Mag-log inElara merasa terabaikan karena suaminya mengalami disfungsi ereksi dan selalu bersikap kasar untuk menutupi kelemahannya. Akhirnya, ia menyewa Julian, seorang instruktur atletis yang mengajarkan teknik Kamasutra hingga membangkitkan sisi liar Elara dan menciptakan ketergantungan emosional yang berbahaya. Kini Elara harus memilih antara mempertahankan pernikahannya atau memberikan tubuhnya untuk Julian.
view more"Ke dokter? Seorang Adrian Atmajaya harus mengemis pada dokter agar bisa melayani istrinya? Tidak akan pernah!"
Suara Adrian menggelegar. Elara terpaku di tepi ranjang, menatap suaminya yang berdiri kaku seolah baru saja melarikan diri dari sebuah pertempuran.
"Aku tidak bermaksud mempermalukanmu, Adrian. Aku hanya ingin kita memperbaiki ini secara medis agar pernikahan kita terselamatkan."
Elara mencoba mendekat, namun langkahnya terhenti saat melihat kilatan amarah di mata suaminya. Tatapannya begitu tajam, harga diri Elara menciut di bawah pendar lampu kristal.
"Memperbaiki? Kau pikir aku ini mesin rusak yang perlu dibawa ke bengkel ?"
Adrian mencengkeram pinggiran meja rias hingga buku jarinya memutih dan urat lehernya menegang. Napasnya memburu hingga menyesakkan dada Elara.
"Sudah hampir tujuh bulan kita tidak berhubungan suami istri sama sekali, Adrian. Aku mandi parfum mahal dan memakai sutra transparan ini hanya untuk menyambutmu."
Elara menunjuk pakaian tipis yang melekat di tubuhnya dengan sisa keberanian yang ia miliki. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, memperlihatkan keputusasaan seorang istri yang diabaikan.
"Aku melihatmu! Tapi cara kau menatapku itu memuakkan, seolah kau sedang mengasihani pria yang lumpuh!"
Adrian melangkah maju, aroma alkohol tercium dari napasnya yang panas. Ia tampak seperti raksasa yang siap menelan mangsanya bulat-bulat demi menutupi kelemahannya sendiri.
"Itu hanya pikiran kotormu sendiri. Aku istrimu, aku merindukan sentuhanmu sebagai seorang pria yang normal."
Suara Elara bergetar hebat saat mengucapkan kata "normal". Ia tahu kata itu akan menjadi pemantik bom waktu yang siap meledakkan emosi Adrian yang sudah di ujung tanduk.
"Sentuhan? Kau sudah punya berlian di lehermu, kartu kredit tanpa batas, dan mansion megah ini!"
Adrian tertawa pahit, sebuah tawa kering yang terdengar sangat hambar dan menyakitkan di telinga. Ia menepis tangan Elara saat wanita itu mencoba menyentuh lengannya untuk mencari kehangatan.
"Aku bukan pajangan museum yang cukup diberi makan dan uang! Aku butuh suamiku kembali ke ranjang ini!"
Elara akhirnya berteriak, melepaskan segala sesak yang menghimpit dadanya selama berbulan-bulan. Isakannya pecah, membasahi kain sutra merah yang seharusnya menjadi saksi malam yang indah.
"Mungkin aku menjauh karena kau terlalu menuntut! Gairahmu itu beban bagiku yang sedang mengurus bisnis triliunan rupiah!"
Adrian menyambar bantalnya dengan gerakan kasar, tidak peduli pada Elara yang kini terduduk lemas di lantai. Ia berbalik menuju pintu, memilih melarikan diri daripada mengakui kegagalannya sebagai pria.
"Jadi kau benar-benar menyuruhku mencari kepuasan di tempat lain? Kau tidak peduli jika pria lain menyentuhku?"
Elara bertanya dengan nada yang sangat dingin, hampir membeku karena kekecewaan yang mendalam. Ia menatap punggung suaminya dengan pandangan yang mulai kehilangan binar cinta.
"Selama kau tidak mempermalukan namaku, lakukan apa saja dengan uangku! Aku sudah muak melihat rengekanmu!"
Pintu terbanting keras, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar yang luas itu. Elara memeluk dirinya sendiri di tengah ranjang yang terasa seluas padang es yang mematikan.
Setelah satu jam tenggelam dalam amarah yang membara, Elara bangkit dan menyambar ponselnya. Jemarinya dengan cepat mencari sebuah nomor rahasia yang selama ini ia simpan rapat.
"Halo? Ini Julian." Suara di seberang sana terdengar berat, dalam, dan sangat tenang.
"Saya Elara Atmajaya. Saya butuh instruktur yoga privat besok pagi jam sembilan tepat di mansion saya."
"Ah, Ny. Atmajaya. Anda butuh latihan fisik biasa, atau untuk 'energi' Anda yang tersumbat?" tanya Julian dengan nada provokatif.
"Ajarkan saya apa pun agar saya merasa hidup lagi. Saya ingin seseorang yang tahu cara mengendalikan tubuh saya sepenuhnya."
"Setuju. Tapi di ruangan itu nanti, saya adalah penguasa Anda. Tidak ada Nyonya Atmajaya, hanya ada murid yang patuh. Deal?"
"Deal. Jangan terlambat, Julian."
Elara mematikan ponselnya dengan tangan gemetar namun penuh tekad. Ia menatap pintu kamar tamu tempat Adrian tidur dengan rasa jijik, lalu tersenyum tipis membayangkan bagaimana Julian akan membangkitkan sisi liarnya besok pagi.
***
"Aris! Pegangan!" teriak Elara saat aspal di bawah kakinya mulai retak dan amblas ke bawah.Bus sekolah nomor 04 condong ke kiri, roda-roda besarnya menjerit slip di atas beton yang miring. Di dalam kabin, suara tangisan anak-anak yang semula kaku kini pecah, menyuarakan ketakutan murni manusiawi."Elara, lompat ke kap jip sekarang!" balas Aris. Ia meluncur turun dari atap bus, menahan benturan pada lututnya dengan sirkuit energi Amrita-Siddhi yang dipompa maksimal.Linda melepaskan anak panah mekanisnya di tengah guncangan. WUSH! Anak panah itu melesat, namun meleset beberapa sentimeter dari bahu Elara karena sedan hitamnya ikut merosot ke belakang. "Sialan! Mundur! Jalur ini mau roboh!" perintah Linda pada sopirnya."Kamu tidak akan bisa lari, Linda!" pekik Julian yang tiba-tiba muncul dari arah belakang jip, memegang kemudi jip tua pengawas kebun dengan tangan berdarah. "Aris, bawa anak-anak keluar! Aku tahan wanita ini!""Julian! Jangan gila, jembatan ini hancur!" teriak Aris samb
"Hentikan! Jangan gunakan anak-anak itu!" teriak Elara, suaranya melengking memecah keheningan jalur lingkar luar. Langkah kakinya seketika tertahan di atas aspal panas, matanya menatap nanar pada jarum-jarum perak organik yang menyembul dari balik kulit jemari anak-anak di dalam bus.Pria bertopeng gagak itu terkekeh rendah di balik jubah hitamnya. Bilah belati perak di tangannya mendesing pelan, memotong angin malam. "Kenapa begitu, Elara? Bukankah ini pemandangan yang indah? Ilmu biologi yang kau agungkan dan teknik saraf batin milik Silas kini menyatu dalam raga murni mereka.""Mereka bukan senjata, keparat!" bentak Aris, melangkah maju selangkah untuk memosisikan tubuh tegapnya di depan Elara. Otot-otot lengannya menegang, siap menyalurkan sirkuit energi Amrita-Siddhi yang baru saja pulih."Mundur, Aris!" pria bertopeng gagak itu menaikkan intonasi suaranya. "Satu sentuhan gelombang dari tubuhmu, dan sinyal radio frekuensi rendah dari topengku ini akan memicu denyut kejut di sara
"Apa maksudmu?!" teriak Elara, suaranya serak menahan getaran energi yang mendadak terputus. Kedua telapak tangannya masih basah oleh air kolam hulu yang kini telah jernih.Wanita berseragam militer itu tertawa kecil, melangkah maju sambil tetap mengunci pandangannya pada Julian yang tak berkutik di bawah todongan senjata laras pendek di pinggangnya. "Kalian terlalu naif. Danu dan Kepala Yayasan hanyalah umpan pengalih perhatian. Laboratorium di bawah sekolah itu? Itu cuma tempat pembuangan produk gagal dan inkubator purwarupa."Aris bangkit berdiri, menopang tubuh Elara yang lemas. Saraf panggulnya berdenyut tegang, efek dari pengurasan energi batin yang dipaksa berhenti tiba-tiba. "Jadi anak-anak yang di dalam video itu...""Mereka sudah dievakuasi sejak alarm kebocoran gas pertama berbunyi," sela wanita itu dengan senyum dingin yang mengingatkan pada Madam Vera. "Sepuluh anak dengan replikasi saraf Siddhi-Sankrama sempurna. Mereka ada di dalam bus sekolah nomor 04, bergerak lewat j
"Jangan lakukan itu!" teriak Elara, suaranya menggema panik di ruang kendali bawah tanah yang semakin sesak oleh kepulan uap ungu.Kepala Yayasan tertawa parau di balik dinding kaca antipeluru. Jarinya menempel di atas tombol merah. "Kenapa tidak, Elara? Ini adalah seleksi alam yang dipercepat. Jika raga mereka kuat, mereka akan bertahan dan menjadi wadah baru!""Itu pembunuhan masal, tua bangka!" bentak Aris. Ia menghantamkan tinjunya ke dinding kaca, menciptakan dentuman keras namun tidak berhasil membuat retakan sedikit pun."Mundur, Aris!" Julian menarik bahu Aris, lalu mengarahkan pandangannya ke panel sirkuit di samping dinding kaca. "Kaca ini terhubung dengan sistem hidrolik mandiri. Elara, cari pipa bypass di langit-langit!""Di sebelah kananmu, Julian! Pipa dengan katup kuning!" seru Elara sambil menunjuk ke atas.Kepala Yayasan menggelengkan kepalanya perlahan, menatap mereka dengan pandangan meremehkan. "Kalian terlambat. Sistem pengaliran limbah biologis ke hulu sungai des
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu