Chapter: RUNTUHNYA JEMBATAN HARAPAN"Aris! Pegangan!" teriak Elara saat aspal di bawah kakinya mulai retak dan amblas ke bawah.Bus sekolah nomor 04 condong ke kiri, roda-roda besarnya menjerit slip di atas beton yang miring. Di dalam kabin, suara tangisan anak-anak yang semula kaku kini pecah, menyuarakan ketakutan murni manusiawi."Elara, lompat ke kap jip sekarang!" balas Aris. Ia meluncur turun dari atap bus, menahan benturan pada lututnya dengan sirkuit energi Amrita-Siddhi yang dipompa maksimal.Linda melepaskan anak panah mekanisnya di tengah guncangan. WUSH! Anak panah itu melesat, namun meleset beberapa sentimeter dari bahu Elara karena sedan hitamnya ikut merosot ke belakang. "Sialan! Mundur! Jalur ini mau roboh!" perintah Linda pada sopirnya."Kamu tidak akan bisa lari, Linda!" pekik Julian yang tiba-tiba muncul dari arah belakang jip, memegang kemudi jip tua pengawas kebun dengan tangan berdarah. "Aris, bawa anak-anak keluar! Aku tahan wanita ini!""Julian! Jangan gila, jembatan ini hancur!" teriak Aris samb
Terakhir Diperbarui: 2026-06-06
Chapter: Senjata Suci Yang Tersandera"Hentikan! Jangan gunakan anak-anak itu!" teriak Elara, suaranya melengking memecah keheningan jalur lingkar luar. Langkah kakinya seketika tertahan di atas aspal panas, matanya menatap nanar pada jarum-jarum perak organik yang menyembul dari balik kulit jemari anak-anak di dalam bus.Pria bertopeng gagak itu terkekeh rendah di balik jubah hitamnya. Bilah belati perak di tangannya mendesing pelan, memotong angin malam. "Kenapa begitu, Elara? Bukankah ini pemandangan yang indah? Ilmu biologi yang kau agungkan dan teknik saraf batin milik Silas kini menyatu dalam raga murni mereka.""Mereka bukan senjata, keparat!" bentak Aris, melangkah maju selangkah untuk memosisikan tubuh tegapnya di depan Elara. Otot-otot lengannya menegang, siap menyalurkan sirkuit energi Amrita-Siddhi yang baru saja pulih."Mundur, Aris!" pria bertopeng gagak itu menaikkan intonasi suaranya. "Satu sentuhan gelombang dari tubuhmu, dan sinyal radio frekuensi rendah dari topengku ini akan memicu denyut kejut di sara
Terakhir Diperbarui: 2026-06-05
Chapter: Pengejaran Bus"Apa maksudmu?!" teriak Elara, suaranya serak menahan getaran energi yang mendadak terputus. Kedua telapak tangannya masih basah oleh air kolam hulu yang kini telah jernih.Wanita berseragam militer itu tertawa kecil, melangkah maju sambil tetap mengunci pandangannya pada Julian yang tak berkutik di bawah todongan senjata laras pendek di pinggangnya. "Kalian terlalu naif. Danu dan Kepala Yayasan hanyalah umpan pengalih perhatian. Laboratorium di bawah sekolah itu? Itu cuma tempat pembuangan produk gagal dan inkubator purwarupa."Aris bangkit berdiri, menopang tubuh Elara yang lemas. Saraf panggulnya berdenyut tegang, efek dari pengurasan energi batin yang dipaksa berhenti tiba-tiba. "Jadi anak-anak yang di dalam video itu...""Mereka sudah dievakuasi sejak alarm kebocoran gas pertama berbunyi," sela wanita itu dengan senyum dingin yang mengingatkan pada Madam Vera. "Sepuluh anak dengan replikasi saraf Siddhi-Sankrama sempurna. Mereka ada di dalam bus sekolah nomor 04, bergerak lewat j
Terakhir Diperbarui: 2026-06-03
Chapter: Detoksifikasi Masal Pedalaman"Jangan lakukan itu!" teriak Elara, suaranya menggema panik di ruang kendali bawah tanah yang semakin sesak oleh kepulan uap ungu.Kepala Yayasan tertawa parau di balik dinding kaca antipeluru. Jarinya menempel di atas tombol merah. "Kenapa tidak, Elara? Ini adalah seleksi alam yang dipercepat. Jika raga mereka kuat, mereka akan bertahan dan menjadi wadah baru!""Itu pembunuhan masal, tua bangka!" bentak Aris. Ia menghantamkan tinjunya ke dinding kaca, menciptakan dentuman keras namun tidak berhasil membuat retakan sedikit pun."Mundur, Aris!" Julian menarik bahu Aris, lalu mengarahkan pandangannya ke panel sirkuit di samping dinding kaca. "Kaca ini terhubung dengan sistem hidrolik mandiri. Elara, cari pipa bypass di langit-langit!""Di sebelah kananmu, Julian! Pipa dengan katup kuning!" seru Elara sambil menunjuk ke atas.Kepala Yayasan menggelengkan kepalanya perlahan, menatap mereka dengan pandangan meremehkan. "Kalian terlambat. Sistem pengaliran limbah biologis ke hulu sungai des
Terakhir Diperbarui: 2026-06-01
Chapter: Inkubasi BerdarahKereta komuter akhirnya melambat saat mendekati stasiun kecil di tepi hutan pedalaman. Begitu pintu gerbong terbuka, Aris, Elara, dan Julian langsung melompat turun. Mereka berlari menembus kabut pagi yang mulai bercampur dengan semburat kabut tipis berwarna ungu keperakan di kejauhan—tanda bahwa gas beracun Kala-Kuta dari bawah tanah sudah mulai bocor ke permukaan bumi.Bau manis yang memuakkan langsung menyengat indra penciuman begitu mereka memasuki wilayah hutan bambu. Aris segera menghentikan langkahnya, menahan dada Elara. "Gunakan teknik penahanan napas Kumbhaka. Alirkan energi murni ke rongga dada untuk menyaring udara."Ketika mereka berhasil mencapai pagar kawat belakang kompleks sekolah asrama, pemandangan di depan mereka tampak seperti medan perang yang sunyi. Gedung laboratorium biologi tua berarsitektur kolonial itu telah diselimuti oleh kabut ungu yang tebal. Beberapa pakaian seragam sekolah tampak berserakan di tanah, menandakan bahwa proses evakuasi para siswa dilakuk
Terakhir Diperbarui: 2026-05-31
Chapter: Kembali Ke Pangkuan Masa LaluKata-kata Julian menggantung di udara terowongan yang lembap, mengirimkan rasa dingin yang seketika menusuk hingga ke tulang belakang Elara. Sekolah asrama tua di pedalaman. Tempat di mana ia dulu menghabiskan tahun-tahun pertamanya sebagai seorang pengajar, tempat di mana kapur tulis dan buku-buku linear biologi menjadi dunianya sebelum semua badai pernikahan ini dimulai. Kenyataan bahwa Danu menyembunyikan proyek terkutuknya di bawah institusi pendidikan yang sangat ia kenal terasa seperti tamparan keras yang meruntuhkan logikanya."Tidak mungkin... sekolah itu?" suara Elara bergetar, matanya menatap hampa pada deretan angka koordinat yang terpantul samar di bilah perak kunci milik Silas. "Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun di sana. Itu hanya sebuah yayasan tua yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk teknologi rahasia seperti ini."Aris merangkul pundak Elara, merasakan bagaimana tubuh istrinya mendadak menegang hebat. "Danu memilih tempat itu justru karena ketenangannya, Elara. Tidak
Terakhir Diperbarui: 2026-05-30