Masuk🧾 Sinopsis Final Gu Yancheng dikenal sebagai pecundang yang dibenci semua orang. Pemabuk, penjudi, kasar, dan perusak rumah tangga meski memiliki dua istri cantik dari keluarga berpengaruh. Namun setelah kecelakaan, ia berubah total. Perubahan itu membuat dua istrinya curiga—CEO yang dingin, dan Putri keluarga yang masih terluka. Di tengah masa lalu yang hancur, Gu Yancheng harus memperbaiki segalanya… termasuk hati dua wanita yang membencinya.
Lihat lebih banyakAir hangat masih mengalir dari shower tua yang suaranya berisik seperti mesin rusak. Kamar mandi kos itu sempit, dindingnya lembap, dan lampunya berkedip samar. Xu Mingze berdiri di bawah guyuran air sambil mengusap wajahnya pelan.
“Ah... hidupku benar-benar menyedihkan.” Ia mendesah panjang, lalu menoleh ke ember biru di sudut kamar mandi. “Dua puluh lima tahun... pengangguran, tabungan nol, ditolak kerja tujuh kali minggu ini.” Ia tertawa hambar. “Hebat sekali, Xu Mingze. Kalau ada lomba gagal, kau juara nasional.” Dari luar kamar mandi terdengar suara tetangga kos berteriak. “Mingze! Jangan mandi lama-lama! Airnya kecil!” Xu Mingze memutar bola mata. “Iya, iya! Memangnya aku spa di hotel bintang lima?” Ia meraih sabun batang di rak plastik kecil, lalu mulai menggosok bahu sambil terus mengomel sendiri. “Besok harus bangun pagi. Interview jam sembilan. Kali ini pasti diterima.” Ia diam sebentar, lalu mendecih. “...Atau ditolak lagi.” Sabun licin itu terlepas dari tangannya. “Eh?” Plak. Sabun jatuh ke lantai keramik basah dan meluncur ke dekat pintu. Xu Mingze menatapnya kesal. “Bahkan sabun pun meninggalkanku.” Ia membilas rambut cepat, lalu mematikan shower. Kamar mandi mendadak sunyi, hanya tersisa bunyi tetesan air. “Handuk... handuk...” Ia mengulurkan tangan ke gantungan dekat pintu. Ujung jarinya hampir menyentuh handuk lusuh warna abu-abu. “Satu langkah lagi. Hidup masih bisa diselamatkan.” Kakinya bergerak maju. Lalu menginjak sesuatu yang licin. “...Hah?” Tubuhnya kehilangan keseimbangan seketika. “WOI—TUNGGU—” Brak! Tubuhnya terpelanting ke belakang. Kepalanya menghantam ubin dengan bunyi keras yang mengerikan. Handuk jatuh menyusul ke wajahnya. Semua hening. Air dari keran yang tidak tertutup rapat menetes perlahan. Tik. Tik. Tik. Di luar, suara tetangga terdengar lagi. “Mingze? Masih hidup?” Tidak ada jawaban. “Hei! Jangan tidur di kamar mandi!” Tetap sunyi. Beberapa menit berlalu. Lampu kamar mandi berkedip sekali, dua kali, lalu stabil kembali. Tubuh Xu Mingze terbaring diam di lantai dingin, sementara sabun batang itu berhenti tepat di dekat tangannya. Seolah mengejek. Dari luar pintu, tetangga mulai mengetuk. “Mingze? Oi, buka!” Tak ada sahutan. Dan di kamar mandi kos sempit itu, hidup Xu Mingze berakhir dengan cara yang bahkan terlalu memalukan untuk diceritakan. Kelopak mata Xu Mingze bergerak pelan. Cahaya yang terlalu terang menusuk pandangannya, membuat ia mengernyit keras. Napasnya memburu, dadanya naik turun cepat seolah baru saja berlari jauh. Tubuhnya menegang, lalu ia mendadak bangun sambil tersengal-sengal. “Hah... hah... hah...!” Tangannya meraba kepala sendiri dengan panik. “Darah...? Retak? Benjol?” Ia menekan bagian belakang kepala berkali-kali, lalu berhenti. Tidak ada rasa sakit. Xu Mingze membeku beberapa detik. “...Aku masih hidup?” Ia menelan ludah kering. “Tidak mungkin. Aku jelas jatuh. Kepalaku menghantam ubin.” Wajahnya berubah masam. “Dan penyebabnya... sabun.” Ia menutup wajah dengan kedua tangan. “Ya Tuhan... kalau benar mati gara-gara sabun, leluhurku pasti malu punya keturunan sepertiku.” Ia mengangkat kepala lagi, kali ini lebih tenang. Namun beberapa detik kemudian alisnya berkerut. “Sebentar.” Kasur di bawah tubuhnya terlalu empuk. Bukan kasur tipis pegas rusak milik kamar kosnya. Ini lembut, luas, dan wangi samar seperti hotel mahal. Ia menoleh ke kanan dan kiri dengan gerakan kaku. Langit-langit tinggi dengan lampu kristal, tirai tebal berwarna abu gelap, dinding elegan dengan lukisan mahal, lantai kayunya mengilap. Xu Mingze menatap kosong. “...Aku mati dan masuk surga?” Ia mencubit lengannya sendiri. “Aduh!” “Bukan surga.” Ia langsung menyingkap selimut. Pakaian yang dikenakannya adalah piyama sutra hitam yang terasa dingin dan halus di kulit. “Ini jelas bukan bajuku.” Ia menatap tubuhnya. “Dan... badan ini...” Lengan yang terlihat lebih berisi dan terawat. Kulit lebih bersih. Jari-jari panjang dengan kuku rapi. Ia buru-buru mencari ponsel atau jam untuk memastikan waktu. Tangannya terangkat—lalu ia terpaku. Di pergelangan tangannya melingkar sebuah jam tangan mewah berkilau. Xu Mingze mendekatkannya ke mata. “...Rolex?” Ia menelan ludah. “Rolex?!” Tangannya gemetar. “Yang asli? Bukan yang lima ratus ribu dari toko online?” Ia mengguncang jam itu pelan. “Saudaraku... kau berada di tangan orang yang salah.” Belum sempat ia mencerna keadaan, pintu kamar terbuka dari luar. Klik. Xu Mingze refleks menoleh. Beberapa wanita muda berbaris masuk dengan rapi. Mereka mengenakan seragam pelayan yang elegan, masing-masing membawa nampan berisi sarapan mewah, setelan pakaian, serta perlengkapan pribadi. Semua bergerak tenang dan terlatih. Xu Mingze makin tegang. “Wah. Ini pasti penipuan besar.” Wanita paling depan membungkuk hormat. “Tuan muda Gu Yancheng, syukurlah Anda akhirnya sadar.” Xu Mingze berkedip. “...Siapa?” Pelayan itu mengangkat kepala, tampak bingung. “Gu Yancheng, Tuan.” Xu Mingze menunjuk dirinya sendiri perlahan. “Aku?” “Benar, Tuan.” Ia menoleh ke kiri, lalu ke kanan, memastikan tidak ada orang lain di kamar. “Tidak, tunggu dulu.” Ia mengangkat tangan. “Namaku Xu Mingze. Pengangguran kelas menengah bawah. Korban sabun nasional. Bukan siapa pun yang kalian sebut tadi.” Para pelayan saling berpandangan. Wanita di depan kembali berkata hati-hati, “Tuan... apakah kepala Anda masih pusing?” Xu Mingze menatap Rolex di tangannya, kamar mewah di sekelilingnya, para pelayan cantik di depannya, lalu menelan ludah sekali lagi. “...Aku rasa, pusingnya baru mulai.” Xu Mingze—atau siapa pun dirinya sekarang—masih duduk kaku di atas ranjang besar itu sementara beberapa pelayan berdiri rapi di depannya sambil menunggu perintah. Nampan sarapan di tangan mereka mengeluarkan aroma mentega dan roti panggang yang membuat perutnya bereaksi tanpa izin. Krrrk. Suara itu terdengar jelas di ruangan yang hening. Xu Mingze menunduk perlahan ke arah perutnya sendiri. “...Pengkhianat.” Salah satu pelayan buru-buru menahan senyum, sementara pelayan utama tetap menjaga wajah profesionalnya. “Tuan muda, sarapan sudah disiapkan. Anda perlu segera bersiap.” Xu Mingze mengusap wajah pelan, masih mencoba menyusun keadaan yang terasa tidak masuk akal ini. “Sebentar. Jadi... aku ini benar-benar Gu Yancheng?” “Benar, Tuan.” “Orang kaya?” “Benar, Tuan.” “Tinggal di rumah sebesar ini?” “Benar, Tuan.” “Punya jam Rolex?” Pelayan itu melirik pergelangan tangannya sebentar. “Benar, Tuan.” Xu Mingze menatap langit-langit dengan ekspresi kosong. 'Ya Tuhan... jadi aku mati miskin, lalu bangun jadi orang kaya? Ini kompensasi yang sangat agresif.' Ia menarik napas panjang, lalu menatap mereka lagi. “Kalau begitu... mana cermin?” Tak lama kemudian, ia sudah berdiri di depan cermin besar setinggi badan yang memantulkan seluruh sosoknya dengan sangat jelas. Begitu melihat pria di dalam pantulan itu, ia langsung terdiam. Pria itu tampan. Bahunya lebar, posturnya tegap, rahangnya tegas, hidung mancung, rambut hitam rapi meski baru bangun tidur, dan wajah yang jelas dirawat dengan standar hidup yang sama sekali tidak murah. Xu Mingze mengangkat tangan dan menyentuh pipinya. Pantulan itu ikut menyentuh pipi. Ia memegang dagu. Pantulan itu melakukan hal yang sama. Ia menyipitkan mata. Pantulan itu juga ikut menyipit. “...Gila.” Ia mundur selangkah. “Ini wajah tokoh utama novel.” Pelayan di belakangnya memanggil hati-hati. “Tuan?” Xu Mingze langsung berdeham dan kembali menjaga wibawa. “Tidak, maksudku... lumayan.” 'Lumayan katanya. Dengan muka begini, di hidup lamaku aku bisa gagal jadi influencer dengan lebih bermartabat.' Pelayan utama maju satu langkah sambil membawa setelan pakaian. “Tuan muda, pakaian sudah kami siapkan. Nyonya Zhao Linyue sudah menunggu Anda di ruang makan.” Nama itu membuat Xu Mingze menoleh cepat. “Zhao... Linyue?” “Benar, Tuan.” Ia mencoba terdengar santai walau jantungnya berdegup cepat. “Ia siapa?” Ruangan mendadak hening. Beberapa pelayan saling bertukar pandang seolah tidak yakin baru saja mendengar pertanyaan apa. Pelayan utama akhirnya menjawab dengan sangat hati-hati. “Istri Anda, Tuan.” Xu Mingze hampir tersedak ludah sendiri. “Istri?” “Benar, Tuan.” “Istri... cantik?” Para pelayan ragu sejenak, lalu menjawab hampir bersamaan. “Sangat cantik, Tuan.” Xu Mingze memejamkan mata perlahan. 'Baiklah, mari kita susun fakta.' 'Aku mati karena sabun, lalu aku bangun sebagai pria kaya, dengan wajah tampan. punya Rolex, dan juga... punya istri cantik.' Ia membuka mata dengan napas berat. 'Kalau ini mimpi, jangan bangunkan aku dulu.' Pelayan utama kembali berbicara dengan nada sopan, tetapi kali ini terdengar lebih mendesak. “Tuan, Nyonya Zhao tidak suka menunggu.” Nada kalimat itu mengandung arti yang cukup jelas. Xu Mingze langsung menangkap maksudnya. “Dia galak?” Pelayan itu tersenyum tipis dengan kemampuan diplomasi tingkat tinggi. “Nyonya... tegas.” “Ah. Itu bahasa sopan untuk galak.” Ia menghela napas, lalu menerima pakaian yang disiapkan. Setelan mahal, kemeja rapi, bahkan mansetnya tampak lebih mahal daripada uang sewa kamar kosnya selama beberapa bulan. Xu Mingze menatap pakaian itu dengan perasaan rumit. 'Dengar baik-baik, Xu Mingze.... Tidak... sekarang Gu Yancheng. Entah kenapa kau ada di sini. Tapi satu hal pasti...' Ia menatap pintu kamar yang mengarah ke luar. 'Jangan sampai orang-orang sadar jiwa di dalam tubuh ini mantan pengangguran yang mati terpeleset sabun.'Suasana meja makan perlahan kembali tenang setelah percakapan tadi. Tidak ada lagi yang benar-benar diperdebatkan, tapi jelas sesuatu sudah berubah—cara mereka melihat, cara mereka berpikir.Yancheng menghabiskan suapan terakhirnya tanpa terburu-buru. Ia tidak banyak bicara lagi, seolah memberi ruang setelah apa yang ia katakan tadi.Beberapa detik kemudian, ia meletakkan sendoknya.“Kalau sudah selesai,” katanya santai sambil berdiri, “aku lanjut olahraga dulu.”Linyue sedikit mengangkat kepala. “Masih lanjut?”“Belum cukup,” jawab Yancheng ringan. “Tadi cuma pemanasan.”Nada bicaranya tidak dibuat-buat.Xueyi meliriknya sekilas. “Kamu tidak takut berlebihan di hari pertama?”Yancheng mengambil handuk di kursinya. “Kalau berhenti sekarang, nanti jadi malas lagi.”Ia menoleh sedikit ke arah mereka berdua. “Lagipula… lebih baik capek karena ini daripada capek karena hal lain.”Linyue tidak menahan senyum tipis.Xueyi tidak berkomentar, tapi tatapannya mengikuti gerakan Yancheng yang su
Malam semakin larut. Rumah besar itu kembali tenang setelah aktivitas hari ini selesai. Lampu di lorong redup, hanya menyisakan suasana hangat yang nyaman.Di kamar mereka, Zhao Linyue masuk lebih dulu lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan santai. Ia melepas sepatu, menghela napas panjang, baru setelah itu melirik ke arah pintu.Tak lama, Qin Xueyi masuk. Kursi rodanya didorong oleh Lin Suyun sampai ke dalam, lalu Suyun membungkuk sedikit. “Saya di luar, Nona.”Xueyi mengangguk ringan. “Hm.”Pintu tertutup. Kini hanya mereka berdua.Beberapa detik hening.Linyue menyandarkan kepala ke sandaran sofa, lalu membuka suara, “Kak.”Xueyi memutar kursinya sedikit agar menghadap ke arahnya. “Kamu mau bahas dia, kan.”Bukan tanya—lebih seperti sudah tahu.Linyue tersenyum tipis. “Keliatan ya.”“Lumayan.”Linyue tidak bertele-tele. “Menurutmu?”Xueyi tidak langsung jawab. Ia diam sebentar, seolah merapikan pikirannya dulu, baru berkata, “Dia berubah. Itu kelihatan.”Nada suaranya tetap tenan
Linyue tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap ke bawah, seolah menyusun sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ucapkan dengan jelas.“Karena…” suaranya pelan, tapi tidak ragu, “aku sebenarnya sudah ingin pergi.”Yancheng terdiam.Linyue menarik napas perlahan sebelum melanjutkan. “Waktu itu aku sudah sampai di titik di mana bertahan tidak masuk akal lagi. Sifatmu… terlalu buruk. Kamu mudah marah, tidak mau dengar siapa pun, dan…” ia berhenti sebentar, “…cara kamu memperlakukanku juga tidak bisa dibilang ringan.”Tangannya kembali saling menggenggam, tapi kali ini lebih tenang.“Aku takut,” lanjutnya jujur. “Bukan sekali dua kali.”Yancheng tidak menyela.“Jadi aku menyiapkan surat cerai,” katanya datar, seolah membicarakan sesuatu yang sudah lama lewat. “Semuanya sudah siap. Tinggal menunggu waktu yang tepat.”Ia akhirnya menoleh ke arah Yancheng, tapi tatapannya tidak menyalahkan. Lebih seperti mengingat sesuatu yang sudah terjadi.“Lalu kecelakaan itu terjadi.”Yancheng menahan
Mereka berjalan tanpa tujuan jelas beberapa menit setelah kejadian itu. Keramaian mall tetap sama, suara langkah kaki, percakapan, dan musik latar bercampur jadi satu, tapi suasana di antara mereka justru terasa lebih tenang.Zhao Linyue akhirnya berhenti di depan sebuah café dengan interior hangat dan pencahayaan lembut. Ia melirik ke dalam sebentar sebelum berkata, “Kita istirahat sebentar.”Yancheng tidak protes. “Setuju.”Mereka masuk dan memilih meja di dekat jendela. Tang Mimi duduk agak terpisah, memberi ruang tanpa benar-benar menjauh.Pelayan datang, mencatat pesanan singkat, lalu pergi. Tidak lama kemudian, minuman mereka datang—kopi untuk Yancheng, dan minuman dingin untuk Linyue.Beberapa detik pertama, mereka hanya duduk diam. Linyue memutar pelan sedotannya di dalam gelas, lalu berkata tanpa melihat langsung, “Tadi… kamu tidak marah.”Yancheng menyandarkan punggung ke kursi. “Aku harusnya marah?”“Biasanya begitu.”Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Dulu, hal seper
Perjalanan di dalam Rolls-Royce berlangsung tenang. Kabin mobil begitu senyap sampai suara napas pun terasa jelas. Gu Yancheng duduk tegak di sisi lain, berusaha menjaga sikap, sementara Zhao Linyue menatap keluar jendela dengan ekspresi datar seperti biasa.Beberapa kali Yancheng ingin membuka per
Zhao Linyue masih berdiri di dekat meja ketika suasana hening beberapa saat. Gu Yancheng sedang memegang cangkir teh yang baru diberinya, mencoba menebak isi pikiran wanita itu. Namun seperti biasa, ekspresi Linyue sulit dibaca.Tiba-tiba ia berkata, “Nanti kau ikut denganku.”Yancheng mengangkat k
Gu Yancheng menatap daftar di meja cukup lama, lalu menarik kursi dan duduk kembali. Kini ia mulai sadar bahwa masalah yang diwariskan pria lama ini bukan cuma soal uang atau reputasi, melainkan seluruh rumah yang sudah terbiasa hidup dalam ketegangan. Bahkan seorang pelayan tadi menjawab pertanyaa
Di kamarnya, Gu Yancheng menutup pintu perlahan lalu menghela napas panjang. Begitu sendirian, seluruh wibawa yang tadi susah payah ia jaga langsung runtuh. Ia menjatuhkan diri ke sofa dekat jendela dan menatap langit-langit.“...Baiklah.”Ia menepuk pahanya sendiri.“Rapat darurat dengan diriku di












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.