecelakaan, ia berubah total. Perubahan itu membuat dua istrinya curiga—CEO yang dingin, dan Putri keluarga yang masih terluka. Di tengah masa lalu yang hancur, Gu Yancheng harus memperbaiki segalanya… termasuk hati dua wanita yang membencinya.
View MoreSuasana meja makan perlahan kembali tenang setelah percakapan tadi. Tidak ada lagi yang benar-benar diperdebatkan, tapi jelas sesuatu sudah berubah—cara mereka melihat, cara mereka berpikir.Yancheng menghabiskan suapan terakhirnya tanpa terburu-buru. Ia tidak banyak bicara lagi, seolah memberi ruang setelah apa yang ia katakan tadi.Beberapa detik kemudian, ia meletakkan sendoknya.“Kalau sudah selesai,” katanya santai sambil berdiri, “aku lanjut olahraga dulu.”Linyue sedikit mengangkat kepala. “Masih lanjut?”“Belum cukup,” jawab Yancheng ringan. “Tadi cuma pemanasan.”Nada bicaranya tidak dibuat-buat.Xueyi meliriknya sekilas. “Kamu tidak takut berlebihan di hari pertama?”Yancheng mengambil handuk di kursinya. “Kalau berhenti sekarang, nanti jadi malas lagi.”Ia menoleh sedikit ke arah mereka berdua. “Lagipula… lebih baik capek karena ini daripada capek karena hal lain.”Linyue tidak menahan senyum tipis.Xueyi tidak berkomentar, tapi tatapannya mengikuti gerakan Yancheng yang su
Malam semakin larut. Rumah besar itu kembali tenang setelah aktivitas hari ini selesai. Lampu di lorong redup, hanya menyisakan suasana hangat yang nyaman.Di kamar mereka, Zhao Linyue masuk lebih dulu lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan santai. Ia melepas sepatu, menghela napas panjang, baru setelah itu melirik ke arah pintu.Tak lama, Qin Xueyi masuk. Kursi rodanya didorong oleh Lin Suyun sampai ke dalam, lalu Suyun membungkuk sedikit. “Saya di luar, Nona.”Xueyi mengangguk ringan. “Hm.”Pintu tertutup. Kini hanya mereka berdua.Beberapa detik hening.Linyue menyandarkan kepala ke sandaran sofa, lalu membuka suara, “Kak.”Xueyi memutar kursinya sedikit agar menghadap ke arahnya. “Kamu mau bahas dia, kan.”Bukan tanya—lebih seperti sudah tahu.Linyue tersenyum tipis. “Keliatan ya.”“Lumayan.”Linyue tidak bertele-tele. “Menurutmu?”Xueyi tidak langsung jawab. Ia diam sebentar, seolah merapikan pikirannya dulu, baru berkata, “Dia berubah. Itu kelihatan.”Nada suaranya tetap tenan
Linyue tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap ke bawah, seolah menyusun sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ucapkan dengan jelas.“Karena…” suaranya pelan, tapi tidak ragu, “aku sebenarnya sudah ingin pergi.”Yancheng terdiam.Linyue menarik napas perlahan sebelum melanjutkan. “Waktu itu aku sudah sampai di titik di mana bertahan tidak masuk akal lagi. Sifatmu… terlalu buruk. Kamu mudah marah, tidak mau dengar siapa pun, dan…” ia berhenti sebentar, “…cara kamu memperlakukanku juga tidak bisa dibilang ringan.”Tangannya kembali saling menggenggam, tapi kali ini lebih tenang.“Aku takut,” lanjutnya jujur. “Bukan sekali dua kali.”Yancheng tidak menyela.“Jadi aku menyiapkan surat cerai,” katanya datar, seolah membicarakan sesuatu yang sudah lama lewat. “Semuanya sudah siap. Tinggal menunggu waktu yang tepat.”Ia akhirnya menoleh ke arah Yancheng, tapi tatapannya tidak menyalahkan. Lebih seperti mengingat sesuatu yang sudah terjadi.“Lalu kecelakaan itu terjadi.”Yancheng menahan
Mereka berjalan tanpa tujuan jelas beberapa menit setelah kejadian itu. Keramaian mall tetap sama, suara langkah kaki, percakapan, dan musik latar bercampur jadi satu, tapi suasana di antara mereka justru terasa lebih tenang.Zhao Linyue akhirnya berhenti di depan sebuah café dengan interior hangat dan pencahayaan lembut. Ia melirik ke dalam sebentar sebelum berkata, “Kita istirahat sebentar.”Yancheng tidak protes. “Setuju.”Mereka masuk dan memilih meja di dekat jendela. Tang Mimi duduk agak terpisah, memberi ruang tanpa benar-benar menjauh.Pelayan datang, mencatat pesanan singkat, lalu pergi. Tidak lama kemudian, minuman mereka datang—kopi untuk Yancheng, dan minuman dingin untuk Linyue.Beberapa detik pertama, mereka hanya duduk diam. Linyue memutar pelan sedotannya di dalam gelas, lalu berkata tanpa melihat langsung, “Tadi… kamu tidak marah.”Yancheng menyandarkan punggung ke kursi. “Aku harusnya marah?”“Biasanya begitu.”Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Dulu, hal seper
Yancheng merapikan lengan bajunya sekali lagi, lalu mundur selangkah dari meja makan.“Aku akan kembali dulu ke kamar.”Nada bicaranya tenang, tidak memerintah, tidak pula dingin seperti biasanya. Ia menatap Zhao Linyue sejenak, lalu menambahkan, “Kalau ada apa-apa, panggil saja.”Setelah itu ia be
Di sisi lain meja, Gu Yancheng sama sekali tidak tahu bahwa setiap gerak-geriknya sedang diamati.Ia masih fokus pada makanan, tetapi sesekali matanya terangkat ke arah Zhao Linyue. Semakin sering ia melihat, semakin sulit baginya memahami satu hal sederhana.'Bagaimana bisa tubuh asli ini memperla
Ketika Gu Yancheng sedang merapikan manset bajunya, seorang pelayan datang terburu-buru lalu berhenti dengan sopan di depan pintu.“Tuan muda, Nona Zhao Linyue sudah menunggu Anda di ruang makan.”Yancheng yang tadinya masih mencoba menata ekspresi langsung menoleh cepat.“Sudah menunggu?”“Benar,
Xu Mingze baru saja hendak mengenakan kemeja ketika langkahnya mendadak goyah. Rasa nyeri tajam menusuk kepalanya tanpa peringatan, begitu kuat sampai pandangannya bergetar. Ia menahan pelipis dengan satu tangan, lalu terhuyung mundur dan jatuh duduk ke tepi kasur. “Ugh... sial... apa lagi sekaran






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.